Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
44


__ADS_3

"Apa!


Kok bisa-bisanya Papa lakukan itu di belakangku. Tanpa konfirmasi dulu padakau." beliak Tika tak percaya. Tika kecewa sekali dengan keputusan suaminya.


Yang memberi ijin mantan suaminya untuk bertemu Nadia. Ternyata mantan suaminya bekerja sebagai satpam di sekolah Nadia.


Om Felix yang selalu ia ceritakan adalah mantan suaminya. Papanya, Nadia!


Apa Rey sengaja bekerja di sana untuk bisa dengan leluasa bertemu, Nadia? Apa tujuannya?Apakah ia merencanakan sesuatu untuk putrinya?


Berbagai pertanyaan mencecar hati Tika. Jelas ia panik! Bagaimana suaminya begitu antengnya dengan masalah ini?


" Sayang, kamu jangan khawatir. Tak akan terjadi apa- apa. Percayalah. Semua buat kebaikan Nadia sendiri." ucap Reno seraya mengelus pundak istrinya. Tika melengos.


" Bagaimana papa tau, bahwa itu untuk kebaikan Nadia," sergah Tika dengan suara ketus.


" Sudah jelas dia menipu kita, menyaru jadi satpam di sekolah, Nadia. Pasti dia punya niat terselubung, pa." lanjutnya lagi.


" Ma, jangan berpikir negatif dulu. Papa juga tak akan memberi ijin begitu saja. Yang papa liat kalau Rey itu ingin menebus semua kesalahannya. Terutama untuk Nadia."


" Papa gak faham kan, hati mama masih sakit. Mama tak ingin dia hadir lagi dalam kehidupan, mama. Bagaimanapun situasinya. Itu sama saja mengorek luka hatiku." isak Tika. Membuat hati Reno makin tak karuan.


Tapi di sisi lain, Reno hanya ingin Nadia tidak bingung dengan keadaan yang sebenarnya. Bahwa dia punya dua orang papa dalam kehidupannya.


Sekalipun ingatan Nadia masih samar waktu itu, saat ke dua orang tuanya bercerai, Reno percaya bahwa alam bawah sadar Nadia. Pasti mencari sosok keberadaan papanya.


Terbukti, Reno telah dua kali mendengar Nadia mengingau. Menyebut papanya agar tak meninggalkannya. Entah sosok papanya yang mana yang hadir dalam mimpinya itu.


Sampai Nadia juga terisak dalam mimpinya!


Mengingat Nadia yang tinggal bersamanya dan ibunya, jadi kemungkina yang hadir dalam mimpi itu adalah, Rey.


Papa kandungnya sendiri!


Selama ini dia selalu menyimpan rahasia itu. Hanya karena tak ingin istrinya sedih, mendengar cerita itu.


"Sayang, papa minta maaf ya. Bukannya papa gak menghargai perasaanmu." bujuk Reno meredam kekesalan istrinya.


" Ah, papa benar- benar keterlaluan," Tika masih tak bisa menerima ucapan suaminya.


" Mama ingin Nadia pindah sekolah!" ucap Tika tandas. Membuat Reno terhenyak.


" Mama jangan terbawa emosi dulu. Pikir dengan hati tenang ma. Rileks ma."


"Rileks? Bagaimana aku bisa rileks pa. Nadia bersama seseorang yang pernah menyakiti kami. Sekalipun dia itu papanya Nadia. Mama tidak akan percaya begitu saja." teriak Tika dengan nada tinggi. Reno sampai kaget melihat reaksi istrinya.


Napas Tika menderu, perut buncitnya naik turun karena menahan emosi sedari tadi. Tika tak habis pikir cara berpikir suaminya. Semudah itu percaya, pada mantan suaminya.


Secara ia pernah melindungi mereka dari kebringasan Rey,mantan suaminya.


" Sayang kamu tidak apa- apa kan?" Reno mendekati istrinya. Dia tak dapat menyembunyi


kan kekalutannya.


" Apa aku tampak seperti orang baik- baik saja, pa. Papa telah membuatku terluka," tergesa Tika berlari ke kamar. Air mata yang ia tahan sedari tadi, tak bisa ia bendung lagi.

__ADS_1


Reno mengusap wajahnya dengan kasar. Niat baiknya ternyata di salah artikan istrinya.


Atau dia sendiri yang meremehkan perasaan istrinya.


Mana istrinya tengah hamil pula. Perasaan dan moodnya pasti tidak stabil. Bagaimana kok sampai ia tega menjejali pikiran istrinya dengan masalah ini.


Bagaimana hatinya bisa tak peka, dengan keadaan istrinya? Menghadirkan masa lalu istrinya tanpa basa- basi.


Astaga! Bodohnya aku!" Reno menepuk jidatnya.


Detik berikutnya, Reno berlari ke kamar menyusul Tika. Untunglah pintu kamar tidak terkunci. Sehingga Reno bisa masuk dan mendapati istrinya menangis di tepi ranjang.


Reno ikutan duduk di sisi istrinya. Terdiam beberapa saat. Membiarkan istrinya meneruskan sisa tangisnya.


" Tadinya aku tak bermaksud menyembunyikan hal itu pada mama. Tapi, saat papa melihat Nadia menangis dalam mimpinya. Dan juga ucapannya, yang meminta papa untuk merahasiakannya dari mama. Membuat papa berpikir ulang.


Saat itu yang ada di pikiran papa adalah, bagaimana caranya menghibur Nadia. Papa juga sangat kaget, ternyata aku tidak cukup baik untuk menutup kekosongan di hatinya selama ini.


