
Seperti biasa saat pulang sekolah, Nadia akan di antar ke rumah dengan bus sekolah. Rey selalu memastikan bahwa Nadia sudah ada dalam bus. juga siswa yang lainnya.
Rey sedikit lega karena sepeda motor yang kemarin sering parkir di dekat gerbang sekolah, beberapa hari ini tak tampak lagi.
Mungkin dia terlalu berlebihan telah mencurigai pengendara motor itu. Nyatanya tak terjadi apa- apa beberapa hari ini.
Dan pengendara motor itu juga telah menghilang entah ke mana.
Ketika bus sekolah tadi berangkat, Rey tak curiga saat sebuah sepeda motor mengikuti bus sekolah yang membawa Nadia.
Rey menutup gerbang dan bersiap hendak pulang. Tinggal beberapa guru lagi yang belum pulang.
Karena pak Agus tinggalnya di sekolah, beliaulah nantinya yang akan mengurus selanjutnya.
Belum lagi lima menit, tiba -tiba gerbang digedor. Ternyata pak Ridwan sang supir bus sekolah.
Rey heran melihat pak Ridwan balik lagi.
" Lha, kok balik lagi pak."
" Bentar pak, mau ke toilet nih," bergegas pak Ridwan ke toilet.
" Busnya di mana, pak!" teriak Rey karena tak melihat bus parkir di depan sekolah.
" Aku parkir di kelokan, pak. Bentar, dah kebelet nih."
" Aduh, kok gak mutar balek ke sini, pak Ridwan." guman Rey ke diri sendiri. Beberapa saat pak Ridwan balik dari toilet.
" Bapak kok teledor kali, gimana kalo ada anak yang iseng turun," tukas Rey.
" Aduh maaf, pak. Tadi udah gak tahan lagi," ringis pak Ridwan bergegas pergi.
Beberapa menit kemudian, handphone Rey berdering.
" Pak Rey, tolong pak. Datang ke sini dulu," seru pak Ridwan terbata.
" Ada apa pak? Ngomong yang jelas!" seru Rey bergegas ke arah gerbang.
" Nadia di culik,pak. Gimana ini,?" suara panik pak Ridwan membuat Rey kaget bukan main.
Katanya Nadia si culik, kok bisa? Rey kaget mendengar kabar itu. Dengan langkah seribu Rey berlari ke lokasi yang berjarak lima puluh meteran.
Ternyata orang sudah ramai di sana! Jeritan anak- anak yang panik dan ketakutan membuat kaki Rey terasa lemas.
" Mana Nadia, pak Rid!" sentak Rey. Rey berlari ke kursi yang biasa di duduki Nadia. Nadia tak ada. Hanya tasnya yang tertinggal di sana. Rey kembali ke luar.
"Mana Nadia, pak. Cepat katakan! Nadia mana!" bentak Rey seraya mencengkram leher baju pak Ridwan.
" Maafkan aku pak. Tadi aku sempat lihat Nadia di bawa naik sepeda motor. Sepertinya mereka telah mengikuti kami,"
" Brengsek!" Rey segera kembali ke sekolah hendak memeriksa cctv. Dan jelaslah terekam di sana ada pengendara sepeda motor yang mengikuti bus sekolah tadi.
Dan!
Bukankah itu motor yang sama,yang beberapa ha
ri lalu selalu parkir tak jauh dari pintu gerbang?
__ADS_1
Rey mengusap wajahnya kasar. Karena telah merasa kecolongan! Harusnya ia lebih waspada.
Rey jadi panik! Bagaimana caranya memberitahu Tika peristiwa ini.
" Ada apa nak Rey, kok belum bersiap pulang?"
" Pak Agus, Nadia diculik barusan pak. "
" Apa? Kok bisa. Dimana?" cecar pak Agus.
" Itu di kelokan pak. Bus nya di tinggalin pak Ridwan karena ke toilet,"
" Astaga! Kok bisa- bisanya. Trus di mana pak Ridwan? Kepala sekolah sudah tau gak."
" Sudah pak. Kepala sekolah dan beberapa guru, sudah di lokasi. Polisi juga sudah di lokasi. Bagaimana ini pak. Memberitahu orang tua Nadia."
" Sudah, kamu tenang dulu. Jangan panik! Coba hubungi dulu pak Reno. Ibunyakan lagi hamil, takut terjadi sesuatu kalau dengar berita ini, "
" Baiklah pak. Aku akan menelepon pak Reno saja." lalu Rey menghubungi no wa Reno. Tapi tak diangkat. Rey mencoba beberapa kali tapi tetap tak di angkat. Membuat Rey makin kalut dan putus asa.
Rey mencoba lagi menghubungi Reno. Kali ini langsung di angkat oleh Reno. Reno yang sedang rapat, sedari tadi sudah terganggu oleh dering teleponnya.
Reno memeriksa notifikasi panggilan di wa nya. Ternyata panggilan itu dari Rey. Dengan heran Reno menjawab.
" Halo..."
" Halo pak Reno. Bisa datang segera ke sekolah, pak? "
" Ada apa pak Rey?"
"Apa! Bapak jangan bercanda, ya."
" Saya serius pak,"
" Baik saya segera ke sana. Apa istri saya sudah, di beritahu?"
