
"Kau belum menikah?" Tanya Zaira.
Gio menggeleng, "Aku terus ditolak."
"Masa, sih?" Zaira memiringkan kepalanya, menatap Gio di sebelahnya.
Gio malah tergelak. "Iya, di usia kita yang 30 tahunan, memangnya sama seperti mencari kekasih saat kuliah?"
Zaira mengangguk saja, karena dia sendiri merasa kehidupannya juga sempat memburuk.
"Kau ingat Dina, gadis kecil yang kita tolong waktu itu?"
Zaira sejenak berpikir, dia ingat, anak kecil yang berusia 14 tahun dengan penyakit jantungnya, karena faktor kekurangan ekonomi, Zaira dan Gio membantunya operasi secara gratis. Setelah Dina sadar setelah operasi, dia mengucapkan terima kasih dan mendoakan supaya kedua dokter itu berjodoh.
"Dia sudah tumbuh besar, dan beberapa tahun lalu dengan berani menemuiku saat usianya 19 tahun. Dia memintaku menjadi pacarnya saat tahu aku putus denganmu".
Zaira membelalakkan matanya. "Yang benar?" katanya sambil cekikikan.
Gio mengangguk lalu tertawa, "Ya, dia bahkan masih menggangguku sampai sekarang. Dia mendapat beasiswa dan sedang menempuh pendidikan kedokteran".
"Wah, bukankah hebat? berapa usianya sekarang?"
"Mungkin 25 tahun".
"Haha, kenapa tidak dengannya saja? bukankah dia cantik?"
Gio menggelengkan kepala sambil terkikik. "Aku lebih cocok menjadi bapaknya dari pada kekasihnya". Tukasnya lalu mendapat tawa lebar dari Zaira.
Yara mendatangi Zaira, "Mama, Ala mau eskim".
"Wah, imutnya.." Ucap Gio lalu berjongkok. "Siapa namanya?"
"Ala".
"Cantiknya.., mau Om belikan eskrim?"
Yara menggeleng. "Mau beli sama mama". Ucapnya lalu memeluk kaki Zaira.
"Sedih sekali. Kau lihat, bahkan anak kecil menolakku". Ucap Gio berlagak sedih dan Zaira tertawa lepas, seperti dulu, Gio memang orang yang lucu.
Zaira dan Yara pamit pergi mencari eskrim meninggalkan Gio yang masih menemani keponakannya bermain. Dia lalu menerima telepon dari teman kerja yang juga teman koasnya bersama Zaira.
Setelah percakapan panjang, dia tiba-tiba memberi kabar. "Oh ya, aku tadi bertemu Zaira di taman."
__ADS_1
~
"Apa? Kau serius dia sudah berpisah dengan suaminya?"
~
"Benarkah? Itu bukan anak kandung? Hah, kenapa aku melewatkan berita penting ini, sial."
Umpatnya saat mengingat dia tidak tahu apa-apa, padahal tadi adalah kesempatan yang bagus untuknya.
...*****...
Setelah puas bermain, Mereka pun pulang, Zaira mengendarai mobilnya pada malam hari. Yara tengah tertidur, udara diluar dingin, nampaknya malam ini akan turun hujan.
Di tengah perjalanan, mobil Zaira tiba-tiba mogok di jalan yang tidak begitu ramai, hanya kendaraan yang berlalu lalang.
Zaira menyalakan lagi mobilnya, namun tidak juga hidup. Dia pun turun dari mobil, mencoba membuka kap depan dan melihat-lihat mesin yang ia tidak pahami.
Setetes air jatuh di hidungnya, Zaira menatap ke atas langit yang menghitam.
"Ah, hujan." Keluhnya karena mobilnya bahkan tidak bisa berjalan.
Zaira langsung lari dan masuk ke dalam mobil saat hujan tiba-tiba menderas. Dia menyalakan wiper, lalu berpikir sejenak, siapa kira-kira orang yang bisa ia mintai tolong.
"Haah.." Zaira merebahkan kepalanya di kemudi, dia tidak tahu harus menghubungi siapa.
"Kak, Halo."
"Ya, Ra?"
"Kak, tolong kirimkan montir ke Jalan Pahlawan, mobilku mogok, kak".
"Montir? Tunggu sebentar, ya".
Andre lalu memutuskan sambungan. Zaira menarik napas lega, dia hanya menunggu beberapa menit sampai montir datang dan memperbaiki mobilnya.
Beberapa menit kemudian, kaca mobil Ziara di ketuk beberapa kali, membuat wanita itu terkesiap.
Dia melihat seseorang dengan hoodi di kepalanya langsung menuju kap depan mobil dan memperbaikinya.
Sementara Zaira melihat orang itu basah kuyup, dia langsung mencari payung untuk lelaki itu.
