Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Tekanan Zaira


__ADS_3

Zaira menutup pintu ruang kepala dengan rasa kesal setengah mati. Bisa-bisanya dokter Winda berpikir sempit sampai-sampai ikut turun tangan demi kebahagiaan anaknya, katanya? Zaira menggelengkan kepalanya. Kebahagiaan apa yang didapat dari merebut suami orang?


"Haiss.." Zaira melangkah sambil memegang kepalanya yang tak sakit.


"Selamat siang, dokter".


Zaira terhenti. Suara yang selalu ingin dia hindari sejak pertama bertemu, bahkan sebelum Zaira tahu wanita itu ternyata kekasih lama Brian.


"Anda terlihat sedang marah, dokter".


Zaira membalikkan badannya, menghadap Rinnada yang berdiri dengan tangan dilipat di dada.


"Aku tidak sangka, seorang seperti anda masih mau menerima laki-laki yang sudah mengkhianati anda." Rinnada mengangkat dagunya.


Zaira sedikit bingung. Padahal dia sudah lama keluar dari rumah Brian. Tapi sepertinya, wanita di depannya itu tidak tahu.


"Aku tidak masalah, kok. Sudah aku katakan, kan. Aku tidak meminta pertanggung jawaban kak Ian. Aku hanya akan memberikannya seorang keturunan".


"Satu lagi, walaupun begitu, aku tidak akan memberikan anak ini padamu. Tidak akan."


Zaira menaikkan satu alisnya. Dia tidak mengerti ucapan Rinnada. Siapa pula yang menginginkan anaknya.


"Kau terlihat menyedihkan, Rinnada. Aku rasa, kaulah satu-satunya perempuan yang dengan murahnya memberikan tubuhmu pada suami orang. Dengan suka rela ditanamkan benih pada rahimmu dengan alasan memberi hadiah seorang keturunan? Kau bahkan tidak benar-benar mengenal siapa kekasihmu itu. Kau pikir, anakmu itu akan bahagia, dilahirkan sebagai hadiah untuk suami orang lain? Chh".


Zaira tersenyum miring dan melangkah pergi.


"Sialan, kau!"


"Hei". Winda menarik tangan Rinnada. Dia menyuruh putrinya tutup mulut lantaran para perawat dan juga orang melintas memperhatikan dirinya.


Winda mengajak putrinya masuk ke ruangannya.


Rinnada tersedu lagi. Dia menangis di pangkuan sang bunda.


"Bunda, Zaira itu sangat jahat. Bunda dengar kan, apa yang dia katakan tadi padaku?" Rinnada bangkit dari pangkuan Winda dan mengusap air matanya. "Tega sekali dia bilang aku perempuan paling murahan di dunia. Padahal suaminya,.. hiks.." Rinnada tidak melanjutkan kalimatnya. Dia melihat Winda mengepalkan tangannya.


"Bunda, dia menyakiti hatiku. Sangat menghancurkan perasaanku. Padahal dia juga seorang perempuan. Tapi, dia sampai hati mengejekku". Rinnada tertunduk. Bahunya naik turun karena isak tangisnya pecah.


"Nada, jangan menangis. Kau harus menjaga janinmu. Kasihan dia di dalam." Ucap Winda sambil mengusap perut anaknya. "Tenanglah, bunda akan menolongmu. Bunda akan menemui Brian hari ini." Ucapnya lalu bersiap pergi.


...******...

__ADS_1


Zaira duduk di sofa dalam kamar Sivia. Wanita itu masih seperti biasa. Duduk menghadap jendela kamar dengan pintu terbuka menikmati similir angin di wajahnya yang terlihat begitu cantik.


Sivia, wanita yang sebenarnya sempurna d mata Zaira. Entah apa kekurangannya hingga membuat dirinya di siksa dan dicampakkan suaminya.


"Apa aku mengganggumu, Sivia?"


Wanita itu membelai ujung rambutnya. Pandangannya tidak beralih dari jendela.


"Beritahu aku namamu yang sebenarnya, jika kau sudah mau bicara, ya." Zaira menautkan jari-jarinya. Dia sendiri bingung kenapa memilih tempat ini sebagai pelariannya. Padahal, Sivia sendiri perlu sesuatu untuk mengurangi beban pikirannya.


"Kau dan aku bukannya tidak berharga. Kita sangat berharga. Hanya saja, mereka yang tidak pandai mensyukurinya. Benar kan, Sivia?" Zaira menahan air mata yang hendak keluar. Dadanya terasa sesak. Orang-orang sialan itu terus mendatanginya tiada henti. Berkata ini dan itu seolah merekalah yang harus dimengerti. Sementara perasaannya, tidak ada yang mau mengerti.


"Aku tidak menyalahkan takdir. Justru inilah jalan supaya aku lebih berhati-hati. Supaya aku lebih kuat. Supaya aku lebih menghargai diriku. Supaya aku..." Zaira menahan isakannya. Dia berkedip beberapa kali untuk menghilangkan air yang mulai menggenang di matanya.


"Supaya aku sadar, sepatutnya perasaan cinta tidak perlu terlalu berlebihan." Zaira menunduk. Dia membuka telapak tangannya.


