Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
21


__ADS_3

Pov Reno


Entah kekuatan dari mana yang menyeretku untuk memberi perhatian lebih bagi kasus perceraian Tika. Klien yang di rekomendasikan pak Ari, tempo hari. Mungkin aku simpati akan kisah di balik kasusnya. Atau ada hal lain yang ter sembunyi di dalam hatiku.


Yang jelas sejak aku menangani kasusnya, ada gairah di dalam hidupku.Yang telah redup sejak kematian anak dan istriku. Sudah tiga bulan lebih aku tak peduli dengan diriku sendiri.


Aku seolah berjalan tak tentu arah, kemana saja kaki ini kubawa melangkah bayangan duka itu terus membayangiku.


Tapi sejak aku melihat Tika di jembatan hari itu, terlebih setelah aku tau dia dalam keadaan hamil.


Aku sangat terkejut saat mendengar ucapan dokter yang memberi selamat padaku, karena istriku hamil katanya.


Sebuah kesalah fahaman yang entah dengan cara apa harus kuluruskan. Saat itu entah kenapa aku merasa suprise saja mendengar kata itu. Jadi aku terlambat untuk meluruskannya, mengingat reaksi yang kutunjukkan. Sehingga aku mengikuti arusnya begitu saja


Dan benakku di penuhi berbagai tanya, apa sebab dia menangis di jembatan itu. Apakah karena kehamilannya atau sebab lain. Tapi mengingat pertemuan kami yang di sertai insiden, tak mungkin bagiku bertanya lebih jauh.


Jelas dia kesal padaku, apa lagi saat perawat bilang aku adalah suaminya. Sempat kulihat kilatan tajam di matanya. Setelah kujelaskan hal yang sebenarnya, dia diam. Dari sikapnya aku bisa merasakan ada beban berat yang dia tanggung.


Dan sungguh suatu kebetulan seminggu sejak kejadian itu, kami bertemu lagi. Semula aku tak mengira bahwa Tika yang di sebut Pak Ari adalah dia perempuan yang ku jumpai di jembatan itu.


Tika menjadi klienku, karena ia ingin bercerai dari suaminya, yang telah menyembunyikan pernikahan ke duanya lebih dari tiga tahun. Sementara wanita yang menjadi madunya di perkenalkan sebagai saudara sepupunya selama ini.


Sungguh terlalu! Dan sadisnya mertua serta ipar- iparnya turut dalam konspirasi itu. Karena itulah aku langsung tertarik kasus itu. Meskipun aku belum kenal siapa calon klienku itu. Rekomendasi dari pak Ari sudah cukup bagiku.


Aku sungguh kaget ketika Tika yang ku lihat di jembatan itu, adalah orang yang sama dengan Tika calon klienku. Akhirnya rasa penasaranku terjawab sudah.


Betapa kuingin segera membuang beban di pundaknya akibat ulah suaminya. Rasa simpatik di hatiku makin bertambah. Karena sosok putrinya Nadia yang begitu menggemaskan


Aku merasa seperti di tarik dari kubangan dukaku dan bahwa hidup ini begitu berharga. Maka harus di nikmati.


Dan entah kenapa, aku seolah merasa ada ikatan aneh kurasakan. Seolah aku bisa merasakan firasat saat dia butuh pertolongan.


Hal ini telah terbukti, sepanjang malam aku selalu kepikiran pada Tika, seolah akan terjadi hal buruk padanya. Sampai aku tak bisa memincingkan mataku.

__ADS_1


Itulah kenapa aku bisa ada di rumah Tika, saat kejadian itu. Padahal aku tudak ada janji pertemuan dengannya sehubungan kasus perceraiannya. Aku datang hendak memastikan bahwa Tika tidak apa- apa, karena aku telah mengkahawatirkannya, sepanjang malam.


Dan apa yang aku khawatirkan terjadi, Rey suami Tika datang ke rumahnya dan berbuat hal tak terpuji pada istrinya.


Kejadian ini benar- benar membuatku cemas. Aku takut Rey akan datang lagi, dan berbuat hal yang kebih nekad lagi.


Sementara dia hanya tinggal bersama putrinya yang berusia tiga tahun. Siapa yang akan melindungi mereka, dari kebringasan seorang Rey.


