Duka Dua Garis Merah

Duka Dua Garis Merah
keinginan punya anak


__ADS_3

Rinnada keluar dari ruangan Zaira dalam keadaan marah. Seharusnya dia membuat Zaira panas hingga hubungannya dengan Brian retak. Namun malah dia yang tersungut mendengar apa yang Zaira katakan. Padahal dia mengira Zaira adalah wanita yang pendiam dan lugu. Tidak disangka bisikannya sangat membuat Rinnada terkejut dengan kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya.


Dia bergerak cepat menuju ruangan Bundanya. Ada hal yang ingin dia minta pada Bunda. Dia tahu pasti Bundanya akan membantunya.


Rinnada membuka dengan kasar pintu ruangan sang bunda hingga membuat Winda terkejut.


"Ada apa?" Tanya Winda yang khawatir melihat raut wajah anaknya.


Rinnada menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Wajahnya memerah sebab amarah yang berkecamuk di dalam hatinya.


Winda mendekati anaknya. Dia mengelus lembut rambut Rinnada.


"Bunda. Aku tidak pernah minta apa-apa pada Bunda, kan? Kali ini aku meminta sesuatu dan Bunda harus kabulkan itu." Erang Rinnada dengan kesal.


Winda sejenak terdiam. Anaknya ini memang sangat jarang meminta apa-apa. Namun sekali meminta, pasti bukan hal kecil dan merupakan perkara yang bahkan tidak pernah ia kira.


"Bunda, jawab aku! Bunda mau bantu aku, kan? Bunda tega lihat aku dipermainkan seperti ini?" Rinnada memilih kata-kata yang membuat Winda akan memihak padanya.


"Dipermainkan? Ada apa? Apa yang terjadi?" Wajah Winda mulai penasaran sebab anaknya tampak sangat marah.


"Pecat saja Zaira itu, Bunda. Dia sangat kurang ajar padaku. Bunda harus bantu aku untuk memberikan dia pelajaran!" Ucapnya yang masih tersulut emosi.


"Apa? Mana bisa begitu. Bunda tidak bisa memecatnya. Apalagi dia dokter yang berdedikasi tinggi dan pasiennya juga..."


"Ahhh! Bunda sama saja" Rinnada berdiri dengan kesal. "Padahal tinggal aku satu-satunya anak perempuan Bunda. Tetapi Bunda tidak bisa bersikap tegas baik dulu maupun sekarang. Lihat, bahkan kembaranku juga meninggal karena Bunda!" Bentaknya lalu pergi begitu saja.


Sementara Winda meneteskan air mata mendengar ucapan anaknya. Dia lalu mengingat kejadian dulu hingga membuat anaknya meninggal dunia. Sekarang, Rinnada malah menyalahkannya atas kematian kembarannya. Membuat hatinya semakin sakit.


Dia juga memikirkan ucapan Rinnada, bahwa anak perempuannya hanya tinggal seorang saja. Ada rasa takut dalam dirinya jika Rinnada pergi meninggalkannya sama seperti kedua kembarannya. Winda melemas. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


******


Brian melihat istrinya dari belakang. Cekatan. Masih sama seperti yang terlintas dari benaknya di hari pertama pernikahannya saat Zaira memasak untuknya. Masakan yang membuat makanan lain tidak menyelerakan dibanding masakan istrinya.


Walau dengan kesibukan, Zaira tidak pernah lelah memasak untuk Brian.


Beberapa hari ini, dia seperti memulai hari baru. Walau istrinya belum mau disentuh, dia sangat memakluminya dan merasa sangat beruntung masih bisa melihat istrinya sekarang. Zaira pasti membutuhkan waktu untuk mau disentuh lagi olehnya.


Brian hanya menatap punggung istrinya. Dulu, dia selalu memeluk Zaira dari belakang saat tengah memasak. Tapi kalau sekarang, bisa-bisa kepalanya di pukul pakai spatula yang tengah digenggam Zaira.

__ADS_1


Zaira menyiapkan hidangan di atas meja makan. Hari ini Zaira memasak makanan kesukaannya. Walau tengah marah, dia tetap memikirkan apa yang membuat perut Brian puas.


Brian menahan lengan Zaira yang hendak meninggalkan meja makan.


"Mau kemana?"


Zaira tidak menjawab.


"Temani aku makan, ya. Please. Kumohon." Suara Brian memelas. Dia berharap amarah Zaira padanya memudar.


Zaira menghela napasnya perlahan dan duduk.


Brian tersenyum dan mulai melahap makanannya dengan semangat.


Melihat Brian, dia teringat sesuatu. "Kekasihmu itu menemuiku di rumah sakit"


Ucapan Zaira membuat Brian tersedak. Dia buru-buru meminum air putih yang sudah tersedia di atas meja.


"Sayang, kumohon.." ucapnya dengan wajah memelas. Entah memohon apa, Zaira tidak memperdulikannya.


