
Zaira dan Gio membawa Yara berjalan-jalan, sesuai janji Gio jika Yara sembuh, dia akan membawa gadis kecil itu untuk sekedar menyenangkannya.
Pilihan Yara jatuh pada taman bermain yang tak jauh dari rumah mereka.
"Ma, Ala mau main itu.." Yara menunjuk satu permainan.
"Oke. Ayo.." ajak Gio pada Yara sementara Zaira menunggu di sebuah bangku panjang.
Dia tersenyum melihat Gio dan Yara yang terlihat akrab. Dia sangat tahu tujuan Gio padanya adalah hubungan yang serius. Meski begitu, dia belum begitu benar-benar membuka hati untuk orang baru.
Zaira tersentak saat ponselnya berdering, dia mengangkatnya karena itu dari rumah sakit. Mendengar penjelasan dari teleponnya, dengan segera Zaira menghampiri Gio.
"Yo, aku ada kepentingan di rumah sakit, bisa jaga Yara sebentar?"
"Ada apa?" Tanya Gio.
"Pokoknya sebentar saja, nanti aku kembali atau kalau aku lama, antar Yara ke rumah, ya." Jelasnya lalu Gio mengangguk.
"Ara, Mama ke rumah sakit, Ara sama Om Gio, ya? Nanti mama balik lagi, oke?"
Yara mengangguk sambil fokus lagi pada permainannya.
Zaira langsung memberhentikan taksi menuju rumah sakit.
Sementara di tempat lain, Brian tengah merenung, duduk di sofa rumah Andre.
"Kenapa tidak pulang saja, sih?" Tanya Andre yang duduk bersandingan dengan istrinya.
"Aku juga berpikir akan pulang, kok. Setelah mengetahui itu, aku memang berniat untuk tidak mengganggu Zaira. Apalagi laki-laki itu terlihat benar-benar menyayangi Zaira." Ucapnya dengan lesu.
"Kak Brian, mau tahu supaya dokter Zaira jujur pada perasaannya?" Ucap Yuna.
"Dia sudah jujur. Beberapa kali malah, dia menyuruh Brian untuk pergi." Sambung Andre langsung dan Brian hanya diam saja.
"Aku rasa tidak, dokter Zaira hanya sedang terkejut karena kehadiran kak Brian yang tiba-tiba meminta kembali tanpa aba-aba." Jelas Yuna dan mendapat senggolan tipis dari Andre.
"Biarkan saja, kenapa dikasih tahu begitu?" Bisik Andre.
Brian mencondongkan tubuhnya. "Jadi, aku harus bagaimana?"
"Menurut kacamataku yang sempat melihat kalian berdua di puncak acara waktu itu, dokter Zaira terus menatap ke arah Kak Brian. Itu berarti dia merindukan kak Brian."
"Yuna, Hal yang seperti itu tidak perlu diucapkan. Bisa saja sebenarnya Zaira merasa kesal, makanya melirik Brian terus." Sanggah Andre dan Yuna hanya tertawa kecil.
__ADS_1
Brian menunduk, walau mungkin yang dibilang Yuna benar, akhrinya pun Zaira bersama dokter Gio.
Ponsel Andre bergetar, dia membaca chat grup dari Hani dan yang lain, mengabarkan kalau Yara kecelakaan.
"Astaga, Yara kecelakaan!" Pekik Andre yang terbelalak membaca pesan masuknya.
"Apa? Di rumah sakit mana?" Tanya Brian yang spontan berdiri.
"Rumah sakit tempat Zaira bekerja. Ayo, Yuna. Kita kesana". Ucapnya pada istrinya dan mereka langsung menuju tempat.
~
Beberapa jam berkelang, Zaira baru saja keluar dari ruang operasi langsung menelepon balik Gio yang sejak tadi banyak meninggalkan panggilan.
Baru Zaira meletakkan ponselnya, Hani datang buru-buru menghampirinya dengan wajah panik.
"Zaira, Yara.. ketabrak motor, Ra." Pekik Hani dengan napas yang diburu.
"Apa? Han, Yara sedang bersama Gio di taman. Bagaimana bisa ketabrak motor, kau dapat info palsu, ya". Jawab Zaira tak percaya.
"Astaga, Ra. Gio dari tadi menghubungiku. Ini dia lagi menuju kesini. Ayo, cepat ke poli anak!"
Hani langsung menarik tangan Zaira yang masih terbengong. Dan benar saja, sesampai disana, Gio langsung menggotong tubuh kecil Yara dan menuju Nicu.
"Ra, maafkan aku.." Ucap Gio dengan raut wajah yang khawatir, terlebih Yara mengeluarkan banyak darah.
