
Brian langsung berdiri dari tempatnya. Matanya masih fokus pada pesan sang istri di ponselnya.
"Kak, ada apa?" Rinnada mendongak.
"Aku harus pulang. Rin, kau pulang sendiri, ya. Maaf aku buru-buru".
"Sebentar. Ada apa kak?" Rinnada menahan lengan Brian yang hendak pergi. Wajahnya ikut panik saat melihat raut wajah Brian.
"Nanti aku ceritakan. Aku pergi dulu." Brian berlalu begitu cepat. Dia berlari ke arah mobilnya meninggalkan Rinnada yang begitu penasaran dengan hal apa yang menimpa kekasihnya hingga terburu-buru seperti itu.
Brian mengendarai mobilnya dengan kencang. Dia melirik jam tangannya berkali-kali. Dalam perjalanan rumah tangganya bersama Zaira, tidak pernah sekalipun bibir istrinya melayangkan kata perpisahan semarah apapun dia. Jika hari ini Brian menerima pesan seperti itu, berarti hal yang luar biasa pasti sedang terjadi.
Pikirannya menerjang hal-hal buruk yang akan menimpanya di beberapa menit kedepan. Pikirannya sangat kacau hingga tidak bisa berpikir jernih. Jika Zaira tahu apa yang ia lakukan belakangan ini, bagaimana?
Brian berkali-kali menelan ludahnya. Dia sudah berani menyalakan api perang pada Zaira.
Dia menggelengkan kepalanya. Tidak! tidak boleh pisah. Terasa cinta yang luar biasa tumbuh dalam hatinya pada istrinya. Brian sangat takut berpisah dengan Zaira.
Lalu tiba-tiba dia bertanya dalam benaknya. Bagaimana Zaira tahu? Apakah Andre yang memberitahunya?
"Ahhh! Sial!" Umpatnya. Masa Andre? Walau Andre selama ini mengetahui sekalipun, dia sangat tahu kalau sahabatnya itu takkan melakukan itu.
Dia menancap gas hingga tidak sadar betapa lajunya mobilnya saat itu.
~
Zaira duduk di sofa dengan wajah sembab dan napas yang mulai tenang. Dia sudah mencuci wajahnya dan menghilangkan sedikit demi sedikit amarah dalam hatinya. Untunglah Mbok Inah izin pulang kampung kemarin, sehingga wanita itu tidak melihat kondisi rapuhnya saat ini.
Brian membuka pintu dengan kasar. Wajahnya penuh keringat. Napasnya tersengal-sengal. Dia melihat istrinya duduk tenang di atas sofa dengan tangan terlipat dan kaki bersilang.
Zaira melirik jam dinding di atas Brian berdiri. Waktu yang sengaja ia buat sedemikian singkat demi melihat kesungguhan Brian pada dirinya.
Ada sedikit perasaan lega dalam diri Zaira saat melihat kondisi Brian di depannya. Dia benar-benar mengejar waktu supaya dapat sampai di rumah sesuai instruksi istrinya. Dalam 14 menit, Brian sudah berada di rumah. Satu hal ini saja sangat menunjukkan tekad suami yang tidak menyepelekan istrinya.
Brian menyeret langkahnya. Melihat wajah Zaira yang sendu namun tetap mencoba tenang membuatnya semakin bergetar takut. Banyak hal buruk muncul dalam benaknya tiba-tiba.
Zaira masih diam. Matanya memandang lekat wajah Brian yang panik.
Brian duduk di bawah kaki Zaira. Dia mendangak dan meraih tangan istrinya dengan lembut.
"Hei. Ada apa?" Brian mengelus pelan punggung tangan Zaira.
__ADS_1
Melihat betapa buruknya perilaku suaminya di belakangnya membuatnya muak. Dia memalingkan wajah. Rasa marah tiba-tiba muncul lagi saat mengingat kejadian di ruangan Andre.
"Aku memaafkanmu saat melihat wanita lain mencium pipimu di taman komplek".
DEGG!!
Brian terbelalak mendengar ucapan Zaira yang tak manatap wajahnya.
'Apa? Jadi Zaira melihatnya?' Jantung Brian bergetar hebat. Badannya yang tegak langsung melemas mendengar itu. Kini dia sadar, apa yang dia lakukan pastilah diketahui istrinya.
"Sa..sayang.." Suara Brian gemetar. Dia semakin menggenggam erat tangan istrinya. Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Aku maafkan walau kau tak minta maaf soal itu".
Brian menundukkan kepalanya. Rasa malu mulai menyelimuti dirinya. Bagaimana mungkin istrinya sangat memaafkannya bahkan tidak mengungkitnya. Dia mungkin tak sanggup jika Zaira yang berbuat demikian pada dirinya.
Zaira lalu membuang napasnya dengan kasar. "Tapi ternyata aku tidak sadar. pikiranku yang terlalu sempit, atau akulah yang terlalu gampang kau bodohi."
Zaira meneteskan air mata yang jatuh di tangan Brian.
"Jawablah dengan jujur. Apa kau pernah melakukan hubungan intim dengan perempuan itu?" Suara Zaira mulai parau lagi. Dia tidak sanggup menahan air matanya.
Brian langsung menaikkan wajahnya. Dia menatap wajah Zaira dengan perasaan takut.
"Aku jijik bersentuhan dengan suami yang sudah dicicipi orang lain. Aku sangat menjaga diriku, maka akupun meminta suamiku untuk melakukan hal yang sama. Apakah bisa?" Begitu perkataan Zaira dulu padanya. Lalu sekarang, dia melakukan perbuatan yang paling dibenci istrinya.
