
Bu Hesti tiba d i rumah. Tubuhnya terasa capek sekali. Lalu bu Hesti duduk di sofa. Melepas lelah.
" Mama dari mana saja? Pergi kok gak pamit," tanya Rey yang terkejut saat melihat mamanya ada di ruang tamu. Padahal Rey bermaksud keluar hendak mencari mama nya.
" Mama cuma main ke rumah teman, mama."
"Tapi kok wajah mama , sembab gitu. Mama habis nangis, ya?" selidik Rey melihat wajah mamanya yang seperti habis menangis.
"Eh, gak kok.. Udah ya, Mama pengen istrirahat,"
bu Hesti beranjak dari kursi. Karena tak ingin Rey bertanya lebih jauh lagi.
Rey menatap punggung mamanya. Merasa heran dengan tingkah mamanya yang tidak seperti biasanya.
" Ma, aku keluar dulu ya. Ada urusan sebentar," teriak Rey. Setelah mendengar sahutan dari kamar, Rey beranjak dari kursinya dan pergi.
Hari ini Rey berencana hendak pergi ke sebuah sekolah TK. Hendak memastikan apakah dia di terima untuk bekerja di sana. Beberapa hari yang lalu seorang teman merekomendasikan dirinya untuk jadi satpam di sekolah itu.
Dan hari ini ia di suruh datang lagi, karena kebetulan kepala sekolahnya sedang di luar kota.
Rey berharap sekali akan pekerjaan ini. Setidaknya nanti dia akan punya pekerjaan tetap. Selama ini pekerjaannya serabutan. Apa saja dia lakukan asal menhasilkan uang, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Tapi, dia sering tak bertahan lama. Karena pekerjaan itu tidak sesuai dengan dirinya. Hal ini sering memicu pertengkaran dengan Rani istrinya. Katanya dia terlalu pemilih.
Rey sudah tiba di sekolah dan di suruh menemui kepala sekolah di ruangannya.
Tok..tok...
"Silahkan masuk pak," Rey mendorong pintu yang terbuka sedikit. Lalu masuk ke ruangan itu.
" Mari Pak, silahkan duduk," Bu Asri kepala sekolah itu mempersilahkan Rey duduk.
" Saya sudah membaca surat lamaran, bapak. Dan bapak di terima bekerja di sini. Selamat ya pak."
" Trima kasih bu, akan kesempatan yang di berikan pada saya." Rey tesenyum sumringah.
"Iya, sama- sama pak. Kami harap bapak bisa bekerja dengan baik di sekolah ini. Untuk peraturannya. Bapak bisa simak di sini, ya. Kalau bapak sudah setuju bapak tinggal beri tanda tangan. Dan besok menyerahkan berkas ini pada saya." bu Asri memberikan sebuah map berwarna coklat, berisi berkas tentang aturan kerja.
Dengan langkah ringan, Rey meninggalkan sekolah itu. Dia yakin akan merasa cocok bekerja di sekokah itu sebagai satpam.
Tugasnya hanya menjaga keamanan di sekolah itu. Jadi tidak akan terlalu berat di banding menjadi tukang bangunan yang lebih mengandalkan otot. Yang membuatnya tidak bertahan.
Ke esokan harinya.
Pukul 6;00, Rey telah hadir di seoklah. Dia bersama rekannya pak Agus, memulai tugasnya. Rey, mendengarkan dan menyimak pengarahan dari pak Agus apa saja tugasnya.
__ADS_1
Sebelum sekolah buka, mereka harus membuka setiap ruangan kelas. Dan menutup kembali setelah sekolah usai.
Setelah sekolah buka, mereka akan berdiri di gerbang sekolah. Mengawasi siswa yang masuk dan keluar se usai sekolah.
Anak- anak berseragam putih biru langit, sudah mulai berdatangan. Dengan ramah Rey menyambut kedatangan mereka satu persatu.
Para orang tua hanya boleh mengantar hingga pintu gerbang. Kecuiali ada urusan sekolah, misal mau membayar uang sekolah.
Deg! Jantung Rey seolah berhenti berdetak. Saat melihat seseorang turun dari sebuah mobil Pajero Sport.
Tika! Seru bathinnya gemetar. Rey merasa gugup. Alangkah sempitnya dunia ini. Kok bisa- bisanya bertemu lagi di sini.
Rey melihat seorang laki- laki yang tak lain adalah Reno. Pengacara yang menangani kasus perceraian mereka.
Dalam gerak slow motion ya, he he.
Reno beriringan melangkah dengan Tika. Tika memegang tangan Nadia. Reno menggendong Bimo. Mereka tampak mesra sekali. Sesekali keduanya saling menatap dan berbagi senyum.
Sungguh pasangan yang serasi, Rey menelan salivanya yang terasa pahit.
Langkah itu makin mendekat. Rey pun semakin gugup. Untunglah dia sedang memakai masker dan topi. Sehingga wajahnya tersamar.
