Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
48


__ADS_3

"Sabar pak Reno. Kami akan membentuk tirm menyelidiki kasus ini. Kami mohon kerja samanya


pak. Kalau mereka menghubungi bapak lagi. Harap sambungkan dengan kami pak." ucap pak polisi bernama Vincent.


" Baik pak,"


" Saya mau tau pak, apa kira- kira bapak punya musuh yang memungkinkan unyuk melakukan penculikan ini pada putri, bapak. Maksud saya mungkin ada yang memberi ancaman atau sesuatu yang mencurigakan.


" Mengingat pekerjaan saya mungkin saja ada orang yang tidak suka sama saya pak. Tapi sejauh ini belum pernah ada yang memberi ancaman pada keluarga saya. Tapi..." Reno tak melanjutkan ucapannya. Dia teringat ucapan mamanya beberapa minggu lalu.


"Tapi apa pak Reno?" kejar pak Vincent antusias. Informasi sedikit saja akan sangat mendukung penyelidikan mereka.


" Beberapa minggu yang lalu, ibu saya cerita kalau ada orang asing yang mencurigakan. Mereka datang ke rumah saya, dan berusaha merayu anak saya dengan permen. Tapi anak saya tidak mau.


Akhirnya saya pasang cctv dan satpam di rumah saya. Untuk menjaga keamanan keluarga saya pak. Setelah pasang cctv tak ada hal yang mencurigakan yang terekam kamera pak." jelas Reno.


Mendengar ucapan Reno, Rey juga teringat akan hal yang sama. Soal kecurigaannya tentang pengendara motor yang juga parkir beberapa hari tak jauh dari pintu gerbang sekolah.


" Maaf pak. Saya juga melihat hal- hal yang mencurigakan beberapa minggu lalu." Rey memperlihatkan rekaman cctv yang sempat mencurigakannya.


" Sepertinya penculikan ini sudah mereka rencanakan dengan matang. Sasarannya adalah anak bapak. Melihat rekaman cctv terakhir mereka selalu mengikuti perjalanan bus. Dan mencari kelengahan sang supir. Bukan tidak mungkin mereka berencana membajak bus sekolah itu."


" Lantas apa yang akan saya lakukan pak?"


"Pak Reno, kita harus bernegoisasi sama mereka, usahakan mengulur waktu agar kami dapat mengetahui posisi mereka. Sepertinya mereka masih amatiran.


Tapi kita tak boleh anggap remeh. Mereka ini lebih nekad, kalau tuntutannya tidak di penuhi. Sebab mereka lebih gampang panik, dan bisa berakibat fatal pada korban.


Katakan saja bahwa bapak setuju memenuhi permintaan mereka. Dan mengikuti arahan mereka. Sementara kami akan bekerja diam- diam untuk tidsk menimbulkan kecurigaan mereka." jelas pak Vincent panjang lebar.


****


Hari telah beranjak malam. Nadia sudah lelah menangis. Dia ingin pulang. Dia rindu mama, papa dan adeknya Bimo. Berkali- kali ia meronta, menjerit hingga suaranya kini parau. Tapi kedua orang yang telah menculiknya sama sekali tak punya belas kasihan.


Wajah sangar mereka membuat Nadia sangat ketakutan. Belum lagi suara keras mereka yang membentak Nadia. Saat menyuruhnya diam.


Perut Nadia sudah sakit menahan lapar, sejak siang dia belum makan. Nasi bungkus yang di berikan padanya masih utuh tak di sentuh.


Nadia hanya minum saja. Sehingga tubuhnya terasa lemas. Dan dia tertidur kelelahan.

__ADS_1


Sementara itu di rumah mereka, Tika ibunya juga masih saja menangis memikirkan anaknya. Tika sangat terkejut saat mengetahui putrinya telah menjadi korban penculikan. Dunianya serasa runtuh.


Dia tak pernah menduga sama sekali, akan ada orang yang begitu tega memisahkannya dari anaknya. Apalagi sang penculik belum juga menghubungi mereka, soal tebusan.


Membuat pikiran Tika dan Reno semakin kalut tak karuan. Berbagai pikiran buruk menghantui mereka. Mereka sangat was -was keadaan Nadia.


" Mama, cobalah untuk tenang dan sabar ya. Kita harus kuat demi Nadia." bujuk Reno pada istrinya yang masih saja terisak sejak tadi. Matanya sudah sembab dan bengkak.


Ibu mana yang bisa tenang walaupun ia sudah mencoba lebih dari itu. Meneguhkan hatinya dan mencoba untuk tegar. Toh, air matanya tak kunjung berhenti, setiap ingat wajah anaknya yang entah di mana.


Pasti saat ini tengah ketakutan, kedinginan atau kelaparankah?


Membayangkan semua itu Tika sungguh tak berdaya. Belum lagi karena kondisinya yang tengah hamil tua.


