
Brian mengangkat barangnya ke dalam mobil dibantu Andre.
"Kita ke rumah sakit dulu, ya. Aku ingin bertemu Yara sebentar." Ucap Brian lalu menutup bagasi mobil.
"Yang benar? Nanti kau malah tak jadi pulang lagi, seperti hari itu." Ketus Andre.
"Kau benar-benar telihat mengusirku dari kota ini. Padahal seharusnya kau senang kalau aku tetap disini". Kata Brian dan Andre tertawa lebar.
"Ya sudah, aku akan mengantarmu. Waktunya hanya satu jam, ya."
"Oke." Brian masuk ke dalam mobil dan mereka menuju rumah sakit.
~
Brian menyempatkan diri membeli mainan dan apa saja yang gadis kecil itu pernah bilang padanya. Sampai Andre menggelengkan kepala, seakan Brian benar-benar Ayah dari Yara.
Brian dan Andre masuk ke ruangan Yara dan menemukan Zaira, Revi, dan Mbok Inah di dalamnya. Yara yang tengah makan malam di sulangi oleh Mbok Inah di atas ranjangnya, langsung riang saat Brian datang membawa boneka kelinci besar, Barbie, dan balon berbentuk kupu-kupu.
"Om Bian..." Teriaknya sambil merentangkan tangan gembira melihat apa-apa yang Brian bawa.
Brian tertawa melihat respon gadis kecil itu. Dia lalu memeluknya dan memberikan semua ke pangkuan Yara.
"Mama.. lihat, Ma.." Yara menujuk semua yang Brian berikan padanya dengan riang seakan dia lupa dengan kakinya yang masih di perban.
"Yara suka?" Tanya Brian sambil mengelus lembut kepala gadis itu.
Yara dengan cepat mengangguk, "suka sekali oommm.." teriaknya antusias.
Melihat itu, Zaira menatap Brian dengan sendu. Bagaimana Yara bisa seriang itu, padahal Zaira selalu berusaha membuat Yara mendapatkan apa yang dia mau walau gadis itu tidak pernah mengatakannya.
Tetapi entah mengapa gadis kecil itu malah mengatakan keinginannya pada Brian.
"Terima kasih, mas". Ucap Zaira dan Brian hanya tersenyum.
"Apa akan berangkat malam ini?" Tanyanya lagi.
"Iya, aku hanya singgah sebentar." Brian lalu duduk di sebelah ranjang Yara yang sejak tadi bermain dengan hadiah Brian.
Pria itu mengelus lembut rambut Yara. "Yara, om pulang dulu, ya."
"Yah.. kok pulang, om. Om kan, balu sampai.."
"Pekerjaan Om sudah menunggu di sana. Jadi Om harus cepat-cepat pulang. Yara cepat sembuh, ya."
__ADS_1
"Om besok kemali lagi, kan?" Tanya Yara.
Brian hanya tersenyum, dia tidak menjawab pertanyaan gadis itu sebab tidak tahu harus berkata apa.
"Yara, baik-baik sama mama, ya." Ucap Brian lagi dan Yara mengangguk.
Andre mendekat ke Zaira dan berbisik padanya. "Katakan apa yang ingin kau sampaikan, karena Brian takkan kembali kesini lagi."
Zaira membelalakkan matanya, 'tidak kembali lagi?'
Andre keluar duluan, dia memilih menunggu di dalam mobil.
"Om, besok datang lagi, yaaa". Pekik Yara pada Brian yang sudah berdiri dari tempatnya.
"Hm.. pokoknya Yara sembuh dulu biar bisa main-main lagi." Ucapnya lalu mengecup puncak kepala gadis kecil itu.
Dia lalu beralih pada Zaira. "Ra, aku permisi dulu."
Zaira mematung, hati dan pikirannya tengah berperang setelah mendengar apa yang Andre katakan padanya.
"Mbok, saya pamit. Rev, terima kasih banyak, ya. Saya permisi." Pamit Brian lalu mendapat anggukan dari kedua orang itu.
Brian beranjak dan keluar dari ruangan Yara. Dia berjalan di koridor dengan langkah berat. Ingin sekali dia memeluk mantan istrinya untuk yang terakhir kali. Dia ingin berpamitan dengan layak, tetapi tidak tahu harus memulai darimana dan Zaira pasti akan menolak. Jadi, dia cukup sadar diri, dan melanjutkan langkahnya.
Sementara Zaira masih melamun di tempatnya.
Zaira menatap Revi, bibirnya akan mengatakan sesuatu namun tertahan.
"Pergilah, jangan biarkan sesuatu mengganjal di hatimu."
Zaira hanya menunduk, dia mengepalkan kedua tangannya karena ada perasaan berat dalam hatinya.
"Katakan saja, Ra. Untuk apa ditahan? Kau yang lebih tahu apa yang baik untuk dirimu, hidupmu."
