
Jam telah menunjukkan 20; 00 ketika Reno tiba di rumah orang tuanya. Pak David dan Bu Nita tengah makan malam saat Reno tiba.
Kedua orang tuanya kaget atas kedatangan Reno yang tiba-tiba. Biasanya anak semata wayang mereka ini pasti menelepon lebih dulu. Setiap kali mau datang.
Akhir- akhir ini, Reno sudah jarang ke rumah orang tuanya. Semenjak kematian menantu mere
ka Reno lebih sering tidur di kantornya. Sesekali ia akan ke villa, saat liburan.
" Halo ma, pa. Selamat malam," ucap Reno lang
sung duduk di sebelah mamanya.
" Sudah makan Ren," tanya mamanya setelah menyahuti salam Reno.
"Belum ma. Udah kelaparan nih, sedari siang belum makan,"
" Ya ampun ,Ren. Kamu itu harus jaga kesehatan
mu nak!" seru Bu Nita gemas. Lalu menyendok- kan nasi ke piring beserta lauknya. Dan memberi
kannya ke Reno. Reno menerimanya, saat mau suapan pertama, ada notifikasi baru masuk ke gawainya.
Buru- buru Reno memeriksa gawainya. Ternyata balasan chatnya dari Tika. Kedua orang tuanya Reno mengernyit heran. Tak biasanya Reno mau membuka ponselnya saat di meja makan. Seberapa pentingpun itu, Reno pasti membalasnya setelah makan.
Ini malah dia asyik dan senyum- senyum segala. Entah siapa yang menchatnya. Nasinya di anggurin begitu saja.
"Itu siapa yang ngechat kamu, Ren. Kenapa gak makan dulu?"
" Eh, Mama. Adalah... " sebutnya tak melanjutkan kata- katanya. Membuat kedua orang tuanya penasaran.
" Nanti ya ma, Reno cerita. Reno makan dulu. Udah lapar nih." dalan sekejab saja Reno telah menghabiskan nasinya.
" Pelan- pelan Reno," seru Pak David. Ketika melihat cara Reno makan seperti orang yang kesurupan saja.
" Reno, kamu baik- baik saja kan, nak!" tukas mamanya dengan pandangan khawatir.
" Aku baik- baik saja, Ma, Pa. Bahkan sangat baik." seraya mengulas senyum penuh misteri. Selesai makan Reno langsung pamit mau ke kamar.
" Pa, papa yakin gak anak itu, baik- baik saja?" cecarnya pada suaminya.
__ADS_1
" Sudahlah Ma. Sepertinya memang baik- baik saja. Mama jangan kelewat khawatir."
" Aduh Pa, Papa jangan santai begitu. Mama mencemaskannya, Pa,"
" Trus Papa harus bagaimana? Katanyakan dia kan mau cerita. Yah , kita tunggu saja ,Ma," Pak David berusaha menenangkan istrinya.
Sementara di kamar, Reno tengah asyik VC- an dengan Nadia. Baru setengah hari tak jumpa, rindu Reno pada Nadia sudah begitu berat. Tapi bisa saja itu modusnya, Reno. VC- annya kok, kelamaan sama Mamanya Nadia.
Tuh kan! Ketauan modusnya Reno. Ha...ha..
*****
Pagi harinya, saat Reno selesai lari pagi. Reno kaget melihat Mamanya duduk di taman belaka- ng. Reno menghampiri mamanya, lalu mencium punggung tangannya.
" Selamat pagi, Ma. Tumben Mama ada di sini sepagi ini."
" Mama memang sengaja mencegatmu di sini. Karena Mama gak tau kapan kamu punya waktu luang buat bercerita sama , Mama."
" Soal apa,Ma?"
" Ya ampun, semalaman Mama gak bisa tidur karena mikirin kamu, Reno,"
" Lho, memanganya ada apa dengan Reno, Ma?"
" Mama harus percaya, Reno. Reno baik - baik saja, Ma," Reno menatap wajah Mama yang tetap cantik meski usianya sudah lebih separuh baya.
"Trus siapa yang telepon kamu semalam. Sampe gak keluar lagi dari kamar. Padahal kamu sudah janji mau cerita sama Mama."
