Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
14a Rahasia yang terungkap


__ADS_3

Mama mertua diam tertunduk, tak mampu


menjawab pertanyaan Pak Rt. Sementara suamiku


mendelik tajam ke arahku. Seolah menyalahkan aku atas kekacauan yang terjadi.


Melihat wajahnya yang tidak menunjukkan rasa bersalah membuat kegeraman hatiku bertambah.


Aku memungut kembali kembali semua foto- foto yang berserakan di atas meja.


"Aku akan membawa masalah ini ke ranah hukum.


Menuntut senua perbuatan kalian selama ini padaku. Akan kupastikan kalian semua membusuk di dalam penjara" kecamku dengan suara yang dingin.


" Bapak setuju dengan ide kamu Tika. Karena kasus ini termasuk penipuan. Mereka akan di kenai pasal berlapis. Bapak kenal seorang pengacara. Jika kamu buntuh bantuan jangan segan- segan memintanya pada bapak." seru Pak Rt mendukungku. Membuat wajah mereka semakin pias.


" Maafkan saya Pak Rt, tolong jangan tuntut kami ke penjara," isak Mama mertua, berurai air mata. Aku yakin itu hanya air mata buaya. mencoba mencari simpati.


" Itu bukan terserah saya Bu Hesti, seharusnya ibu minta maaf sama menantu ibu. Bukan sama saya. Yang ibu zolimi adalah menantu ibu. Saya juga kesal sama ibu. Karena selama tiga tahun ini telah ibu telah menipu kami semua, warga di sini."


Mama mertua tertunduk lemas, sorot matanya nampak panik dan ketakutan. Begitu juga Rani. jemarinya saling bertautan, meremas. Duduknya semakin tak nyaman. Hanya Bang Rey yang bersikap tenang. Tapi aku yakin hatinya tak kalah kacau di banding keduanya.


Berkali- kali ia mengusap rambut dan wajahnya. Itu adalah eskpresinya setiap kali di landa kecemasan. Aku kenal betul sifatnya itu.


" Kalian tak busa menuntut kami, tanpa ada bukti- bukti." gertak Bang Rey dengan senyum sinis.


" Aku tidak bodoh, Bang! Semua bukti perselingkuhanmu sudah aku kumpulkan. Jadi tenang sajalah, jalan kalian masuk bui pasti lancar." ucapku penuh ejekan. " Aku hanya tinggal menyerahkan berkas- berkasnya,"


" Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu ,Tika!


" Kita lihat saja Bang, seberapa kuat kamu nantinya." ucapku pongah. Kutunjukkan sisi lain dari pribadiku bila telah tersakiti.


Mungkin selama ini mereka menganggapku perempuan bodoh yang mudah di tipu. Perempuan yang gampang sekali di khianati. Oke, selama ini mereka telah berhasil menipu dan mengkhiantiku mentah-mentah. Bukan berarti aku akan diam saja.


Tanpa perlawanan!


Kuakui, mereka memang lihai karena telah berhasil menipu selama tiga tahun ini. Karena sikap manis yang mereka tunjukkan selama ini telah membuat


ku mudah tertipu. Aku mencintai suamiku, dan begitu percaya padanya.Mengasihi keluarganya juga, karena aku mengangap mereka adalah bagian dari hidupku. Bukan orang lain!.


Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku sejak kecil. Dan tidak memiliki saudara dan sanak famili. Masa kecilku yang tumbuh besar di Panti Asuhan, telah mengajarkan aku hidup mandiri.


Lalu aku bertemu Bang Rey, menikah! Apakah jadi sebuah kesalahan bila aku telah menemukan oase


dslam hidupku. Dan aku ingin mereguk kebahagian


ku sepuasnya. Dengan memberi hati dan hidup ini untuk mereka orang- orang yang aku cintai?


Aku mau berkorban karena aku percaya, akan memperoleh balasanya, yakni di cintai!


Bila ternyata balasan yang ku terima adalah pengkhianatan seperti ini, sungguh itu telah membunuhku berkali- kali tapi tidak pernah mati. Yang mati adalah hati yang mencintai, serta belas kasih untuk mereka yang telah mengkhianatiku.

