
Brian dan Andre sudah di depan apartemen Rinnada tanpa memberi kabar sebelumnya. Brian memencet bel. Saat pintu dibuka, Brian sedikit terkejut karena yang membuka pintu adalah Winda.
Winda juga tampak terkejut karena yang datang ke apartemen anaknya adalah Brian, suami dokter Zaira. Wanita yang dia hormati karena kinerjanya.
"A-apa Rinnada ada, Tante?" Brian gelagapan. Sebenarnya dia merasa keberadaan Winda adalah waktu yang tepat. Sekalian dia akan memberitahu tentang hubungan singkat antara dirinya dan Rinnada yang akan segera diakhiri.
Winda membuka lebar pintunya. Mempersilahkan dua orang itu masuk.
"Silakan duduk." Winda ikut duduk di hadapan Andre dan Brian. Dia melihat Andre dan masih mengingat lelaki itu yang terus bersama Brian di rumah sakit dulu.
"Ada keperluan apa?" Winda mencoba bertanya dulu sebelum memanggil Rinnada yang berada di kamarnya.
"Saya, .. Ada yang perlu saya bicarakan, Tante". Dahi Brian berkeringat. Aura wanita di depannya masih sama seperti dulu.
"Tentang apa?" Winda bertanya karena penasaran lanjutan hubungan anaknya dengan suami Zaira.
Lalu, suara langkah kaki mendekat. "Bunda, siapa yang da.." Rinnada terhenti saat melihat Andre dan Brian duduk di sofa berhadapan dengan Ibundanya.
Rinnada terlihat bingung. Terlebih, Brian datang saat Winda berada di apartemennya.
"Duduklah. Ada yang ingin mereka bicarakan padamu". Ucapnya pada Rinnada yang mematung di tempatnya.
Rinnada berjalan perlahan. Pikirannya tidak bisa menebak apa yang ingin dilakukan Brian saat ini. Dia duduk di sebelah Winda dengan perasaan tidak tenang.
"Katakanlah tujuanmu". Ucap Winda pada Brian.
"Saya hanya ingin mengatakan, bahwa hubungan saya dan Rinnada sudah selesai, Tante. Saya mengakui kekhilafan saya dan saya minta kepada Rinnada, supaya tidak mengganggu keluarga saya lagi". Ucapnya dengan lancar. Dia mengatakan kalimat itu dari hatinya.
Rinnada mengeraskan rahangnya. Brian mengatakan hal bodoh di depan Bundanya. Bagaimana mungkin dia seberani itu.
Winda melihat putrinya. Dia lalu mendesah karena sadar, jalan yang diambil anaknya memang salah. Apalagi, pengakuan Brian sudah sangat membuatnya yakin bahwa anaknyalah yang merusak hubungan suami istri itu.
"Tante, Saya ingin meminta maaf karena kesalahan saya yang lalu". Brian menundukkan kepalanya. "Saya lari tanpa kabar dan meninggalkan janji-janji yang tidak bisa saya tepati".
Winda menoleh ke arah Rinnada yang wajahnya berubah marah.
__ADS_1
"Kau tidak bisa sesukamu melupakan semua itu!" Ketus Rinnada pada Brian. "Kau pergi tanpa berkata apa-apa lalu sekarang kau seenaknya meminta maaf karena tidak bisa menepati janji. Kau kurang ajar, Brian!"
"Nada.."
"Diam, Bunda. Bunda tidak akan bisa merasakan apa yang aku rasakan". Rinnada berdiri memasang raut amarah yang dari tadi ditahannya. "Apa kau pernah, sedetik saja memikirkan bagaimana perasaanku? Aku bahkan tidak melupakanmu bertahun-tahun lamanya. Aku terpuruk dan selalu terjebak olehmu. Aku bahkan tidak bisa hidup tenang." Mata Rinnada mulai berkaca-kaca. Hatinya sangat terluka.
"Janji itu keluar dari mulutmu, Brian. Kau ingat? Saat di pantai, apa yang kau katakan padaku? Kau bahkan tidak akan menikah pada wanita manapun kalau aku tidak ada. Kau ingat itu?" Rinnada mengeraskan suaranya. Membuat Brian tidak bisa berkata-kata.
Brian menahan napasnya. Memejamkan mata, pikirannya beralih dimasa-masa indah saat di pantai. Benar, diapun masih mengingat ucapan yang keluar dari mulutnya. Ucapan yang Rinnada sendiri bahkan tidak menyukainya.
"Nada. Sudahlah." Winda ikut berdiri. Dia lalu merangkul pundak Rinnada dengan kedua tangannya. "Brian, Saya paham dengan situasimu sekarang. Pulanglah, saya yang akan mengurus Rinnada." Winda merangkul anaknya menuju kamarnya.
"Tidak, Bunda. Kenapa kalian menganggap perasaanku hal sepele? Aku menahannya selama delapan tahun. Lalu, inikah yang kuterima?" Rinnada terisak. Dia menyentuh dadanya. Terasa sangat sakit. Brian benar-benar meninggalkan semua tentangnya karena istrinya yang tidak bisa memiliki keturunan itu.
"Itu hanya masa lalu. Intinya sekarang, berhentilah menghubungi Brian dan Zaira. Kau harus sadar dan bangun dari kisah masa lalumu!" Tegas Andre yang sedari tadi hanya diam. Dia memang paham dengan kondisi ini, tetapi sekarang sudah tidak bisa seperti dulu.