Zaira keluar dengan payung, dia menuju depan, memayungi orang yang tengah sibuk memperbaiki mesin mobilnya.
__ADS_1
"Maaf, ini payung.." Teriak Zaira di kebisingan hujan.
Pria itu tak menyahut, dia terus memperbaiki mesin. Setelah itu, dia berdiri dan melihat Zaira yang tengah memayunginya.
Zaira terkejut saat melihat pria di depannya adalah mantan suaminya.
"Mas..bian?"
Brian melepas hoodie yang menutup kepalanya, menatap Zaira yang kini satu payung dengannya.
"Maafkan aku." ucapnya dengan suara pelan.
Zaira mengangguk walau dia tidak mendengar, tapi dia bisa melihat gerakan bibir Brian yang meminta maaf.
"Kau sudah berulang kali minta maaf, mas. Dan akupun sudah lama memaafkanmu. Jadi, berhentilah." ucap Zaira sedikit meninggi, mengimbangi suara hujan.
Brian merapatkan tubuhnya. Dia tidak bisa menahan diri lagi. Selama tiga tahun dia tidak pernah sekalipun tidak memikirkan Zaira.
Kini, wanita itu ada di hadapannya. Dia akan berusaha lagi, meminta harapan dan cinta yang pernah Zaira berikan, sesulit apapun. Sama seperti dirinya yang dahulu, berjuang demi cinta yang belum tumbuh, kini dia memperjuangkan cinta yang telah layu.
Brian merapatkan tubuhnya, "Aku.. sangat merindukanmu." Ucapnya dengan menatap mata Zaira. Wanita itu hanya diam membalas tatapan Brian dengan kebisuan.
"Aku merindukan semua yang ada padamu". Brian memegang pinggang Zaira dengan satu tangannya, berharap wanita itu menurut saja saat dirinya akan memeluk tubuh itu.
"Aku tidak bisa melupakanmu sedetikpun." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Dia mulai menarik tubuh Zaira ke dekapannya, namun Zaira menggenggam tangan Brian yang berada di pinggangnya.
Zaira menggenggam jari Brian dan menuntunnya ke gagang payung, menyerahkan payung itu ke Brian, sementara Zaira beranjak, berjalan menuju pintu mobilnya dengan guyuran hujan.
"Ra.." Brian membuang payungnya, menahan tangan Zaira yang hampir membuka pintu.
"Tolonglah, beri aku kesempatan." Ucapnya dengan nada tinggi di tengah derasnya hujan.
"Aku tidak bisa, mas. Tolong hargai keputusanku". Teriak Zaira yang kini sudah basah kuyup.
"Sekali saja, Ra. Sekali ini saja. Aku mohon. Aku sangat tersiksa, Zaira. Kumohon". Brian menyatukan kedua tangannya di bawah dagunya, memohon supaya Zaira mau mengabulkannya.
Zaira hanya menggelengkan kepala.
"Aku masih sangat mencintaimu, sungguh. Aku tersiksa karena perasaanku, aku menyakitimu aku tahu, aku akan memperbaikinya, Ra. Kumohon..." Brian menangkupkan kedua tangannya di pipi Zaira namun wanita itu dengan cepat menangkisnya dan masuk ke dalam mobil.
"Ra.." Brian mengetuk-ngetuk kaca mobil Zaira. "Ra, beri aku kesempatan terakhir. Aku janji, aku janji takkan mengecewakanmu lagi."
Zaira menyalakan mesin mobilnya dan menancap gas tanpa memperdulikan Brian yang mengikutinya memohon di depan kaca pintu mobilnya, sampai pria itu berhenti mengejar, Zaira menyandarkan tubuhnya yang mulai menggigil dan dia mulai menangis, bahunya naik turun karena isak tangis yang sudah tak kuat ia bendung.
__ADS_1
Brian datang lagi, dia sudah menduga kemungkinan bertemu Brian di acara Andre. Saat bertemu, dia merasa Brian juga seperti sudah benar-benar menerima karena dia tidak pernah menghubungi sekalipun. Lalu setelah malam itu, Brian kembali, walau Zaira mengira Brian melakukan itu karena mabuk, tetapi ternyata tidak, dia kembali dan meminta posisinya yang dulu, yang Zaira bahkan tidak butuhkan lagi. Baginya, adanya Yara di kehidupannya sudah sangat membantunya. Ya, dia yakin takkan membutuhkan Brian lagi dalam hidupnya.
Zaira menghentikan mobil di tepi jalan untuk sekedar menyelesaikan sesak di hatinya. Dia memaki Brian dalam hatinya, beraninya dia datang lagi dan meminta kesempatan. Brian tidak menghargai keputusannya dan perjuangannya selama beberapa tahun ke belakang yang berusaha hidup tanpa pria di sampingnya.