Dustanya Cinta

Dustanya Cinta
Menyalahkan Diri Sendiri


__ADS_3

"Kak, kau dengar ada yang memanggil nama kita" ucap Vira yang sedang mendengar namanya dan Arga.


"Ku-kurasa juga begitu"


Vira...


Arga...


"Tuh kan kak, bener. Itu pasti papa"


Papaa.... Vira disini ...


Teriak Vira.


***


"Bim?" panggil Surya dengan rasa terharu sebab orang yang sedang ia cari sedang menyahutnya.


"Iya, mereka pasti aman. Ayo kita jalan kearah suaranya" ajak Bima yang tidak mau terbelit-belit.


"Hem ayo"


Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, mereka berdua dan disusul dengan dua orang segera menuju ke sumber suara itu. Mereka yakin, kalau anak mereka baik-baik saja.


Tapi.. sesampainya ditemukannya Vira, ada sosok satu orang yang hilang.


"Vir, dimana Arga?" tanya Bima yang sedang mencari-cari keberadaan putranya.


"Om (sambil melihat kearah bawah)" ucap Vira.

__ADS_1


Bola mata Bima langsung mengikut gerakan mata Vira. Dan dibawah sana ada seseorang yang sedang lemas karena cukup lama tertindih pohon.


"Ar-arga" panggil Bima.


"Iya, pa-pa disini" ucap Arga merasa terharu.


"Bagaimana bisa seperti ini?" tanya Bima.


"Ini semua karena Arga sendiri pa, Argalah yang tidak tahu kalau pohon itu hampir roboh" jelas Arga yabg tidak mau menyalahkan Vira.


"Dia bohong om" sahut Vira.


"Bohong?" bingung Bima.


"Iya om, dia bohong. Karena ini semua salah Vira, Viralah yang membuat putra om seperti ini" ujar Vira yang seakan-akan benar apa yang diucapkan.


"Dialah yang bohong pa .. percayalah, ini semua salah Arga" potong Arga.


"Vira berani bersumpah atas nama papa" lanjut Vira sambil mengenggam tangan Surya, papanya.


"Diam! jangan menyalahkan diri sendiri terus" ucap Bima yang sedang menengahi perdebatan itu.


"Lebih baik kita singkirkan pohon ini. Ayo ... " ajak Surya.


"Reza ikut om" ucap Reza yang sedang melangkahkan kakinya didepan.


"Ayo"


Dengan tenaga seorang laki-laki yang berjumlah 4 orang saja mampu membuat pohon itu menjauh dari tubuh Arga. Laki-laki yang berjumlah 4 itu adalah Bima, Surya, Reza dan sekertaris Zan dan pengawal lainnya sudah membubarkan diri untuk pulang termasuk sekertaris Aland.

__ADS_1


Arga pun bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Arga yang tadinya pasrah dengan keadaan sekarang berubah membalikkan keadaan.


"Terima kasih pa, om, Zan karena kalian telah menyingkirkan pohon ini"


"Sama-sama" serentak tiga orang itu.


"Ehemm.. menantu papa kok nggak nak?" sindir Bima.


"Udah ah pa, papa aja nggak denger" elak Arga yang sebenarnya belum mengucapkan nama Reza.


Kemudian Bima bertanya Surya apakah dirinya mendengar nama Reza, Surya pun hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak.


"Berani kau bohong sama papa?. Cepat ucapkan nama dia sekarang!" perintah Bima yang sepertinya tidak mungkin untuk tidak dilakukan.


"Terima kasih Rese" ucap Arga dengan sedikit tersenyum.


"Rese? yang ikhlas dong kalau nyebut nama. Dasar anak nggak ada akhlak"


"Iya-iya pa, terima kasih Re .. Za......" ucap Arga yang memasang wajah dinginnya.


"Nah gitu baru anak papa" ujar Bima sambil menepuk sebelah pundak Arga.


"Coba kalian ceritakan, gimana bisa kalian masih ditempat ini dan gimana Arga bisa tertindih pohon?" tanya Bima.


"Jadi gini ceritanya om .." ucap Vira yang langsung memulai cerita itu.


Vira menceritakan semuanya tanpa dikurang-kurangi dan ditambah-tambahi. Mulai dari turunnya hujan, rasa tidak percayanya pada Arga, pohon besar yang hampir roboh tapi tidak jadi roboh dan pohon yang tidak terlalu besar roboh tiba-tiba.


.

__ADS_1


.


...#Mohon dukung author dengan like, vote dan komen. Matursuwun🙏♥️....


__ADS_2