__ADS_1


" Bagus nak Tika, bila kamu sudah mengumpulkan berkas- berkas bukti perselingkuhan suami kamu, hubungi saja Bapak. Bapak akan bantu kamu," ucapan Pak Rt menghalau monolog hatiku. Dan memberiku kekuatan dengan dukungan beliau.


" Terima kasih Pak. Secepatnya aku akan menghubungi Bapak." jawabku antusias. Aku berdiri dan hendak beranjak dari kursi. Tapi langkah kakiku terhenti ketika tiba-tiba Mama mertua bersimpuh di depanku dan memegangi kedua kakiku.


Aku sangat terkejut, tapi hatiku sama sekali tidak goyah! Aku tau ini hanya trik untuk melumpuhkan hatiku. Cukup! Cukuplah semua permainan ini.


" Apa- apaan sih, Ma!" aku berupaya melepaskan kakiku, tapi Mama mertua makin mengetatkan pegangannya.


" Maafkan, Mama nak! Mama telah bersalah selama ini padamu. Tolong jangan masukkan Mama ke penjara, Mama tidak mau lagi mengalaminya. Tolong nak! Mama akan penuhi apa saja permintanmu. Asal jangan masukkan Mama kepenjara!" tangus Mama meledak dsn lepas kontrol.


Deg!


Lagi?


Hatiku semakin kaget mendengar penuturan Mama mertua. Jadi, ternyata Mama mertua pernah masuk penjara? Karena itukah beliau sangat panik!


" Mama! Mama ngomong apa sih! Ngapain Mama bersimpuh di kaki, Tika!" sentak Bang Rey kasar. Ia langsung beranjak dari kursi dn menuntun Mama


nya duduk kembali di kursi.


"Nak, tolonglah. Bujuk hati istri kamu, agar Tika membatalkan niatnya menuntut kita," kali ini Mama mertua bersimpuh di kaki Bang Rey, anaknya.


Aku tergugu dalam diam menyaksikan semua itu.


Sepertinya Mama mertua sunguh- sungguh menyesal. Tapi saat ingat semua perbuatan perbu


atan mereka selama ini, hatiku tak bergeming.


"Terserah mau percaya atau tidak, tunggu saja panggilan untuk kalian." aku bergegas pergi. Tapi kembali Mama mertua mengejarku. Dan menahan langkahku.


"Tika , Mama mohon nak! Mama akan lakukan apa saja keinginanmu nak,"


Setelah berpikir sejenak, sebuah ide muncul di benakku. Aku berbalik ke arah, Mama mertua. Dan tersenyum penuh kemenangan.


" Baiklah, aku akan batalkan rencanaku. Tapi dengan syarat,...." aku mengantung kalimatku.


" Apa syaratnya, Nak Katakan saja, Mama akan berusaha memenuhinya."


"Mama yakin akan sanggup melakukannya?" tanyaku tersenyum culas.


" Katakan saja, Nak! Ayo, katakanlah!"


" Mama! Mama apa- apaan sih," Bang Rey, berusaha melerai mamanya memenuhi syarat yg yang hendak aku ajukan.


"Sekarang juga, aku minta surat sertifikat rumah ini, surat-surat mobil dan.." belum sempat aku melanjutkan kata-kataku Bang Rey sudah protes.


" Gila kamu ya, Tika" bentaknya emosi. Sorot matanya yang tajam tak membuatku surut.


Kuhampiri sosok tubuh itu, ketelusuri wajahnya dengan tatapanku yang tak kalah tajam. Sejenak kulihat manik mata itu berubah kaget. Yah! Kaget mungkin melihat seringaiku seperti singa betina yang terluka!


" Aku memang sudah gila, Bang! Kaget ya? Melihat istrimu yang bodoh ini, hem!" semburku dingin. Selangkah Bang Rey mundur, terhuyung!

__ADS_1


" Sekarang aku minta sertifikat rumah ini. Karena aku berhak untuk itu. Dulu rumah ini hanya gubug reot, dan uangkulah yang merehapnya jadi istana. Lupa ya Bang, atau pura - pura lupa. Lalu kamu ajak iblis itu tinggal di sini, hebat kamu, Bang!" aku bertepuk tangan.