"Baik- baik sekolahnya ya sayang," Tika mencium ke dua pipi Nadia.
" Dadah mama, papa, dedek Bimo," Nadia melambaikan tangannya dan memasuki gerbang.
Rey mengalihkan pandangannya ke arah Tika. Di mana tangan Reno dengan mesra merangkul bahu Tika.
Membukakan pintu lalu tanganya melindungi kepala Tika agar tak terbentur. Sempat- sempatnya dia memberi ciuman sekilas di pipinya, Tika.
Lalu Reno mengitari mobil ke arah pintu kemudi. Entah apa yang nereka lakukan, karena mobil itu tak segera beranjak pergi.
Rey segera tersadar, bahwa ia sedang bekerja. Rey berusaha fokus menyambut anak-anak yang datang.
Ekor mata Rey masih sempat menangkap saat mobil itu berlalu, dia melihat Tika dan Reno sedang tertawa. Mereka nampak bahagia sekali.
Rey mengingat masa lalunya, kapan momen bahagia seperti itu pernah ia rasakan dengan Tika. Tidak pernah sama sekali.
Rey melakukan itu dengan Rani. Masa bersama Tika, adalah masa- masa sulit. Di mana mereka tengah berjuang merintis usaha.
Tika mengelola usaha butiknya dari nol. Berkat kerja kerasnya seiring waktu berhasil dan sukses. Hingga kehidupan finansial rumah tangganyapun berangsur baik.
Dan Rey sendiri berkat dukungan dari istrinya juga, menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan marketing.
Ketika uang bukan lagi sesuatu yang sulit di raih. Seharusnya keberhasilan itu di nikmatinya bersama keluarganya.
__ADS_1
Tapi Rey lebih memilih menikmatinya bersama Rina mantan pacarnya. Cinta pertamanya. Dan juga keluarganya.
Tika, dan Nadia adalah prioritasnya yang ke sekian. Bahkan cendrung ia abaikan.
Entahlah apa Tika tak menyadarinya ataukah karena terlalu percaya padanya. Atau karena bersabar saja oleh ulahnya.
Tapi yang jelas saat Tika tau penghianatan itu, sekali tepuk dia telah menghancurkan hidupnya.
Dan kini Tika telah bahagia dengan orang yang mencintainya dengan tulus. Aura cinta di antara keduanya begitu jelas tersirat di wajah dan bahasa tubuh mereka.
***
Rey menatap Nadia dari kejauhan. Langkahnya maju mundur untuk mendekati putrinya itu.
Setelah hampir tiga tahun tak pernah bertemu, masihkah putri kecilnya itu mengenali wajahnya.
Bagaimana kalau ia tak mengenalnya. Dan menganggapnya sebagai orang asing yang harus di curigai.
Sehingga ia cerita kepada Ibunya. Dan tentu sebagai seorang ibu Tika pasti bertindak. Dan nantinya akan berefek fatal pada pekerjaanya.
Bisa saja Tika melaporkan kalau ia tidak suka aku bekerja di sekolah ini. Atau Nadia pindah ke sekolah lain. Sebagai seorang pengacara yang punya pengaruh, Reno bisa dengan mudah menghancurkan pekerjaannya.
Semua kemunbkinan itu bisa saja terjadi, kalau identitasnya terungkap. Mengingat terakhir kali bertemu Tika, aku telah menganiayanya.
Akhirnya Rey mengurungkan niatnya. Bersamaan dengan itu bell usai istrirahat berbunyi.
Pak Agus yang memperhatikan gelagat Rey sedari tadi merasa curiga. Dia mengikuti arah mata Rey yang tertuju pada Nadia. Pak Agus tidak ingin berpransangka buruk, sebelum tahu kejelasnnya.
" Ada apa pak Rey?" tegur pak Agus seraya menepuk pundaknya lembut. Rey terkejut, dan berusaha menetralkan degup jantungnya.
Dia baru bekerja di sini. Dai tak ingin pak Agus lelaki berusia enam puluh tahun itu mencurigainya.
Eh, anu... gak ada apa- apa kok pak.,"
"Hem, bapak lihat kamu memperhatikan Nadia sedari tadi. Apa bapak kenal siapa dia?"
Deg! Rey merasa tertangkap basah. Kalau ia diam tentu bisa saja pak Agus mencurigainya. Kalau bicara terus terang, berarti membuka aib nya sendiri.
" Tidak apa kalau nak Rey tidak mau cerita sekarang. Tapi kalau terjadi sesuatu pada anak itu, kamulah orang pertama yang saya curigai,"
" Pak, maafkan saya pak. Saya tidak ada niat mau berbuat jahat. Maafkan saya saat ini belum bisa cerita sama bapak." Rey mohon pengertian dari pak Agus.
" Baiklah, bapak akan tunggu. Kamu akan ada dalam pengawasanku." Rey menarik nafas lega
ketika pak Agus tak memaksanya bercerita. Setidaknya untuk saat ini.******
__ADS_1
bersambung.