Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
KARYA BARU: SYAHDU


__ADS_3

Akulah wanita yang menawan dengan suara merdu nan Syahdu.


Hidup di perkampungan yang masih saja mengurusi hidupku bersama nenek, satu-satunya keluargaku yang tersisa.


Aku Syahdu, harus menanggung kehidupan yang penuh dramatis akibat citra Ibuku yang seorang mantan wanita malam masih tetap dicemooh walau wanita itu telah tiada.


Aku memilih pindah ke kota bersama nenek untuk menghindari lidah tajam orang-orang hingga akhirnya nenek mengidap penyakit yang mengharuskanku mendapatkan uang demi perawatan nenekku.


Takdir mempertemukanku dengan Arga Alexander, pemuda kaya raya keturunan Inggris yang akan membantuku dengan syarat, aku menjadi wanita pemuashasratnya beberapa tahun. Arga memberikan kontrak untuk kutanda tangani. Lalu, ia tidak melarangku berhubungan dengan Aditya Wicaksana, kekasihku yang sudah berpacaran denganku selama 7 tahun.


☆Apakah Syahdu menerima tawaran Arga Alexander? Lalu bagaimana perjalanan cintanya dengan Wicaksana?



BAB 1: SYAHDUKU


"Kamu yakin mau pindah? Kalau yakin, nanti biar aku bantu cari kontrakan."


Aku menatap wajah kak Wicak di layar ponselku. Saat ini, aku tengah bervideo Call dengannya.


Kak Wicak kuliah di kota yang hanya berjarak 2 jam dari kampung. Lalu sekarang, aku meneleponnya karena ingin pindah dari kampung ke kota.


"Syahdu?"


Aku menarik napas. "Yakin, kak. Aku mau pindah sama nenek. Udah gak kuat." Jawabku dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah, nanti aku carikan. Kalau sudah ketemu, aku kabarin."


Aku mengangguk lalu menutup ponselku. Disebelah, Nenek memandangku dengan wajah yang membuatku terus menunduk.


"Syahdu..." Nenek mengelus lembut pundakku. "Nenek akan senang kalau kau senang." Ucapnya dengan suara parau.


Aku mengangguk saja, karena aku tahu nenekpun berat meninggalkan kampungnya. Hanya karena aku yang selalu menangis tak sanggup dengan sindiran orang-orang dan nenek tidak sampai hati melihatku seperti itu. Dia mengajakku pindah ke kota, supaya aku tenang dan bisa melanjutkan kuliah.


Nenek sangat ingin melihatku memakai toga, menjadi sarajana. Dia menabung dan bekerja keras demi melihatku memakai jubah wisuda dan akupun mau kuliah demi keinginan nenek saja. Padahal, aku lebih suka bekerja dan menghasilkan uang ketimbang sekolah lagi dan menjadi beban untuk nenek.


Aku sudah berkali-kali membujuk nenek untuk istirahat dan biar aku saja yang mencari uang, tetapi nenek bersikeras supaya aku terus belajar dan mengejar cita-cita. Kata nenek, aku harus sekolah tinggi-tinggi supaya tidak ada yang menyepelekan dan merendahkanku lagi.


Beberapa hari lalu, saat aku berjalan menuju warung, aku mendengar percakapan tiga janda yang terkenal sebagai 'lambe turah' di kampungku.


"Syahdu itu anak baik-baik, katanya."


"Mana mungkin baik, Ibunya aja wanita penghibur."


"Anaknya kan, bisa aja beda."


"Halah mana mungkin. Kemarin kata anakku, Syahdu nyanyi di pentas saat perpisahan sekolah. Dia sengaja menarik perhatian laki-laki. Begitu."


"Namanya juga keturunan, gak akan jauh-jauhlah."


"Ho'oh, buah jauh tak jatuh dari pohonnya."


"Ngomong apa, sih."


Mereka bertiga cekikan tanpa memikirkan perasaanku, padahal aku tahu mereka melihatku tadi dan sengaja menguatkan suara supaya aku dengar.


Lagipula kalau dipikir-pikir, untuk apa sih, mereka menggosipin aku yang sebaya dengan anak-anak mereka. Aku ini anak-anak lho, dibandingkan usia mereka yang sudah hampir setengah abad. Tapi ya, namanya tukang gosip, siapa aja bisa jadi korbannya.


Sebenarnya aku sudah sangat sering mendengarkan hal semacam itu. Gosip-gosip tengang ibuku, aku tahu bahkan yang nenek sembunyikan dariku. Tetapi tetap aja aku sedih setiap mendengar celoteh mereka.


