Dustanya Cinta

Dustanya Cinta
Penculikan 3


__ADS_3

Hutan, biasanya memiliki ciri khas yaitu dedaunan lebat dan tumbuhan berkayu.


Udara sejuk masih terasa menyentuh kulit. Embun pagi masih menghiasi dedaunan. Sayup-sayup terasa belaian sinar matahari pagi. 


Kicauan burung membelah kesunyian pagi disertai dengan cahaya kuning keemasan yang membuat kita terbangun dari mimpi. Sejuk angin pagi pun seolah menambah semangat kita memulai hari, rasanya begitu segar dan nyaman.


"Bangun.. bangun. Enak aja kalian masih tidur" ucap pengawal itu.


Semalam, Reza sangat kesakitan ketika dicambuk para pengawalnya Surya. Bagi Surya, itu belum seberapa ketimbang perbuatan yang dilakukan atas putrinya.


Ternyata masih ada hati nuraninya yang mau melarang keras untuk tidak menyentuh Delia sedikitpun. Surya tidak mau menyakiti perempuan baik secara fisik maupun secara mental, karena menganggap sendiri jika yang disakiti itu adalah ibu dan istrinya.


"Kalian nggak lihat saya, saya itu masih sakit" ujar Reza yang sedikit melemas.


"Tuan saja menyakiti hati perempuan nggak sakit, masa gini aja udah sakit" ucap salah satu pengawal surya yang sedang mencambuk Reza untuk kesekian kali.


"Heii.. jangan hina suami saya tuan!!" protes Delia yang tak terima dengan ejekan pengawal itu.


"Delia" ucap Reza yang tidak mau istrinya ikut-ikutan.


"Kalau tuan ingin menyakiti saya, sakitilah saya sekarang juga. Tapi jangan sakiti dia" ucap Reza yang menatap mata Delia.


"Bagus nak, kamu emang pantes dapetin ini semua" ujar Surya yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Om Surya. Saya mohon jangan sakiti istri saya" ucap Reza dengan memohon.


"Nak, dengarkanlah yang ku katakan ini. Sekeras apapun perlakuanku padamu, sesalah apapun perbuatan istrimu pada putriku, seorang Surya tidak pernah menyakiti wanita bahkan menyentuhnya saja tidak akan pernah. Karena om tahu, wanita itu mulia derajatnya" jelas Surya yang tiba-tiba mengeluarkan air matanya karena ingat putrinya, Vira.


"Putriku, Vira. Dia tidak pernah ku sakiti tapi malah kau menyakitinya!. Walau dia sudah besar, tetap saja rasa rasa sayang ku padanya tidak pernah berkurang" tambah Surya.


"Om, Reza lakuin itu semua ke Vira karena ada alasannya" sahut Reza.


"Alasan apa?! dia kurang cantik gitu? kurang sexy? atau apa ha ... jawab!" tanya Surya yang marahnya sedang meluap.


"Bu-bukan itu om, Vira cantik kok tapi .. tapi Reza ada alasan lain untuk meninggalkan putri om" ucap Reza uang semakin getir ketika melihat Surya sedang marah.


"Lalu apa alasannya nak!" tanya Surya dengan menatap yajam manik matanya Reza.


"Suatu saat nanti saya akan jelasin ke om. Tapi sekarang, Reza nggak bisa jelasin karena Reza masih terikat janji dengan seseorang" jawab Reza.

__ADS_1


"Ya sudah, terserah kamu saja nak. Bagi om, saat ini adalah waktunya bagimu untuk mendapat hukuman" ucap Surya dengan seringai liciknya.


"Pengawal, hukum dia selain hukuman cambuk. Hari ini, buatlah dia geli sampai tertawa terbahak-bahak" ucap Surya pada para pengawalnya.


Para pengawal itu pun langsung menyentuh bagian, dimana bagian itu ketika disentuh terasa geli.


Dalam tubuh memiliki satu titik atau bagian yang bisa merasakan geli, contohnya telapak kaki, ketiak, atau leher bagian belakang. 


Ketika seseorang menyentuh atau mengelitik titik tersebut, biasanya akan menghasilkan refleksi geli dan tertawa. Terawa dan geli itulah yang sekarang menjadi penguasa ditubuh Reza.


