Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
50


__ADS_3

" Tidak! Papa saya orang kuat, we...! Tante Rani akan di masukkan papa ke penjara. Karena tante orang jahat." teriak Nadia.


Mendengar kata- kata Nadia , Rani jadi kesal dan tanpa sadar dia menampar pipi Nadia.


"Dasar anak kurang ajar," makinya kalap.


" Apa- apaan kamu Rani! Kendalikan emosi mu. Sama anak kecil saja kalah." gertak Tian yang tak menduga perlakuan Rani pada Nadia.


Rani melengos kesal.


Yah, Rani memang sangat kesal dan marah. Melihat Nadia seperti melihat Tika saja. Ia ingin melampiaskan dendamnya pada Tika.


" Apa kamu ingin semua rencana kita gagal hah!


Tingkahmu ini bisa saja menarik perhatian orang, yang mungkin sedang mengawasi kita. Jadi jangan bertingkah konyol hanya karena omongan anak kecil." kecam Tian.


Rani diam. Kata- kata Tian ada juga benarnya. Entah kenapa dia tadi lepas kontrol atas omongan Nadia. Rani hanya bisa memandang Nadia dengan tatapan tajam!


" Sekali lagi kamu ngomong kurang ajar, awas kamu ya!" ancam Rani. Nadia menunduk takut. Nadia merasa ngeri melihat wajah tante Rani yang garang.


Jauh berbeda dengan yang ia kenal dulu. Meski ingatannya samar, Nadia masih bisa mengingat bahwa sosok tante Rani adalah orang yang lembut. Setidaknya itu yang ia ketahui. Beda sekali dengan sekarang.


Tadinya Nadia sangat senang bertemu tante Rani, dia pikir tante Rani datang untuk menolong


nya.


Ternyata tante Ranilah yang menyuruh orang untuk menculiknya!


***


" Jadi bapak menuduh saya menculik anak saya sendiri?" tanya Rey sedih. Saat Reno tiba- tiba mencarinya ke sekolah dan menghadiahinya sebuah bogem di wajahnya.


" Dengar ini!" Reno memutar rekaman percakapannya yang terakhir dengan penculik Nadia. Rey menyimak dengan serius dan terkejut saat Nadia menyebut nama Rani.


" Kamu dengar dengan jelaskan nama siapa yang di sebut Nadia. Dia Rani, istri kamu! Gak mungkin Rani yang lain. Karena Nadia mengenalnya." gertak Reno kasar.


Rey mengusap darah di sudut bibirnya, bekas pukulan Reno tadi. Sakitnya tak seberapa. Tapi tuduhan Reno bagai sebuah hantaman balok menohok ulu hatinya. Belum lagi setelah mendengar rekaman itu.


" Apa benar istrinya Rani, terlibat atau malah dalang di balik penculikan putrinya, Nadia? Setelah kabur dari rumah dan mereka tidak pernah kontak lagi, jadi keberadaan istrinya sama sekali tidak ia ketahui.


Meski ia telah mencari dan bertanya ke banyak orang. Segala usahanya tetap sia- sia. Akhirnya Rey pasrah. Dan fokus mengurus mamanya yang mulai sakit- sakitan.

__ADS_1


Tiba- tiba saja kini ia dengar kalau istrinya terlibat dengan penculikan putrinya, Nadia! Dari rekaman itu Rey yakin bahwa Rani yang di sebut Nadia adalah istrinya.


Ternyata istrinya masih dendam pada Tika. Karena menurutnya Tikalah yang menyebabkan penderitaannya. Menurutnya Tika terlalu serakah karena telah merebut semua aset mereka.


Padahal itu semua karena penghianatan mereka!


Tapi Rani tak pernah bisa menerima semua itu. Dan sering latah bicara akan balas dendam suatu hari nanti!


Dan inikah pembalasannya itu! Rey merasa ngeri dan takut sesuatu hal akan terjadi pada Nadia, melihat betapa nekadnya Rani menculik Nadia.


Yang tentu melibatkan orang lain dalam aksinya.


" Kenapa bengong! Di mana kamu sembunyikan Nadia!" gertak Reno seraya menarik krah baju Rey. Reno kesal karena Rey malah bengong sementara nyawa anaknya terancam.


"Aku sama sekali tidak terlibat, pak Reno. Aku yakin itu memang Rani. Tapi aku sudah tak bersama Rani lagi. Dia kabur beberapa bulan lalu.


Aku tidak tau di mana keberadaannya." ucap Rey dengan wajah kuyu.


" Kamu pikir aku akan percaya begitu saja ucapanmu. Kamu pasti bohong, karena kamu fasih melakukan itu." sentil Reno, mengingatkan perbuatan Rey di masa lalu.