Reno juga sungguh cemas, kondisi ini bisa memicu hal yang tak di inginkan pada istrinya. Karena itu dia selalu memantau istrinya. Memberi perhatian extra agar kondisi emosi istrinya tetap stabil.


Akhirnya Tika tertidur juga dalam pelukan, Reno. Reno memeluknya dari belakang karena tadi Tika mengeluh pinggangnya sakit. Reno memijit Tika dan bersandar pada tubuh Reno.


Perlahan sekali, Reno membaringkan tubuh istrinya. Agar tidurnya lebih nyaman. Reno menggeser beberapa bantal untuk menyangga tubuh Tika di bagian belakang.


Setelah mencium kening istrinya sepenuh perasaan, Reno ke luar dari kamar. Reno ingin mencek Bimo, yang tidur sendirian kini di kamar Nadia.


Tapi hingga menjelang tengah malam, belum ada tanda- tanda si penculik menghubungi, Reno.


Di saat mereka asyik berbincang, tiba- tiba terdengar jeritan dari kamar. Itu adalah suara Tika, yang menjerit histeris.


Sontak! Reno berlari ke arah kamar mereka. Dsn mendapati Tika tengah berteriak memanggil nama Nadia. Tika ternyata bermimpi buruk tentang Nadia.


" Sayang, bangun."tepuk Reno pelan pada pipi istrinya. Tika terbangun dan melihat suaminya Reno tengah memandang kebingungan padanya.


" Papa, mama takut sesuatu terjadi pada Nadia. Mama barusan mimpi buruk padanya." isak Tika di bahu suaminya.


" Nadia pasti baik- baik saja ,ma. Mama cuma mimpi buruk. Itu hanya bunga tidur, ok. Mama harus tenang dan rileks. Ayo, minum ini dulu." Reno memberi segelas air yang di minum Tika hingga tandas.


" Tapi pa, mimpi itu serasa nyata. Mereka membuang Nadia ke jurang,pa. Mama takut sekali, Nana kenapa- napa," tutur Tika, menceritakan mimpinya.


" Mama harus percaya, Tuhan pasti menjaga Nadia. Kita doakan itu sayang. Kamu harus kuat ya. Ingat kamu tengah, mengandung sayang." bujuk Reno pada istrinya. Hatinya serasa sakit sekali melihat istrinya yang terpuruk.


Drrttt.. drrrrt...

__ADS_1


Ponsel di kantong piyama Reno berbunyi. Reno memeriksa no yang tertera di layar ponselnya.


Nomor dari si penculik.


" Sayang, aku harus kasih tau pak Vincent, ini telepon dari penculik Nadia" seru Reno. Tanpa menunggu jawab dari Tika, Reno bergegas ke kamar di mana Pak Vincent tengah berjaga.


" Pak ini ada datang telepon," Reno memberi kode pada petugas polisi, agar terhubung dengan pak Vincent.


" Halo....pak Reno?" sapa dari seberang.


" Iya, saya sendiri pak."


" Bagimana uang tebusan itu. Apa sudah bapak siapkan?"


" Maaf pak sedang saya usahakan. Tolong beri saya tambahan waktu pak." bujuk Reno memelas.


"Saya tidak mau tau. Besok jam sore uang itu harus sudah ada. Kalau tidak, bapak jangan menyesal kalau putri bapak kami bunuh, "


" Saya mohon pak. Saya tidak punya uang sebanyak itu."


" Persetan! Itu urusan bapak, kalau bapak ingin anak bapak selamat, siapkan uang yang say minta." gertak suara di seberang sana.


" Baiklah pak. Tapi bagaimana keadaan anak saya, saya ingin bicara padanya."


" Anak bapak baik- baik saja. Bawa anak itu ke sini," terdengar suara perintah pada seserang.


" Papa... tolong Nana Pa. Jemput Nana, Pa." Iask Nadia di seberang.


" Nana jangan takut ya sayang. Papa akan jemput Nana. Jadilah anak yang baik,..." belum selesai Reno bicara pada putrinya, ponsel telah di ambil dari tangan Nadia.


" Bagaimana pak. Anak bapak baik- baik saja kan ? Besok akan saya hubungi lagi, bapak. Ingat! Jangan coba- coba kerja sama dengan polisi." sambungan terputus.


" Bagaimana pak, apa cukup waktunya?"


" Kerja yang bagus pak. Mereka memang amatiran, karena berani menghubungi bapak tanpa pengaman. Mereka masih dalam kota. Kontak terakhir mereka berasal dari sebuah salon. Dan posisi mereka di sebuah gudang tua yang terlantar. Itu yang terlacak alat GPS, pak.


Besok akan saya kerahkan anak buah saya menyelidiki lokasi tersebut." *****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2