Dustanya Cinta

Dustanya Cinta
Sebuah Maaf


__ADS_3

"Lihatlah papa kak, sekarang papa sudah membenciku .. dan ini semua gara-gara kakak!!" ucap Delia yang melihat Bima pergi berlalu lalang.


"Dan kau juga Vir!" lanjut Delia sambil menunjuk Vira.


"Apa-apaan kau ini menyalahkan orang lain, jelas-jelas kau lah yang salah" ucap Arga dengan menyalahkan Delia.


"Kakak sendiri rasa kakak tiri. Semua berubah ketika sudah mengenal cinta" sindir Delia.


"Betul sekali .. itulah kau Delia, sang pembohong sahabat sejati!!. Kau berubah ketika mengenal cinta. Apa elu nggak mau bangun sahabat lagi sama gue seperti dulu? elu nggak mau kita menjadi best friend forever selamanya?" bujuk Vira yang masih ingin menjalin sahabat dengan Delia.


"Cuih!! mimpi!!" lantang Delia yang langsung meninggalkan tempat itu.


"Deliaa!!" teriak Arga ketika melihat adiknya pergi dengan tidak sopan.


Semua orang pergi dari tempat itu, kecuali Arga dan Vira. Mereka hanya saling menatap tapi tidak untuk cinta.


"Vir" panggil Arga.


"Hem" jawab Vira yang sedang menghapus air matanya.


"Gu-gue minta maaf, soal .."


"Soal?"


"Soal kejadian tadi, dan ..." potong Arga.

__ADS_1


"Dan?"


"Dan kesalahan Delia"


"Bukankah Delia yang salah?"


"Gue tahu, gue cuma mewakilkan dia"


"Nggak! yang punya salah kan dia dan dia harus yang meminta maaf secara langsung tanpa ada orang yang mewakilkan. Paham! Emang pejabat negara apa yang mudah diwakilkan orang" ucap Vira tanpa penekanan.


"Seandainya Delia minta maaf langsung ke elu, elu akan maafin?" tanya Arga dengan sedikit hati-hati.


"Em .. nggak juga"


"Terserah elu saja deh" jawab Arga dengan pasrah, pasalnya kesalahan yang dibuat Delia itu sungguh sangat-sangatlah fatal. Jika tidak dimaafkan akan menambah masalah dan jika dimaafkan mungkin belum menyelesaikan semua masalah.


Bahkan berumah tangga itupun akan mengalami masalah dan masalah yang paling besar adalah ketika ada orang ketiga.


Apakah kau berharap hidupmu akan terbebas dari masalah? Tidak kan.


Apakah kau bisa menghindari dari masalah? tidak juga.


Kadang rasa itu perlu dicicipi, rasa manis, pahit, asam dan asin. Itulah kehidupan yang punya berbagai rasa termasuk rasa bahagia dan derita (masalah).


Sesungguhnya kehidupan itu adil bagi siapa saja dan tidak pernah memandang orang apa jabatannya. Cuma kita saja yang tidak bisa mengerti apa kehidupan yang sebenarnya jika tanpa masalah.

__ADS_1


...------------...


"Sur, apa yang gue lakuin itu salah" tanya Bima dengan tatapan kosong.


"Elu nggak salah kok. Bukankah orang itu selalu punya salah?"


"Iya Sur bener elu, tapi gue merasa kalau yang gue lakuin tadi sungguh sangat keterlaluan"


"Apa elu memukulnya? nggak kan? terus apa yang keterlaluan?" ucap Surya dengan menenangkan sahabatnya itu.


"Gue nggak mukul dia kok, gue cuma nyesel kalau didikan gue selama ini sia-sia" sahut Bima yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Apa-apaan kau ini, masa gini aja nangis si. Dasar lembek" ucap Surya dengan memancing Bima agar tidak menangis lagi.


PLETAKK


Suara pukulan dari Bima untuk surya yang mengenai kepalanya.


"Berani kau memukulku bim? awas elu ya" ujar Surya.


"Awas apa? kaulah yang lembek sekarang. Semenjak elu punya bini, elu jadi lembek kayak bebek. Wek wek .. hahaha" ucap Bima dengan menirukan suara bebek.


"Nggak ada manfaatnya gue ngomong ama elu" jawab Surya yang meras dirinya lagi-lagi kalah dalam berdebat.


.

__ADS_1


.


...#Jangan lupa dukung author dengan like, vote dan komen. Matursuwun🙏♥️....


__ADS_2