Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Depresi (2)


__ADS_3

Andre duduk di sebelah Brian yang belum juga siuman. Lelaki itu menemani Brian sambil mengerjakan pekerjannya. Andre melarang Zaira untuk memberitahu Papa Brian karena dia yakin Brian juga tidak ingin kesehatan papanya menurun karena harus mengurus Brian. Walau sempat protes, Zaira akhirnya menurut saja.


Brian membuka matanya, dia menatap ke atas, menelisik setiap apa yang di dapat bola matanya. Lalu dia melihat ke kanan, tempat Andre duduk dengan berkasnya.


"Dre.."


Andre tersentak, dia melihat Brian yang sudah membuka mata. Dengan sigap, Andre memencet tombol kecil di sebelah ranjang.


"Kau sudah sadar, Yan? Bagaimana? Apa ada yang tidak enak?" Tanya Andre pada Brian yang hanya memejamkan mata. Dia belum bisa banyak bergerak karena kondisi tubuhnya.


Tak lama, seorang dokter dan perawat datang mengecek kondisi Brian.


"Syukurlah bapak sudah siuman." Dokter Eka tersenyum, lalu beralih pada Andre. "Keadaannya sudah membaik, kondisi jantung juga normal. Tetapi pak Brian belum boleh terlalu banyak gerak." Dokter Eka memberi penjelasan dan menanyakan ini itu lalu keluar ruangan.


"Aku kira Zaira yang akan datang". Tutur Andre.


Brian mulai mengingat apa yang ia alami sebelum dan saat kecelakaan.


"Dre.."


"Ya?"


"Zaira.."


"Dia sedang sibuk. Nanti juga akan datang. Kau istirahat saja, cepat pulihkan dirimu supaya bisa menjelaskan banyak hal kepadanya." Andre menghibur Brian, siapa tahu setelah Zaira mendengar langsung dari Brian, dia mau kembali kepadanya.


"Rina.. dia.."


"Iya, aku sudah membaca surat itu. Rinnada sudah meninggal, kan? Dan yang sekarang adalah Dinnara."


Air mata Brian menetes. Dia mengingat lagi hal yang ia lakukan kepada Zaira selama ini.


"Sudah, kau jangan banyak berpikir. Kau harus sehat. Zaira sudah berjuang supaya kau selamat". Ucap Andre lagi agar Brian tak putus semangat.


"Zaira.. operasi.."


"Iya, dia yang mengoperasimu. Padahal saat itu dia mendapat surat pindah tugas yang membuat izin prakteknya di rumah sakit ini terputus. Untunglah, semua kembali normal."


Brian diam, dia sangat ingin bertemu Zaira, tetapi mendengarkan penjelasan Andre sepertinya Zaira sudah tahu kejadian yang ia alami sebelum kecelakaan.

__ADS_1


Andre menarik kursinya dan duduk di sebelah Brian.


"Aku..ingin...kembali.." Ucap Brian dengan lirih. Dia menatap ke depan, air mata mengalir lagi dari sudut mata membasahi bantalnya.


Andre menepuk pelan bahu Brian, mencoba menenangkan sahabatnya. "Kau harus kuat. Jangan biarkan dirimu drop. Kau harus bangkit dan perbaiki apa yang seharusnya berjalan mulus. Aku percaya padamu, kau pasti bisa kembali sehat".


Ucapan Andre membuatnya mengangguk, dia bertekad untuk sembuh supaya lidahnya lebih lancar untuk menjelaskan banyak hal pada Zaira. Dia berniat dalam dirinya untuk berubah, menyerahkan kehidupannya pada istrinya itu. Dia takkan lagi goyah dalam hal apapun, apapun!


...✨️...


Dinnara masuk ke ruangan Brian. Dia mendapati Andre disana dengan dingin menatap ke arahnya tanpa berkedip.


Brian yang tengah mengunyah buah pun ikut diam. Kini dia sudah jauh lebih baik setelah beberapa hari bertahan hidup supaya dia cepat bertemu Zaira.


"A-aku ingin bicara". Dinnara masih berdiri di depan pintu. Melihat Andre disana dia sedikit bergetar.


"Bicaralah. Aku akan tetap disini". Ucap Andre lalu berdiri, membiarkan Dinnara duduk di sebelah Brian. Walau dengan malas Brian membiarkannya duduk dengan membuang wajahnya dari perempuan yang telah menghancurkan hidupnya.


Dinnara memandang Brian dengan cemas. Ingin sekali dia menggenggam tangan pria itu. Tetapi nyalinya ciut saat tersadar dari ekor matanya ia melihat Andre terus menatapnya.


"Apa, kakak sudah membaik?"


Pertanyaannya tidak dijawab. Brian bahkan tidak menoleh padanya.


"Aku tahu, aku sangat salah. Tetapi ini kulakukan karena rasa cintaku dan.."


"Buang itu. Aku tidak membutuhkannya." Sanggah Brian yang sudah muak mendengar alasan tak masuk akalnya.