Berbagai macam tertawa dikeluarkan ole Reza. Hingga akhirnya ...


"Om, saya mohon, suruh pengawal anda untuk berhenti. Saya sudah tidak sanggup .. Hah hah" ucap Reza yang sambil ngos-ngosan.


"Kenapa berhenti? mau hukuman yang lebih berat lagi? atau apa?!" bentak Surya.


"Kalau om ingin hukum saya, hukum mati saja om. Daripada om capek beri hukuman pada saya" ujar Reza yang sudah pasrah dengan alur hidupnya.


"Tidak semudah itu nak, kau harus dihukum dulu baru saya hukum mati. Kalau saya menjatuhkan hukuman mati padamu, kurasa kamu akan disiksa dialam sana. Gimana om yang siksa sekarang??!! Haha" sahut Surya yang kemudian disusul dengan tertawa keras.


Berbagai pukulan dan cambukan melayang tepat dibagian tubuh Reza.


Menghindar?


Ku rasa itu tidak. Mau sekuat apapun kita lari, kita nggak mungkin akan kembali lagi. Yang kita tinggali itu hutan dan gue nggak tau jalannya, hanya mereka-mereka yang tau. Mungkin gue harus cari cara untuk keluar dari sini.


Pikir Delia sambil melamun.


"Nona ingin keluar dari sini kan? jangan gegabah nona. Nona nggak tau arah jalan ini, bisa-bisa nanti nona tersesat dan saya akan dimarahi tuan Surya" ucap salah satu pengawal itu yang tahu isi otaknya Delia.


"Gue tau kok" sahut Delia yang tidak sadar dengan ucapannya.


"Nona ingin keluar?" tanya pengawal itu sekali lagi.


"Eh e-enggak kok " jawab Delia yang sudah tersadar dari lamunannya.


"Awas ya kalau nona macam-macam, saya akan laporkan pada tuan" ancam salah satu pengawal itu yang kemudian meninggalakan tempat Delia.


Bahkan ada seseorang yang lebih sengsara dari Reza, yaitu Delia. Delia merasa raganya hilang setengah ketika melihat suaminya disiksa.

__ADS_1


Kini, hanya air mata lah yang menjadi saksi atas kejadian tersebut.


...--------------...


"Zan, udah ketemu belum? Delia sama suaminya yang bre**sek itu" kesal Arga saat menyebut nama Reza.


"Belum tuan. Apakah tuan memasang GPS pada ponsel nona Delia?" tanya Zan, sekertarisnya.


"Ah sial, gue lupa pasang GPS padanya" ucap Arga yang sedang frustasi.


"Tidak apa-apa tuan, nanti saya kerahkan semua anak buah anda untuk mencari lokasi dimana nona Delia sekarang berada" jelas Zan yang tidak mau menambah masalah.


"Bagus Zan, gue bangga punya lo yang bisa diandalin. Berjanjilah Zan, jangan sampai mama dan papa tau tentang hal ini" ucap Reza.


"Kalau itu saya tidak bisa janji tuan" jawab Zan sambil tertunduk.


"Kenapa" heran Arga pada Zan.


"Karena janji itu berat tuan, seperti yang author bilang kemarin .. hehe" jawab Zan dengan lugunya.


"Ada-ada saja kau ini, author mana tahu kalau kau janji sama gue" bisik Arga pada Zan.


"Jangan bicara seperti itu tuan, nanti author dengar dia akan skip kita dari cerita novel yang dibuatnya" jawab Zan yang tak kalah bisiknya pada Arga.


"Nggak akan Zan" ucap Arga sambil menepuk pundak Zan.


"Apanya yang nggak akan?" ucap Author dengan tiba-tiba yang mendengar pembicaraan tersebut.


"Nggak ada kok thor, iya kan Zan" ujar Arga sambil mengedipkan sebelah matanya pada Zan.


"I-iya thor" jawab Zan.


"Awas ya kalau kalian ngomongin author dibelakang" ucap Author sambil menatap tajam mata mereka.


"Nggak akan thor" ucap Arga dan Zan secara bersamaan.


...#Hore, author akan kontrak hari ini. Doakan ya, semoga novel yang author akan kontrakan bisa lulus....


...#Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan vote, like dan komen. Matursuwun🙏♥️....

__ADS_1


__ADS_2