Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
Amukan Brian pada Dinnara


__ADS_3

Brian menggenggam erat surat itu. Tangannya bergetar, jantungnya berdegub kencang, matanya berkaca. Bagaimana mungkin dia tertipu pada Dinnara.


Jelas sekali, Brian menandai tulisan tangan itu dan segala cerita yang tertulis disitu, Brian mengingatnya, ya, ini memang Rinnada. Lalu pita kuning yang dia berikan pertama kali bertemu, Apakah dia mencurinya?


Brian membaca ulang kertas itu, kata-kata Rinnada seolah sudah menebak apa yang akan dilakukan Dinnara padanya yang tiba-tiba lari dari masalah mereka saat itu.


Brian mengerang, dia amat sangat marah dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Sebab karena Dinnaralah hidupnya mulai hancur. Dia telah mempermainkan kehidupan Brian demi ambisinya.


Brian bangkit. Dia bergegas menuju keberadaan Dinnara. Amarah sudah berkecamuk dalam dirinya. Dinnara harus menerima balasan darinya.


...*****...


Brian menggedor pintu apartemen Dinnara dengan sangat kuat dan tak berjeda.


"Cepat buka pintu!" Teriak Brian dari luar. Orang-orang sempat melihat keributan yang dilakukan Brian di depan lorong mereka.


Dinnara langsung membuka pintu dengan panik, dan lebih terkejut saat Brian dengan wajah marah menerobos masuk ke dalam apartemennya.


Di dalam, Winda sudah berdiri dengan wajah marah karena Brian membuat keributan.


Brian mengalihkan padangannya ke Dinnara dengan tatapan geram. Dia bahkan tidak bisa memaafkan kegilaan wanita di depannya itu. Bagaimana bisa Dinnara mempengaruhinya hingga membuat kehidupan rumah tangganya hancur dengan sangat cepat.


Brian berjalan mendekat dengan tangan yang terkepal. Melihat Brian yang tengah emosi berjalan ke arahnya, Dinnara perlahan mundur. Dia tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat Brian seperti kerasukan.


"Tu-tunggu, kak. Ada apa?" Tanyanya gelagapan. Brian semakin mendekat, sorotan matanya yang menatap Dinnara sangat menakutkannya.


Dinnara terhenti karena dinding menghalangi langkah mundurnya. Brian berdiri tepat di dekatnya. Hal yang seharusnya menyenangkan melihat Brian merapatkan tubuhnya, menjadi sesuatu yang menakutkan dirinya. Entah mengapa, sesuatu yang aneh pasti tengah terjadi padanya.


"Kau bukan Rinnada!" Berangnya dengan nada yang ditekan. Kemarahan Brian di puncaknya, urat leher lelaki itu menegang melihat dan mengingat perlakuan gila Dinnara selama ini pada dirinya dari dulu hingga sekarang.


Dinnara terbelalak. Dia membeku. Dari siapa dan Bagaimana Brian bisa tahu, dia tidak bisa memikirkannya sekarang. Yang saat ini membuatnya takut adalah amukan Brian. Wajah Brian yang tepat di dekat wajahnya, ia sama sekali belum pernah lihat. Amarah Brian tidak pernah dipuncak ini.


"A-aku.. aku disuruh Rinnada".


BRAK!


Dinnara terperanjat ketakutan, tangannya mulai bergetar saat Brian meninju tembok di sebelah kepalanya hingga mendengung di telinganya.


Tembok itu retak. Bisa ia bayangkan semarah apa Brian sekarang sampai dia membalasnya dengan hanya meremukkan tembok.


Mata merah Brian tak lepas dari wajah Dinnara yang membuatnya muak. Brian berkaca-kaca saat pikirannya mulai menjelajahi apa yang dia mulai harapkan dari Rinnada yang ternyata sudah mati.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan!" Pekik Winda mendorong Brian supaya menjauh dari putrinya.


Dinnara menangis dan dengan bergetar berdiri di belakang Winda.


"Kau ibu terburuk yang pernah kutemui!" Brian menujuk wajah Winda dengan rasa bencinya.


Wanita itu terbelalak mendengar apa yang diucapkan Brian.


"Kau menuruti semua keinginan anakmu yang gila ini! Bahkan mengorbankan Rinnada demi dia!" Teriak Brian di wajah Winda. Wanita tua di depannya adalah dalang yang patut untuk disalahkan.


"Jaga mulutmu!"


"Kau tidak memanggilku saat Rinnada butuh karena permintaannya. Dan kau menurutinya untuk menjadi Rinnada. Kau.." Brian mengedip-ngedipkan matanya yang sudah berisi air. Kekejaman kedua orang di depannya itu membuat hidupnya hancur seketika.


"Kau menukarnya. Buruk sekali, kau tidak pantas di sebut ibu. Rinnada lebih bagus mati dari pada harus punya ibu sepertimu!"


Brian menarik Dinnara dan menghentakkan tubuhnya ke tembok dengan keras. Brian mencengkram kedua bahu Dinnara "Kau bahkan menipuku! Kau tidak hamil, Sialan!"


Dinnara meringis, cengkraman Brian menyakiti tubuhnya.


"Apa!" Winda mengerutkan alisnya dengan gurat kekecewaan.


"Kau tidak hamil?"


"Kenapa!" Brian teriak kuat di wajah Dinnara, hingga gadis itu memejamkan matanya ketakutan.


"Kenapa kau lakukan hal ini! Kau menghancurkan hidupku!" Wajah Brian mengeras dengan amarah, mata merahnya mengeluarkan air mata.


