
" Ingatlah Aland yang saya katakan. Jangan kau sakiti Delia, meskipun gue udah anggap dia tiada dikehidupanku tetapi dia pernah mengisi hatiku. Perintahkan semua pengawal bawahanmu untuk tidak terlalu keras menyakitinya" ucap Vira yang masih merasa lirih hati.
"Pasti, saya salut sama anda non. Tetaplah jadi seperti ini dan janganlah berubah. Suatu saat nanti, nona akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari suaminya nona Delia" ujar Aland yang memberi semangat pada Vira.
"Thank's Aland" ucap Vira pada Aland yang sedang mereda.
"Maaf atas kelancangan saya non, saya hanya ingin menyampaikan ini saja. Saya harap anda memaafkan saya" ucap Aland sebelum pamit pulang.
"Bukankah tidak baik untuk dendam. Kalau damai ada mengapa harus dendam" ucap Vira.
"Iya non, saya permisi dulu" ucap Aland yang masih tetap hormat pada Vira, karena dia tahu yang dihadapannya sekarang adalah putrinya Surya.
Vira masih dalam keadaan mematung ketika mengetahui sahabatnya, lebih tepatnya mantan sahabatnya itu ditahan oleh papanya sendiri.
Vira berpikir, akankah kesalahan yang diperbuat harus dipertanggung jawabkan? pasti! sebesar dan sekecil apapun kesalahanmu itu, suatu hari nanti pasti akan dipertanggung jawabkan. Entah tuhan atau manusia yang melakukannya.
...------------...
Disebuah pedalaman hutan yang cukup gelap ada dua sepasang mata yang didalam sana. Mereka terlihat seperti marah dan kecewa apa yang didapat hari ini.
"Gimana bisa gini, Ah siall!!" ucap Arga sambil menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Sabarlah tuan, cepat atau lambat kita akan menemukan dimana nona Delia sekarang" ujar Zan yang sedang menenangkan Arga.
"Gue udah sabar Zan selama ini! Gue nggak akan nyerah cari Delia. Gimana pun juga Delia itu saudara gue. Suruh anak buahmu melacak tempat ini, gue yakin mereka ada disini" suruh Arga pada Zan yang saat ini masih berada didalam hutan.
"Baiklah tuan" balas Zan.
Secepatnya sekertaris Zan menyuruh anak buahnya untuk mencari Delia lagi. Bukannya Zan mau saja disuruh-suruh, tapi memang inilah tugasnya.
Mencari celah demi celah untuk membuka jalan karena jalan itu ditumbuhi sebuah rumput liar.
Mereka membawa peralatan lengkap untuk berjaga-jaga agar terhindar dari binatang buas. Bagaimana pun jugan yang namanya hutan pasti ada hewan buasnya.
"Tuan, sekarang kita harus belok kemana?" tanya Zan pada Arga.
"Tuan, apakah anda ba .... " tanya Zan sekali lagi dengan wajah terkejut mendapati seorang Arga ketakutan.
"Zan .. Zan .. tolong ..to-long .. gue dideketin kera" ucap Arga yang meminta tolong pada Zan karena ketakutan.
"Aneh, masa sama begituan harus takut. Anda benar-benar seperti saya tuan, penakut hewan" batin Zan yang memang sebenarnya takut pada Kera.
"Tidak usah takut tuan. Bukankah kera itu nenek moyang kita" jawab Zan dengan santainya yang pura-pura berani.
__ADS_1
"I-iya Zan, gue tahu. Ta-tapi di-dia menciumku terus" ucap Arga terpotong-potong karena merasa geli pada kera itu.
"Apa-apaan dia, berani orang kok nggak berani hewan" umpat Zan didalam hati kecilnya yang masih sedikit didengar Arga.
"Heii, apa katamu Zan! mau gue suruh papa untuk nurunin jabatan lo" ucap Arga yang kini dipeluk oleh seekor kera.
"Coba saja kalau tuan berani" ujar Zan dengan memepersilahkan menggunakan kedua tangannya.
"Lo, emang licik Zan. Gue janji, gue akan suruh papa untuk menaikkan gaji lo dua kali lipat dan untuk nurunin jabatan lo, emm ... gue cancel aja deh gimana? tapi tolong gue dari kera ini" ucap Arga yang sedikit memohon.
"Lima kali lipat gimana tuan" tawar Zan dengan mengerjai Arga.
"Lima? gila lo Zan. Terserah lo deh, cepet suruh lepasin gue Zan!!" bemtak Arga pada Zan yang sudah lelah berdebat.
"Baiklah tuan. Deal ya lima kali lipat" ucap Zan dengan menyatukan jari kelingkingnya dengan Arga.
Sebenarnya, Zan sendiri takut sebuah kera. Tapi demi gaji lima kali lipat, dia memberanikan diri untuk menyuruhnya pergi dari tubuh Arga.
.
.
__ADS_1
...Jangan lupa dukung author dengan vote, komen dan Like. Matursuwun🙏♥️....