
Mataku sudah terpejam. Sengaja aku tidur di kamar Nadia.Tapi aku pura- pura ketiduran, setelah menidurkan Nadia. Aku merasakan ada sentuhan di wajahku. Eh tidak, itu adalah kecupan di kening
ku.Lalu di pucuk kepalaku. Mendadak aku merasa mual.
Biasanya, jika Bang Rey memperlakukanku seperti ini. Aku akan menggeliat manja. Lalu suamiku akan
melakukan hal lain yang lebih liar. Menggerayangi setiap bagian tubuhku. Sentuhan yang menuntut
pemuasan hasrat. Dan tentu aku akan melakukan
nya penuh dengan cinta. Melaksanakan kewajiban
sebagai seorang istri.
Aku merasakan desah nafas berat di wajahku. Tapi aku tak bergeming. Lengan kekarnya kini menyusu
p di bawah tubuhku, hendak menggedongku. Ku buka mataku, dan benar saja tubuhku sudah mulai dalam gendongannya.
" Ada apa sih, Bang," aku pura- pura mengucek ke dua mataku.
" Adek kok tidur di kamar, Nadia. Ayo pindah ke kamar kita."
" Aku tidur di sini aja, Bang. Kasihan Nadia, akhir- akhir ini sering terjaga karena mimpi buruk,"
" Kalau begitu Abang juga tidur di sini ajalah,"
" Eh, jangan Bang. Tempat tidur Nadia terlalu sempit untuk kita bertiga," kilahku menolak halus.
" Sayang, aku merindukanmu," bisiknya penuh gairah di telingaku. Tapi ucapan itu bagaikan air es menyiram sekujur tubuhku. Aku menggigil kedinginan, membuat hatiku beku. Lalu kejadian malam itu di rumah Mama mertua, melintas di ma
taku. Ingin rasanya aku memaki-maki Bang Rey, dan membongkar semua perbuatannya.
Tapi tunggu dulu! Belum saatnya aku melakukan itu. Masih banyak hal-hal yang harus kulakukan. Bila aku tak bisa menahan emosiku, bisa-bisa ren
canaku akan gagal total. Tapi untuk melayaninya
pun aku tak sudi. Aku jijik! Benar - benar jijik mem- bayangkan penyatuan tubuh kami nanti.
" Hoek...hoek..." aku benar-benar hendak muntah.
"Kamu kenapa, dek!" tanyanya penuh khawatir. Lalu melepas tangannya dari tubuhku. Aku berlari ke kamar mandi di kamarnya Nadia. Dan, aku muntah! Bang Rey mengusap punggungku juga memijat leherku. Saat dia menyusulku ke kamar mandi.
"Mungkin aku masuk angin, Bang," jelasku sekena
nya. Lalu aku kembali ke tempat tidur Nadia. Untung saja Nadia tidak terjaga. Mendengar keribu
__ADS_1
tan kecil itu.
"Abang ambilkan, minyak angin ya,"
"Gak usah, Bang. Aku mau tidur saja," lalu kutarik selimut Nadia yang terlepas dari tubuhnya.
"Ayo, ke kamar kita dek, biar abang pijitin badan adek." tatapan penuh khawatir jelas tergambar di mata itu. Hampir saja hatiku luluh karena perhatian
nya. Tapi hatiku sudah terlajur, mati! Aku menepis halus tangannya, saat hendak menggendongku.
" Sayang, kamu kenapa sih. Abang khawatir sama kamu," lenguhnya merasa kecewa atas penolakan
ku. Tangannya masih terus mengelus punggungku
seolah mau memberi kekuatan padaku.
Cukup bang, cukupkanlah semua sandiwaramu itu.
Dibalik sikapmu yang manis, kamu adalah ular beludak yang licik! Kamu itu kejam, tak punya hati!
Kamu begitu tega berbagi tubuhmu dan kasih sayangmu dengan perempuan lain. Teriak batinku.
" Aku mau istirahat, bang. Aku mau tidur di sini saja." lalu kutarik selimut sampai menutup leherku.
" Baiklah kalau begitu. Kalau kamu butuh apa-apa telepon saja abang," lalu bang Rey berlalu dari kamar setelah mengecup pipiku.
kan pernikahannya itu selama ini dariku. Aku seolah tak mengenali lagi suamiku. Dia seperti orang asing bagiku. Menyadari kenyataan bahwa aku telah di khianati selama ini, bagai bongkahan batu yang menimpa dadaku. Membuat hatiku sesak!
Tak ada maaf bagimu Bang! Hati dan jiwaku terlalu dalam kamu sakiti. Kamu harus merasakan juga semua rasa sakit ini. Nanti, yah nanti! Kupastikan hatimu akan lebih hancur nantinya! Sampai kamu tak tau bagaimana caranya menangis!
****
" Ting.." ada notifikasi chat baru masuk di gawaiku. Kuraih benda pipih itu, kubuka aplikasi dengan logo telepon itu. Ternyata Rita.
