Dustanya Cinta

Dustanya Cinta
Alasan!


__ADS_3

"Apa-apaan sih elu, lepasin nggak!" bentak Vira.


"Siapa suruh elu duduk disini" ucap Arga dengan menunujuk pahanya.


"Alah, situ aja yang murahan"


"Hei-hei, bukannya elu yang murahan?" sahut Arga yang dengan cepat melepaskan genggaman yang berharga itu.


"Ya bukanlah, elu itu yang murahan"


"Lah tadi siapa yang nyerahin ke gue"


"Gue nggak pernah tuh nyerahin diri gue ke elu"


"Kalau bukan elu, siapa?"


"Setan kali"


"Mungkin! setan jelek kali ya"


"Ya .. mungkin aja kembaran gue" ucap Vira yang merasa dirinya kalah dalam berdebat.


"Alasan!" protes Arga.


Suara hening terjadi selang beberapa menit. Setelah perdebatan antara kucing dan tikus itu selesai, kini para pengawal itu sudah mencari kayu sebanyak mungkin.

__ADS_1


Seperti orang bilang, usaha tidak akan menghianati hasil. Begitu pula dengan mereka.


"Arga, bantu mereka buat api unggun sekarang" ucap Bima yang sedang menyuruh puteranya.


"Iya pa"


"Kamu juga nak" ucap Bima yang sedang menunujuk Reza.


"Iya om"


"Kemarilah sebentar kau" perintah Bima pada menantunya.


"Iya, ada apa om memanggilku?" tanya Reza.


"Jangan sungkan-sungkan, panggil papa aja"


"Idih najis gue denger dia panggil papa, papa" batin Arga dengan memanyunkan bibir.


"Hei putraku, papa tahu kalau kau sedang mengumpat menantuku kan?"


"Sok tau ah, papa" kesal Arga.


"Dengarlah anakku sayang. Seburuk apapun perlakuaannya, percayalah ada yang lebih buruk darinya. Meskipun dia terlalu buruk dimatamu sekarang, tetapi kita tidak akan pernah tahu bahwasannya mungkin esok orang itu sudah berubah. Jadi, jangan meremehkan orang hanya karena sikapnya tidak bisa dirubah. Ingat itu!" jelas Bima yang persis sedang menerangkan matematika plus rumusnya.


"Iya deh pa, percaya kok" jawab Arga yang tidak mau membantah perkataan Bima.

__ADS_1


"Dan kamu menantu, jangan senang dulu kalau papa sedang mendukungmu. Perubahan itu pasti ada, tapi nanti. Jadi semangatlah untuk berubah" ucap Bima yang sedang menepuk punggung Reza.


"Pasti pa" jawab Reza.


...----------------...


Disebuah kamar yang cukup elegant dan mewah, ada sepasang tangan yang sedang menyentuh barang lama miliknya.


Barang itu adalah sebuah foto yang sudah dibingkai dengan desain yang sangat indah. Meskipun ukurannya tidak terlalu besar, tapi masih bisa dilihat kalau foto itu foto Syellia bersama sahabatnya.


Sudah 20tahun silam dia menyimpan barang berharga itu dengan baik. Bahkan debu yang bersinggah saja tidak bisa bertahan lama karena kebersihan yang selama ini dijaganya.


"Sudah 20tahun kita putus, tapi putus ini tidak putus seperti yang dialami oleh orang lain. Melainkan putusnya dari seorang sahabat. Aku tahu, selama ini aku lah yang salah dan aku sudah minta maaf kepadamu tetapi .. kau masih belum juga memaafkanku. Aku juga tahu, kalau aku yang sudah menuduhmu yang tidak-tidak dan juga akulah yang memutus persahabatan dan cinta kita ini. Sebesar apakah kesalahanku padamu, sampai kamu belum bisa memaafkanku sekarang"


"Aku sudah menebus kesalahanku dengan menyanyangi putrimu, karena puterimu itu cantik sama sepertimu. Andai saja kita sudah berdamai, mungkin anak kita sudah berkeluarga dan kita menjadi besanan. Apa kau tidak ingin mereka bahagia, An. Dan apa kau lupa, dulu kita penah berucap untuk menjodohkan anak kita nanti saat mereka dewasa. Lalu sekarang, dimana pembuktianmu Ana Surya Mahardika!"


Suara tangis pecah dan menggema diseluruh ruang kamar. Air mata mengalir layaknya sebuah air terjun yang sangat juram. Menangkupkan kedua tangan untuk kesalahan yang pernah diperbuat. Bersujud dilantai untuk keluhan pada sang kuasa.


Inilah penyesalan yang sesungguhnya. Ketika permintaan maaf tidak terima, mintalah pada sang penciptanya. Karena sang kuasa tahu segalanya.


Tuhan tidak selalu memberikan keinginan kita tapi tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan .. okee😉.


.


.

__ADS_1


...#Mohong dukung author dengan vote, komen dan like. Matursuwun🙏♥️....


__ADS_2