
Bukan hanya sampai disitu kebohongan yang aku lakukan. Bahkan soal pekerjaankupun serta berapa penghasilanku itu juga aku rahasiakan dari istriku. Hal itu bermula saat aku menerima gaji pertamaku, ibuku datang ke rumah mau minjam uang untuk biaya kuliah adikku, Yeni.
Saat itu istriku bilang gajiku biar saja untuk kebutuhan ibu. Tentu saja aku mengangguk setuju
karena aku ingin berbakti pada orang tuaku. Hanya saja, yah! Aku adalah sosok suami yang tidak bisa
mengghargai ketulusan dari istriku.
Bahkan, aku selalu memanfaatkan ke luguannya!
Sudah menjadi sifatnya yang mudah mempercayai
setiap kata-kataku. Dan istriku tak pernah mencampuri urusan pekerjaanku. Mungkin karena kesibukannya mengurus butik, atau karena dia begitu percaya padaku.
Ketika aku dianggkat jadi manajer pemasaranpun di perusahaan tempat ku bekerja aku tak peenah cerita. Karena saat itu aku sudah menikah diam- diam dengan Rani. Aku sengaja tak bercerita, supaya posisi keuanganku tetap aman.
Bahkan saat aku dapat bonus rumah dan mobil aku hanya ngomong bahwa mobil itu aku kredit. Dan lagi-lagi istriku ikut menalangi cicilan mobil itu. Dan uangnya aku gunakan untuk menambah dana pembangunan rumah, bonus dari perusahaan.
Sengaja rumah itu aku bangun di Medan, karena rencanaku rumah itu untuk hadiah pernikahan dariku untuk, Rani. Dan rumah itu telah selesai dan acara masuk rumah juga sudah selesai di laksanakan, bertepatan dengan hari ulang tahun ibuku minggu kemarin.
Dan untuk sementara rumah itu akan di tempati oleh adikku Yeni. Karena permohonan mutasiku dari perusahaan masih menunggu persetujuan dari pimpinan.
Aku memang suami yang begitu tega dan kejam telah memperlakukan istriku seperti itu. Entahlah, hati nuraniku mungkin sudah mati. Kalau di tanya apakah aku sudah tak mencintai istriku lagi? Jawabku, aku masih mencintainya. Lalu kenapa aku tega memperlakukannnya seperti itu? Mungkin jawabnya adalah aku tak suka melihat kemandirian istriku. Sungguh itu adalah jawaban seorang pecundang!
__ADS_1
Egoku yang berlebihan dan tidak oada tempatnya. Aku ingin Tika, selalu bergantung padaku. Sifat mandirinya membuatku tak nyaman. Ketika Rani hadir diantara kami, aku merasa kembali jadi sosok
pria yang memiliki harga diri.Rani sangat membutuhkanku dan sangat bergantung padaku.
Hingga sejauh ini, aku merasa bahwa rahasiaku masih aman.
Tapi tidak, saat aku pulang dari Medan kemarin. Saat Tika menyambutku dengan cara yang tidak seperti biasanya, dan hampir seharian perlakkuannya padaku begitu dingin. Tak kunjung membuat hatiku ketar- ketir juga.
Aku seperti melihat orang asing. Bahasa tubuhny
seperti menyiratkan kemuakan. Tapi aku tetap berusaha bersikap hangat. Walau di acuhkan, aku berusaha tak terpancing. Aku dapat merasakan ada bara di dadanya yang berusaha ia padamkan. Tapi aku tau apa itu. Apalagi saat dia jatuh pingsan aku sungguh panik dan merasa sangat bersalah karena tak bisa mengetahui bebn yang istriku rasakan.
Apakah istriku telah mengendus perbuatanku selama ini. Atau justru istriku malah sudah mengetahuinya. Dan tengah mencari cara untuk membalaskannya. Atau tengah menyusun kekuatannya?
********
Aku tak habis pikir bagaimana aku bisa pingsan kemarin. Dan beberapa hari sebelumnya aku memang merasa badanku kurang fit. Tapi hal itu kuabaikan, aku merasa itu mungkin hanya masuk angin biasa. Karena aku memang agak susah tidur di malam hari.
