Dustanya Cinta

Dustanya Cinta
Teringat


__ADS_3

Vira menceritakan semuanya dengan jujur tanpa berbohong sedikit pun.


"Arga, apakah itu benar" tanya Bima yang seakan-akan mencari jawaban.


Arga pun hanya menganggukkan kepalanya pertanda benar.


"Terima kasih nak, walaupun kau salah tetapi kau berani untuk mengakuinya. Hebat sekali papamu mendidikmu" ucap Bima dengan mengusap lembut pipi Vira.


"Ya iyalah, emangnya situ didikannya nggak bener" sindir Surya.


Bima pun hanya diam, karena yang dikatakan Surya memang benar adanya.


"Bela teruss... sampai anaknya sendiri mampus!" sahut Delia yang tiba-tiba membuka suara.


"Bukan membelanya tetapi kagum akan sikapnya" ucap Arga yang membenarkan perkataan Delia.


"Kakak, papa dan mama.. semua telah berubah! Apa kak Arga tak punya sedikit rasa kasihan pada Delia"


"Bukan kita yang berubah, tetapi kau.. kaulah yang merubah semuanya" seru Arga.


"Sudahlah nak, tidak ada gunanya bicara kepadanya" ucap Bima yang ingin segera melerai kedua anaknya.


"Woi Reza, didiklah istrimu ini menjadi baik karena dia sekarang tanggung jawabmu bukan tanggung jawabku" pinta Arga dengan keras.

__ADS_1


"Baiklah" singkat Reza.


"Elu apa-apaan sih Za" ketus Delia yang mendengar perkataannya.


"Tidak apa-apa" singkat Reza yang seakan-akan berpihak pada keluarganya.


...------------...


Dikediaman Mahardika ....


Ketika hati sudah dipenuhi rasa kerinduan maka sepenuh apapun rindu tidak akan berkurang sedikitpun kecuali adanya suatu penawarnya.


Jika orang sakit penawarnya adalah obat maka rindu penawarnya adalah bertemu.


"Mama tahu, mamalah yang salah dalam hal ini. Mama telah gagal menjadi seorang ibu. Seandainya kamu sedikit saja mempertahankan pendapatmu, mama akan setuju kok. Tapi, kau begitu gegabah untuk meluapkan segala emosimu dengan pergi jauh dari mama. Pulanglah nak, mama menunggumu" ucap Ana dengan memandangi gambar wajah putraya yang bernama Aldiyansyah putra Surya.


Flashback Off


Aldiyansyah Putra Surya, itulah namanya. Waktu Al berusia 14 tahun, dirinya sudah berpacaran dengan seorang gadis yang jauh lebih tua darinya.


Bagi Al, umur tidak dipermasalahkan. Yang terpenting adalah sebuah umur kesetiaannya. Inilah yang menyebabkan Ana tidak merestuinya, karena menganggap wanita yang dipacari oleh Al terlalu tua.


"Al, coba pikirkan kembali. Diusiamu yang masih rentan, kenapa kamu malah memilih wanita tua seperti dia. Sedangkan dirimu dinantikan wanita yang jauh lebih cantik dan muda dari dia" protes mama Ana yang mau mengompor-ngompori Al.

__ADS_1


"Apa mama hanya melihat fisiknya saja? coba sekali-kali mama lihat dia dari batinnya, pasti mama akan terenyuh dengan semua kepribadiannya" ucap Al yang malah semakin memuji wanitanya.


"Mama udah lihat kok dari fisik dan batinnya. Malahan batinnya lebih buruk dari fisiknya" ejek Ana.


"Terserah! mama mau ngomong apa. Al pergi dulu, daa" pamit Al dengan tiba-tiba karena kesal setiap mendengar celotehannya.


"Selalu saja begitu. Memangnya, apa si kehebatan dari wanita itu. Cantik tidak jelek iya. Muda tidak tua iya. Awas ya kamu Al, mama akan memisahkanmu dari wanita tua itu. Pegang saja janji mama" seringai licik dari Ana yang kemudian tersenyum.


Sementara itu ...


"Rin" panggil Al yang sedang disebuah tempat.


"Iya al" jawab Karin yang tak lain adalah kekasihnya Al.


"Bolehkah, aku jujur sama kamu"


"Boleh, katakanlah" ujar Karin dengan ramah.


"Se-sebenarnya mama..." ucap Al dengan terpotong-potong.


.


.

__ADS_1


...#Mohon dukung author dengan like, vote dan komen. Matursuwun🙏♥️....


__ADS_2