"Tidak. Sungguh, aku tidak melakukan apa-apa padanya." Suara Brian gemetar. Dia tidak mau berpisah dengan istrinya. Apapun ceritanya, dia takkan meninggalkan Zaira. Dia akan bertahan dan memilih meninggalkan Rinnada.
Zaira diam cukup lama. Dia memikirkan apakah Brian harus diberi kesempatan atau tidak.
Lalu matanya menyorot ke arah bingkai besar di sudut ruang. Wajah bahagia dirinya dan Brian terpampang disana. Apakah pernikahannya dan Brian harus sampai disini?
"Demi Tuhan, aku tidak berbuat apa-apa padanya. A-aku.. hanya.." Brian tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia bingung harus menjawab apa sebab takut Zaira semakin marah.
"Apa ada yang kurang?" Tanya Zaira lagi, namun Brian terlihat bingung.
"A-apa?"
"Aku. Apa ada yang kurang dalam diriku?" Zaira mencoba berkaca. Jika Brian selingkuh, dia ingin tahu apa yang kurang dalam dirinya. Supaya kedepannya dia bisa memperbaiki diri. Setidaknya dia melakukan yang terbaik, namun jika Brian memilih selingkuhannya, dia tidak akan menyalahkan dirinya.
"Kenapa bertanya itu?" Suara Brian gemetar. Dimatanya, Zaira sosok istri yang luar biasa. Dia bahkan sangat merasa beruntung bisa memiliki wanita seperti Zaira.
__ADS_1
"Tidak. Kau sempurna. Aku yang sangat banyak kekurangan. Maafkanlah aku, Ra. Ampuni aku. Kumohon, berilah satu kesempatan. Demi Tuhan aku takkan melakukan hal seperti ini lagi". Brian menangis sambil menciumi tangan istrinya. Dia merasa hancur jika Zaira tidak memaafkannya.
Zaira melihat suaminya yang tersedu. Dia mulai mencintai lelaki di depannya bahkan setelah hampir setahun menikah. Selama ini, dia menerima Brian sebab perjuangan dan usahanya untuk mendapatkan hati Zaira.
"Baiklah aku pegang itu. Jika ternyata berbohong, kau pasti tahu kan, mas?" Ucap Zaira pada akhirnya. Setelah menimbang dan melihat tangis Brian yang terlihat benar adanya, dia sedikit meluluh.
Brian mengangguk. Matanya tak lepas menatap Zaira. "Maafkan aku. Maafkan aku.." Ucap Brian sungguh-sungguh lalu Menenggelamkam wajahnya di lutut Zaira.
"Aku janji akan meninggalkannya dan.."
"Sudahlah. Aku tidak suka dengan janji jika pada akhirnya tidak ditepati. Jalankan saja sebagaimana mestinya menjadi suami." Tegas Zaira memotong kalimat yang dia bahkan enggan mendengarnya.
"Iya. Baiklah sayang." Brian menutup matanya sambil menciumi tangan istrinya. Dia bertekad dalam hati untuk meninggalkan Rinnada apapun alasannya. Hari ini untuk pertama kali, dia merasa mendapat hantaman keras dari istrinya.
"Apa.. kau sangat menginginkan anak?" Zaira tiba-tiba memikirkan itu. Jika Brian ingin anak, dia akan meminta izin Brian untuk mengadopsi anak.
Brian mengangkat wajahnya. "Tidak. Aku bisa hidup tanpa anak asal berdampingan denganmu". Jawab Brian tegas.
"Benar seperti itu?"
Brian mengangguk dengan pasti. Brian menunjukkan wajahnya supaya Zaira tidak curiga. Walau dalam hatinya menginginkan keturunan semenjak teman-temannya sering bercerita betapa lucunya anak-anak mereka, membuat pikirannya sedikit berubah.
Dia sering mengkhayal bagaimana rupa anaknya dengan Zaira, bagaimana kehidupan mereka setelah punya anak, pasti akan lebih menyenangkannya. Sedikit banyaknya dia ingin merasakan kebahagiaan anak yang menyambutnya sepulang kerja. Seperti yang teman-temannya sering ceritakan.
Lalu dengan bodohnya dia terjebak dalam rayuan Rinnada yang akan memberikannya anak walau tanpa pernikahan. Sejenak dia tergiur dan mengharapkan keturunan lagi. Namun hari ini, membaca pesan Zaira saja sudah membuatnya sangat takut. Dia semakin sadar, bahwa yang dia inginkan saat ini hanyalah kehidupan bersama Zaira sampai dia tua nanti.
****
Brian mendatangi Rinnada di apartemennya. Wanita itu langsung memeluk Brian seperti biasa namun dengan sigap Brian menahan tangan Rinnada.
"Ada apa?" Rinnada terheran melihat wajah Brian yang dingin. Dia lalu mengikuti langkah Brian yang masuk ke dalam apartemennya.
Brian duduk di sofa. Menyandarkan punggung dan kepalanya. Dia menghembuskan napasnya dengan perlahan.
"Istriku tahu hubunganku denganmu". Ucapnya memulai percakapan. Raut wajah Rinnada tampak biasa. Seperti sudah mempersiapkan kemungkinan terjadinya hal yang seperti ini.
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Tolong jangan hubungi aku lagi. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan istriku. Jadi kuharap kau mengerti, Rinnada. Aku juga..."
PRANG!!
Brian terperanjat. Rinnada memecahkan vas bunga ke lantai dengan sangat keras.
__ADS_1
BERSAMBUNG....