
Sudah hampir sebulan Rinnada tidak menemui Brian. Juga tidak mengirimkan hal-hal aneh yang membuat Brian mengingat masa lalunya lagi. Menurut Andre, Brian sudah menuntaskan cerita masa lalunya karena perasaannya pada Zaira lebih dominan saat ini.
Zaira duduk di kursi kerjanya. Dia menyandarkan punggung sambil memutar-mutar kursinya. beberapa hari yang lalu, dia membujuk Brian supaya mau mengadopsi seorang anak. Tapi, Brian bilang nanti dulu. Entah apa yang memberatkannya, Zaira pula tidak memaksa.
Zaira mendapat pesan dari Revi, memintanya datang ke Poli Jiwa. Dia melirik jam, sudah masuk waktu istirahat. Dia lalu membuka jas dokternya dan beranjak keluar ruangan menemui Revi.
Zaira menepuk pundak Revi yang tengah berdiri menunggunya.
"Cepat, ikut aku." Revi berjalan ke arah sebuah tempat yang belum pernah Zaira masuki sebelumnya. Disana, ada Hani yang tengah duduk di depan sebuah kamar yang sebagian temboknya memakai jeruji besi.
"Han, sudah?"
Hani menoleh, lalu mengangguk.
"Ada apa?" Tanya Zaira yang melihat seorang wanita duduk di sudut kamar. Dia membelakangi mereka sehingga Zaira hanya bisa menatap rambut panjangnya yang berantakan.
"Dia wanita yang sedang hamil dengan gangguan kejiwaan. Suaminya yang membawanya kemari".
"Apa? Suaminya?" Zaira yang mendengar langsung terkejut.
"Iya. Suaminya hanya mengantarnya saja. Setelah itu, dia tidak pernah dikunjungi sekalipun. Sudah dua minggu disini."
Zaira menatap wanita itu. Dia terlihat ketakutan sambil sesekali menutup kepalanya dengan tangan seperti melindung dari seseorang yang akan memukulnya.
"Han, bagaimana?" Tanya Revi pada Hani yang tadi memeriksa kondisi kehamilan wanita itu.
"Baik. Semua bagus. Aku takjub. Padahal mungkin dia makan makanan yang tidak benar. Tetapi kondisi janinnya sangat baik."
Zaira mendekat ke arah kamar itu. Dia menggenggam besi yang berdiri sebagai pembatas.
"Katanya, dia menikah dengan laki-laki yang kasar. Dari awal, ibunya sudah melarangnya. Lalu dia kawin lari sampai ke kota ini dengan laki-laki itu hingga dia akhirnya menyerah ingin bunuh diri karena suaminya yang main tangan dan selingkuh." Jelas Revi pada Zaira yang terlihat membeku di tempatnya.
"Kami sudah berusaha menghubungi orang tuanya, namun mereka sudah tidak peduli lagi. Ibunya sakit hati karena anaknya lebih memilih laki-laki itu dari pada dirinya. Wanita itu berkali-kali disakiti. Dia juga ingin pulang, namun malu pada orang tuanya. Hingga akhirnya, dia ditinggal dan suaminya menikah lagi dengan sahabatnya sendiri." Revi lalu duduk di sebelah Hani.
"Ra, jika kau mau, kau bisa mengadopsi anaknya. Aku sudah cek keseluruhan. Dia benar-benar sehat. Sekitar dua minggu lagi, bayinya akan lahir". Ucap Hani yang memberi saran sebab dia mendengar Zaira ingin mengadopsi anak untuk mempererat hubungannya dengan Brian.
"Dia anak perempuan, Ra. Anaknya pasti cantik. Karena wanita itu juga sangat cantik."
Zaira terus menatap wanita yang membelakanginya.
"Aku kasihan padanya. Dia terlalu jatuh cinta pada suaminya. Padahal, usianya masih sangat muda. Masa depannya masih panjang ke depan. Sayang sekali." Sambung Revi lagi.
__ADS_1
Zaira menoleh ke arah sahabatnya. "Aku, ingin sekali merawat anaknya". Ucap Zaira yang merasa prihatin. Entah mengapa dia teringat pada wanita yang belakangan mengejar Brian hingga mengancam untuk bunuh diri. Secinta apa mereka hingga mau mengorbankan diri seperti itu.
"Tapi, aku perlu persetujuan Brian dulu. Aku akan membujuknya".
"Baiklah, Ra. Aku yang akan mengurus semuanya untukmu. Aku sangat senang dengan keputusanmu" Ucap Revi sambil memeluk Zaira. Dia sangat berharap Zaira mau mengadopsi anak itu.
"Aku akan membuatnya sembuh. Aku akan membantunya meringankan apapun yang menjadi beban dalam pikirannya." Ucap Revi lagi. Mendengar kisah wanita di depannya, membuatnya miris. Apalagi, suami yang mengantarnya memandang seperti jijik. Ingin sekali Revi menonjok laki-laki itu kemarin.