Tapi perasaan tak enak ini sepertinya pernah aku alami di masa-masa kehamilanku saat mengandung Nadia. Ingat akan hal itu, aku tersentak! Sepertinya tamu bulannaku belum datang. Buru- buru aku melihat kalender. Ya, Tuhan! Benar saja aku sudah telat dua minggu.
Bagaimana aku sampai lalai, ya. Tapi belum tentu juga aku hamil, gumanku. Aku harus memastikannya dulu, dengan cara beli test peck sebelum periksa ke dokter. Aku bergegas ke ujung jalan karena kebetulan di sana toko obat. Begitu sampai di rumah, aku lansung ke kamar mandi dan,
hatiku berdebar menanti benda putih kecil itu berubah warna.
__ADS_1
Sekian detik berikutnya kulihat tanda garis dua walau samar tapi sudak cukup membuat bibir ini bergetar mengucap syukur. Dan detirk berikutnya air mataku sudah luruh membanjiri wajahku.
Antara rasa bahagia dan sedih jaraknya hanya setarikan helaan nafas. Aku tergugu diam, bingung malah seperti apa gambaran hatiku saat ini. Aku terbayang saat hamil Nadia dulu, setelah penantian tiga tahun. Aku berpelukan dengan Bang Rey, menangis bahagia.
Sekarang! Masih mungkinkah kami melakukan itu setelah aku mengetahui kebohongannya, selama ini. Aku mengusap perutku yang masih rata. Tuhan, kuatkan aku menjaga anugrahMu ini, desis batinku. Aku percaya, Tuhan pasti memiliki rencana indah dengan hadirnya anakku di rahimku.
Untuk semua air mata ini, aku akan balaskan sakitnya hatiku ini. Dan semua itu bisa aku lakukan bila aku kuat dan tenang. Aku menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan. Tekadku sudah bulat. Kini adalah saat aku bertindak.
********
Aku membuka mataku perlahan ketika sinar mentari pagi menerobos kisi-kisi jendela. Dengan rasa malas aku duduk di pinggir tempat tidur. Kulihat jam yang tergantung di dinding sudah di angka enam. Aku melirik Bang Rey yang masih tergolek tidur. Suara halus dengkurannya adalah nyanyian pagi di telingaku.
Kebiasaanku membangunkannya, dengan cara memencet lobang hidungnya bergantian. Dan dia akan merahupku dalam pelukannya. Entah sudah berapa lama momen itu tak pernah lagi kulakukan.
Mungkin sejak kehadiran Nadia, karena waktuku lebih banyak tersita untuknya. Atau karena sejak terakhir aku melakukannya Bang Rey marah, karena telah mengganggu tidurnya. Kalau saja aku lebih jeli, mungkin saja itulah awal-awal Bang Rey berubah.
Sejak Nadia lahir aku memang merasa sikap Bang Rey berubah. Hanya saja semua firasat itu kutepiskan jauh-jauh dari benakku. Semua karena percaya pada Bang Rey, bahwa dia tidak akan menghianati janji suci pernikahan kami.
Aku menyadari sepenuhnya, bahwa aku terkadang kewalahan membagi waktuku diantara rutinitasku sebagai ibu dan istri juga mengurus butik. Karena itulah aku mengalihkan sementara waktu butik di urus oleh Rita, asistenku.
Sehingga aku bisa lebih fokus mengurus Nadia dan suamiku. Memang, Bang Rey pernah memintaku untuk menutup butik, karena katanya dia sudah bekerja. Tapi karena penghasilan dari butik yang masih menjanjikan aku menolak usulnya itu. Belum lagi karena kami masih butuh banyak dana untuk biaya kuliah adik- adik ipar.
Akhirnya, masalah ini menguap begitu saja. Mungkin Bang Rey menilik lagi usulnya itu. Sehingga hal itu tak pernah lagi kami bicarakan. Dan soal pekerjaanya, aku memang tak pernah mencampurinya karena itu adalah privasinya.
__ADS_1
Bahkan soal berapa gaji Bang Rey akupun tak pernah menyinggungnya. Dsn aku ijinkan Bang Rey memberikan gajinya buat mama mertua. Soal biaya rumah tangga kami masih bisa di cukupkan dari penghasilan butik.
Apakah semua kepercayaanku itu pada Bang Rey yang menjadi cikal bakal semua kebohongannya, padaku? Apa yang salah dari semua itu.