
Zaira mempercepat langkahnya. Hatinya berdegub saat Hani menelepon bahwa Sivia sudah melahirkan anaknya.
Zaira yang melakukan operasi sedari tadi tidak bisa dihubungi, tahu-tahu anak Sivia sudah lahir saja. Dia pun segera datang karena ingin sekali bertemu dengan bayi mungil itu.
Hani melambaikan tangan saat melihat Zaira yang sudah berjalan cepat dari ujung koridor, terlihat raut wajah bahagia Zaira.
"Bagaimana?" Tanya Zaira penasaran.
"Anaknya sehat dan cantik sekali, Ra. Sini, lihat". Ucap Hani lalu melihatkan bayi mungil itu dari balik ruang kaca.
"Apa tidak bisa ku gendong, Han?" Tanya Zaira tidak sabar.
"Hahaha. boleh, kok. Bagaimana? Apa sudah ada nama buatnya?"
Zaira tersenyum cerah. "Pasti sudah, dong."
"Ya sudah. Ayo, masuk". Hani menggandeng tangan Zaira yang dari tadi mengembangkan senyum, seolah masalahnya memudar melihat bayi mungil itu.
Hani memberikan bayi itu pada Zaira. Dengan senang hati dia menggendongnya. "Cantik sekali". Mata Zaira berbinar, dia benar-benar bahagia melihat wajah bayi itu.
"Aku akan memberimu nama Yara". Ucapnya lalu dengan lembut mengecup pipi bayi mungil itu.
"Yara? Apa artinya?" Tanya Hani.
"Yara itu kupu-kupu kecil".
Hani terkekeh. "Namanya bagus. Walau sudah nenek-nenek, dia tetap kupu-kupu kecil." Gelaknya pada Zaira yang tidak peduli dan terus menatap wajah bayi itu.
"Oh ya, Han. Bagaimana Sivia?"
"Baik, kok. Tinggal pemulihan. Dia juga sudah mulai mau berkomunikasi denganku dan Revi walau hanya beberapa kata. Tapi kesembuhannya juga naik pesat." Jelas Hani.
"Syukurlah. Lalu, apa dia tahu anaknya diadopsi?"
Hani mengangguk. "Dia paham, kok. Malah saat anaknya lahir, dia enggan melihat."
Zaira meletakkan Yara dengan perlahan. "Apa dia betul baik-baik saja?"
"Revi bilang, dia trauma. Jadi, bayi itu mengingatkannya pada suaminya. Keputusan terbaik memang bayi itu diadopsi." Jelas Hani menyalin apa yang Revi ucapkan tadi.
__ADS_1
Zaira menghela napas. "Baiklah, aku akan merawat bayi ini. Aku sudah sayang sama dia". Zaira mengelus lembut pipi bayi yang menggerakkan badannya membuat Zaira tertawa gemas.
Melihat itu, membuat Hani tersenyum lega, kini akhirnya Zaira menentukan keputusan yang membuatnya akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
~
"Yan, mau kemana?"
Andre melihat Brian menyingkap selimut dan dia berusaha turun dari ranjangnya.
"Aku tidak bisa diam, Dre. Aku rindu pada Zaira. Aku harus berusaha lagi supaya dia mau kembali. Berusaha seperti apapun aku akan lakukan". Ucapnya lalu saat akan berjalan, Brian mendekap dadanya yang berdenyut.
"Tuh, kan. Kau belum bisa banyak bergerak. Yang dioperasi itu jantung, bukan operasi kecil." Andre membantu Brian tidur di ranjangnya.
Brian meringis, entah bagaimana denyut di dadanya belum benar-benar hilang.
"Kau jangan banyak berfikir dulu. Lukamu saja belum benar-benar kering".
Brian tidak menjawab, dia merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Lagi pula, Zaira sedang sibuk. Perempuan hamil yang terkena gangguan jiwa itu melahirkan pagi tadi. Jadi, Zaira tengah bahagia karena akan mengadopsi bayi itu mulai hari ini". Ucap Andre lalu kembali ke pekerjaannya.
"Apa aku sudah cerita padamu, kalau Dinnara depresi dan dirawat dirumah sakit ini?"
Brian menggeleng. "Dia gila?"
"Depresinya kambuh. Katanya, sudah masuk depresi kronis yang susah sembuh. Ku dengar juga, dokter Winda itu akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya".
Brian diam mendengarkan cerita Andre, masalah yang datang dalam waktu singkat membuat banyak perubahan dalam dirinya juga orang-orang yang terlibat.
