
Brian mengantar Zaira dan Yara pulang, dia menggendong Yara sampai ke kamarnya, meletakkan dengan hati-hati sebab kakinya masih di gips, sementara Mbok Inah memberesi barang-barang.
"Aku pergi, ya. Aku mau urus pernikahan kita." Ucapnya dan mendapati anggukan dari Zaira.
Brian keluar, membiarkan Zaira istirahat sebab dia pasti letih karena operasi panjang malam tadi sekaligus menjaga Yara.
Brian dengan senyum penuh kebahagiaan membawa berkas-berkas mereka lagi seperti saat pertama kali mengurus surat nikah.
Begitu juga Zaira yang sejak tadi tersenyum membayangkan kehidupannya ke depan akan bersama Brian lagi.
Tadi, Brian sudah memintanya kembali ke rumah mereka yang lama. Rumah itu masih dirawat dengan baik walau awalnya Brian ingin menjualnya karena tak ada penghuninya. Lalu setelah berpikir panjang, dia mengurungkan niatnya sebab dirumah itu terlalu banyak kenangan indah bersama Zaira.
Brian menelepon calon istrinya, dia menanyakan kapan dirinya mau mengadakan upacara pernikahan.
"Terserah mas saja" jawab Zaira yang sedikit malu.
"Besok saja, bagaimana?"
"Apa?" Zaira melongo. Secepat itu?
Zaira menyetujui saja, dia hanya minta untuk diadakan private. Hanya undang orang-orang paling dekat dan tidak perlu muluk-muluk asal Sah. Begitu katanya.
Brian dengan cepat mengurus dan membeli perhiasan untuk Zaira tanpa memberitahunya. Dia masih mengingat ukuran cincin dan sedikit tahu selera Zaira.
Brian kembali ke rumah Zaira sore hari.
"Eh? Katanya mau pergi ke cabang usaha?" Tukas Zaira yang mendapati Brian berdiri di depan pintu.
"Iya, masalahnya sudah terkendali, jadi tidak perlu lagi kesana. Lusa kita menikah, ya." Jawabnya sembari memandang Zaira penuh makna.
Zaira hanya mengangguk sambil tersenyum.
Esoknya, Zaira mengadakan pertemuan mendadak pada jam makan siang di kafetaria rumah sakit.
"Aku... besok.. menikah..." ucapnya sedikit malu.
Hani membelalakkan matanya. "Apa?" Dia lalu mengucek kupingnya, takut salah dengar.
"Wah, selamat Zaira. Akhirnyaaa..." Revi yang duduk disebelah Zaira memeluk sahabatnya itu.
"Tunggu sebentar! Nikah sama siapa? Gio?" Wajar saja Hani bingung sebab yang paling tahu dalam tentang masalah Zaira adalah Revi. Selain jadi dokter curhat, Revi juga sensitif melihat gerakan Zaira kepada Brian.
"Bukanlah. Dia CLBK. Cinta Lama Belom Kelar. Hahaha"
Mata Hani membulat sempurna menatap Zaira. "Sumpah???"
Zaira menahan tawanya. "Iya. Aku sama mas Brian akan kembali melangsungkan pernikahan besok. Aku juga sudah menelepon orang tuaku, besok mereka akan datang. Aku hanya mengundang kalian berdua, kak Andre, dan Sivia."
"Eee.. sebentar, ya." Hani menatap ke atas, memikirkan sesuatu. Dia masih belum bisa mencerna dengan baik. "Bukannya kemarin kak Bian pulang, ya? Apa gara-gara pelukan waktu itu?" Tanya Hani mengingat adegan sedih saat di depan ruang NICU.
"Aah, Lebih terangnya sih, disitu!" Jawab Revi sambil menjentikkan jari. Barulah Hani mengangguk-angguk.
"Aku ikut senang, Ra. Semoga masalah yang dulu menjadikan kalian semakin kuat."
"Aamiin..." sahut mereka bersamaan.
"Sudah diurus semua, Ra?" Tanya Revi, siapa tahu temannya butuh bantuan.
"Sudah, kok. Lagi pula hanya mengundang 20 orang. Aku tidak mau dirayakan. Jadi, persiapan juga tidak banyak. Asal sah saja." Jelas Zaira.
"Syukurlah. Kalau gitu, kami akan datang. Kau jangan capek-capek, ya. Pengantin baru, walau stok lama, tetap harus fit dan enerjik!" Tukas Revi sembari menahan tawa.
__ADS_1
"Nanti kita liburan ke rumahku di luar negeri. Suamiku tidak jadi datang, makanya kita yang kesana.." lanjutnya lagi.
"Waaah ide bagus. Aku mauu.." Seru Hani dan Zaira hanya tertawa mengingat sebentar lagi, dia dan Brian akan menikah.
~
Brian berjalan sambil mengancingkan lengan kemejanya. Dia sudah memakai kemeja putih dan jas hitamnya, menuju ke ruangan Zaira.
"Ra, apa kamu sudah si.."
Dia terpaku, matanya terus menatap ke arah Zaira yang tengah duduk memejamkan matanya di depan cermin. Entah apa yang dia lakukan, namun wajahnya tampak sangat cantik walau dengan gaun sederhana dan make up tipis.
Brian mendekat, dia membungkukkan badan, menyandingkan wajahnya dan Zaira, menatap wanita itu di depan cermin.
"Sedang apa?" Bisiknya, Zaira membuka mata perlahan.
"Aku gugup."
Brian tersenyum cerah mendengar itu. Padahal ini yang kedua kalinya, tetapi dia juga merasa gugup.
Tak lama, Revi, Sivia, dan Hani masuk.
