
Brian menatap Zaira lekat-lekat, ucapan Zaira.. Apakah dia menyesali perceraian diantara mereka?
Zaira tersenyum kecil, dia menunduk. "Aku juga akan senang kalau kau menemukan kebahagiaanmu, mas". Ucapnya tanpa melihat Brian.
Zaira menghapus sisa air matanya. "Pergilah, nanti kau terlambat." Zaira berdiri, diikuti Brian yang masih menatap dan penuh tanda tanya dalam benaknya.
Tetapi jika mendengar ucapan Zaira, walaupun ia menyesal, terdengar tidak ingin kembali padanya.
"Jadi, ini terakhir kita bertemu, ya?" Tanya Zaira dengan senyum samar di bibirnya.
Brian meraih tangan Zaira, "Ra, jawablah pertanyaanku dengan jujur.." Ucapnya sambil melihat mantan istrinya itu dengan tatapan penuh harap. "Apa masih ada perasaan cinta dalam hatimu untukku?"
Zaira mengangkat wajahnya dan hanya diam menatap sendu ke arah Brian.
"Katakanlah, karena aku sangat berat untuk pergi darimu. Aku tidak bisa membayangkanmu bersama orang lain. Aku juga sudah sangat tersiksa selama ini karena perasaanku yang tak bisa hilang begitu saja. Aku.. tidak sedetikpun melupakanmu. Jika masih ada kesempatan untukku, aku akan pergunakan sebaik mungkin. Aku.. sangat mencintaimu, Zaira." Ungkapnya pada Zaira yang kini mulai meneteskan air matanya lagi.
"Maaf.. aku.. mulai lagi. Tanpa sadar aku.."
Brian terperanjat saat Zaira tiba-tiba saja memeluknya. Mendekap erat tubuhnya dan membuat deguban jantung Brian semakin kencang.
"Maafkan aku, mas." Lirih Zaira di dekapan Brian. Tangannya ia eratkan di belakang mantan suaminya itu, seperti tak ingin ia pergi.
"Kau tak salah apa-apa, Zaira. Kau wanita terbaik yang pernah kutemui." Brian membalas pelukannya, membelai rambut Zaira dengan lembut.
"Aku yang bodoh telah menyia-nyiakan wanita sepertimu.. aku.."
"Kalau gitu kembalilah.."
Brian melepaskan pelukannya, meyakinkan kata yang ia dengar dari Zaira.
"Apa kau bilang?"
"Aku juga tersiksa sendirian. Aku pikir berpisah denganmu bisa membuatku lebih baik. Ternyata aku salah.." isak Zaira dan Brian menatapnya dengan hati yang berdenyut.
"Aku memang sakit hati karena perkataanmu padaku. Tapi tidak sesakit aku menjalani tiga tahun sendirian dan berperang dengan hatiku sendiri yang ingin kau tetap disampingku."
Mendengar ucapan Zaira, Brian terpengarah. Bagaimana mungkin Zaira juga merasakan itu. Dia mengira Zaira hidup dengan baik dan bahagia.
__ADS_1
Zaira mengakuinya, dia mengatakannya dengan jelas pada Brian bahwa dirinya masih membutuhkan mantan suaminya itu.
Dia mengakui kesalahannya, seharusnya dia mendengarkan ucapan Revi dari awal untuk langsung memberitahu hasil tes itu. Zaira juga entah bagaimana sulit menerima walau foto-foto itu adalah jebakan dari Dinnara.
"Zaira, ternyata kau.."
Ponsel Zaira berdering, dia menghapus air matanya lalu mengangkat telepon dari nomor darurat rumah sakit.
"Iya. Baiklah. Aku kesana sekarang." Ucap Zaira pada orang yang meneleponnya.
"Mas, maafkan aku. Ada kecelakaan besar dan aku harus segera kesana, banyak pasien yang harus aku periksa".
Zaira melangkah namun tangannya ditahan oleh Brian.
"Tunggu, Ra.. "
"Aku harus cepat, mas." Ucapnya dengan wajah panik lalu pergi begitu saja, meninggalkan Brian yang masih mempunyai pertanyaan besar dalam benaknya.
Brian menatap punggung Zaira yang perlahan menghilang dan ponselnya pun bergetar.
"Ya, Ndre?"
"Iya, aku kesana." Brian menatap lama layar ponselnya. Dia bingung dengan keadaannya sekarang, Zaira juga tidak menyampaikan dengan jelas apa maksud perkataannya.
Brian turun, dan masuk ke dalam mobil Andre yang mengomel karena Brian terlalu mengulur waktunya.
~
Zaira menghela napas panjang, dia menatap jam di dinding dan sudah menunjukkan angka 1 pagi. Dia melakukan banyak operasi dan itu menghabiskan waktunya.