"Ma-maafkan aku". Dinnara terisak. "Sa-sakit, kak".


Brian lalu melepaskan cengkramannya. Dia memalingkan wajah, menghapus air matanya dengan kasar.


"Kau berbohong?" Winda mendekati anaknya yang menjatuhkan diri, berlutut di depan Brian.


"Maafkan aku. Aku ingin bersamamu. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. A-aku.." Dinnara memeluk lutut Brian sambil memohon. "Maafkan aku, ampuni aku, tolong jangan membenciku, ku mohon jangan benci padaku. Ya, aku tidak hamil. Aku berbuat begitu karena aku ingin bersamamu!"


Brian melepaskan kakinya dari Dinnara. Dia terus menangis terisak memohon ampun pada Brian.


"Tapi aku tulus mencintaimu, Brian. Aku benar-benar mencintaimu. Aku benar-benar ingin punya anak bersamamu!"


"Dasar kau Gila!" Maki Brian pada wanita yang tidak tahu diri itu. "Kau tahu, aku di vonis infertil! mandul! Dia.. Dia menutupi itu demi aku!" Pekik Brian yang lalu teringat lagi pada istrinya. Dia ingin sekali menemui Zaira.

__ADS_1


"Kau harus jelaskan pada istriku!" Ucap Brian lalu melangkah keluar dan membanting keras pintu Dinnara.


Winda menahan tangisnya. Ucapan Brian menyakiti hatinya. Namun dia tidak bisa mengelak. Apa yang laki-laki itu ucapkan adalah penilaian pada dirinya.


"Bangunlah Dinnara. Kau harus menjelaskan semuanya pada Zaira". Ucap Winda tanpa menoleh pada anaknya.


Dinnara mendongak, menatap Bundanya yang sudah memanggilnya dengan nama sesungguhnya.


"Aku akan memperbaiki sebisaku. Aku tidak bisa membelamu lagi. Ennata pasti sudah memberikan itu padanya". Winda mulai meneteskan air matanya.


Ennata yang dulu menghalangi apapun yang diminta Dinnara setelah Rinnada tiada, yang Winda kira hal itu hanya untuk menyenangkan Dinnara. Ternyata, Dinnara memanfaatkan nama Rinnada hingga menjadi seperti ini.


Dia teringat Ennata yang mengamuk karena Winda memintanya memanggil Dinnara dengan nama Rinnada. Dia membentak Dinnara dengan keras.


"Kau tidak menyayangiku! kau tidak menganggapku adik. Kau tidak sayang padaku!" Teriak Dinnara waktu itu.


"Benar, aku tidak sayang padamu. Sama sekali!" Pekiknya lagi. Dia menunjuk Dinnara. "Kau buruk sekali. Jangan pakai nama adik kesayanganku demi menutupi kebusukanmu!" Ucapnya lalu berjalan melangkah meninggalkan Dinnara yang mengamuk dan membanting barang-barang lagi.


"Aku Rinnada. Aku Rinnada! yang mati itu Dinnara! Kau harus panggil aku Rinnada." Teriaknya pada Ennata.


Lelaki itu berhenti dan berbalik. "Itulah sebabnya Brian membencimu dan memilih Rinnada yang jauh lebih baik darimu."


"Tidaak! Brian tidak membenciku. Dia mencintai aku, Rinnada. Kau tahu itu!"


Dinnara terus mengamuk, terkadang mengurung diri dan menolak makan. Sampai Winda memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Bertahun-tahun lamanya gadis itu hanya mengingat Brian dalam pikirannya. Dia akan marah jika dipanggil dengan nama Dinnara. Seperti itu, hingga Winda terbiasa memanggilnya Nada.


Winda menitikkan air mata. Penyesalan dalam dirinya menyeruak. Dia merasa amat bersalah, dan berniat menyusul Brian ke rumah sakit. Sebelum Zaira pergi dari sana.


...*****...


Brian menangis di mobilnya. Dia bergegas menemui Zaira ke rumah sakit. Dia sangat ingin bersujud di kaki istrinya sambil memohon.


Rasa bersalah yang amat sangat telah menyelimuti dirinya. Brian membiarkan air matanya tumpah. Hidupnya seperti telah berakhir. Bagaimana dia memperlakukan Zaira belakangan ini membuatnya semakin merintih.


Brian menginjak gas dengan cepat, dia tidak sabar ingin sampai di rumah sakit dan menemui Zaira.


Brian menghapus air di matanya yang mengaburkan pandangan, hingga dia tidak melihat sebuah bus yang melaju dari arah kanannya.


Brian menancapkan kakinya pada pedal rem saat menyadari Bus juga melaju kencang, hingga mobilnya terhenti tepat di tengah jalan. Namun, Bus besar itu sudah tidak sempat berhenti, bagian depannya menghantam sisi kanan mobil Brian.


Dentuman keras terdengar membuat semua orang teralihkan. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi membuat semua orang berdatangan. Serpihan kaca antara dua kendaraan berserak dimana-mana.

__ADS_1


Brian mengerjap beberapa kali, dalam separuh sadarnya, dia melihat Zaira mendekatinya. Brian tersenyum tipis sesaat menutup matanya karena rasa sakit di dada kirinya kian terasa. Dia membuka lagi matanya, Zaira sudah tidak ada disana. Brian mengerang, dia ingin sekali bangkit dan berlari menemui istrinya. Sayangnya, dia tidak bisa bergerak. Brian menyerah, sakit diseluruh tubuhnya menguasai, hingga darah mengalir dari dadanya, bersamaan sakit luar biasanya, Brian menutup mata.


Bersambung...


__ADS_2