Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
29


__ADS_3

Napasku menderu setibanya di mobil. Dengan melihat mantan mama mertua, seolah aku melihat slide film terputar jelas di depan mataku.


" Tika..., Rileks ya. Jangan biarkan emosi menguasai mu. Kamu itu terlalu berharga, sayang." usapan tangan Reno pada punggung tanganku begitu lembut. Mampu menetralisir ke marahan ku.


Aku menatap wajah teduh Reno, yang tersenyum lembut. Selalu saja ia mampu meneduhkan hatiku. Mensupport jiwa ku untuk selalu bangkit.


Kalau saja, Tuhan tak mengutusnya untuk melindungiku. Entah bagaimana hidupku sekarang.


" Aku tau, kamu pasti lebih kuat dari, ini sayang."


Kembali tangan kekar itu merahupku dalam pelukannya.


" Makasih ya," aku mengurai pelukan Reno.


"Aughk..." jeritku mendadak menahan sakit. Reno terkejut mendengar aku mengaduh sakit. Lagi- lagi janin di perutku menendang keras.


"Ada apa Tika, kamu baik- baik saja kan?" aku mengusap perutku lembut. Setiap kali aku merasa cemas atau emosiku tak labil bayi dalam kandunganku pasti bereaksi.


Seolah hendak mengingatkan ataukah memang dia mersakan juga yang kurasakan.


" Aku baik- baik saja. Bayinya main bola lagi," ringisku.


" Aduh, anak papah lasak kali ya. Sabar ya sayang, ntar lagi kita jumpa," refleks tangan Reno turut mengusap perutku.


Aneh, bayi dalam kandunganku berhenti mene


ndang. Dia tenang kembali seolah menikmati usapan jemari, Reno.


"Makasih ya, kamu juga telah menenangkannya di dalam sana. Padahal kamu bukan papah biologisnya. Mungkinkah dia juga merasakan kasih sayangmu.


Setiap kali aku merasa cemas, dia pasti bereaksi. Seolah cari perhatian agar kamu juga menenangkannya." monolog hati Tika penuh haru.


***


Bu Hesti masih diam mematung memandang kepergian Tika dan Reno. Dia terpukul melihat reaksi Tika yang tidak memperdulikannya.


Dia memang pantas mendapat perlakuan itu. Setelah apa yang dia perbuat pada menantunya itu.


" Dia tak menduga bertemu Tika. Itu berarti mereka masih tinggal dalam satu kota. Di mana kah dia tingggal.


Bukankah rumahnya yang dulu sudah ia jual?


Rey yang baru memasuki cafe, sangat heran melihat mamanya yang berdiri mematung.


Dia mengikuti arah pandang mama nya. Tapi yang tampak hanya lalu lalang orang dan kenderaan di luar sana.


" Mama kenapa, apa yang mama lihat?" suara itu mengejutkan Hesti, mamanya.

__ADS_1


" Egh, ta..tadi aku melihat Tika. Mereka barusan keluar dari sini."


"Tika? Mama pasti salah lihat." sejak mereka bercerai Rey belum pernah bertemu Tika dan Nadia.


Jangankan bertemu, mendengar kabar saja tidak. Meski ia sudah berburu informasi. Tak pernah ia temukan. Karena itu dia menduga pasti Tika telalh pindah.


Bagaimana dia mau percaya perkataan mamanya yang melihat , keberadaan Tika.


Kata mama mereka, berarti Tika tidak sendirian.


" Mama yakin barusan melihat ,Tika. Dia bersama siapa. Nadia ya?"


" Bukan, dia bersama seorang pria. Sepertinya dia tak asing. Dan Tika sedang hamil, tua. Apakah Tika telah menikah?" cecar bu Hesti tanpa jawab.


"Sudahlah, Ma. Hentikan!" bentak Rey. Mamanya tak akan berhenti berbicara sendiri, kalau tidak di bentak.


Sejak kejadian beberapa bulan lalu. Saat Tika dengan kemarahannya yang mengancam akan menjebloskan kami ke penjara telah mengubah hidup mama seolah di kejar bayangan ketakutan.


Bu Hesti langsung terdiam mendengar suara keras, Rey. Ada air bening mengenang di sudut matanya.


Rey menuntun mamanya duduk di kursi. Tadi Rey memarkirkan sepeda motornya dan membiarkan mamanya jalan duluan masuk ke cafe. Karena itulah dia tak melihat Tika dan Reno.


Reno menanyakan pada pelayan cafe apa memiliki cctv. Rey memang sangat penasaran ucapan mamanya.


Setelah membujuk dan berbohong akhirnya pemilik cafe mengijinkan Rey memeriksa rekaman cctv.