Aku melihat Tika sudah selesai periksa kandungannya. Tadinya aku enggan keluar, aku ingin melihat secara langsung bahwa janinnya tidak apa-apa.


Tapi aku harus menghormati privasinya. Tentu Tika tidak akan nyaman bila aku ada di sana, mengingat statusku adalah pengacara bukan suaminya.


" Sudah selesai periksanya? Apa kata dokter?" cecarku begitu Tika keluar dari ruangan dokter.


" Semua baik- baik saja," sahutnya pendek. Aku tidak puas akan jawaban itu. Tapi lagi- lagi aku terbentur soal siapa diriku. Ada batas antara kami untuk mengetahui hal- hal tertentu.


Untuk hal yang lebih spesifik, biarlah nanti aku tanyakan saja pada dokter yang memeriksanya.


mata bundar Tika mengerjap antara kaget dan bingung, mungkin.


" Soal apa?"


" Nantilah di sana kita bicarakan," aku melangkah ke arah kantin RS, di ikuti langkah Tika di belakangku.


Sesampai di kantin, kami duduk di pojok. Sengaja aku memilih tempak dj pojok, supaya kami bisa bicara lebih leluasa tanpa terganggu orang lain.


Lalu aku memesan menu nasi goreng, karena aku belum sarapan dari pagi. Karena buru- buru ke rumah Tika.


Tika hanya memesan teh dan beberapa camilan. Aku menawarkan menu yang lain tapi di tolak. katanya tak selera, mungkin pengaruh dia ngidam. Aku ingat, masa- masa ke hamilan istriku juga suka milih -milih makanan.


" Begini Tika, aku khawatir kalau suami kamu datang lagi, dan berbuat yang lebih nekad lagi.


Bagaimana kalau buat sementara, kalian mengungsi dulu." jelasku hati- hati.

__ADS_1


Tika tampak diam merenungi ucapanku.


" Mungkin ada famili yang bisa di mintai tolong," lanjutku. Tika semakin diam. Dan nampak kebingungan.


"Mungkin saya bisa carikan tempat, kalau Tika tak punya pilihan.


" Egh, bukan begitu. Aku hanya merasa, apa perlu harus mengungsi?" ucaonya ragu.


" Ini demi kenyamanan kalian. Saya bertanggung jawab atas keselamatan kalian . Mengingat perlakuan suami kamu, Saya tidak bis menjamin kalau dia tidak akan mengulang perbuatannya. Sampai yang ia inginkan dia dapatkan."


Setelah beberapa saat terdiam, Tika akhirnya bicara.


" Sebenarnya aku juga setuju mengungsi sementara waktu. Tapi aku tidak punya keluarga lain. Tinggal di hotel aku juga merasa tak nyaman."


" Kalau masalah tempat, biar saya saja yang urus.


Kebetulan saya punya villa di luar kota, Yang di jaga oleh sepasang suami istri, Kalian bisa tinggal di sana sementara ini."


"Tapi, aku tak ingin merepotkan pak Reno. Bagaimana kalau istri pak Reno tau kalau kami tinggal di sana,"


" Istri saya sudah meninggal , dan kalaupun ia masih hidup, istri saya tidak akan keberatan, dia faham betul pekerjaan saya."


" Apa? Istri bapak sudah meninggal? Maaf ya pak Reno, saya turut berduka cita, Saya tidak tau kalau istrinya Pak Reno sudah meninggal."


"Tidak apa- apa. Jadi sebaiknya Tika berkemas saja, hari ini juga saya antar kalian ke sana,"


Tika hanya bisa pasrah saja. Saat ini dia benar- benar merasa tak berdaya. Harus menuruti apa kata pengacaranya. Karena semua adalah untuk kebaikannya.


Lagi pula ini hanya untuk sementara, sampai kasus perceraiannya selesai. Sehingga statusnya jelas di mata hukum.


Tika merasa bersyukur karena masih ada yang peduli dengan keselamatannya.


Apa jadinya kalau dia tidak bertemu pengacara sebaik pak Reno. Selain tampan dan baik, dia juga cukup perhatian padaku dan Nadia *****

__ADS_1


__ADS_2