Dinnara melepaskan air mata yang sejak tadi ia tahan. "Ma'afkan aku.." Lirihnya.


"Kau menghancurkan hidupku. Aku nyaris mati karena perbuatanmu"


Dinnara mendongak, ucapan Brian membuatnya terperangah.


"Aku tidak mungkin membuatmu mati. Aku tidak mungkin melakukan itu". Jelasnya pada Brian. "Aku tidak ingin kau mati, aku sangat mencintaimu".


"Sudahlah. Aku tidak membutuhkanmu. Pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku." Tukas Brian dengan lantang hingga membuat seluruh tubuh Dinnara bergetar, ingin rasanya ia ambruk disana.


"Kak, dengarlah aku dulu..." Tangannya meraih tangan Brian, dengan cepat pria itu menangkis.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku tidak minat padamu, aku sangat membenci orang sepertimu!"


Dinnara menangis keras. Dia tidak sanggup mendengar ucapan Brian yang sangat menyakiti perasaannya.


"Kak.."


"Pergi. Jika kau mencintaiku, menghilanglah dari pandanganku. Aku tidak suka kau muncul di pandanganku".


Andre berjalan ke arahnya, mengangkat tubuh gadis itu untuk berdiri. Dinnara tak bertenaga, dia bahkan tidak melawan Andre yang perlahan menyeret tubuhnya keluar. Dia hanya melihat Brian yang sejak tadi tak menoleh padanya. Dinnara memohon dengan tangisan yang dalam.


"Kak, jangan begitu padaku. Aku sangat mencintaimu, ku mohon jangan begitu padaku." Dinnara terisak, dia terlihat rapuh sekarang, tidak segarang kemarin. Dia sudah berhasil lari dari Bundanya untuk bisa menjenguk Brian, namun pria itu bahkan tidak ingin melihatnya.


Andre menutup pintu. Dinnara terduduk di depan pintu ruangan Brian. Dia menangis tanpa suara, mengundang tanda tanya orang-orang yang melintas.


Seorang perawat membantu Dinnara berdiri, lalu perawat lain berlari ke arah ruangan dokter Winda untuk melapor bahwa anaknya kini sudah tidak bertenaga untuk jalan.


Dinnara di dorong dengan kursi roda. Matanya terus berair. Kini Dinnara di bawa menuju poli jiwa.


Winda Melihat hal yang sama dengan beberapa tahun yang lalu terjadi, membuatnya sadar bahwa dialah yang menyebabkan anaknya kembali depresi. Seharusnya, Winda tidak mengizinkannya mengubah dirinya menjadi Rinnada, tidak menuruti semua kemauannya, seharusnya Winda terus menyadarkan anaknya bahwa dirinya tetap Dinnara. Selama ini, anaknya belum benar-benar sembuh dari sakitnya.


Winda menemui Revi yang tengah membuat laporan pasien-pasiennya, dikejutkan dengan kedatangan Winda dan beberapa perawat yang membawa Dinnara duduk dengan sendu di kursi roda. Bahkan sepertinya Dinnara pasrah saja atas apa yang terjadi pada dirinya.


"Ke-kenapa, dok?" Tanya Revi yang terkejut dengan kehadiran pimpinan rumah sakit bersama putrinya, Dinnara.


"Anakku, dia kembali depresi. Aku serahkan dia kemari, aku percaya padamu untuk membuatnya kembali normal." Ucapnya dengan air mata yang tiba-tiba jatuh, dengan cepat Winda menghapusnya.


Revi terperangah, Dinnara dengan depresinya? ia jongkok melihat Dinnara yang masih terus menangis.


"Dinnara?" Revi mencoba memanggil wanita itu. Namun dia tidak meresponnya. Wajah sendunya terpampang dengan jelas.


"Dia terkena depresi persisten, tanpa kusadari, berbulan-bulan lamanya dia mengidap depresi jenis itu, sampai kakaknya yang membawa Pskiatri ke rumah, baru kusadari dia mengidap itu. Aku mengira dia baik-baik saja". Winda menghapus air matanya lagi.


Depresi Persisten, depresi tingkat kronis yang penyembuhannya butuh bertahun-tahun.


"Jadi.."


"Ya, dia bertahun-tahun di rumah sakit jiwa. Menolak dipanggil dengan namanya sendiri sampai aku yang menyerah dan mengikuti kemauannya. Setelah keluar dari sana, dia ikut aku kemari. Tanpa ku tahu, dia belum benar-benar sembuh." Kembali Winda menangis mengingat betapa buruknya dia menjadi ibu.


Revi menarik napasnya, dia paham sebagai Ibu, tentulah Winda ingin anaknya sembuh. Walau tanpa ia sadari, perbuatannya memicu depresi yang kembali kambuh.

__ADS_1


"Bantu aku menjaganya, aku tahu kau sudah menyembuhkan banyak pasien disini". Ucapnya lalu menangis sesegukan menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Winda menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada semua anak-anaknya.


Bersambung...


__ADS_2