" Jadi mereka telah menikah? Rey tersenyum licik. Dendamnya pada mantan istrinya yang telah menghancurkan hidupnya, kembali membara.


" Aku memang tidak bisa mendekatimu, Tika. Tapi bukan berarti tak bisa menghancurkanmu dengan pengacara itu." geramnya.


Saat melihat cctv itu, Rey merasa bahwa Tika dan Reno bersekongkol menjatuhkannya. Bukan tak mungkin Tika juga selingkuh selama ini.


" Hem, maling teriak maling, kamu benar- benar licik Tika!"


***


Sebulan kemudian., di sebuah Rumah Sakit bersalin.


Reno dan keluarganya, juga ada bi Risma. Tengah menunggu dengan cemas di depan pintu ruang bersalin.


Tadi subuh sekitar pukul 4;15, Reno menerima panggilan Tika. Bahwa perutnya sakit. Bergegas Reno melarikan mobilnya ke rumah Tika.


Sepanjang perjalanan, Reno sudah sangat gugup. Untunglah jalan belum ramai, sehingga dalam waktu sepuluh menit Reno sudah sampai.


Bergegas ia menjumpai Tika. Yang sudah bersiap siap dengan Rita. Nadia masih tertidur.


" Bagaimana keadaan kamu, Tika. Ayo kita segera pergi." Reno pernah menyarankan supaya Tika operasi saja saat melahirkan. Tapi Tika menolak.

__ADS_1


Meski harus mengalami sakitnya kontraksi, Tika lebih memilih melahirkan secara normal.


"Aku baik- baik saja, sekalipun dari tadi dia main bola terus." ucap Tika tersenyum, mencoba mencairkan ketengangan Reno. Reno memapah Tika ke mobil, menuntunnya duduk dengan hati- hati. Lalu memasang sabuk pengaman.


Setelah memastikan semuanya baik, Reno melajukan mobilnya, membelah jalan raya yang basah oleh embun pagi.


Sudah hampir satu jam Tika berada dalam ruangan itu. Tapi tak kunjung juga Tika melahirkan.


Sesekali erangan kesakitan Tika saat kontraksi terdengar ke luar ruangan. Keringat Reno sudah mengucur sedari tadi. Mulutnya tidak komat- kamit berdoa.


Sebentar dia duduk, sebentar sudah berdiri. Lalu bejalan, begitu terus bolak balik.


Tiba- Tiba pintu terbuka, serentak semuanya memandang bu dokter yang keluar.


" Bagaimana keadaan Tika dan bayinya dokter?"


seru Reno tak mampu menyembunyikan ke cemasannya.


"Tika baik- baik saja. Anda pak Reno, ya?"


" Iya, saya Reno,"


" Sebaiknya bapak ikut ke dalam. Mendampingi ibu Tika,"


" Sa..saya dok?" Reno semakin gugup.


" Masuklah, nak. Kamu harus tenang, Tika butuh kamu di dalam." ucap bu Nita menenangkan hati putranya.


Pengalaman kehilangan istrinya saat melahirkan, membuat Reno selalu cemas berlebihan.


Akhirnya Reno mengikuti langkah dokter masuk ke dalam ruang bersalin. Reno melihat wajah Tika yang sedang kesakitan saat kontraksi.


Melihat kehadiran Reno, Tika berusaha senyum. Reno lansung mengusap keringat di wajah Tika. Mengecup puncak kepalanya.


" Kamu harus kuat sayang, kamu pasti bisa." Reno menggenggam tangan Tika, memberi kekuatan. Tika menekan lebih dalam, hingga nafasnya tersenggal. Tapi bayinya belum juga nongol.


" Bang kamu ngomong dong, sepertinya dia cari perhatian kamu," bisik Tika lirih. Reno melongo mendengar ucapan itu.


"Sayang, kamu keluar dong. Main bolanya udah cukup di dalam sana. Ayo, main bola sama papah aja. Mamah udah capek, gak pengap ya di sana terus," Reno mengusap perut Tika, bahkan menciumnya penuh kelembutan. Seolah bayi yang akan melihat gemerlap dunia ini adalah darah dagingnya sendiri.


Hampir saja Tika ngakak mendengar caracau Reno, yang menurutnya rada gokil. Tapi tiba- tiba perutnya sangat sakit.


Dokter mengarahkan Tika untuk mengejan. Menarik napas dalam dan mengeluarkanya dengan tekanan penuh.


Tanpa sadar, Tika meraih leher Reno. Sehingga tubuh Reno menjadi tumpuan kekuatannya.


Aghk....Tika menjerit dan bersamaan dengan itu, Tika merasa seperti ada dorongan keluar dari rahimnya. ******

__ADS_1


bersambung lagi


__ADS_2