Waktu itu, saat usiaku 14 tahun, aku tak sengaja bertengkar dengan salah satu teman sekelasku. Orang tuanya tak terima karena aku mencakar wajah anaknya yang mengatai Ibuku wanita malam, aku marah dan akhirnya menjambak dan mencakar wajahnya. Lalu Ibunya datang dan marah-marah padaku.


"Memang benar ibumu itu placur! Kau tahu berapa laki-laki yang digodanya di kampung ini? Hampir semua laki-laki direbut sama Ibumu itu! Kau harusnya malu, lahir diluar nikah dan gak tahu siapa bapakmu yang asli. Untunglah dia cepat mati, kalau tidak, bisa jadi janda semua perempuan di kampung ini!" Pekiknya padaku waktu itu di depan teman-temanku yang lain. Aku menangis tak terima, aku ingin bertanya langsung pada nenek, pasti yang kudengar adalah fitnah.


Lalu saat aku bertanya, apa benar mendiang ibu seperti itu? Nenek hanya diam. Diamnya nenek membuatku hancur dan akupun tidak bertanya lagi tentang ibu mulai saat itu.


"Haah.." Aku merebahkan tubuhku di atas kursi setelah merasa letih berberes-beres untuk kepindahan kami.

__ADS_1


Aku menatap sekeliling, rumah tempatku tumbuh dan besar dengan tangan nenek, akhirnya dijual dan uangnya untuk biaya kuliah dan hidup di kota nanti.


Drrttt


Aku mengambil ponselku yang bergetar dan tersenyum saat membaca nama di layar.


"Halo?"


"Syahdu, aku sudah menemukan rumah kontrak yang murah dan dekat dengan universitas yang akan kamu daftarin. Harganya juga murah."


Aku tersenyum, suara kak Wicak terdengar senang. Mungkin karena kami tidak akan menjalani LDR lagi. Selama ini, cuma kak Wicak yang tetap mendukungku walau orang tuanya menentang keras karena citra keluargaku. Tetapi, dia tetap mau bersamaku dari SMP sampai sekarang dia sudah di semester 5.


"Kamu jam berapa kemari? Supaya aku tahu untuk menjemputmu."


"Hm.. mungkin satu jam lagi kami berangkat, kak."


"Baiklah, kabarin aku kalau sudah mau sampai, ya. Aku kuliah dulu. Love you."


"Love you too." Ucapku dengan senyuman.


Lelaki ini, walau sudah lama sekali bersamaku, perlakuan manisnya tidak juga berubah dan aku merasa sangat beruntung untuk itu.


"Syahdu.."


Aku menoleh pada nenek yang sudah berkeringatan.


"Nek, biar Syahdu aja."


"Gak papa, nenek juga gak ada kerjaan."


Aku menatap wajah nenek yang kulitnya sudah mengendur, rasanya sangat beruntung dia yang membesarkanku. Aku dengar, dulu aku sempat hampir diadopsi orang karena Ibu yang tidak mau merawatku, menganggapku sial karena setelah melahirkanku, pelanggannya banyak pergi sebab tubuhnya yang membengkak.


Nenek yang memaksanya untuk melahirkan aku. Walau waktu mendengar itu dari orang lain, aku marah pada nenek. Kenapa nenek menggagalkan Ibu yang menggugurkan kandungannya, padahal lebih baik aku tidak hidup daripada menderita seperti sekarang.


Lalu nenek menangis, kali pertama aku melihat nenek menangis. Katanya, dia sedih dengan ucapanku. Padahal nenek kuat karena kehadiranku, nenek berharap aku terus menjadi temannya saat anaknya tidak peduli padanya.


Aku langsung memeluk nenek sampai dia terheran dengan sikapku.


"Nek, terima kasih sudah membesarkanku, sudah mendukungku, sudah mengajariku banyak hal."


Nenek tak menjawab, dia tampak bingung dengan sikapku yang tiba-tiba.


"Maaf karena masih menyusahkan nenek."


"Hei, kau bicara apa!" Nenek melepaskan pelukan dan menepuk bahuku.


"Sudah cepat, bereskan. Siang nanti yang beli mau nempatin rumah ini." Ucapnya lalu berdiri.


Aku tahu mata nenek berkaca-kaca karena ucapanku. Ah, nenek. Untunglah dia masih hidup sampai sekarang, ucapku lalu beranjak untuk membereskan barang-barang lagi.


🍁


"Kak, dimana?" Aku tengah berdiri diantara banyak orang, mencari-cari sosok yang wajahnya sudah menggantung di pelupuk mataku sejak tadi. Rasanya tidak sabar ingun bertemu.