Zaira tak menyahut, dia terus menangis di pelukan Hani. Dia merasa menyesal menitipkan Yara pada Gio yang bahkan baru bertemu dengannya.
Tak lama, Brian datang dengan berlari kecil, menghampiri Zaira yang masih bersedih.
"Ra, bagaimana Yara?" Tanyanya dan Zaira langsung menatapnya dengan sendu.
Brian terkesiap, saat Zaira tiba-tiba memeluknya, menangis di dadanya.
Brian menahan napasnya, dia tidak berani membalas pelukan Zaira, karena dia takut wanita itu hanya spontan memeluk karena sedang merasa amat bersedih.
"Mas, Yara.." Isaknya sambil menyebut nama putrinya. Dengan perlahan Brian melingkarkan tangannya di pelukan Zaira, membalas dekapan Zaira dengan erat.
"Tenanglah, Yara pasti baik-baik saja". Ucapnya sambil mengelus lembut rambut mantan istrinya itu.
Zaira terus menangis, dia menenangkan perasaannya pada Brian yang sudah paham bahwa Zaira hanya perlu menangis saja, dia tidak akan mendengarkan apapun saat dirinya tengah bersedih.
Seorang perawat keluar dari ruangan, mereka segera mendekat untuk mendengar penjelasan dari perawat itu.
__ADS_1
"Permisi, apakah ada golongan darah O?"
Brian maju, "Saya, sus."
"Ikut saya sebentar, pak." Ucap perawat lalu ia masuk lagi ke dalam ruangan.
Brian melihat Zaira, wanita itu memandangnya dengan penuh harap. Brian mengelus lembut kepala Zaira, lalu masuk ke dalam mengikuti perawat untuk diambil darahnya.
Zaira sedikit lebih tenang, dia duduk dan menyandarkan kepalanya ke tembok di belakangnya.
"Yo, apa yang terjadi?" Tanya Hani pada Gio yang bersandar pasrah di tembok.
"Aku minta maaf, Ra. Aku mengangkat telepon sebentar, lalu Yara mengejar bola yang bergulir ke arah jalan. Aku salah, Ra. Maafkan aku. Aku lalai." Akunya panjang lebar dengan wajah panik, ia khawatir Zaira tidak memaafkannya.
Zaira mengambil napas panjang, dia tahu menjaga Yara bukan kewajiban Gio, justru dia menyalahkan dirinya sendiri.
Zaira mengangguk, "aku yang lalai, aku berterima kasih kau langsung membawa Yara ke rumah sakit." Ucap Zaira dengan suara parau.
Mendengar ucapan itu, Gio semakin merasa bersalah.
"Sekarang yang terpenting, Yara bisa selamat." Sambung Zaira lagi, dan mendapat anggukan setuju dari yang lain.
Tak lama, Brian keluar ruangan. Lengan bajunya tergulung dan plaster tertempel di lengannya.
Zaira menunduk, dia merasa malu sebab tadi memeluk Brian tanpa sengaja.
Tadi, dia panik sekali, hingga melihat Brian sedikit melegakannya. Bagaimanapun selama ini dirinya selalu sendirian. Panik dan khawatir yang pernah menyerangnya, ia hadapi sendiri. Lalu setelah tadi melihat Brian datang, masalah yang ada diantara dirinya dan Brian seolah terlupakan.
"Yara baik-baik saja. Sebentar lagi, dia bisa dilihat." Ucap Brian pada Zaira dan wanita itu hanya tertunduk lesu.
"Kalau begitu, aku permisi dulu."
Brian melangkah, dia melihat wajah Ziara yang mungkin malu karena memeluknya tadi, dia pergi supaya Zaira bisa lebih tenang.
Tak lama Brian pergi, dokter dan perawat keluar, memindahkan Yara ke ruang rawat inap. Dokter juga membolehkan Zaira masuk menjenguk anaknya yang terluka dibagian kaki.
Zaira masuk ke dalam, dan mendapati Yara tengah tertidur. Saat akan menaikkan selimut, Zaira melihat sesuatu di sebelah tubuh Yara.
Zaira mengambilnya, sebatang coklat kesukaannya. Brian selalu membelikannya saat Zaira tengah bersedih atau dalam keadaan mood yang buruk.
Coklat itu, sudah lama ia tidak memakannya. Karena itu akan selalu mengingatkannya pada Brian. Lalu kini, dia mendapatkannya lagi saat hatinya dalam keadaan sedih dan itu membuatnya meneteskan air matanya. Bagaimana pun, Brian tidak melupakan apa yang membuat perasaannya menjadi lebih baik.
Bersambung...
__ADS_1