"Sudah, aku ada janji dengan klien. Kau jangan kemana-mana". Ucapnya lalu membereskan barang-barangnya.
Andre keluar, dan berbicara kepada perawat jaga yang berada di dekat ruangan Brian. "Sus, tolong bantuannya ya, pasien di kamar itu jangan sampai lolos. Karena dia berniat kabur dari rumah sakit tanpa membayar iuran". Suster itu mengangguk-angguk dengan yakin lalu Andre pergi sambil menahan tawanya.
****
Winda mengelus rambut Dinnara yang tampak hanya diam memeluk lutut. Sudah berhari-hari dia hanya termenung dan berdiam di kamarnya. Bahkan saat Revi mengajaknya keluar kamar untuk sekedar berjalan di taman, Dinnara tidak mau. Dia tidak bergerak dari tempat tidurnya.
"Nara, maafkan Bunda". Suara Winda terdengar lirih, dia terus mengusap punggung anaknya.
__ADS_1
"Maafkan Bunda, belum menjadi ibu yang baik buat anak-anak Bunda. Bunda yang bersalah atas semua yang terjadi". Winda terisak, dia menghapus air matanya.
"Bunda akan bertanggung jawab, Bunda akan datang setiap hari dan merawatmu sampai kau sembuh. Bunda tidak akan melewatkan satu hari pun, Bunda akan ada terus untukmu". Bisiknya di telinga Dinnara yang sama sekali tidak perduli. Wanita itu hanya diam menatap jendela yang terbuka.
Winda beranjak, dia ingin segera membereskan barangnya yang berada di kantor, dia benar-benar akan mengundurkan diri dan lebih fokus untuk merawat anaknya. Hal yang dari dulu seharusnya ia lakukan.
Winda terhenti saat melihat Revi dan Zaira tengah mengobrol serius di suatu sudut ruang. Dia berniat menghampiri dan berbicara dengan Zaira.
"Permisi, apa saya boleh berbicara dengan dokter Zaira?"
Mereka menoleh ke arah Winda yang matanya sembab, dengan cepat Revi beranjak meninggalkan dua orang itu.
Winda menunduk, dia merasa amat bersalah pada Zaira.
"Dokter Zaira, maafkanlah semua perbuatan Dinnara". Gumamnya dengan nada yang sendu, ia seperti menahan tangisnya.
Winda langsung berlutut di depan Zaira, membuat wanita itu panik juga bingung karena banyak mata yang melihat ke arah mereka.
"Dokter, apa yang anda lakukan?"
"Maafkanlah saya, saya sangat bersalah atas semua perlakuan Dinnara. Sayalah yang lebih pantas untuk disalahkan, semua hal buruk yang terjadi pada anda belakangan ini adalah salah saya. Ku mohon, maafkanlah saya, dokter Zaira."
Zaira langsung mengangkat tubuh Winda, namun wanita itu menolak.
"Tolong maafkan saya, Setiap hari saya tidak tenang dan merasa bersalah, saya akan bangkit jika dokter Zaira memaafkan saya."
Zaira melirik sekeliling, perawat-perawat ikut memperhatikan sesekali berbisik, seperti penasaran ada apa dan mengapa pimpinan rumah sakit sampai berlutut pada dokter Zaira.
"Iya, sudah. Saya sudah memaafkan dokter, sekarang berdirilah jangan seperti itu". Ucap Zaira pada Winda. Dia sebenarnya belum benar-benar bisa memaafkan perlakuan Ibu dan anak itu, tetapi melihat Winda mau mengoyak harga dirinya yang tinggi demi sebuah kata maaf, membuat Zaira mau tak mau memaafkannya.
Winda bangkit, dia menghapus air matanya. "Terima kasih, dokter. Terima kasih.."
Zaira menghela napas yang sejak tadi tertahan.
"Saya mengundurkan diri dari pimpinan rumah sakit, saya harap dokter mau menggantikan saya. Anda lebih pantas dari pada saya. Saya permisi, dokter".
Winda berlalu pergi sambil sesekali menghapus air matanya.
Zaira hanya diam, melihat wanita paruh baya itu kini melemah tidak membuatnya bahagia. Justru ia merasa kasihan, beban yang ia tanggung sekarang sangat berat. Dia sampai mengorbankan pekerjaannya karena rasa bersalah pada hidup anaknya. Zaira kini benar-benar bisa memaafkannya setelah ia melihat wajah dokter Winda yang kelelahan. Dia pasti sudah menerima ganjarannya~
__ADS_1
Bersambung...