
"Tolong .. " ucap Surya dengan kebingunan.
"Ups, gue salah bicara. Harusnya kan Tolong, tolong, tolong bantu cari Vira. Kan harusnya gitu" gumam Surya sambil memperagakan bibirnya.
Seluruh penghuni tenda itu pun keluar mendengar suara Surya yang meminta tolong.
"Ada apa om?" tanya Reza yang sedang menguap.
"Iya nih, ada apa si elu kok minta tolong" sahut Bima yang sedang mengucek kedua matanya.
"To-tolong" singkat Surya.
"Tolong apa!!" kompak semua orang yang sedang berada disana.
"Vi-Vira" lirih Surya dengan rasa kebingunan.
"Woii! kalau ngomong yang jelas, singkat dan padat dong!!" bentak Bima yang sedang emosi mendengar suara terpotong-potong dari Surya.
"Vira hilang" ucap Surya dengan kecepatan yang maksimal.
"Vira hilang? lalu Arga?" sahut Bima saat mendengar kabar Vira hilang.
"Entah, setau gue anak elu Arga sama anak gue Vira deh. Jangan- jangan .. "
__ADS_1
"Mereka hilang" ucap Surya dan Bima secara bersamaan.
"Kita harus cari mereka sekarang" ajak Bima yang kini seperti Surya, kebingunan.
"Tunggu pa, diluar masih hujan sedikit" ucap Delia.
"Apa kau pikir aku takut hujan nak? Hmm .. sepertinya kau salah besar"
"Apa papa sudah tidak mengkhawatirkan Delia lagi? apa Delia tidak anak papa sekarang? sampe segitunya papa cari kak Arga walau kondisi tidak mendukung" ucap Delia yang merasa dirinya sedih dengan sikap Bima.
"Kau salah nak jika aku tidak mengkhawatirkanmu. Kau tahu papa 2 hari yang lalu masih diInggris, dan papa kembali hanya demi kamu. Sekertaris Zan lah yang memberitahu papa jika kamu dalam bahaya. Apa ini yang kau maksud jika papa tidak mengkhawatirkanmu lagi?"
"Selamanya, orang tua tidak akan tega pada anaknya tetapi seorang anak akan sulit tega sama orang tuanya. Camkan itu"
"Ayo Sur" ajak Bima pada Surya yang ingin segera perdebatan itu selesai dan segera mencari Vira juga Arga.
"Hem" singkat Delia.
Didalam perjalanan, mereka tampak amat fokus mencari 2 wajah, 4tangan, dan 4 kaki siapa lagi kalau bukan dua orang yang kini sedang hilang bak ditelan cinta.
Kita tidak tahu takdir seseorang, buktinya Surya yang tadi masih bersama putrinya kini sudah tidak bersamanya begitupun dengan Bima dan putranya.
Ini bukanlah sebuah perjanjian antara Arga dan Vira yang ingin menghilang dari hutan itu. Tapi takdirlah yang menjanjikan mereka untuk bersama.
__ADS_1
...-------------...
"Kak, pakailah jangketku" ucap Vira dengan melepas jaket dibadannya.
"E-elu pa-pakai aja"
"Tidak! kak Arga harus pake ini" bantah Vira.
"Ter-terserah e-elu deh"
Vira pun memakaikan jaketnya pada Arga, ya meskipun jaket itu tidak menutupi seluruh tubuh Arga tetapi setidaknya bisa mengurangi rasa dinginnya.
"Kak, Vira minta maaf pada kakak karena telah menyebabkan semua ini. Vira juga minta maaf karena tidak bisa menyingkirkan phon ini. Hiks.. hiks.. Vira menyesal kak tidak mendengarkan ucapan kakak"
"Vira tahu kok, selama ini Vira telah mengejek kakak dengan sebutan om tapi sekarang Vira janji, Vira akan memanggil kaak Arga dengan sebutan kak bukan om lagi"
"Ba-baguslah ka-kalau be-begitu. Da-dari awal aku udah ta-tau, kalau elu se-sebenarnya baik kok cu-cuma gengsi" ucap Arga dengan senyum tipisnya.
"Mana ada, Vira nggak pernah gengsi tau" elak Vira.
"Per-percaya deh"
.
__ADS_1
.
...#Mohon dukung author dengan like, vote dan komen. Matursuwun🙏♥️....