" Oh itu," Reno menggaruk kepalanya yang terasa
gatal. Efek keringatnya tadi saat lari pagi. " Dia klien Reno, Ma. Sebulan ini Reno sibuk karena membantu mengurus perceraiannya dari suaminya. Reno akhirnya menceritakan kejadian saat di jembatan. Hingga Tika yang dia ungsikan ke villa.
Juga rasa suka dan simpatinya, pada Tika.
" Kamu yakin mencintai, Tika. Bukan karena kasihan?"
" Maksud Mama?"
" Mama tidak ingin kalau perhatianmu itu, karena kamu kasihan sama, Tika. Dan juga karena kamu baru kehilangan istrimu. Itu tidak baik untuk memulai sebuah hubungan, nak. Mama tidak melarangmu untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Mama hanya ingin kamu harus pikirkan ini matang- matang, Reno." Bu Nita, mengusap tangan Reno yang ia genggam dengan lembut.
__ADS_1
Sejujurnya Bu Nita, senang kalau Reno jatuh cinta
lagi. Dan menemukan pasangan yang ia cintai. Tapi mengingat keduanya punya masa lalu yang pahit, Bu Nita khawatir mereka akan menjadi pasangan yang rentan mengalami masalah.
" Reno tidak akan memaksanya, Ma. Reno ingin semua mengalir seadanya. Reno akan menungu- nya sampai Tika siap menerima Reno, Ma,"
" Mama berdoa untuk kebahagianmu, ,nak. Sekarang Mama lega, setelah mendengar cerita kamu,"
" Tuh, kan. Mama aja yang terlalu berlebihan. Sampai semalaman gak bisa tidur, mikirin kamu, Reno." sela Pak David tiba- tiba.
" Ih, Papa ngaco ah. Papa juga gak sama seperti Mama." cebik Bu Nita membela diri.
"Udah ya, Ma. Pa. Reno mandi dulu, masih banyak urusan di kantor." Reno pamit, bisa sampe setengah hari nanti, Mama dan Papa saling merajuk, kalau Reno gak buru-buru hengkang.
"Eh, Pa. Kita bakalan punya cucu nih," bisik Bu Nita pada suaminya.
" Maksud Mama, gimana sih. Apa Reno telah berbuat tak senonoh?" delik pak David.
" Bukan." lalu Bu Nita menceritakan semua apa yang di katakan Reno.
" Wah! Jadi bonusnya doble ya, Ma. Kita akan dapat dua cucu sekaligus." senyum Pak David sumringah. Dia membayangkan suasana rumah yang akan rame oleh kehadiran calon cucunya.
" Kapan mereka menikah, Ma. Maunya jangan lama-lama. Papa gak sabar rumah besar ini, di isi celoteh cucu- cucu kita."
" Mereka ada di villa sekarang ,Pa. Bagaimana kalau kita pergi ke sana liburan. Sekalian menengok calon cucu kita," usul Bu Nita pada suaminya.
" Hem, kita minta izin ,Reno dulu Ma."
" Kalau Reno gak setuju, gimana Pa." Bu Nita ragu siapa tau Reno gak mengizinkan.
" Kita bersabar saja, Ma. Pasti ada waktu yang tepat nantinya." ucap Pak David antusias.
Sementara itu, di sebuah rumah kos- kosan. Rey tengah bertengkar hebat dengan Rani istrinya. Sejak Rey resmi bercerai dari Tika, kehidupannya benar- benar kacau. Semua aset yang dia miliki selama ini jatuh ke tangan istrinya.
Dan sejak bercerai, Rey juga tidak tau di mana keberadaan anak dan mantan istrinya. Mereka seperti lenyap begitu saja dari muka bumi.
Penyesalan memang datangnya selalu belakang- an. Rey sadar , bahwa ia pantas menerima semua kenyataan ini. Mengingat betapa tak tau dirinya ia sebagai seorang suami, yang tega menipu istrinya sendiri.
Tapi semua penyesalan itu sudah tak berarti apa- apa, lagi.
__ADS_1
"Aku minta bercerai, Bang, aku tak kuat lagi hidup seperti ini," teriak Rani seraya memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas.
Membuat kalang kabut Rey. *****