"Dia menawarkan anak". Sambung Zaira. Dia menopang dagunya dengan tangan di atas meja.


"Apa ada yang aku tidak ketahui?"


"Tidak" dengan cepat Brian menjawab. Kakinya tidak tenang di bawah meja.


Entah bagaimana, wajah Zaira tampak biasa saja. Dia tidak terlihat marah padahal sedang membicarakan Rinnada.


"Apa kau punya kesepakatan dengannya?"


"K-kesepakatan apa?"


Zaira mengingat lagi. Sepulang dia bekerja tadi, Rinnada masih menunggunya. Wanita itu menemui Zaira di parkiran rumah sakit.


"Dokter, apa kau tidak mau mengabulkan permintaan suamimu untuk punya anak?" Ucap Rinnada tiba-tiba saat Zaira membuka pintu mobilnya.


"Itu bukan urusanmu".


"Ah, sepertinya dokter tidak tahu ya, kalau kak Ian itu sangat ingin anak."

__ADS_1


Zaira menutup kembali pintu mobilnya. Mendengar ucapan Rinnada, dia sedikit terpancing.


"Benar dugaanku. Kak Ian memang menutupi keinginannya dari anda, ya. Aku rasa dia sangat menghargai dokter sebagai istri yang tidak bisa memberikannya keturunan. Padahal dia anak laki-laki satu-satunya, kan? Seharusnya dia punya banyak anak dari anda, dokter."


Zaira tidak bergeming. Dia hanya memperhatikan wanita di depannya.


"Oleh karena itu, aku hadir disini untuk memberikan kak Ian keturunan. Bagaimana pun, aku ini sangat subur, loh." Ejeknya pada Zaira yang membuang muka.


"Kami tidak membutuhkannya".


"Itu pasti anda, dokter. Berbeda dengan kak Ian yang menginginkan kehadiran anak dalam hidupnya. Dia bilang padaku, katanya ingin sekali merasakan bahagianya ditangisi anak saat pergi dan disambut saat pulang bekerja". Ucap Rinnada dengan perlahan supaya Zaira meresapi kata-katanya.


"Tapi, sepertinya itu sulit menjadi kenyataan karena ternyata istrinya tidak mampu memberikannya keturunan. Yang membuatnya semakin tertekan adalah, dia tidak ingin anda tahu itu. Dia menyembunyikannya serapat mungkin supaya anda tidak bersedih. Tapi, anda jadi tidak tahu diri ya, dokter." Tutur Rinanda panjang lebar. Namun Zaira seperti tidak peduli.


"Apakah sudah selesai?"


Rinnada membelalakkan matanya. "Apakah kau tidak punya perasaan? Sepertinya kau terlalu memaksakan Brian, ya. Tidak bisa memberikan dia anak, seharusnya kau sadar diri dan melepaskan suamimu supaya dia bisa mencari perempuan yang subur dan bisa menghasilkan anak untuknya!" Bentak Rinnada yang naik pitam dengan reaksi santai Zaira. Di matanya, Zaira adalah wanita yang sangat egois.


"Menurutku kau terlalu berbelit. Katakan saja kalau kau ingin aku memberikan Brian padamu. benar, kan?" Ucap Zaira langsung ke intinya.


Rinnada terdiam sejenak. Perkataannya tentang keinginan Brian bahkan tidak digubris oleh Zaira.


"Aku akan memberikan kalian anak. Asal kau mau berbagi suamimu denganku".


Ucapan Rinnada membuat raut wajah Zaira berubah. Dia menatap Rinnada dengan tajam. Perkataan wanita itu sungguh diluar nalar.


Zaira menghembuskan napasnya. Wanita di depannya memang sudah gila. Dia mengira Zaira sangat menginginkan anak hingga menukarnya dengan Brian. Zaira memilih pergi. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat meninggalkan Rinnada sendirian disana.


Zaira mengetuk-ngetuk jari telunjuknya d atas meja makan.


"Apa benar kau menginginkan anak, Mas?"


"A-aku.. sudah katakan, kan. Asal bersamamu, aku tidak mengapa dan selama ini aku tidak pernah mengungkitnya, kan?" Ucap Brian dengan terbata. Melihat reaksi istrinya membuatnya mengelus dada dengan lega. Ternyata Rinnada tidak memberitahunya tentang malam itu.


Zaira mengangguk lambat. Memang, Brian bahkan tidak pernah membahas anak. Zaira-lah yang terus membahasnya karena rasa bersalahnya waktu itu.


Dia tahu Rinnada tidak berbohong soal keinginan Brian pada keturunan. Brian pula terlihat menutup keinginannya itu dari dirinya. Tetapi entah kenapa dia membiarkan saja hal itu terjadi. Dia tidak tertarik lagi untuk program hamil dengan Brian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2