Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
38


__ADS_3

"Ma, nanti papa akan terlambat pulang ya. Ada kasus yang akan papa tangani hari ini." ungkap Reno saat sarapan pagi.Tika menyimak ucapan suaminya.


" Iya pa, tapi usahakan jangan terlalu larut pulangnya."


" Begitu selesai, papa akan pulang kok. Pasti. Papa tak ingin lama- lama jauh dari kalian,"


"Yang antar sekolah Nana siapa, pah?" tatap Nana lekat sama Reno, papanya.


" Papa juga yang ngantar, Na. Seperti biasa. Papa cuma telat pulang. Jangan nakal sama mama dan adek, ya." Reno menatap lembut ke arah Nana.


" Gak kok. Nana gak akan nakal sama mama dan adek,"


" Bagus, itu namanya anak baek budi. Anak siapa coba," Reno mengacungkan jempolnya.


" Yah, anak papa sama mama dong!" seru Nadia penuh semangat. Matanya berbinar indah.


" Pinter, papa sayang kalian semua. Yuk, cepetan sarapannya biar kita berangkat.


" Siap bos!"


" Ciap bos!" Bimo ikutan dengan dengan gayanya lucu.


" Ayo jagoan, lets go!" mereka beriringan jalan masuk ke dalam mobil.


Saat Reno mau menyalakan mesin, tiba-tiba gawainya berbunyi.


"Halo, ada apa Sita?" ternyata Sita pegawainya yang menelepon.


" Selamat pagi, pak. Bapak sudah di mana?"


" Ini sudah mau berangkat. Ada apa Sita? "


" Klien kita sudah datang ke kantor, pak." lapor Sita.


" Secepat itu? Bukannya janji datang jam sebelas."


" Janjinya memang begitu, pak. Gak tau kenapa di percepat."


" Oh, okelah. Bapak akan segera datang," Reno menutup sambungan telepon.


" Ada masalah apa , pa?" tanya Tika .


" Gak ada masalah kok, ma. Cuma klien papa sudah hadir di kantor. Padahal janji temunya jam sebelas nanti."


Reno menyalakan mesin lalu meluncur, di jalan yang mulai ramai oleh kendraan.


Setelah mengantar Nadia ke sekolah.Dan istrinya ke butik, Reno bergegas ke kantor. Karena kliennya sudah menunggu di sana.


Sementara itu suasana di kantor Reno.


Berkali- kali mata Murni dan Sita mendelik melihat tingkah perempuan, tamu mereka. Kalau saja perempuan itubukan klien mereka, mungkin sudah mereka usir sedari tadi.


Orangnya sih cantik. Kayak artis Ayu Azhari! Namanya Sherly. Dari gaya fashionnya nih perempuan pasti dari kalangan berada. Wanita sosialita istilah kerennya .


Tapi dianya jutek dan angkuh, membuat Sita dan Murni kehilangan mood buat buat sekedar kagum. Mana bajunya yang belalhan dadanya terlalu rendah.


Sehingga tonjolan d*d*nya nampak sesak, mau keluar.


" Kok lama banget sih, bos kalian datang," serunya gak sabaran. Sedari tadi itu saja yang di tanyakan.


Padahal sudah berkali- kali pula di jawab dan di jelaskan oleh Sita. Bahwa bosnya masih mengantar anak istrinya kerja dan sekolah.

__ADS_1


Lagian sudah di ingatkan juga, kalau janji temunya jam sebelasan. Siapa suruh datang ke pagian. Kantor saja buka jam sembilan.


Saat Sita datang 8: 30, tamunya sudah mondar- mandir di depan kantor. Dalihnya tadi takut datang terlambat karena macet.


Ya, sudah resiko sendiri, mestinya kan bersabar bukan uring- uringan seperti ini sedari tadi.


Sita sudah memberi pelayanan maksimal. Menyuguhkan minumana dan camilan. Tapi sama sekali gak di sentuh.


Berkali- kali Sherly melirik jam di tangannya. Dia begitu kesal karena karyawan Reno juga sudah cuek. Seolah mereka tidak melihat keberadaanya.


Sita dan Murni melanjutkan pekerjaan mereka. Membiarkan saja Sherly yang asyik bersama gawainya. Dan sesekali mondar mandir melihat foto- foto bosnya yang terpajang di dinding.


Terkadang Sherly tersenyum melihat foto Reno, menatapnya lekat. Seolah ia begitu kenal dengan Reno


Sita yang mengawasi gerak - gerik Sherly diam - diam, membuatnya heran dan curiga dengan tamunya. Apakah bosnya sudah kenal dengan Sherly?


Tak berapa lama, terdengar klakson mobil di luar. Sita bediri dan berjalan ke arah pintu masuk. Bergegas Reno masuk dan berpapasan dengan Sita.


" Tamunya masih ada, Sita?"


" Masih pak, sudah menunggu sedari tadi di ruangan bapak,"


" Ok, saya segera ke sana. Tolong siapkan berkas yang kemarin itu. Hubungi Aga apa sudah dapat informasi, tentang saksi itu."


" Iya , pak. Akan saya kerjakan." Sita kembali ke mejanya. Dan Reno masuk ke ruangannya.


" Hai, Reno! Apa kabar. Lama tak jumpa kamu makin tampan saja," teriak Sherly tiba- tiba yang keluar dari ruangan Reno. Reno dan Sita sama-sama terkejut.


Reno kaget tak menyangka kalau Sherly calon kliennya adalah mantan pacarnya dulu.


Sita juga kaget tak mengira Sherly sudah kenal sama bosnya.


Reno buru- buru mengurai pelukan Sherly. Untung lah Sherly segera melepas pelukannya.