" Belum pak."
" Baik saya segera ke sana." buru- buru Reno keluar dari ruang rapat. Hatinya tak karuan mendengar berita itu. Reno teringat ucapan mamanya tempo hari. Tentang orang asing yang mencoba memberi permen pada Bimo.
Berujung dengan di pasangnya cctv dan pos jaga di rumah. Dan sejak di pasang tak ada hal yang mencurigakan yang di tangkap kamera. Ternyata mereka mengalihkan sasarannya.
Dan berhasil menculik Nadia putrinya!.
Entah bagaimana nanti reaksi Tika istrinya mendengar kabar ini. Mana istrinya lagi hamil pula.
Reno langsung mencari keberadaan Rey begitu tiba di sekolah. Ternyata petugas polisi sudah ada di sana. Juga beberapa guru dsn orang tua murid. Yang menyusul ke sekolah setelah insiden penculikan yang mereka dengar.
Ternyata insiden oenculiman itu langsung viral. Karena ada kamera amatir yang tanpa sengaja merekam kejadian itu.
Polisi tengah menyelidiki dan mengamati vidio itu.
Reno menerobos kerumunan orang di ruang kelas.
" Bagaimana kabar anak saya,pak?" tanya Reno pada petugas.
" Kami belum memperoleh kabar pak. Tapi petugas telah memburu mereka pak. Menurut saksi pelakunya ada dua orang." jelas pak polisi ke Reno.
__ADS_1
" Kronologinya gimana pak. Kok bisa anak saya di culik." cecar Reno lagi yang kurang puas dengan penjelalasan itu.
" Sabar ya pak. Itu pak Ridwan supir bus sekolah.
Kata beliau bus sudah berjalan, sampai kelokan. Ketika tiba-tiba pak Ridwan mau ke toilet.
Pak Ridwan balik ke sekolah lagi, tapi bus itu di tinggal sebentar. Menurut kesaksian anak yang lain, setelah supir turun, naik seorang yang tidak mereka kenal. Dan langsung menuju arah Nadia.
Dan membawa Nadia pergi."
" Maafkan saya, atas kelalaian saya pak." ucap pak Ridwan terbata.
" Saya juga minta maaf pak," ucap Rey.
Reno bungkam tak mampu berkata apa. Apa memang harus menyalahkan Pak Ridwan dan pak Rey. Maka Nadia akan di bebaskan? Tentu tidak.
Karena bukan mereka pelakunya. Mereka juga pasti tidak menginginkan hal ini terjadi. Ataukah mereka terlibat. Dalam penculikan ini?
Mencurigai pak Ridwan, apa iya lelaki separuh baya itu mau mengorbankan pekerjaan dan keluargannya untuk pekerjaan hina itu.
Terlebih pak Rey, adalah ayah kandung Nadia sendiri. Dia memang pantas di curigai, mengingat dia adalah mantan suami dari istrinya Tika.
Tapi apa Rey sebodoh itu menculik anaknya sendiri. Untuk apa? Mengingat perjuangannya untuk menebus kesalahanya pada Nadia. Apa Rey masih punya pikiran untuk balas dendam.
Monolog hati Reno.
Yah, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tapi tak mungkin menuduh sembarangan tanpa ada bukti dan fakta yang kuat.
" Pak Reno, kami akan menyelidiki kasus ini. Mencari bukti siapa di balik penculikan ini. Tapi kami butuh waktu pak. Oleh karena itu kami berharap kerja samanya.
Kalau para penculik itu menghubungi pak Reno, kami harap bapak tidak bertindak sendirian. Demi keamanan dan keselamatan putri bapak. Kita harus kerjasama pak."
" Baik pak." sahut Reno faham.
" Kami harap kasus ini segera terungkap, pak. Kami akan bekerja semaksimal mungkin."
" Trima kasih pak," Reno menyalami petugas saat hendak permisi. Tapi tiba- tiba ponsel di saku jas Reno berdering.
Reno memeriksa nomor, yang tidak ia kenal. Reno memberi kode agar yang lain turut mendengar dan menyimak.
" Halo selamat siang, dengan siapa ini?" tanya Reno. Pak polisi menyuruh Reno ubtuk menahan telepon lebih lama untuk melacak keberadaan si penculik.
" Ini pak Reno! Dengar baik- baik pak. Anak bapak ada dalam tangan kami. Kami minta tebusan uang dalam dua puluh empat jam. Kalau bapak macam- macam anak bapak akan kami ekseskusi.
" Baik, jangan sakiti anak saya pak."
" Kami tidak akan menyakitinya, asal bapak mau kerja sama."
" Apa yang kalian inginkan. Lepaskan anak saya!"
" Bapak siapkan saja uang tebusan anak bapak sejumlah satu milyar."
" Gila, bagaimana aku dapatkan uang sebanyak itu dalam tempo 24 jam.
" Saya tidak mau tau. Itu urusan bapak. Ingat, jangan coba- coba menghubungi polisi. Kalau tidak, anak bapak akan tinggal nama.Tunggu instruksi selanjutnya,"si penelepon mematikan ponselnya
" Sialan. Brengsek!" maki Reno emosi.*****
__ADS_1