
Bab 235 Kentut
Di jalan tepatnya di dalam mobil keluarga Raharjo, Toni berlahan tidak enak perut, posisi duduknya pun seba salah.
Dan berlahan perutnya mengembung dan Toni pun tidak tahan ingin buang angin, karena sudah tidak tahan dia pun mengeluarkan angin tersebut di dalam mobil.
Duuttt.....
Suara dutt terdengar sedikit lama dan membuat Sanusi Rahardjo terbatuk sambil menutup hidungnya.
"Uhuk...uhuk... Sialan kamu Toni, bangaki apa yang kamu makan semalam, bau banget"
Sanusi Rahardjo pun segera membuka jendela mobilnya supaya angin dari luar masuk ke dalam mobil dan aroma kentut yang di keluarkan oleh Toni segera hilang dari dalam mobil.
Sopir yang sedang menyetir pun mengernyitkan dahinya, dia menahan nafasnya karena tidak bisa menutup hidungnya.
Karena kentut yang bau dan banyak membuat mata supir menjadi perih, dia pun mengambil inisiatif untuk menepi di pinggir jalan.
"Hai Tibo, kenapa kamu memberhentikan mobilnya ?" Tanya Sanusi Rahardjo.
"Maaf tuan mata ku perih karena kentut dari tuan muda" jawab sopir yang di panggil Tibo.
"Sialan kenapa tiba-tiba kamu kentut dan bahkan lihatlah perut mu, menjadi buncit. Aku sudah katakan jangan banyak minum alkohol jadi begini, Penyakit magh mu kambuh" ucap Sanusi Rahardjo.
Toni menggelengkan kepalanya "Sudah beberapa hari ini aku tidak bermain ke club malam dan meminum alkohol yah, kan aku sibuk kuliah dan membantu ayah di perusahaan"
"Lantas kenapa kamu tiba-tiba menjadi begini ?" Kemudian Sanusi Rahardjo mengingat perkataan dari tuan besar Sandjaya yang tidak boleh menyinggung perasaan orang.
Di sana sudah beberapa kali Toni kentut, dan setiap selesai kentut, perutnya kembali membengkak dan menjadi lebih besar lagi.
Beruntung Toni tidak di buat seperti Darya Anak kepala keluarga Saksana yang sampai di buat PUP di celana.
Toni hanya di buat kentut saja oleh jagat, itu hukuman karena dia sudah berani membuat kempes ban motor jagat yang hendak di pakai.
"Jangan jangan, ini karena kamu menyinggung pemuda tadi, siapa tadi namanya ?" Sanusi Rahardjo pun bertanya dengan serius.
"Yah tidak mungkin karena menyinggung jagat aku seperti ini, ini hanya asam lambung biasa, ayo antara aku ke klinik kita untuk di periksa" Toni pun menyangkal bahwa itu bukan karena dia menyinggung jagat.
Sanusi Rahardjo pun menggelengkan kepalanya kerena anaknya tidak bisa di berikan nasihat dan malah menyangkal kesalahannya sendiri.
"Dasar anak tidak tahu diri, tuan besar Sandjaya sudah mengatakan bahwa kita tidak boleh menyinggung orang, meskipun dia orang miskin, kamu ini masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, nah jadi begini akibatnya"
Semakin lama perut Toni mengembung seperti Balon, dan apabila tidak kentut mungkin perutnya akan meledak kapan saja.
__ADS_1
"Ayo lah ayah cepat bawa aku ke klinik untuk di obati, ini hanya asam lambung dan kelebihan Gas monogastik"
Kemudian Sanusi Rahardjo pun memerintahkan Tibo untuk kembali menjalankan mobilnya "Ayo Tibo, kita lanjutkan perjalanan kita, dan antara ke klinik kita yang terdekat"
Tibo pun menghela napas dan mengangguk "Baik tuan"
Dia pun membuka semua jendela mobil sebelum menyalakan mesin mobil, karena hampir setiap waktu Toni kentut dan aromanya sangat menyengat dan busuk.
Setelah tiba di klinik, Toni langsung di bawa keruangan khusus dan menyuruh dokter yang praktek untuk segera memeriksa dirinya.
Setelah di periksa, memang benar bahwa Toni kelebihan Gas di dalam perutnya, sehingga dokter itu menyarankan memberikan Toni obat lambung.
Obat itu mengandung magnesium Hidroksida dan Simethicone yang berpungsi untuk mengurangi asam lambung dan mengurangi gas yang berlebih.
Dokter itu memberikan obat berupa sirup dan Toni pun langsung meminum sirup tersebut.
Setelah meminum obat tersebut gas yang ada di perut Toni langsung keluar melalui pantat dan mulut sambil sendawa.
Ewu.....
Duuuutttt.....
Ruangan itu pun seketika di penuhi oleh aroma tidak sedap, beruntung ruangan itu memiliki AC yang menyedot udara keluar ruangan, sehingga dalam waktu sebentar ruangan itu kembali segar.