" Lalu, siapa yang membayar cicilan mobilmu itu Bang! Aku kan, padahal itu adalah hadiah dari perusahaan atas prestasimu. Tapi kamu bohong padaku. Oh, satu lagi aku lupa, rumah yang baru kamu resmikan di Medan, adalah uangku juga kan. Atau setidaknya hakku sebagai istri dan anakmu yang kamu alihkan untuk membangun rumah itu. Dan kamu hadiahkan pada pelacur itu. Hebat!


Apa aku salah bila meminta semua itu. Karena akulah yang lebih berhak untuk semua itu, bukan pelakor itu!" seruku seraya menunjuk Rani yang duduk mematung!.


Mata Bang Rey, dan Mama mertua melotot ke arah


ku. Kaget, bingung entah apalah yang berkecamuk di hati mereka saat ini. Saat kubuka semua kebobrokan mereka selama ini. Hatiku puas menyaksikan wajah yang tadinya angkuh kini berangsur lesu.


" Bagaimana Ma, masih bersedia memenuhi tuntutanku?"


"Ba...baikalah Tika, Mama akan serahkan surat rumah ini, asalkan jangan seret Mama je penjara."


"Mama! Mama tak perlu memenuhi apapun, permintaan perempuan gila itu,"


"Tidak Rey! Jangan biarkan Mama masuk lagi ke masa lalu itu. Mama mohon nak, kabulkan saja semua keinginannya Tika. Tolong nak," wanita separuh baya itu menangis luruh. Entah masa lalu apa yang dia bicarakan. Sehingga Mama mertua begitu takut dan trauma, saat mendengar kata penjara.


Bang Rey merenung beberapa saat, dia juga begitu syok melihat keadaan mamanya yang di luar dugaannya.


" Baiklah, demi ibuku, aku penuhi keinginanmu Tika


tapi ingat aku akan membalas semua ini. Akan kuhancurkan kamu" deliknya dengan amarah yang membara. Aku hanya menatapnya dengan senyum tipis, sambil bersidekap dada.


"Oke, selamat menikmati hidup di jalanan, Bang. Ini upahmu yang tega menghianatiku.Bawa sekalian pelakormu itu." Semua yang hadir di ruangan itu tak satupun yang mampu berucap kata.


Mereka mungkin terhipnotis oleh kemarahanku. Setelah Bang Rey menyerahkan berkas surat sertifikat rumah dan mobilnya, aku menerimanya dengan puas.


Rasakan pembalasanku, Bang Rey! Setelah ini hidupmu tak akan pernah sama lagi


" Baiklah, aku batalkan niatku melaporkan kasus ini. Dan kuberi waktu satu minggu untuk mengosongkan rumah ini. Aku mohon, kepada Pak Rt dan wargandi sini, untuk memastikan bahwa rumah ini di kosongkan tidak lebih dari seminggu,"


" Baiklah nak Tika, Bapak akan membantumu memantau rumah ini." sahut Pak Rt.


" Terimakasih banyak, Pak!" aku mencium punggung tangan beliau. Dan kutinggalkan rumah itu dengan hati yang beku. Tak ada kata ampun bagi mereka. Yang telah menyakitiku sedemikian rupa.


Sepanjang perjalanan menuju rumahku, air mataku jatuh berderai. Berkali- kali aku menghapus air mataku, agar tidak mengganggu pandanganku.


akhirnya aku berhenti di disebuah jembatan.


Aku memandang aliran sungai yang deras di bawah sana. Aku berteriak sekuat suara yang aku mampu keluarkan. Tanpa perduli sekelilingku.


Inilah air mataku terakhir menangisimu, Bang Rey!.


Setelah ini, tak akan ada lagi air mata untukmu. Aku akan kuat dan bertahan demi Nadia dan bayi yang masih ku kandung ini.


" Maafkan mama ya sayang," aku mengelus perutku yang masih rata. Mama akan bertahan dan kuat untukmu." aku menarik nafasku dalam- dalam dan menghempaskanya perlahan- lahan.


Tiba-tiba sepasang tangan menyentuhku, memegangiku erat. Aku berontak panik, tapi pandanganku berubah gelap.


Sesayup masih sempat kudengar suara, dan tangan yang menepuk pipiku.

__ADS_1


" Mbak...mbak..bangun mabak" lalu semua gelap kini.


__ADS_2