Dustanya Cinta

Dustanya Cinta
Hujan


__ADS_3

"Mari kita pulang sekarang" ajak Bima saat mendengar sedikit petir yang tandanya hujan akan turun.


"Nggak asik lu ah, masa gitu-gitu aja si dia dibebasin" ucap Surya.


"Hei, jangan pernah kau macam-macam sama putriku!" sahut Bima terdengar sedikit membentak.


"Putri apaan coba, putri yang turun dari selokan?!. Kalau putri gue ya turun dari kahyangan" puji Surya pada putrinya sendiri.


"Kepada bapak Bima dan bapak Surya yang terhormat, bisakah anda diam!" protes Vira yang telinganya tidak nyaman mendengar celotehan kedua pria itu.


DUAR (Kira-kira semacam ini ya suara petir).


Sesuai dengan perkiraan, kini hujan rintik-rintik diatas genting itu tiba-tiba turun. Angin yang semula bersepoi-sepoi, sekarang berubah menjadi kencang dan cuaca dingin yang mendiami diseluruh hutan itu.


Petir yang bergemuruh terdengar sangat kuat ditelinga. Memang ada dampak negatif dari turunnya hujan, salah satunya adalah banjir. Tapi disisi lain ada dampak positifnya juga, diantaranya adalah tumbuhan yang subur, udara yang sejuk serta air jenih yang turun langsung dari langit.


"Kita tidak bisa pulang sekarang, mau tidak mau kita harus menginap disini terlebih dahulu" ucap Surya dengan nada lirih yang merasa tiba-tiba tentram hatinya.


"Benar, kita pulang besok saja. Lagian ini udah sore dan sebentar lagi malam akan tiba. Kalau kita pulang sekarang, kita tidak akan tahu bahaya apa yang mengintai kita. Lebih baik kita tunda pulangnya" ujar Bima.


"Baiklah pa kalau begitu. Pengawal, carilah kayu sebanyak-banyaknya sebelum hujan semakin deras. Kita akan membuat api unggun sementara" perintah Arga kepada semua pengawal, baik itu pengawalnya sendiri maupun pengawalnya Surya.


"Baiklah tuan" seloroh para pengawal itu.

__ADS_1


"Hebat sekali putramu itu dalam mengatasi keadaan. Bim, anak elu si Arga gua ambil ya. Mau gue jadiin menantu" lirih Surya pada Bima.


"Setuju, lain kali kita atur jadwalnya"


"Menantu? Hello .. apa Vira nggak salah denger nih pa, masak om-om mau dinikahin sama Vira si"


"Siapa yang om?!" sahut Arga yang mendengar ucapan Vira.


"Eh enggak kok, maksudnya Bang ga" sahut Vira yabg tidak ingin menimbulkan keributan.


"Lah sekarang siapa yang bangga?" tanya Arga yang semakin bingung dengan Vira.


"Bangga? oh, maksud Vira itu Bang Arga" jelas Vira.


"Lah terus panggil siapa?"


"Terserah"


"Ehem, ngomong-ngomong kalian udah jadian ya?" ucap Delia yang menengahi perdebatan mereka.


"Sok tau lo" ucap mereka bersamaan.


"Tuhkan, kalian selalu bicara bersamaan" ucap Delia yang ingin memperbaiki kesalahannya.

__ADS_1


"Tau ah"


Tiba- tiba DUAR ..


Lagi-lagi suara petir mengungkapkan isi hatinya.


"Eh, petir bicara" ucap Vira dengan ketakutan.


Siapa yang tidak terkejut, sepasang orang yang berdebat tadi kini seperti orang yang merajut kasih. Gimana tidak, posisi Vira sekarang berada diatas pangkuan Arga.


Arga yang tidak sadar memegangi sesuatu yang sangat menarik baginya, mencoba untuk bermain-main disekitarnya. Saat Arga mencubitnya tiba-tiba terdengar ..


"Ah sakit!" teriak Vira.


"Apanya yang sa ... ?" potong Surya saat terkejut melihat posisi putrinya.


"Itu mah nggak sakit tapi nikmat. Dasar anak muda jaman sekarang, kalau pacaran nggak ingat tempat" lanjut Surya yang merasa dibohongi Vira.


.


.


...#Mohon dukung author dengan vote, like dan komen. Matursuwun🙏♥️....

__ADS_1


__ADS_2