Dengan cepat dia naik ke atap rumah sakit, walau dia merasa Brian pasti sudah pergi dari sana.
Sesampainya di atas, matanya menyapu ke setiap sudut dan tidak menemukan Brian disana. Zaira berjalan menuju tembok pembatas, angin malam yang dingin mengibaskan rambutnya kesana kemari. Pikirannya mulai menampilkan wajah Brian.
"Dia sudah pergi, ya". Zaira menunduk pasrah, lagipula perpisahan adalah keputusannya dan berkali-kali Brian memohon padanya untuk kembali, tetapi dia menolak walau hatinya menginginkannnya.
Zaira berjalan keluar, pikirannya yang kacau kali ini terlalu mengikut sampai ke hatinya. Walau dia sedikit lega karena sudah mengatakannya pada Brian, apapun hasilnya, dia mencoba menerimanya.
__ADS_1
Zaira membuka pintu dan mendapati Yara tengah tertidur. Dia menarik napas, selama ini dia sakit hati sendirian karena keputusannya, tetapi gadis kecil di hadapannya sangat banyak membantu dirinya untuk tetap bahagia.
Zaira menarik selimut Yara, mengelus lembut rambut anak gadisnya. Lalu matanya menangkap sebuah jam tangan di atas meja sebelah ranjang Yara.
Dia mengerutkan alisnya, jam tangan itu adalah pemberian dirinya untuk Brian lima tahun lalu. Kenapa Brian sengaja meninggalkannya?
"Kau sudah selesai?"
Zaira terperanjat, menoleh dan melihat Brian bangkit dari sofa sudut ruang. Dia menguap lalu melangkah mendekat.
"Kau letih? Mau ku bantu urut?"
Zaira tak bergeming, dia menatap Brian yang entah bagaimana berada disana dan mengeluarkan kata-kata yang dulu sering ia dengar saat mengeluh letih setelah operasi panjang.
"Kau.. tidak pergi?" Tanya Zaira.
Brian meraih tangan kanan Zaira, "Aku..tidak ingin pergi. Zaira, katakanlah. Apa yang harus aku lakukan supaya kau menerimaku lagi, hm? Katakan, aku akan melakukan apapun asal kau menerimaku kembali. Asal kau mau mencintaiku lagi."
Zaira menatap Brian dengan tatapan bingung. Jantungnya berdegub kencang karena kehadiran Brian yang dia pikir sudah pergi sejak tadi.
Brian menatap jari-jari Zaira yang ia genggam. "Kau ingat, dulu kita bercanda dan dirimu bertanya, bagaimana kalau aku meninggalkanmu? Aku jawab, itu tidak mungkin terjadi. Lalu bagaimana jika itu terjadi?"
Brian menghembuskan napas panjangnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku akan melakukan apapun, apapun. Asal kau mau memaafkanku. Sekarang, jika kau mau aku bersujud, aku akan melakukannya. Jika kau mau aku merangkak dan mencium kakimu, aku akan melakukannya dengan senang hati asal kau benar-benar mengizinkanku bersamamu lagi. Tidak ada yang lebih pedih dari kehilanganmu, Zaira. Tidak ada..."
Zaira memeluk Brian lagi, matanya amat perih, dia menangis mengingat ucapan itu. Walau waktu itu dia dan Brian hanya bercanda, tetapi semua menjadi nyata. Bahkan ucapan Brian untuk tidak meninggalkannya, juga akan tetap mencintai Zaira sampai mati.
"Zaira, beri aku kesempatan terakhir. Aku akan pergunakan itu sebaik-baiknya.."
Zaira mengangguk di pelukan Brian, membuat pria itu lantas mendekap erat tubuh Zaira, mengecup puncak kepalanya berkali-kali. Dia menangisi keikhlasan Zaira menerimanya kembali, menangis bahagia karena kini penderitaan dalam hatinya sudah berakhir.
"Terima kasih, Zaira. Terima kasih.." bisiknya pada Zaira dan wanita itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, Zaira. Aku sangat mencintaimu". Bisik Brian lagi. Dia lalu melepaskan pelukannya.
Zaira menghapus air mata Brian lalu mengangguk.
"Terima kasih, karena masih mencintaiku sampai sekarang." Balas Zaira pada Brian.
__ADS_1
Brian menarik tengkuk leher Zaira, lalu mencium bibir wanita itu, menyesapnya dengan lembut. Hal yang amat ia rindukan, semua hal yang berkaitan dengan Zaira, kini dia bisa merasakannya.
Zaira memejamkan matanya, jantungnya berdegub kencang, hal yang dulu sering ia lakukan dengan Brian namun tak seindah sekarang. Hari ini, mereka memulai lagi, sesuatu yang dulu retak dan memperbaikinya kembali.