Rinnada melepaskan tangan Winda dari bahunya. Dia menuju dapur lalu kembali lagi dengan sebilah pisau yang dia letakkan di lehernya.
Winda tersentak kaget. Dia menangis melihat kelakuan putrinya. Apalagi, Rinanda tinggal satu-satunya anak perempuan yang dia miliki.
"Tidak, kalian tidak paham" Rinnada sesegukan. Air matanya membanjiri pipinya.
"Sampai kapanpun kalian tidak paham. Hanya aku yang tersiksa disini. Aku merasa hidupku sia-sia. Aku bertahan hidup karenamu, Brian. Lalu, kau tega berbuat seperti ini padaku. Padahal aku rela melakukan apapun demi dirimu".
Winda terduduk. Dia menangis melihat putrinya yang sangat keras demi cintanya.
"Kau ingin aku tidak mengganggumu lagi, kan? Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu selamanya. Supaya aku hidup bahagia".
Mendengar itu, Brian mendekat. Dia berjalan saja walau Rinnada teriak untuk menjauh.
Dia menggenggam tangan Rinnada yang memegang pisau dan mengarahkannya pada lehernya. Rinanda terbelalak. Kini pisau di tangannya sudah menyentuh leher Brian.
"Atau lebih baik jika aku saja yang mati?" Brian menatap wajah Rinnada yang gelagapan. Dia menarik sekuat tenaga pisau itu dari leher Brian. Dia memaksa hingga ujung pisau itu menggores sedikit ke kulit Brian hingga mengeluarkan sedikit darah.
Rinnada terperanjat. Dia langsung melempar pisau di tangannya dan berjalan mundur. "Maafkan aku. Maaf. Aku tidak bermaksud..." Rinnada menutup mulutnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Tidak apa. Ini pasti tidak ada apa-apanya dari rasa sakit yang kau rasakan". Brian mengelap pelan dengan sapu tangannya segaris darah yang mencul di lehernya.
"Jika kau ingin aku merasakan deritamu, mungkin kau bisa melakukan ini padaku. Supaya aku paham deritamu". Tuturnya dengan lembut sambil tetap menahan darah yang masih keluar.
Rinnada berlari menuju kamarnya. Dia membanting pintu lalu menangis di dalamnya.
Winda berdiri. Dia meminta maaf atas perlakuan Rinnada dan mempersilakan Andre dan Brian untuk pulang.
****
Brian berada di ruang tamu sendirian. Dia terduduk diam menatap ke bawah. Tidak bergerak. Jari-jarinya saling bertautan. Sesuatu yang ada dipikirannya sejak kemarin sangat mengganggu. Dia mengalami hal yang melelahkan pikiran dan batinnya beberapa minggu ini. Dia sedikit lega, sudah tiga hari Rinnada tidak menghubunginya. Walau ada yang mengganjil di hatinya, dia tidak memperdulikannya lagi. Yang penting, rumah tangganya baik-baik saja dengan Zaira.
Sementara di sudut penghubung antar ruang, Zaira berdiri melihat Brian yang termenung disana. Zaira tidak bisa menebak apa yang dipikirkan suaminya. Tapi memang, belakangan ini, pengganggu sudah tidak muncul. Lantas apa yang dia pikirkan?
Zaira mengingat cerita Andre saat mereka ke apartemen Rinnada. Dari cerita Andre, Zaira merasa sedikit kasihan dan seperti bisa merasakan apa yang wanita itu rasakan.
Dia pasti kesulitan karena harus kehilangan laki-laki seperti Brian. Tidak bisa dipungkiri, Brian adalah pria yang baik hati dan sangat mengerti istrinya. Mereka hampir tidak pernah bertengkar karena Brian cepat sekali meminta maaf walau itu bukan kesalahannya. Dia juga pria yang romantis, terkadang humoris. Kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah ketulusan.
Ada rasa beruntung karena mungkin akan sangat jarang laki-laki seperti Brian. Hanya saja, pengkhianatan yang Brian lakukan membuat semua kasih sayang yang selalu ia tumpahkan untuk Zaira lenyap seketika. Zaira bahkan lupa dengan kebaikan Brian sebagai suami. Rinnada pasti sangat terpukul. Cintanya dengan Brian harus kandas. Dia, masih tertinggal di masa lalu terlalu lama.
Brian beranjak dari tempatnya. Matanya menangkap Zaira yang memandang ke arahnya.
Brian mendekat. Ingin sekali dia memeluk Zaira. Tapi dia takut, karena Zaira belum mau disentuh juga.
Brian tersenyum. "Kenapa?"
Zaira masih menatap suaminya. Brian sempat terseret di arus masa lalu Rinnada. Syukurnya dia kembali lagi.
Zaira memeluknya. Dia tiba-tiba merasa kasihan pada Brian. Entah mengapa dia merasa berterima kasih, Brian mau mempertahankan Zaira walau mau hidup tanpa keturunan.
Tanpa kata, Zaira hanya memeluk suaminya. Sedikit luntur amarahnya pada Brian setelah mendengar cerita Andre tadi.
Brian membalas pelukan Zaira. Dia lalu menciumi puncak kepala istrinya. Merasa bahagia. Akhirnya, Zaira mau memeluknya kembali.
Bersambung...
__ADS_1