"Seharusnya kita letakkan saja perasaan cinta itu disini." Ucapnya sambil melihat telapak tangannya yang terbuka. "Supaya kita bisa mengendalikannya. Tidak sesakit ini saat cinta itu mengkhianati kita." Air matanya menetes di atas telapak tangannya. Dia tidak bisa menahannya lagi. Zaira tersedu-sedu. Dia menangis hingga bahunya naik turun karena sesak di dadanya kian menyiksa dirinya.


Revi berjalan menghampiri Zaira. Dia tadi memberi izin sahabatnya untuk mengobrol dengan Sivia. Tetapi wanita itu ternyata tidak kuat menahan perasaannya.


"Menangis saja, Zaira. Jangan ditahan."


Hembusan angin menyibak tirai jendela yang tersingkap. Hembusannya menerpa wajah mereka bertiga dengan lembut. Saling diam dengan perasaan mereka masing-masing.


Hanya tinggal menunggu hari saja, bersabarlah Zaira. Kebahagiaan di depanmu sudah menunggu. Kau hanya perlu bersabar sedikit lagi saja. Batin Revi sambil memeluk dan mengusap lembut punggung Zaira.


...*****...


Winda berjalan masuk ke dalam kantor Brian. Dia menyusuri koridor menuju ruangan Brian. Saat itu, Andre membuka pintu dan menemukan Winda tepat berjalan di depan ruangannya.


Winda terhenti. Dia melihat Andre berdiri masih dengan memegang handel pintu.


"Kau temannya itu, kan?"


Andre tidak menjawab. Dia memandang Winda yang wajahnya menahan amarah. Winda menuju ruangan Brian dan membukanya tanpa mengetuk dahulu.


Brian tersentak. Dia langsung menutup laptopnya dan berdiri saat melihat Winda bertumpu menghadapnya.


Winda langsung duduk di atas sofa. Melihat itu, Brian perlahan duduk di hadapan Winda.


"Kau tahu kan, apa tujuanku?"

__ADS_1


Brian tertunduk lesu. Dia tahu kesalahannya, namun dia tidak bisa meninggalkan Zaira karena Ziara sendiri yang masih memilihnya saat ini.


"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu pada putriku". Pandangan Winda tidak lepas dari Brian yang bahkan tidak berani menatapnya.


"Apa kau tidak sadar, kau telah banyak membuatnya menderita. Dia tidak bisa melupakanmu. Kau pikir, kau bisa hidup bahagia dengan istrimu?"


Brian menegakkan kepalanya. "Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyakiti Rinnada. Dari dulu saya sangat berniat menikahinya. Tetapi, bukankah Tante yang membuatku pergi?"


Ucapan Brian membuat Winda membulatkan matanya. "Kau saja yang tidak berjuang. Memilih pergi diam-diam dan menikah dengan perempuan lain." Ucapnya dengan nada yang mulai meninggi.


"Masalahnya adalah sekarang. Kau harus bertanggung jawab. Lagi pula apa beratnya? Kau dan Rinnada sama-sama mencintai. dan Istrimu bahkan tidak bisa memberikanmu anak."


Mendengar itu, Brian menundukkan pandangannya.


"Saya tidak bisa meninggalkan Zaira".


"Apa? Lalu, kau hanya memainkan putriku?" Pekiknya hingga membuat suaranya terdengar sampai keluar.


"Saya akan bertanggung jawab. Saya akan menanggung seluruh dana apapun yang keluar untuk anak itu. Jika diizinkan, saya juga yang akan merawat anak itu bersama Zaira." Ucap Brian pada Winda yang membelalakkan matanya, tak habis pikir dengan jawaban Brian.


"Apa kau gila? Kau hanya memanfaatkan putriku untuk mendapatkan anak? Kau pikir Rinnada itu mesin pencetak bayi?" Teriak Winda. Lalu dia berdiri dengan gejolak amarah yang luar biasa.


"Kau benar-benar bajingan. Kau harus tau apa akibat dari perbuatanmu ini!" Ancam Winda lalu berjalan menuju pintu keluar.


Mendengar itu, Brian langsung berdiri. Dia teringat Zaira. Dia takut masalah ini akan memperngaruhi pekerjaan istrinya itu. Karena wanita itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang tengah ia hadapi.


"Sebentar, Tante.." Teriak Brian lalu mengejar Winda yang sudah tidak nampak wujudnya.


Lalu dia terhenti saat melihat Andre berdiri dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.


Pandangan Andre begitu tajam terhadap Brian. Dia tengah mengurus masalah perceraian Zaira dengan lelaki di hadapannya. Dia juga sudah menerima foto-foto Brian dengan Rinnada sebagai bukti perselingkuhan untuk menguatkan proses perceraian. Lalu sekarang, dia mendengar Brian ingin mengadopsi anak Rinanda dengan Zaira?


Laki-laki di depannya memang sudah gila. Padahal dia sering memecahkan masalah pelik kliennya. Lalu sekarang, dia bahkan tidak bisa menyelesaikan masalah tanpa menghadirkan masalah lagi.


Andre tidak bicara apa-apa. Dia langsung masuk ke ruangannya. Meninggalkan Brian dengan wajah kalutnya.


Bersambung.....


Hallo♡


Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐

__ADS_1


Jangan lupa baca cerita Author "Sang Penakluk yang Takluk" 🙈


__ADS_2