
Zaira memegang secarik kertas. Tulisan di kertas itu membuatnya yakin kalau Brian memang masih berhubungan dengan wanita itu.
"Non.." Mbok Inah menyentuh perlahan lengan Zaira yang sejak tadi terdiam di tempatnya. Dia menangis tanpa suara.
Zaira melihat lagi tulisan di kertas itu. Lalu melemparkannya ke lantai.
"Tolong bereskan, Mbok." Ucapnya dengan suara lirih. Dia beranjak dari tempatnya berdiri.
Mbok inah dengan perasaan campur aduk mengutip foto-foto Brian bersama perempuan lain. Tak disangka, Mbok Inah yang selama ini melihat betapa tulusnya Brian hingga membuat hubungannya dengan Zaira sangat harmonis, ternyata ada perselingkuhan dibaliknya.
"Kasihan Non Ira". Mbok Inah meneteskan air mata. Dia turut bersedih atas pengkhianatan yang Brian lakukan pada orang yang telah dia anggap anaknya sendiri.
Mbok Inah lalu mengutip kertas yang tadi sempat diremas Zaira.
'Selamat sayang, akhirnya kamu akan memiliki keturunan'
"Ah.." Mbok Inah meneteskan air matanya. Rasa bencinya pada Brian mulai muncul. Dia cepat-cepat memasukkan semuanya kedalam kotak sambil menghapus air matanya.
"Mbok, Zaira mana?" Suara Brian membuat Mbok Inah sedikit menunduk supaya tidak terlihat sedang menangis.
"Sa-saya tidak tahu, den."
Brian terlihat kebingungan sambil menatap layar di ponselnya.
"Katakan padanya, saya ada kepentingan mendadak dengan klien jadi tidak makan malam di rumah. Tolong ya, Mbok" Ucap Brian lalu pergi begitu saja.
Mbok Inah hanya menggelengkan kepala. Dia seperti tahu kemana tujuan suami majikannya itu.
...****...
Mobil melaju cepat. Brian menatap jalanan di depannya. Pikirannya sedang berperang. Tadi saat hendak mandi, Brian tiba-tiba mendapat pesan dari nomor yang tak dikenalnya. Nomor asing itu mengirim sebuah foto testpack dan ucapan selamat karena ia akan menjadi seorang ayah. Brian awalnya mengira itu hanya pesan yang salah kirim. Tak lama, nomor itu mengirimkan lagi gambar dirinya dan Rinnada yang berada di atas tempat tidur tanpa pakaian di tubuhnya.
Mata Brian terbelalak. Dia mengamati foto itu dengan seksama. Benar, itu dirinya dan Rinnada. Bagaimana bisa dia memiliki foto seperti itu dengan Rinnada?
__ADS_1
Brian menggenggam ponselnya dengan kuat. Wanita itu sempat-sempatnya memotret hal yang memalukan seperti itu.
Brian cepat-cepat keluar kamar. Dia tak ingin Zaira tahu. Dengan cepat dia menuju mobil untuk ke apartemen Rinnada. Dia ingin memastikan apa yang dilakukan Rinnada kali ini. Dia mengira, Rinnada benar-benar menghilang dan melupakannya. Ternyata dia mempersiapkan hal yang lebih gila lagi.
Brian mencengkram erat setirnya. Kalau memang benar Rinnada hamil, dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kedepannya.
Brian memencet bel apartemen Rinnada dengan terburu-buru hingga tanpa jeda. Dari dalam, pintu dibuka dengan tenang seperti tahu siapa yang akan muncul.
Brian menatap tajam ke arah Rinnada yang menyembunyikan tubuhnya dibalik pintu sambil tersenyum.
"Silakan masuk". Katanya sambil membuka lebar pintu.
Brian masuk dan sejenak terhenti dengan perasaan yang tehenyak melihat apa yang berada di atas meja.
"Kak, kemari". Rinnada menarik tangan Brian dan mendorongnya supaya duduk di atas sofa. Rinnada ikut duduk disebelahnya dan mengambil perlengkapan bayi di atas meja.
"Lihat, ini baju-baju bayi kita. Lucu-lucu, kan?" Rinnada menunjukkan baju-baju bayi kepada Brian. Dia lalu mengeluarkan banyak keperluan bayi lainnya.
"Hei!" Brian mencengkram kuat tangan Rinnada hingga ia menghentikan aktifitasnya.