Dan itu bukan karena aku sudah menyinggung si jagat miskin itu, meskipun aku menyinggung dan membully dia, itu tidak akan berpengaruh dengan apa yang di katakan oleh tuan besar Sandjaya"
Toni malah ngeyel, dia malah menyepelekan perkataan tuan besar Sandjaya tentang 3 larangan yang harus di lakukan.
Toni ini malah menantang masalah dan tidak percaya kepada perkataan dari tuan besar Sandjaya.
Mereka pun kembali menaiki mobil dan hendak pergi ke kantor, karena rencananya setelah bertemu dengan tuan besar Sandjaya ada seseorang yang berjanji akan bertemu untuk membicarakan tentang bisnis.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dan setelah beberapa menit, perut Toni kembali membengkak dan dia pun kembali kentut.
Duuttt....
"Sial, padahal aku sudah minum obat, tetapi perut ku kembali kembung" Toni langsung membuka toples obat dan meminumnya secara langsung tanpa adanya takaran.
"Sudah jangan minum lagi, sudah aku katakan ini karena kamu menyinggung pemuda tadi yang bernama jagat" bentar Sanusi Rahardjo.
Kemudian Sanusi Rahardjo berbicara kepada Tibo "Tancap gas dan cepat kembali kekantor kemudian kamu tolong panggilkan dokter"
Tibo pun menambahkan kecepatan mobilnya, beruntung hari ini jarang kendaraan yang biasanya sangat macet, sehingga mereka pun cepat sampai di kantor pemasaran distributor obat Rahardjo Grup.
__ADS_1
Setibanya di kantor dokter pun langsung memeriksa Toni, dan menurut dokter, kelebihan Gas di perut Toni itu tidak normal, dan Obat tidak bisa menghambat pembentukan gas di dalam perut.
Bahkan dokter itu menyarankan untuk di bawa ke paranormal, karena pembentukan gas di luar logika dirinya yang seorang dokter.
Bahkan sekarang bukan hanya perut yang membengkak seluruh tubuhnya termasuk kaki dan tangan Toni pun membengkak.
Seperti balon yang di tiup dengan menggunakan alat sehingga tubuh Toni dengan cepat menggembung dan bulat, Bahakan pipinya pun seperti orang yang obesitas.
Sanusi Rahardjo pun langsung menelpon tuan besar Sandjaya dan kebetulan tuan besar Sandjaya cepat mengangkat panggilan telpon dari Sanusi Rahardjo.
"Halo tuan besar Sandjaya, maaf mengganggu anda" ucap Sanusi Rahardjo.
"Iya ada apa cepat katakanlah" jawab tuan besar Sandjaya dengan tegas.
Sanusi Rahardjo pun menceritakan mengenai Toni "Dia tadi menyinggung orang dan sekarang badannya berubah menjadi besar serta mengeluarkan kentut yang sangat bau"
Tuan besar malah membentak Sanusi Rahardjo "Sudah aku katakan, apa yang aku larang jangan di lakukan, jadi itu akibatnya kalau tidak mematuhi perkataan ku, itu urusan mu, tanggung sendiri akibatnya"
Sanusi Rahardjo pun sedikit memohon kepada Tuhan besar Sanjaya "Aku mohon, sembuhkan lah anak ku, kasian dia hampir mati dan tubuhnya akan meledak"
"Maaf aku tidak bisa menyembuhkannya, tetapi aku hanya memberikan solusi untuk mu" ucapan tuan besar sedikit mengambang, dia tidak langsung menyebutkan solusi itu kepada Sanusi Rahardjo.
"Tuan besar Sandjaya, aku mohon apa solusinya, aku akan mentransfer uang ke rekening mu sekarang juga"
Sanusi Rahardjo pun berjanji akan mentransfer uang dan barulah tuan besar Sandjaya memberitahukan solusi itu.
"Temui orang yang anak mu singgung, mintalah maaf sampai dia memaafkan anak mu, mau sampai berlutut juga tidak masalah yang pasti, rendahkan diri mu dan anak mu serendah mungkin, asal dia memaafkan anak mu sekipun dia pukul atau pun menendang jangan di balas asal anak mu sembuh dan ingat jangan mengulangi hal itu, karena akibatnya bisa lebih vatal lagi"
Tuan besar Sandjaya pun memutuskan sambungan telepon dan segera Sanusi Rahardjo mentransfer uang ke rekening tuan besar Sandjaya.
Setelah itu Sanusi Rahardjo bergegas menemui Toni dan langsung dia tarik untuk pergi "Ayo kita cari pemuda yang bernama jagat itu, dan kamu harus meminta maaf kepadanya"
Toni pun meronta "Apa, aku harus minta maaf kepada di jagat yang miskin itu, ogah aku tidak mau"
Plak....
Sanusi Rahardjo menampar pipi Toni sampai dia keluar darah dari hidungnya "Kalau kamu ingin sembuh, lakukan yang aku suruh, itu solusi yang diberikan oleh tuan besar Sandjaya supaya kamu meminta maaf kepada jagat dan tidak mengulanginya lagi"
Sanusi Rahardjo pun kembali menarik anaknya itu, meskipun Toni tidak mau tetapi untuk kesembuhannya dia menurut saja kepada ayahnya tersebut.
***
* Bersambung
__ADS_1