"Disini."


Aku terlonjak saat suara yang kukenal tiba-tiba masuk ke telinga kananku.


"Kak! Bikin kaget aja!" Omelku pada pacarku yang terlihat sangat tampan dengan kemeja yang dimasukkan ke celana panjangnya, tampak sangat rapi. Dia baru saja pulang kuliah.


Dia menyalami nenek dan membantu membawakan barang-barangku.


"Ayo, aku sudah pesan taksi."


Kami pun bergerak ke kontrakan yang sudah dipilih oleh kak Wicak.


Lelaki itu membantu kami membereskan barang, dia sampai menggulung lengan kemejanya dan berkeringat disekitar dahinya. Dimataku, dia terlihat sangat tampan.

__ADS_1


"Kak, istirahat dulu."


Aku membeli gorengan dan es teh, meletakkannya di atas meja.


"Nenek sudah istirahat di kamar, kakak juga istrihat."


Dia mengangguk dan duduk disebelahku, menghabiskan es teh setengah gelas langsung. Nampaknya dia kehausan karena mengangkat dan menyusun barang.


Aku menatapnya penuh cinta. Bagiku, tidak ada lelaki lain yang sangat memikat selain Aditya Wicaksana, kekasih hatiku.


"Kenapa liati aku begitu?"


Aku tersenyum lalu menggelengkan kepala.


"Kangen?"


Aku mengangguk cepat.


"Aku juga. Nanti ya, aku berkeringat dan bau. Eh?"


Tanpa peduli aku memeluk lengannya dan menyenderkan kepalaku di bahunya.


"Kau ini.." ucapnya sambil mengusap rambutku.


Sudah satu bulan tidak bertemu. Biasanya Kak Wicak akan pulang seminggu sekali dan menyempatkan untuk bertemu denganku, tetapi belakangan katanya sibuk dan tidak sempat pulang kampung.


"Kak, besok temani aku daftar di Universitas itu, ya?"


"Iya, besok aku tidak ada mata kuliah. Pagi-pagi aku kemari." Jawabnya sambil mengunyah gorengan.


"Oh ya, kak. Rumah ini sudah kakak bayar selama 3 bulan, ya? Berapa uangnya? Biar kuganti."


"Tidak usah, pakai uangnya untuk mendaftar besok." Jawabnya santai sambil menyesap minumnya lagi.


"Mana bisa gitu, kak. Itukan uang tabungan kakak. Aku ada uang, kok." Protesku padanya. Aku tahu dia memang orang yang lumayan dan bekerja paruh waktu juga, tapi bukan berarti aku bisa seenaknya, kan?


"Udah, gak papa. Aku ini pacarmu. Mana bisa aku liat kamu kesusahan."


"Tapi uangnya ada kok, kak. Kan, nenek baru jual rumah." Sahutku lagi.


"Pakai aja untuk biaya kuliahmu. Rajin belajar supaya cepat selesai kuliahnya dan bisa tunjukin toganya sama nenek."


Aku mulai mewek. Kak Wicak, bagaimana aku tidak semakin cinta padamu.


"Lho, kok nangis?" Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku yang tengah merasa sangat beruntung punya pacar sepertinya.


"Jangan nangis, dong. Ini anak emang cengeng, ya. Haha." Tawanya sambil menghapus air mataku.


"Dengar ya, Syahduku. Aku disini akan menjagamu. Kalau ada apa-apa, cepat kabarin aku. Kalau butuh apa-apa, bilang aku, oke?"


Aku mengangguk-angguk karena memang di rumah ini tidak ada laki-laki dan aku pasti hanya mengandalkannya saja.


"Ya sudah, sana mandi. Bau kamu."


Aku cemberut mendengar ucapannya, tapi aku cukup tahu diri karena membereskan barang-barang ini membuatku banyak mengeluarkan keringat.


"Iyaa, aku mau mandi." Ucapku sambil beranjak dari kursi dan mengambil handuk di kamarku.


Sebelum menuju kamar mandi, aku melihatnya dulu sebentar. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengusap-usap layarnya. Aku memandangi wajahnya yang tampan itu. Rasanya sangat beruntung, lelaki seperti Kak Wicak yang tampan, pintar, dan baik itu tetap mau denganku.


"Hei, ngapain disitu? Mandi sana!"


Aku tersenyum malu saat ketahuan menatapnya dari jauh. Aku bergegas ke kamar mandi sambil terus cengengesan. Ah.. kak Wicak..


☆★☆★


Halo, Mohon dukungannya untuk tap Favorite di Novel ini, ya. Terima Kasih💜

__ADS_1


__ADS_2