Dustanya Cinta

Dustanya Cinta
Debat


__ADS_3

"Salah elu sih mau aja dibohongin" ucap Delia yang seolah-olah menyalahkan Vira.


"Itulah gue sangking baiknya ama elu sampe-sampe gue dibohongin, itupun sama teman sendiri. Apa elu nggak punya rasa sayang sedikitpun pada persahabatan kita yang dulu"


"Sahabat? gue sahabat elu Vir? masih inget nggak, waktu itu gue udah bilang ama elu kalau gue suka ama Reza"


"Gue ingat kok, tapi dulu elu itu suka hanya dalam sekedar mengagumi bukan? terus kenapa elu gebet sibrengsek itu"


"Memang, awalnya gue suka ama Reza hanya sebatas mengagumi saja bahkan tidak lebih. Tapi lama kelamaan semenjak elu jadian sama Reza, hati gue rasanya tidak rela melihat kalian berdua. Benar apa kata orang, milik sahabat lebih nikmat"


"Harusnya elu ngomong kalau waktu itu elu suka sama dia. Gue akan senang hati lepasin dia buat elu. Gue nggak dendam ataupun nyesel elu ambil mantan gue, tapi yang selama ini yang gue sesalin adalah ketika elu mutus sahabat ini. Elu tau gimana rasanya, Delia Anastasya Dirgantara!!"


"Rasanya? ya seperti yang elu lihat" ucap Delia dengan tersenyum bahagia.


Tapi, kini perdebatan itu disaksikan oleh beberapa orang yang sedang menyimak ucapan mereka.


"Kok gini si jadinya? gue rencanain ini semua kan untuk hiburan semata bukannya untuk mengadu domba" gumam hati Arga yang sedang memperhatikan mereka.


Arga yang merasa dirinya salah dalam kejadian ini, dia pun bergegas untuk menengahi perdebatan mereka.

__ADS_1


"Cukup Delia!! kakak lah yang salah dalam hal ini" sebuah akuan salah lulus dari mulu Arga.


"Apa maksud kakak? kak Arga mau bela wanita ini?" ucap Delia pada Arga.


"Kakak bukan mau bela dia, tapi memang ini semua salah kakak"


"Apa kakak udah nggak sayang sama Delia karena dia?" tanya Delia dengan menunujuk Vira.


"Kenapa kakak bela dia? bukannya Delia? apa kakak udah cinta sama dia?" berbagai pertanyaan masih keluar dari Delia.


"Diamlah! ini bukan soal bela dia ataupun kau, tapi ini soal salah dan benar. Kakaklah yang mengajak Vira untuk menjadi seperti ini" ucap Arga yang kemudian menunujuk wajahnya.


"Bukankah kakak sudah katakan, kalau ini semua kakaklah yang mengajak dia. Jadi, jangan terus menyalahkan dia" ucap Arga yang sedang menatap mata Vira yang sedikit mengeluarkan darah putih.


"Bohong .. !!" bentak Delia yang sedang membangunkan oara burung yang sedang tidur.


PLAKKK


Sebuah tamparan berasal dari tangan Bima.

__ADS_1


"Apa kau nggak punya rasa hormat sedikitpun pada kakakmu ini. Apa yang selama ini papa ajarkan tidak cukup untuk kau contoh. Selama ini papa anggap kau adalah puteri kesaayangan papa"


"Tahukah kau nak, papa lebih sayang padamu daripada kakakmu. Karena papa tahu kau adalah seorang wanita yang harus dijaga orang tuanya sebelum menikah. Apakah ini balasanmu pada kakakmu yang selama ini telah melindungimu, termasuk ingin mengeluarkanmu dari hutan ini" ucap Bima dengan menangis tersedak-sedak.


"Sudahlah Bim, ayo kita kembali ketenda. Ini sudah larut malam, lebih baik kita tidur. Besok kita akan menempuh perjalanan yang cukup melelahkan bukan?" bujuk Surya pada sahabatnya yabg tidak mau terus menangis.


"Ayo" jawab Surya dengan nada bergetar.


"Mulai sekarang jangan panggil aku papa, karena kau bukanlah anakku. Anakku itu punya rasa hormat dan sopan santun pada orang yang lebih tua, sedangkan kau? tidak kan. Ingatlah, penyesalan datang dari belakang. Aku harap kau tidak terlambat untuk menyesal" ucap Bima yang seketika itu langsung pergi meninggalkan mereka.


"Ayo, kalian juga kembali" perintah Surya pada semua orang yang berada disana.


Semula yang tadi orang yang sedang ketakutan sekarang berubah menjadi orang mengerikan. Ini semua gara-gara kesalahpahaman yang sedang bersinggah ditempat yang tidak seharusnya.


Kesalahpahaman bisa terjadi sama siapa saja dan akan datang secara tiba-tiba. Kesalahpahaman bisa membuat kita jauh dari orang yang selama ini kita sayangi.


Bila ada kesapahpahaman yang terjadi diantara kalian, selesaikanlah dengan cara baik-baik bukan dengan cara egois.


^^^_Author_^^^

__ADS_1


__ADS_2