Papa sadar, kehadiaran ku di hatinya hanyalah papa sambung. Darah yang mengalir di tubuhnya, bukanlah darah ku.


Sekalipun aku sangat mencintai mereka, tapi garis itu tetap ada terbentang di antara kami.


Sebagai seorang papa yang mencintainya, aku tidak ingin egois. Kelak saat dia dewasa nanti, ia akan mengerti. Papa tak ingin dia menanyakan tentang sesuatu yang akan membuatku menyesal karena telah menutupi hal yang seharusnya ia ketahui dari awal." Reno menuturkan sebab dia tak meminta ijin istrinya.


Tika, terhenyak mendengar penuturan suaminya.


Tika merasa menyesal karena begitu mudahnya tersulut emosi.


Tanpa memikirkan posisi suaminya yang serba salah.


nya taknpeduli perasaanya. Sementara yang dia lakukan adalah untuk kebaikan putrinya juga.


Tika melirik suaminya yang duduk di sisinya. Dia jelas melihat ketulusan di garis wajahnya. Betapa pria yang telah dengan susah payah merebut hatinya.


Menunjukkan kasih sayangnya pada mereka. Menjaga dan melindungi mereka. Masih saja ia ragukan!


Tika merasa malu. Malu pada ke egoisan hati dan pikirannya.


Merasa kalau dia tengah di perhatikan, Reno memergoki istrinya tengah memandangi wajahnya.


Buru- buru Tika memalingkan wajahnya. Rona merah menjalari ke dua pipinya.


Reno menyentuh jemari Tika, menggenggamnya erat. Tika makin menundukkan wajahnya.


" Maafkan papa, ya."


" Aku yang seharusnya meminta maaf. Karena telah berprasangka buruk sama papa."


Reno merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan nya. Mengusap-usap kepalanya.


Syukurlah, Tika akhirnya bisa mengerti niat hatinya.


Tiba- tiba terdengar jeritan Bimo. Bimo yang lepas dari perhatian mereka. Saat itu Bimo dan Nadia tengah bermain di teras bersama opungnya. Bu Nita yang tengah duduk di kursi tiba- tiba terjatuh.


Itulah kenapa Bimo menjerit. Memanggil papa dan mamanya. Nadia langsung berlari ke kamar papa dan mamanya.

__ADS_1


" Sebentar ma, papa lihat mereka dulu." Reno beranjak bersamaan dengan itu Nadia sudah muncul dinpintu kamar.


" Ada apa, Na?"


" Oppung, pa!" wajah Nadia panik ."


"Iya, kenapa dengan oppung?" Reno berlari ke teras. Tanpa menunggu jawaban dari Nadia.


" Kenapa dengan Oppung, Na?" tanya Tika juga heran.


" Oppung jatuh dari kursi, ma." dengan langkah tergesa Tika menuju teras.


" Tika, cepat telepon dr Harry, mama pingsan." perintah Reno kalut. Lalu memberi pertolongan pertama pada mamanya. Sepertinya mamanya terserang stroke.


Tika menelepon dr Harry, dan ia akan datang segera. Lalu Tika menelepon papa mertuanya juga. Yang kebetulan tadi minta ijin ke luar rumah.


Tak berapa lama, dr Harry datang dan memeriksa bu Nita.


" Ibu terserang stroke ringan. Tekanan darahnya tinggi. Tapi gak usyah khawatir, Ren. Biarkan ibu istrirahat dulu." jelas sang dokter pada Reno.


" Ini resep obat untuk ibu. Tolong di berikan secara rutin," Reno menerima secarik kertas berisi resep obat mamanya.


" Pemicunya apa ya, dok. Kok tiba- tiba sekali. Tada mama nampak baik- baik saja. Mama jugs sangat menjaga pola hidupnya."


" Mungkin faktor usia, Ren. Kita tidak tau kapan penyakit itu datang pada kita. Dari usia ibu, sudah rentan terkena penyakit."


" Makasih dok, "


" Sama- sama Reno." Reno mengantar dr Hary sampai depan pintu. Lalu berbalik masuk rumah, menjumpai ibunya yang terbaring di kamar.


Ternyata bu Nita sudah sadar. Tika sedang memijit kaki mertuanya.


" Bagaimana keadaan, mama?"


" Mama cuma pusing, nak. Gak usyah khawatir sama mama." ucap bu Nita lirih.


" Bagaimana gak khawatir ma. Barusan mama jatuh pingsan." Reno memegangi tangan ibunya.


Kecemasannya begitu kentara.


" Mama tidak apa- apa sayang. Bentar juga mama akan sembuh." bu Nita menatap lekat wajah putranya. " Bimo dan Nadia akan jadi obat mama sayang. Iya kan, Bimo sayang sama oppungkan?"


" Iya, Bim cayang sama opung," Bimo memeluk erat bu Nita.


" Nana juga sayang , oppung," tak mau kalah dengan adiknya. Nadia juga memeluk oppungnya.


" Mama melupakan seorang lagi," canda Reno. Membuat semuanya keheranan.


" Tuh, yang masih dalam perut menantu mama." tunjuk Reno pada perut istrinya.


" Oh, mama lupa ya," bu Nita mengusap perut menantunya yang makin membesar. Beberapa bulan lagi, mereka akan menanti kelahiran cucunya yang ke tiga.


Sungguh, bu Nita teramat bersyukur. Di usia tuanya di kelilingi anak menantu serta cucu- cucunya.********


bersambung.

__ADS_1


"


__ADS_2