"Kau jangan mengada-ngada." Mata Brian tajam menatap Rinnada.
"Aku tidak mengada-ngada, kak." Rinnada berdiri dan mengambil sesuatu dari kamarnya. Dia kembali dengan sebuah foto di tangannya.
"Lihatlah. Ini janin yang ada di dalam." Rinnada tersenyum sambil mengelus lembut perutnya.
Brian menatap gambar itu dengan detak jantung yang luar biasa kencangnya.
"Inilah anakmu. Darah dagingmu. Bukankah seharusnya kakak senang karena akhirnya bisa mempunyai keturunan?" Rinnada menyentuh pipi Brian. Dia membuat pria itu sejenak terdiam.
Brian menyandarkan punggung ke sofa dan menutup mata dengan lengannya. Brian mendesah dengan kasar. Hal berat dalam dirinya benar-benar terjadi sekarang. Dia lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk pulang.
"Kak, tunggu". Rinnada menahan lengan Brian yang seperti tak bertenaga lagi. Dia sangat lesu.
__ADS_1
"Kak, ada apa? Bukankah ini kabar baik untuk kakak yang menantikan keturunan? Aku akan melahirkan anak kakak. Aku janji tidak minta untuk dinikahi." Ucapnya dengan nada memohon dan menggenggam erat tangan Brian yang hanya membisu.
Brian melepaskan genggaman Rinnada. Dia keluar dari pintu dengan lemas. Brian berjalan menyusuri lorong apartemen dengan gontai. Bagaimanapun, Rinnada tengah hamil dan dia tidak mungkin bisa menyembunyikan itu dari Zaira.
Brian menempelkan dahinya pada setir mobil. Dia serasa berjalan di atas tumpukan jarum. Bagaimana bisa dia mengalami hal seberat ini.
Tok..tok..
Rinnada mengetuk kaca mobil. Brian menoleh tapi tidak berniat membukanya.
"Kak, buka. Dengarkan aku dulu. Aku janji tidak minta tanggung jawabmu." Suara Rinnada tenggelam namun masih terdengar dari dalam. dia terus mengetuk-ngetuk kaca mobil Brian. Namun lelaki itu merasa lelah. Dia menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya tanpa peduli Rinnada yang memohon padanya diluar mobilnya.
Brian menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Tangan kirinya tetap memegang kemudi. Dia tidak berani pulang. Dia takut melihat wajah Zaira yang sudah dengan ikhlas menerima dan memaafkannya. Kebohongan yang waktu itu diucapkannya, kini akan menuai hasilnya.
Brian menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sunyi. Menghantukkan kepalanya berkali-kali ke belakang sandaran kursi.
Dia mencoba menemukan solusi tetapi selalu gagal. Otaknya sama sekali tidak bisa berpikir. Rasanya ingin sekali dia memutar waktu dan membuat Zaira sebagai satu-satunya kekasih hatinya. Bagaimana mungkin Rinnada, Gadis yang dulu baik hati menjadi terobsesi akan cintanya.
Rinnada, perempuan yang terus menekankan kebahagiaan Brian sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Bahkan saat Brian tak ingin menikah dengan perempuan lain, dia marah karena hal bodoh yang diucapkan Brian.
Tapi kini, wanita itu benar-benar mencintai Brian diluar batas. Bagaimana dia bisa menerima anak yang dikandung Rinnada?
Brian menghantukkan lagi kepalanya ke setir mobilnya. Bermacam makian sudah dia hadiahkan untuk kebodohannya. Mau tidak mau, dia memang harus mengatakannya pada Zaira.
Brian lalu menegakkan badannya. Teringat pada permintaan Zaira untuk mengadopsi anak wanita yang sedang dalam gangguan kejiwaan.
Brian menjalankan mobilnya. Entah bagaimana pemikiran itu muncul. Tetapi, bukankah lebih baik jika Zaira mengasuh anak kandungnya? Dulu pun, Zaira pernah mengizinkannya melakukan itu, kan?
Brian menggigit-gigit jari sambil menatap jalanan kosong di depannya. Gelisah yang luar biasa menguasai dirinya. 'Apakah.. Zaira mau menerima anak yang dikandung Rinnada sebagai anak yang diadopsi?'
"Argh, Sial! Aku tidak punya jalan lagi!" Umpatnya teriak didalam mobilnya.
Bersambung....
__ADS_1