
Zaira menuju poli jiwa, menemui Revi. Entah kenapa Revi mendadak memintanya datang menemuinya langsung dan enggan membahas apapun di telepon.
Setelah jadwalnya longgar, Zaira pun bergegas karena dari nada bicaranya, sesuatu hal penting pasti terjadi, mungkin mengenai Sivia, batinnya.
Sampai disana, Revi buru-buru menarik tangannya lalu mengunci pintu. Hal itu membuat alis Zaira berkerut. "Ada apa, Rev?"
Revi mengajaknya masuk ke ruang pasien.
"Lihat belakangmu". Titah Revi pada Zaira yang langsung menoleh ke belakangnya.
Disana, dia melihat seorang wanita tengah duduk memeluk lutut di atas tempat tidur.
"Pasien baru, kah?" Tanya Zaira yang belum paham maksud Revi.
"Coba perhatikan betul-betul". Ucapnya sambil membelokkan badan Zaira supaya menghadap kamar itu.
Zaira berjalan mendekat, memicingkan mata di ruangan yang agak redup karena jendela yang tertutup.
Zaira langsung terkejut dan menutup mulut dengan kedua tangannya saat menangkap wajah Dinnara yang sendu berada disana.
"Rev.. itu.." Zaira mundur beberapa langkah, dalam pikirannya bertanya-tanya mengapa wanita itu bisa sampai berada disana.
"Ya, diantar kemarin. Aku sudah menghubungimu tapi sepertinya kau sibuk."
"Di-dia.. kenapa?"
Revi duduk di bangku lorong. Dia melirik sekilas ke kamar Sivia yang tampak sedang tertidur.
"Dia depresi, Ra. Brian menolaknya kemarin. Kak Andre yang cerita padaku." Zaira masih berdiri disana. Matanya tidak lepas dari Dinnara yang bahkan tidak bergerak.
"Aku sudah mendengar cerita dari kakaknya, kak Andre, dan juga dokter Winda. Dan kesimpulanku, Dinnara ini sangat iri pada Rinnada. Dia terlalu sering mendengar kalimat pujian yang selalu dilontarkan untuk Rinnada, bukan dirinya.
Padahal dia merasa mereka sangat mirip, tetapi pujian orang-orang berlaku pada sifat dan sikap Rinnada yang dianggap jauh lebih baik. Ternyata perkataan mereka menimbulkan iri dalam hatinya yang ingin terus menjadi Rinnada.
Makanya, Rinanda pasti menyelisihi apa yang menjadi kesukaan Dinnara karena dirinya risih pada Dinnara yang sering mengaku-ngaku Rinnada. Puncaknya adalah Brian. Lelaki itu memilih Rinnada, bukan dirinya." Ungkap Revi yang menyimpulkan berdasarkan banyaknya cerita yang ia dengar.
"Yang paling membuatku sedih adalah, depresi yang ia alami sudah kronis. Bahkan sekarang lebih parah."
Revi beranjak dan berdiri di samping Zaira. "Selama ini dokter Winda memberikannya harapan bahwa dirinya bisa menjadi Rinnada. Dari sana timbul keinginannya untuk mendekati Brian lagi dan mencoba merebutnya darimu." Revi mengelus lembut bahu Zaira yang masih syok dengan apa yang ada di depannya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bilang dia tidak salah, tetapi apa yang ia lakukan selama ini juga karena Ibunya yang sibuk dan menganggap hal seperti itu aman-aman saja." Revi membuang napasnya perlahan.
"Jangan terlalu menyalahkan dirinya, lunturkan rasa bencimu padanya. Saatnya bagi kita merawat dan membantunya keluar dari depresinya".
Zaira menunduk, dia memang amat membenci wanita itu tetapi setelah mendengar penjelasan Revi, dia sedikit luluh. Wanita itu sebenarnya adalah korban mulut-mulut orang yang suka membanding-bandingkan mereka di depannya. Yang tersudutkan adalah Dinnara, dia lalu merasa butuh semangat dan kasih sayang dari orang sekelilingnya yang hanya didapat oleh Rinnada.
"Aku mengerti". Zaira membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi.
"Eh, Mau kemana?"
"Berpikir sebentar." Ucapnya lalu menghilang dari balik pintu.
~
Zaira berdiri di balkon rumah sakit. Dia memikirkan banyak hal yang terjadi, suka duka membuat dirinya mendapat banyak pelajaran. Dia mengakui bahwa Brian pun juga korban fitnah dan penipuan dari Dinnara. Walau begitu, dia tidak bisa menutup rasa sakit hatinya hingga sekarang.