"Uwaah.. cantiknya.." Kompak Hani dan Revi memuji bersamaan.
Brian memilih keluar, karena acara akan dimulai.
"Dokter, cantik sekali.." Sivia mengacungkan kedua jempolnya, membuat Zaira tertawa.
"Mama.." Mbok Inah datang dengan mendorong kursi roda Yara.
"Sayang.."
"Mama cantik, milip plinces" Yara tertawa pelan, dia sangat antusias melihat Mamanya.
"Ara, masih sakit, sayang?" Sivia mendekat dan mulai mendengarkan cerita gadis kecil itu.
"Ra, Ayo, sudah mau dimulai." Ucap Revi, lalu mereka membantu Zaira berdiri karena acara pernikahan akan segera dimulai.
~
Acara pernikahan berlangsung. Kedua pengantin di depan sedang melangsungkan pernikahan mereka. Suasana amat tenang sampai keduanya telah Sah menjadi suami istri.
Seketika ketegangan memudar, Zaira dan Brian amat bahagia. Tak lupa sesi foto yang menjadikan suasana menjadi heboh kembali.
"Selamat, Yan. Semoga makin hot!"
"Apa, sih!" Brian menggelengkan kepala mendengar pernyataan Andre.
"Soalnya kan, sudah tiga tahun tidak.. begitu."
"His, kak. Tidak sopan, ih!" Protes Yuna yang mendengar suaminya yang terlalu berlebihan, diiringi tawa Andre dan Brian.
Acara tidak berlangsung lama, karena yang paling dibutuhkan hanyalah kembalinya surat nikah mereka berdua.
"Ra.."
Brian mengecup bahu istrinya dari belakang, yang tengah menyusun pakaian Brian dari koper.
"Kita kembali ke rumah itu, kan?" Pintanya sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zaira.
"Iya, nanti aku coba hubungi orang untuk pindahan." Jawabnya dengan kesibukannya.
__ADS_1
"Lalu untuk anak.."
"Jangan dipikirkan, mas. Aku tidak menuntut apa-apa darimu. Asal kita hidup sama-sama saja, aku sudah bahagia." Jawaban Zaira membuat Brian sedikit diam.
"Asal kamu mencintai aku dengan setia, aku bisa menerima semua kekuranganmu."
Brian mengeratkan pelukannya. "Terima kasih sayang." Bisiknya.
Dia lalu memutar tubuh istrinya.
"Apa kau tidak rindu tidur denganku?" Brian mulai berkode ria.
"Tidak juga. Bukan itu yang menjadi dasarku menikah lagi denganmu". Jawab Zaira yang langsung mengerti.
"Aku juga tidak. Tapi tetap saja..." Brian menurunkan tali tanktop di bahu istrinya.
Brian mencium bahu Zaira, menghirup bau harumnya yang masih saja seperti itu. Dia merindukannya. Brian lalu mengecup leher Zaira, membuat wanita itu menahan napasnya.
"Mamaa!"
Mereka terkesiap dan langsung membuat jarak. Yara tiba-tiba datang dan membuka pintu.
"Ara, pelan-pelan sayang, kaki kamu masih sakit."
"Mama, Ala mau bobok sama mama.." Rengeknya kemudian berjalan pincang mendekat ke Ibunya. Zaira lalu menggendong Yara.
"Astaga, aku lupa kita punya anak!" Brian menepuk jidatnya.
"Papa, Ala bobok sama mama papa, ya.."
"Eh?" Zaira mengerutkan alis. Padahal dia belum ada menyuruh Yara memanggil Brian dengan sebutan Papa.
"Aku yang ngajari". Ujar Brian seolah tahu pikiran Zaira. "Aku kan, Papanya sekarang."
Yara tertawa memperlihatkan gigi ompongnya. "Ala punya papa sekalang! Yee.." Teriaknya lalu mendapat gelitikan dari Brian hingga membuat gadis itu tertawa geli.
Ketiganya berbaring di atas tempat tidur dengan posisi Yara di tengah.
"Ala senaaang sekali.." ucap Yara tiba-tiba, lalu mendapat kecupan dari Brian di tangannya.
"Papa juga senang.." balasnya. "Sekarang, kamu tidur, ya. Biar besok kita jalan-jalan."
"Ye.. jalan-jalan sama mama papaa.." teriaknya lagi dengan girang.
"Kalau Yara sudah bobok, kita pindah kamar, ya!" Bisik Brian Pada Zaira yang hanya menggeleng dengan ketidaksabaran suaminya..
***
JANGAN LUPA BACA KARYAKU YANG LAIN, YAA.
SYAHDU ANAK WANITA MALAM YANG PUNYA HUBUNGAN 7 TAHUN DENGAN KEKASIHNYA, DAN JUGA TEMAN TIDUR YANG MEMBERINYA UANG UNTUK KESEMBUHAN NENEKNYA. BAGAIMANA CARA SYAHDU MENYEMBUNYIKAN FAKTA DARI PACARNYA BAHWA DIA MENJADI WANITA SEWAAN?
ADA JUGA KRISHAN, LELAKI TUNANTRA YANG MERUPAKAN SEORANG BOS PENJAHAT TERBESAR. MENIKAH DENGAN WANITA BAIK-BAIK YANG MAU MERAWATNYA.
GADIS TANGGUH, RICHI DARREL, YANG MERUPAKAN ANAK SMA TERNYATA DITAKUTI BANYAK KELOMPOK MAFIA. BERTEMU DENGAN HUGO ERHARD, PERAKIT BOM YANG HEBAT.
__ADS_1
JANGAN LUPA D BACA YAA GUYS. TERIMA KASIH BANYAK.