" Cukup pak Reno! Aku memang pernah berbuat kesalahan. Tapi aku tidak segila itu, menculik anakku sendiri demi uang! Aku ini papanya Nadia! Sampai kapanpun!" Rey menatap tajam wajah Reno. Rey merasa tersindir atas apa yang telah dia lakukan di masa lalu.


Meski ucapan Reno adalah fakta, Rey tak ingin di pojokkan seperti itu.


" Aku akan buktikan kalau aku tak terlibat. Sekalipun nyawaku jadi taruhannya." ucap Rey penuh penekanan. Lantas berlalu meninggalkan


Reno.


Reno hanya mampu menatap punggung Rey dengan perasaan serba salah.


Reno melihat sorot mata Rey yang menyiratkan kejujuran. Bahkan mereka berdua sama frustasi


nya.


***


" Buk...buk.. augh!" Rey melampiaskan kemarahannya dengan meninju pohon akasia di taman belakang sekolah.


Sungguh dia tak menyangka kedatangan Reno yang tanpa basa basi menuduh dan memukulnya di pos jaga.Tuduhannya tak tanggung- tanggung!


Reno menuduhnya terlibat dengan penculikan Nadia!

__ADS_1


Sungguh tuduhan yang sangat menyakitkan!


Tak dia hiraukan buku jarinya yang berdarah akibat meninju pohon akasia. Entah apa yang harus ia lakukan untuk bisa menemukan Nadia.


***


Sepeninggal Rey, Reno kembali ke rumah. Reno tak berani meninggalkan Tika di rumah, lama- lama. Sekalipun papa dan mamanya ada di rumah.


Tika lebih membutuhkannya. Selain itu, dia memang harus lebih siaga, mengingat kondisi istrinya yang hamil tua


Baru saja Reno menginjakkan kakinya di teras, ponselnya berdering. Reno membuka aplikasi belambang telepon hijau. Ternyata panggilan dari anak buahnya yang dia suruh mencari keberadaan putrinya.


" Halo pak Dennis, apa sudah ada hasilnya, pak?"


" Iya pak. Kami telah menemukan persembunyian penculik putri bapak. Mereka ada di sebuah gudang tua pak. Kami menunggu instruksi dari bapak."


" Hari ini adalah penyerahan uang tebusan. Saya harap tim bapak siap-siaga di posisi masing- masing."


" Baiklah pak, kami tunggu konfirmasi selanjutnya." lalu pak Dennis memutus hubungan


" Apa ada kabar baru, pa?" tanya Tika yang sudah berdiri di belakang Reno.


" Iya ma. Tempat mereka menyekap Nadia sudah di temukan."


" Puji Tuhan." ucap Tika penuh syukur.


" Semoga semua masalah ini cepat berlalu. Dan Nadia segera kembali ke rumah ini. Mama sangat rindu Nadia. Maafkan mama sayang...yang tidak bisa melindungimu," isak Tika


" Ma...Mama harus kuat. Yang sabar ya. Sebentar lagi Nadia pasti kembali ke rumah ini. Berkumpul dengan kita. Mama jangan menyalahkan diri mama terus. Ini sudah ujian buat kita. Mama harus kuat." Reno mengusap air mata istrinya penuh kasih. Dan membawanya dalam pelukan hangatnya.


Sejak Nadia di culik air matanya tak henti keluar. Bahkan dalam tidurpun Tika sering menangis. Membuat Reno sangat sedih.


Reno mengusap perut Tika, dan menciumnya. Seolah memberi kekuatan agar bayinya yang masih di dalam sana juga menjadi kuat oleh sentuhannya.


Tika merasa nyaman dengan sentuhan suaminya, yang begitu perhatian padanya. Dia tau dan dapat


merasakan bahwa suaminya juga rapuh seperti dirinya. Tapi masih saja berusaha kuat, hanya untuk menguatkan dirinya.


" Maaf kan mama ya, pa. Mama akan kuat seperti keinginanmu. Mama akan kuat demi anak sangat kamu sayang ini." ucap batin Tika. Tika mengusap rambut suaminya suminya. Membalas pelukan suaminya.


Mengalirkan rasa hangat untuk suaminya, untuk saling menguatkan hati.

__ADS_1


Tuhan...terima kasih untuk segala cinta yang aku terima. Kuatkan hati dan imanku untuk semua percobaan dalam hidupku. Jaga dsn lindungi selalu keluargaku, terutama Nadia putriku dari tangan orang jahat. bisik hati Tika, melafaskan seuntai doa.*******


__ADS_2