" Bukannya nama kamu, Uly. Kok berubah jadi Sherly?" tanya Reno bersikap datar.


" Nama aku itu terlalu kuno. Makanya ku ganti," tukas Sherly dengan gaya tubuh yang sengaja di liuk- liukan.


Hadeuh, seperti ular saja batin Sita yang terus memperhatikan tingkah Sherly.


" Kamu memanag banyak berubah, makanya aku tak kenal sama sekali. Kalau itu adalah kamu."


" Ah, masak sih kamu tak ingat aku lagi. Secara kita dulu pernah pacaran," Sherly mengerucutkan bibirnya kesal saat mendengar Reno tak mengenalinya lagi.


Oh, mantan pacar toh!" lagi- lagi Sita membatin. Mendengar percakapan bosnya.


" Jadi kamu hendak bercerai, ya? Apa sudah di pikirkan matang- matang?"


" Keputusankunsudah bulat. Aku tak sudi lagi jadi istri lelaki tua itu." sahut Sherly geram.


" Hem....Bagaimana dengan anak- anakmu. Sepertinya mereka masih butuh kasih sayang ibunya. Jika kamu berikan hak asuh anakmu ke pada suamimu."


" Ah, biar sajalah mereka sama bapaknya. Aku mau menikmati hidupku."


"Kamu tidak menyesal nanti. Kalau hak asuh anakmu jatuh ke tangan, suamimu?!" ucap Reno penuh penekanan. Ada emosi tersirat dalam kata- katanya.


Tapi Sherly terlalu acuh untuk menangkap makna itu. Dia terlalu asyik memandang wajah tampan Reno di hadapannya. Dan berhayal liar seandainya Reno jadi miliknya.


Dia dengar Reno telah menduda beberapa tahun ini. Karena itulah dia ingin Reno yang menangani kasus perceraiannya.


Dulu Uly, eh sekarang namanya Sherly yang memutus hubungannya dengan Reno. Sherly menikah dengan pengusaha tajir yang usianya terpaut jauh dari Sherly.

__ADS_1


Saat itu Reno masih kuliah semester akhir. Dia sempat terpukul karena cintanya di putus oleh Sherly. Kehadiran istrinya yang telah meninggal itulah yang menyemangati hidupnya.


Tapi sayang, pernikahan mereka hanya seumur jagung. Karena istrinya meninggal saat melahirkan putranya .


Dan kini Sherly mantan pacarnya ada di hadapan


nya sekarang. Memintanya menangani kasus percerainnya dengan suaminya yang sudah tua itu.


Sekarang dia menyesal telah bersuamikan lelaki tua. Apakah suaminya itu sudah tak mampu memberi nafkah batin. Sehingga Sherly minta cerai?


Kasihan anak- anak mereka mereka akan terluka, batin Reno.


Reno merasa jengah juga melihat penampilan Sherly seolah sengaja hendak menggoda pria. Terutama di bagian d**anya yang terlalu terbuka.


Bahkan tangan Sherly seolah tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan Reno. Mungkinkah Sherly sengaja hendak menggodanya?


Sebagai lelaki normal, Reno merasa panas dingin juga melihat tingkah Sherly. Tapi dia berusaha bersikap profesional menghadapi setiap tingkah kliennya.


Bukan hal yang baru, jika dia sering menghadapi perilaku kliennya. Banyak kliennya yang memberi ucapan trimakasih plus- plus padanya. Saat kasus yang ia tangani berhasil.


Tapi hingga sejauh ini, Reno masih tahan banting.


Melihat sikap Reno, yang dingin membuat Sherly makin penasaran. Dia malah semakin tertantang untuk menaklukkan hati Reno.


" Aduh, suasana di sini panas kali ya," Sherly mengipas tubuhnya yang mendadak terasa panas.


Padahal ruangan fuul AC!


Sherly membuka kancing atas blus ketat yang ia kenakan. Membuat Reno geleng - geleng kepala.


Sita juga yang sedari tadi memperhatikan tingkah Sherly, pura - pura masuk ke ruang kerja, Reno.


Pintu ruang kerja Reno memang tidak di tutup, membuat mata Sita leluasa melihat setiap pergerakan bos dan tamunya.


" Selamat siang, pak" sapa Sita seraya mendekat ke arah Reno. Sherly buru- buru membetulkan kancing blusnya yang sengaja ia buka tadi.


" Iya, ada apa Sita.?"


" Mohon tanda tangan berkas ini, pak." Sita menyerahkan amplop coklat berisi beberapa berkas.


" Oh ya, pak. Tadi ada datang telepon dari rumah."


" Kenapa tidak di sambungkan tadi."


" Maaf pak, karena bapak ada tamu saya katakan bapak sedang rapat."


" Baiklah, nanti saya hubungi langi," timpal Reno seraya mengembalikan berkas yang ia tanda tangani ke Sita. Sita segera keluar, dengan pandangan sinis ke arah Sherly.


" Berkas- berkas ini masih kurang lengkap. Saya belum bisa serahkan ini ke pengadilan. Jadi tolong untuk di lengkapi," Reno menyebut beberapa berkas yang di butuhkan.


" Baiklah, besok akan aku lengkapi. Maukah kamu menemani aku makan siang. Setidaknya merayakan pertemuan kita yang tak terduga ini.


Aku senang sekali bertemu kamu,"


" Baiklah," Reno mengiyakan. Hanya makan siang.


Tak sopan rasanya menolak begitu saja. Mengingat mereka juga sudah saling kenal dulu.


Terlepas Sherly adalah mantan pacarnya, sepanjang ranahnya masih dalam urusan pekerjaan Reno akan bersikap profesional. *****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2