Mendengar itu, Zaira mengangguk lalu berjalan cepat keluar ruangan untuk mencari Brian.
"Hei, cepat masuk. Kenapa bengong disitu?" Pekik Andre yang sejak tadi melihat Brian menatap rumah sakit itu dari jauh.
Brian mendesah, dia lalu membuka pintu mobil dan tertahan disana, melihat lagi ke arah rumah sakit itu untuk yang terakhir kali dan mendapati Zaira baru saja keluar dari pintu.
"Yan, cepat. Nanti kau terlambat!" Ucap Andre dan Brian hanya mematung menatap Zaira yang semakin mendekat.
"Mas.." Zaira berdiri tak jauh dari Brian yang sejak tadi menatapnya.
__ADS_1
Zaira agak ragu, dia mencoba memberanikan diri. "Ada yang ingin aku bicarakan. Apa masih ada waktu?" Tanya Zaira dengan terbata, berharap Brian mau mendengarkannya dulu sebelum dia pergi.
Brian mengangguk, menutup lagi pintu mobil dan mengikuti Zaira.
Zaira membawanya ke lantai atas rumah sakit, dia duduk dibangku panjang dan Brian disebelahnya.
Mereka berdiam cukup lama, beberapa menit, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Ra, aku minta maaf padamu." Brian memulai pembicaraan. Namun Zaira hanya diam.
"Aku telah banyak membuatmu sakit hati. Aku akan terus meminta maaf walau aku tahu itu takkan menghilangkan bekas luka dalam hatimu." Brian menatap ke depannya, dia tidak berani melihat Zaira di sebelahnya.
Zaira hanya mendengarkannya, dia ingin berbicara tetapi lidahnya amat berat.
"Aku senang jika akhirnya kau menemukan kebahagiaanmu lagi. Itu akan sedikit meringankan pikiranku selama ini." Sambung Brian dengan senyuman samar.
Brian memberanikan diri menatap Zaira di sampingnya. "Aku, tidak akan kembali lagi."
Zaira menoleh pada Brian saat mendengar itu dan mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
Brian melihat perubahan di mata Zaira yang seperti menentang air matanya untuk keluar.
"Aku hanya ingin hubungan kita baik-baik saja setelah ini. Aku berjanji padamu, takkan mengusik kebahagiaanmu lagi. Zaira, jika kau izinkan, aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya."
Zaira mengangguk lambat, dan Brian langsung memeluknya, mengelus lembut rambut wanita itu.
Setelah tiga tahun akhirnya ia bisa memeluk lagi tubuh Zaira yang selama ini ia rindukan. Dan ini akan menjadi pelukan terakhir darinya.
"Berbahagialah, Zaira. Kau sangat berhak mendapatkannya." Ucap Brian dengan raut wajah kesedihan.
Mendengar ucapan Brian itu, Zaira membalas pelukannya, bahkan dengan erat sekali, membuat Brian terkesiap. Zaira memeluknya sambil terisak, Brian dapat merasakan air mata yang menembus ke kulit bahunya.
Brian membiarkan wanita itu menangis, entah karena selama ini ia terlalu menyakiti perasaan Zaira, atau dia hanya ingin menangisinya saja, entahlah, Brian hanya mengelus lembut kepala Zaira saja, supaya wanita itu lebih tenang.
Zaira menghapus air matanya dan melepas pelukannya dari Brian.
"Ra, Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Brian mengingat bahwa Zaira ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Aku.. hanya ingin bilang.. kalau, dirimu juga berhak untuk bahagia." Ucap Zaira dengan suara parau, lalu mulai tersenyum.
"Kenapa tidak coba untuk membuka hati kembali, mas. Kau lelaki yang baik. Aku sudah merenungkannya sejak lama. Apa yang kau lakukan sebenarnya wajar, menginginkan anak dari sebuah pernikahan". Tutur Zaira yang mengingat kejadian lalu, dia menyadari bahwa Brian benar-benar menjaga dirinya dari perbuatan kotor itu, perbuatan yang dibuat-buat oleh Dinnara untuk menjebak Brian.
"Aku sudah berjalan terlalu jauh ke depan tanpa memikirkan matang-matang apa yang terjadi pada hubungan kita, aku melakukan apa yang amarahku inginkan, supaya aku puas, walau ternyata hasilnya tidak begitu. Bukankah itu hanya ujian untuk hubungan kita?" Ucap Zaira dengan senyum getir, mengingat lagi perjuangannya selama tiga tahun bertahan dalam ego, berperang dengan hati yang merindukan kehadiran Brian lagi dalam dirinya.
__ADS_1
Brian menatap Zaira lekat-lekat, ucapan Zaira.. Apakah dia menyesali perceraian diantara mereka?
Bersambung...