" Bu, ini laporan keuangan butik bulan ini, tolong ibu periksa. Rita menyertakan beberapa foto laporan keuangan serta penjualan dari butik. Aku melihat catatan itu dengan seksama. Hasilnya cukup memuaskan, ada kenaikan jumlah penjualan dari bulan lalu. Tak percuma aku memercayakan pengelolaan butik ke Rita. Dia benar- benar dapat di percaya.
" Oke, makasih atas kerja keras kalian semua, ya. Tolong berikan bonus untuk gaji karyawan bulan ini, ya. " tulisku lagi menyebutkan sejumlah nilai nominal.
"Ok, makasih bu. Siap di jalankan. Tapi kapan ibu ke sini bu, kami merindukan ibu,"
" Tunggu sampai urusan ibu, selesai. Sesegera mungkin ibu akan datang," aku sangat terharu me
ngetahui bahwa mereka merindukanku. Sama seperti aku yang juga sangat merindukan mereka.
Aku sangat bersyukur, ternyata usaha butik yang aku kelola tetap berjalan dengan lancar, meski telah aku pindahkan ke luar kota. Buktinya laporan keuangan yang dikirimkan Rita, meningkat.
__ADS_1
Sebenarnya butik yang aku pindahkan sekarang ini adalah cabang dari butik yang aku kelola di rumah. Aku membukanya setahun yang lalu. Atas saran dari pelangganku, yang tinggal di kota P. Meski ragu pada awalnya karena aku takut pasar menolak hasil produksi kami. Tapi semua kekhawatiranku terhapus.
Butik yang tadinya hanya untuk memasarkan hasil produksi yang aku kelola di rumah. Sekarang beralih fungsi jadi tempat produksi juga. Aku sengaja melakukannya untuk menyelamatkan aset-asetku, sejak aku mengetahui penghianatan suamiku.
Rencanaku, setelah aku berhasil mengamankan asetku, aku akan pergi menghilang dari kehidupan Bang Rey. Dan kupastikan mereka tidak akan dapatkan apa-apa! Malah sebaliknya, mereka akan kehilangan semuanya.
Hingga sejauh ini, suamiku belum menyadari atau pura-pura. Entahlah! Bahwa butik yang aku kelola di rumah tidak beraktivitas. Dari awal memang suamiku tak begitu perhatian akan usaha ku ini. Apalagi setelah dia bekerja. Walaupun suamiku sering meminjam uang penghasilan butik untuk membiayai kuliah adik-adiknya. Juga untuk biaya merehab rumah Mama mertua.
Belum lagi cicilan mobilnya, semua itu adalah hasil kerja kerasku di butik. Yang katanya meminjam tapi
tak pernah di kembalikan sepersenpun. Selama ini aku tak pernah perhitungan . Karena mereka adalah bagian dari keluargaku.
Tapi ternyata mereka tak pernah menghargaiku. Semua pengorbananku di balas dengan pengkhiantan. Untuk sekarang ini aku akan diam dulu, menyaksikan sampai ke mana mereka akan bawa permainan ini. Karena aku juga tengah menyiapkan permainan balasan untuk mereka.
"Dek, kamu itu lagi ngapain. Dari tadi Abang perha
tikan diam saja. Ngelamun ya?" suamiku mengibas
-ibaskan tangannya di depanku.
Deg! Ternyata suamiku sudah pulang kerja. Tumben sesore ini sudah pulang.
"Abang sudah pulang, ya. Gak biasanya jam segini sudah pulang," ujarku.
"Ya iyalah, Abang kan gak lembur, Dek. Soalnya abang khawatir sama kamu" ucapnya sambil duduk di depanku. "Nadia mana, dek?" tatapnya ke sekeliling.
" Nadia main ke rumah Pipit, Bang." jelasku. Pipit adalah putri tetangga sebelah.
"Tolong buatkan Abang kopi, Dek." ucapnya seraya melepas dasi dari lehernya. Aku beranjak dari kursi menuju dapur. Saat aku lagi menyeduh kopi, tiba-ti
ba Bang Rey memelukku dari belakang. Ternyata dia mengikuti langkahku ke dapur.
" Hai sayang, aku sangat merindukanmu," dengus nafasnya mengelus leher. Suamiku faham betul aku sangat menyukai perlakuanya seperti ini. Dan saat aku berbalik dia akan melu*at bi**rku sampai aku kehabisan nafas. Tapi aku diam membeku!
" Apa kabar anak papah," tangannya langsung meraba perutku yang masih rata. Aku menahan nafas, mencoba mengatur emosiku.
"Ngapain sih, Bang. Mesum amat," ku tepis tangan
nya yang kini menjalar ke dadaku. Sejenak aku melihatnya tertegun karena penolakanku. Aku tak perduli melihat sorot matanya yang kebingungan.
Ku letakkan kopi di atas meja makan.
" Sebaiknya Abang, mandi dulu. Aku mau jemput Nadia!" tukasku. Bergegas aku pergi,
Persetan, apa yang ada dalam pikiranmu, Bang!
__ADS_1
.