Sudah tiga hari, dia tidak juga melihat Brian. Dokter yang menanganinya bilang, Brian juga sudah sangat membaik. Dia sudah bisa duduk di ranjangnya. Brian bahkan berulang kali meminta dokter mengantarkannya bertemu Zaira, tetapi mereka beralasan Zaira terlalu sibuk hingga belum bisa di temui.
Zaira menarik napas, mungkin sekarang dia sudah bisa bertemu Brian dengan hati yang lebih tenang, apalagi setelah tahu keadaan Dinnara.
Dia berbalik, menujukan langkahnya ke ruangan Brian yang jauh di ujung.
Andre berdiri saat melihat Zaira masuk, begitu juga Brian yang langsung duduk tegak, wajahnya berseri karena akhirnya bisa melihat wajah istrinya.
"Aku keluar sebentar". Ujar Andre seperti tahu Zaira ingin berbicara pada Brian.
Zaira mendekat dan bertanya beberapa hal tentang apa yang Brian rasakan, sakit atau denyut dibagian dadanya. Namun jawaban Brian semuanya baik, tidak ada masalah.
"Kenapa baru datang sekarang?" Tanya Brian dengan suara serak.
Zaira berdehem. Dia enggan menjawab pertanyaan itu.
"Kalau dilihat dari kondisinya, kemungkinan sudah bisa pulang dua atau tiga hari lagi, dan kunjungan rutin setiap 3 hari sekali untuk pengecekan kesehatan yang mungkin bisa saja ada efek samping. Terus, jangan bekerja berat, rutin minum obat dan.."
Brian menarik tangan Zaira hingga wanita itu terduduk di tepi tempat tidur berdekatan dengannya. "Apa kau memang secerewet ini pada pasien?"
Zaira buru-buru berdiri, godaan Brian tidak lagi bisa membuatnya senang.
__ADS_1
Melihat penolakan dari Zaira, Brian menyadari wanita itu belum memaafkan dirinya walau dia mengira Zaira sudah tahu semuanya. "Mari bicara serius, aku ingin meminta maaf sedalam-dalamnya padamu."
"Aku akan melakukan apapun yang membuatmu memaafkanku, Zaira. Aku sangat sangat menyesal dan sangat ingin kau kembali padaku. Aku bahkan tidak bisa tenang selama ini, aku benar-benar mencintaimu". Raut wajah Brian berubah serius, tetapi Zaira menolak untuk menatapnya.
"Aku memaafkanmu, mas."
"Benarkah?" Brian sumringah. Dia sangat senang kalimat itu keluar dari mulutnya.
"Benar. Aku tahu kau juga pasti ingin mempunyai anak, wajar sekali sikapmu seperti itu. Hanya saja..."
Zaira menggantung kalimatnya, membuat Brian justru terlihat lebih cemas.
"Aku sudah tidak bisa kembali padamu".
Ucapan Zaira membuat tubuh Brian gemetar. Hatinya menolak kalimat itu, Brian bahkan menahan napasnya.
"Aku sudah memberimu kesempatan, lalu kau kembali padanya dengan alasan anak yang dikandungnya, aku mencoba memahami itu. Lalu, jika akhirnya kau tidak mengetahui kenyataan bahwa wanita itu adalah Dinnara, apakah kau akan bersikap seperti ini, mas?"
Pertanyaan Zaira membuat dirinya membeku. Dia mengingat betul tentang pemikirannya kalau dia akan bersama Rinnada jika Zaira menolak dirinya kembali.
Brian meneteskan air matanya, mengakui kesalahan yang ia sendiri bahkan tidak sadari selama ini.
"Kau pasti akan terus bersamanya jika kau tidak tahu dia itu Dinnara, kan?"
Brian diam saja, dia mengepal keras tangannya yang merasa kesal dengan hidupnya.
"Jaga kesehatanmu, mas. Kita masih bisa saling bertemu dan mengobrol jika kau sudah benar-benar pulih. Aku akan mendampingimu jika kau membutuhkanku sebagai dokter dan juga temanmu."
Zaira melangkah, meninggalkan Brian yang masih bersedih atas keputusan Zaira.
Selama ini dia selalu berpikir kalau Zaira pasti memaafkannya apalagi setelah tahu kenyataan yang sebenarnya. Tapi nyatanya, Zaira malah berpaling darinya.
Zaira keluar dari ruangan Brian, dia masuk ke dalam toilet dan mengunci dirinya disana. Menangis tanpa suara, dia mengeluarkannya disana tanpa siapapun yang mengetahuinya.
Bersambung....
**NOVEL TERBARU AUTHOR NIH🥰🥰
Judul: MENIKAHI LELAKI TUNANETRA**
__ADS_1
JANGAN LUPA DIBACA YAH.. DAN KLIK FAVORIT UNTUK INFO UPDATENYA😍🥰