
Pagi hari yang cerah, cahaya mentari menelusup lewat kisi-kisi jendela. Menjilati wajah Tika, sehingga Tika menutup matanya dengan kedua tangannya. Silau!.
Tika bangkit dari pembaringan, membuka jendela kamar. Lalu matanya di suguhkan, hamparan sawah yang hijau sejauh matanya memandang.
Sungguh! Sebuah lukisan alam yang tiada tara.
Elusan angin yang menyapa wajahnya, seolah sebuah kata penguat agar jiwa dan raganya semakin menghargai arti sebuah kehidupan. Hidup ini terasa sangat berharga, terlepas apa yang di alami, semua itu adalah ritme kehidupan itu sendiri. Yang mesti di jalani, dinikmati apa adanya. Jadi tetaplah bersyukur, jadilah pribadi yang kebih baik. Dan tangguh!.
Emas itu menjadi indah, setelah mengalami tempahan di tangan sang tukang.!
Tika mengambil udara sebanyak- banyaknya. Lalu menghembuskannya perlahan.
" Selamat datang semangat baru, setelah ini aku akan kuat dan menikmati hidupku. Kebahagiaan harus jadi milikku dan kedua anakku." janjinya pada diri sendiri. Seraya tangannya, mengelus perutnya yang kini mulai terasa menonjol.
"Kuatkan mama ya sayang, kita harus kuat, mama janji akan menjagamu." sebutir kristal bening jatuh di pipinya. Tika mengusap pipinya, dia tak ingin larut dan terbawa perasaan.
Setelah merapikan dirinya, Tika keluar dari kamar.
Dia menuju arah dapur, melihat bu Risma tengah sibuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, ibu," sapa Tika, mengagetkan bu Risma yang tidak menduga kehadirannya di dapur.
" Eh, selamat pagi nak Tika, Aduh, nak Tika cantik sekali," pujinya tulus. Yang di puji berkilah.
" Aih, ibu ada- ada saja. Cantik apaan, tapi makasih ya bu pujiannya." tapi tak urung pipinya bersemu merah juga di puji seperti itu.
"Iya, nak Tika. Ibu gak bohong kok, wajah nak Tika beda saat pertama ke sini. Pucat gitu, sekarang pipi nak Tika lebih berisi dan segar,"
" Hem, makasih ya bu, Itu karena pengaruh masakan ibu, setelah di sini bawaanku mau makan terus, ha..ha...," tawa Tika berderai. Tawa yang akhir- akhir ini tak pernah lagi ia lakukan.
Tawa itu terdengar juga ke ruang depan, Reno yang baru pulang sehabis joging mendengar tawa itu.
"Itu tawa siapa ya. Apa ada tamu yang datang sepagi ini.?" dengan penasaran Reno berjalan ke arah dapur, dia jalan perlahan karena tak ingin membuat orang yang di dapur terkejut oleh kehadirannya.
"Ah, nak Tika bisa aja, tapi trimakasih juga ya kalau nak Tika suka dengan masakan ibu."
__ADS_1
Tika? Jadi suara tawa itu milik Tika, tawa lepasnya yang baru kali ini ia dengar. Setelah beberapa lama ia kenal.
Hampir sebulan Tika berada di sini, jangankan mendengar tawanya, melihat senyumnya saja seperti mengharap hujan di musim kemarau.
Baguslah kalau pada akhirnya Tika bisa meneri
ma perceraiannya dengan tabah. Siapapun tak akan menginginkan rumah tangganya hancur. Itu pasti sangat menyakitkan. Perceraian itu hanya pilihan dan sangat sulit untuk membuat keputusan itu.
Yah! Pada akhirnya Tika bercerai juga. Perminta
annya di kabulkan pengadilan, lebih cepat dari yang di perkirakan. Karena bukti- bukti yang kuat dan perlakuan suaminya yang sempat menganiaya Tika.
Semua aset dan kepemilikan rumah, berhasil di miliki Tika. Rey dan keluarganya terusir dari rumah yang telah mereka tinggali berpuluh tahun.
Entah bagaimana nasib mereka sekarang , Itu memang pantas mereka dapatkan setelah apa yang mereka lakukan pada Tika.
" Hai selamat pagi semua, " sapa Reno. " Pagi- pagi udah ramai, ada apa nih," lanjutnya. Mengagetkan Tika dan Bi Risma. Reno berjalan ke arah kulkas dan mengambil air dingin.
" Aduh, nak Reno, bikin kaget saja," ucap bi Risma seraya memberi gelas. Sudah kebiasaan Reno yang suka minum air dingin. Reno lalu menuang air dingin itu ke gelas yang di berikan bi Risma.
Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan meletakkan gelas di tangannya lalu menerima gelas yang di angsurkan Tika.
Bi Risma senyum - senyum melihat polah Reno majikannya yang seperti kerbau di cocok hidung menuruti begitu saja ucapan Tika. Padahal, bi Risma selalu melarangnya tapi gak pernah di gubris.
" Ekhem...." bi Risma pura - pura batuk, karena Reno bukannya meminum air putih yang di berika n Tika malah memandanginya. Mendengar suara batuk bi Risma, Reno tersadar dan gelagapan.
" Makasih Tika," ada rona merah menjalari wajah Reno. Dalam hati dia memaki dirinya atas sikapnya.
" Bibi masak sarapan apa itu," kilahnya mengalihk
an suasana.
" Arsik ikan mas, nak Reno." bi Risma membuka tutup panci. Aroma khas arsik ikan masnya menyeruak menembus hidung Reno.
" Hem... jadi lapar nih, Bi. Aku mandi dulu ya, biar kita sarapan sama- sama," bi Risma menggelengkan kepalanya melihat tingkah majikan mudanya.
__ADS_1
" Kasihan dia , nak Tika. Masih muda sudah duda. Istrinya sangat baik, tapi sayang umurnya pendek. Sejak kematian istrinya baru kali ini bibi lihat semangat hidupnya, bangkit lagi. Mungkin itu pengaruh nak Tika, semenjak di sini,"
"Eh, kok apa sangkut pautnya sama Tika, bu." tanya Tika heran. Sekalipun dia merasakan juga bahwa perhatian Reno padanya bukan lagi hal yang biasa. Ada sesuatu dalam kilat matanya setiap kali mata mereka bersirobok, yang terkadang membuat Tika jengah.
Seperti tadi, saat Tika memberi segelas air putih, pandangan mata itu, yang menyiratkan kehangatan. Telah membuat debar jantung Tika bertalu tak seperti biasanya.
Untunglah deheman bi Risma menyadarkan Reno, sehingga suasana teralihkan.
" Iya loh nak, sejak kalian ada di sini, hidup nak Reno berubah total. Dia sudah kembali seperti dulu lagi. Apalagi kalo pas bersama Nadia, Reno itu sangat suka sama anak kecil. Ketika anak dan istrinya meniggal hidupnya hancur." jelas bi Risma panjang lebar.
Entah apa tujuan bi Risma menceritakan tentang hidup Reno. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, Tika senang mendapat perhatian Reno.
" Bi, aku tengok Nadia dulu ya, siapa tau udah bangun." Tika permisi setelah bi Risma selesai bercerita. Bi Risma mengangguk, memandangi punggung Tika.
Dalam hati wanita separuh baya itu, semoga Reno dan Tika mendapatkan kebahagiaan. Mereka pantas untuk bahagia, semoga saja mereka berjodoh, bisik bi Risma pada nuraninya.
" Bibi kenapa bengong, mana Tika," seru Reno yang sudah selesai mandi dan telah berpakaian rapi.
" Aduh, nak Reno, bikin bibi kaget saja. Eh, nak Reno mau balik lagi ke kota ya?" tanyanya heran karena baru dua hari ini Reno datang kini sudah mau pergi lagi.
" Iya bi, ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan. Mana Tika?"
" Tuh, sudah datang," bi Risma menunjuk dengan dagunya karena yang di bicarakan sudah muncul.
" Selamat pagi, om Reno," teriak Nadia dan berlari menghampiri Reno.
" Selamat pagi Nadia cantik," balas Reno dan mencium ke dua pipi Nadia dengan gemas. Nadia langsung naik ke pangkuan Reno.
" Nana duduk sini aja, jangan gangguin omnya," ujar Tika karena tidak ingin Nadia membuat kusut pakaian Reno.
" Tidak apa-apa Tika," sahut Reno.
" Om mau ke kota lagi ya? Om bisa cari papah Nana gak. Nana kangen papah" celetuk Nadia tiba- tiba. Membuat hati Tika serasa di hantam batu.
Pertanyaan polos itu, meskiTika sudah menduga bakalan di ajukan Nadia, bahkan kemungkinan yang lebih buruk dari itupun sudah Tika siapkan mentalnya menghadapinya. Tapi ketika saat itu tiba, Tika merasa jadi orang paling bersalah di hadapan anaknya.
__ADS_1
Tika berlari ke kamar, di iringi pandangan heran bi Risma, Nadia dan terlebih Reno*******