Terlihat sepele, namun apa yang dirasakan wanita itu pasti sangatlah menyakiti perasaannya. Revi ingin membantunya melewati hari buruk dan membuat suami brengseknya itu menyesal.
...*****...
Zaira menemui Brian di ruang tengah. Jarang-jarang Sore hari mereka sudah di rumah. Biasanya, kalau tidak Brian yang pulang lambat, maka Zaira la yang pulang malam karena jadwal operasi dadakan.
Brian tampak tenang. Minum teh sambil memainkan ponselnya. Dia bahkan tidak melirik saat Zaira duduk disebelahnya.
"Serius sekali". Ucapnya saat dia tidak dihiraukan Brian.
"Ah, maaf sayang." Brian meletakkan ponselnya di atas meja. Dia lalu membelai rambut Zaira. "Ada apa?"
"Aku mau bicara penting. Tapi tolong dengarkan aku sampai selesai". Ucapnya lalu mengubah posisi duduknya sedikit miring menghadap suaminya.
Brian mengangguk sambil tersenyum. Dia sudah paham. Bila begini, Zaira pasti ada maunya.
"Nah, dia sekarang ini lagi hamil tua, mas. Suaminya sudah membuangnya. Dia juga masih muda. Usianya sekitar 18-19, gitu kalau aku tidak salah. Nah, sekitar dua minggu lagi, anaknya akan lahir". Zaira menghentikan kalimatnya, menunggu respon Brian. Dia berharap laki-laki itu sudah menangkap apa yang ia maksud.
"Jadi, maksudmu..."
"Iya, mas. Aku pingin mengadopsi anaknya. Entah kenapa aku merasa kasihan dan ingin membantunya".
Brian sejenak terdiam. Dia membelai lagi rambut Zaira.
"Bagaimana?" Tanya Zaira dengan hati-hati. Dia berharap suaminya mau mengabulkan permintaannya.
"Sudah dipikirkan dengan matang?"
Zaira mengangguk cepat. Matanya berbinar menatap Brian di depannya.
"Ya, sudah. Kalau sudah dipikirkan, aku setuju. Asal tidak memberatkanmu saat bekerja nanti".
"Hah?" Zaira menutup mulutnya. "Ini serius kan, Mas?"
__ADS_1
"Iya. Serius. Asal itu membuatmu senang".
"Hah.. terima kasih, mas." Zaira kegirangan sambil memeluk Brian. Dia merasa sangat bahagia dan tak sabar memberi kabar kepada Revi dan Hani.
"Baiklah, sayang. Aku mandi dulu". Brian mengecup kening Zaira lalu beranjak dari tempat duduknya.
Zaira langsung mengeluarkan ponsel untuk menelepon sahabatnya. Lalu, terdengar suara bel dari pintu gerbang. Mbok Inah berjalan cepat menuju arah depan.
"Halo, Rev. Syukurlah akhirnya mas Brian mau mengadopsi anak itu, Rev. Aku senang sekali"
.....
"Iya. Pokoknya bantu aku, ya."
Mbok Inah datang dengan sebuah kotak berwarna biru di tangannya.
"Maaf, Non. Ada paket".
"Oh, sudah dulu, ya. Nanti aku kabari lagi".
Zaira memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana.
"Dari siapa ini, Mbok?" Zaira mengguncang-guncangkan kotak yang lebarnya setelapak tangannya.
"Tidak tahu, Non. Katanya buat den Brian". Mbok Inah lalu beranjak untuk mulai menyapu.
"Brian, ya? Apa dari Kliennya?" Zaira membuka perlahan kotak itu. Dia sedikit bingung saat memegang benda kecil yang berada di dalam kotak. "Testpack?" Kening Zaira berkerut. Siapa yang mengirimkan benda seperti ini pada Brian? Apakah salah kirim? Pikirnya.
Dia lalu menyentuh sesuatu yang tampak seperti foto yang tertutup. Pelan-pelan dia membalikkan foto yang jumlahnya banyak itu.
BRAK!!
Kotak beserta isinya itu terjatuh ke lantai.
Mbok Inah tergopoh berlari sambil menggenggam sapunya.
"Non, ada apa?"
"Oh, Astaga!" Mbok Inah menjatuhkan sapu di tangannya. Dia menutup mulutnya sambil melihat foto-foto yang berserak di lantai.
Foto-Foto Brian bersama Rinnada yang tertidur hanya dengan selimut yang menutupi.
__ADS_1
Zaira membeku di tempatnya. Air mata mengalir deras dari sudut matanya. Dia tidak mampu berpikir lagi. Sakit hati yang ia coba pendam pun mulai tergali. Zaira memejamkan matanya. Membayangkan wajah khianat Brian yang ternyata telah membohonginya.
Bersambung....