
11
POV Rey
Huuff...!! Aku mendengus kesal dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Berkali-kali Tika, istriku menolakku. Dia begitu acuh dan seolah tak mengerti kalau aku menginginkan dirinya.Padahal sudah berhari-hari aku tak memberinya nafkah batin.
Dan biasanya dia akan merajuk kalau aku lalai memberinya nafkah batin.Tapi akhir- akhir ini, betapa dingin sikapnya padaku.Aku jadi curiga, apakah Tika sudah tak mencintaiku lagi? Ataukah ini karena pengaruh hormon kehamilannya. Yang setiap waktu moodnya bisa berubah-ubah.
Tadi hasratku begitu bergelora. Dan menuntut penyaluran. Kebetulan Nadia sedang di rumah tetangga, makanya ku susul istriku yangnhendak menyeduh kopi untukku.
Kupeluk tubuhnya tiba-tiba dari belakang. Karena aku tau betul bagian tubuhnya yang mana, apabila kusentuh membuatnya mudah terang**ng. Tapi usahaku tetap gagal. Bukannya merespon tindakanku dia malah pergi dan mengataiku mesum!
Saking kaget mendengar ucapannya, aku sampai diam terpaku dan bingung. Saat aku tersadar, istriku sudah tak ada.
Akhirnya aku pergi mandi. Sambil merutuk panjang pendek. Entah apa yang merasuki istriku sehingga sikapnya berubah- ubah. Padahal kemarin saat di rumah Mama sikapnya sangat manja.
Dinginnya air yang membasahi tubuhku, membuat
rasa kesalku seakan hilang begitu saja. Selesai mandi dan berpakaian, aku mengambil kopi yang sudah agak dingin dari atas meja. Dan kubawa ke teras. Aku duduk santai sore itu dan menikmati kopi.
Aku tak melihat anak dan istriku, mungkin masih di rumah pipit. Aku mengedarkankan pandanganku ke arah bekas gudang. Yang sekarang beralih fungsi jadi butik. Siapa tau mereka ada di sana.
Aku heran ternyata butik tutup. Tidak biasanya butik tutup di jam seperti ini. Karena butik tutup jam sembilan. Dan sepertinya bukan hanya hari ini.
Astaga! Mendadak aku tersadar ada sesuatu yang aneh dengan butik, Istriku.
Aku tengah menyeruput kopiku yang sudah berubah dingin. Saat kulihat anak dan istriku sudah pulang.
"Papah.." teriak Nadia menghambur ke pelukanku.
" Dari mana aja, sayang,"aku mengusap rambut ikalnya yang panjang.
"Dari rumah Pipit, Pah," Nadia naik ke pangkuanku. Lalu minta sesesap kopiku.
"Sayang, kok duduk di sana, sih?" tegurku saat istriku memilih duduk agak jauh dariku.
"Udah, aku duduk di sini aja." sahutnya acuh sambil mengipas tubuhnya dengan kertas koran. Tuh kan!
Istriku sepertinya sengaja menghindariku. Aku pindah duduk ke sampingnya.
__ADS_1
" Dek, kita makan malam di luar, yuk" ajakku siapa tau sikapnya akan berubah hangat lagi.
" Malas ah," ujarnya, lantas beranjak meninggalkan aku dan Nadia. Aku benar-benar kesal melihat tingkah istriku yang keterlaluan. Kuturunkan Nadia dari pangkuanku. Dan kusuruh Nadia bermain dulu di teras.
Aku menyusul istriku masuk ke rumah. Tak ada di ruang tamu, lalu aku ke dapur. Tetap tak ada. Aku bergegas ke kamar. Dan benar saja, istriku tengah tebaring di ranjang. Sejenak aku tertegun! Emosiku yang tadinya sudah ke ubun-ubun, mendadak hilang.
Kudekati istriku, eh dia malah berbalik memunggun
giku. Otomatis membuat darahku tersirap! Emosiku memuncak lagi.
" Maumu apa sih dek, sikap kamu kayak anak kecil saja. Gak jelas!," ucapku penuh penekanan. Dia diam. " Kalau ada yang salah, ngomong yang jelas
bukan bersikap begini," sentakku kasar.
Baru kali ini seingatku aku berkata kasar padanya.
Biasanya aku akan pergi keluar, jika aku merasa suasana diantara kami memanas.
Aku melihat tubuh itu berguncang menahan tangis. Suaranya teramat lirih untuk di sebut tangisan. Aku benar-benar kewalahan menghadapi
sikapnya yang tidak biasanya. Aku duduk di tepi ranjang dan menyentuh bahunya, agar menghadap
"Oke, kalau kamu memang tidak mau bicara, silahkan. Aku lelah dengan sikap yang kekanakan ini,"
"Justru aku yang lelah dengan kebohonganmu, Bang!" teriaknya menyeringai ke arahku.
Deg! Aku kaget luar biasa melihat reaksinya. Apakah..istriku sudah tau rahasia yang kusimpan selama ini. Susah payah aku menelan salivaku yang mendadak kering.
" Maksudmu apa dek, kebohongan apa yang telah abang lakukan padamu,"
"Tanya saja nuranimu Bang, kebohongan apa yang telah kamu lakukan padaku," sentaknya kasar seraya mengusap air matanya. Sungguh, hatiku merasa sakit melihatnya seperti itu.
Tapi tak mungkin aku mengakui semua rahasia yang aku sembunyikan padanya. Bisa-bisa runtuh
duniku saat ini juga.
"Tapi Abang tak merasa telah melakukan perbuat
an itu dek. Abang tak pernah berbohong padamu. Please, percaya pada abang dek," aku berusaha menyakinkannya. Meski aku ragu istriku akan percaya ucapanku.
__ADS_1
"Oke, jika abang memang tak mau jujur! Terserah!
Tapi aku akan sangat benci, bila abang berbohong padaku." dengusnya kasar. Lantas pergi keluar kamar. meningalkan aku dengan pikiran yang berkecamuk
Belum pernah kulihat istriku semarah itu. Sorot matanya yang tajam tak urung membuatku bergidik ngeri! Istriku yang susah marah, sekalinya marah sangat mengerikan bagiku.
Sorot matanya itu yang membuatku bergidik. Sepertinya ada ancaman di sana. Yang siap untuk meluluh lantakkan hidupku.
Aku tidak bisa menebak, kebohonganku yang mana yang telah dia ketahui. Apakah keberadaan Rani yang telah kunikahi diam- diam? Tak mungkin itu. Pastinya Istriku akan melabrak aku dan Rani juga Mama. Jika istriku tahu kalau Rani adalah madunya.
Lalu kebohongan yang mana ya? . Mengingat banyaknya rahasia yang kusimpan dari istriku. Kini ada rasa sesal di hatiku. Karena selama ini telah bermain api.
Aku segera berlari keluar kamar, kali ini aku benar- benar khawatir dengan istriku. Apa lagi saat ini dia
tengah mengandung anakku yang kedua. Yang mana aku berharap sekali semoga calon anakku itu laki-laki. Anak penerus margaku.
Karena aku satu-satunya anak lelaki dalam keluargaku. Jadi kehadiran seorang anak laki-laki menjadi sangat penting, untuk meneruskan marga. Sehingga silsilah keluarga dalam budaya kami tidak hilang.
Aku mencari Istriku di teras, karena Nadia tadi kami tinggalkan di sana. Mereka tidak ada di sana. Lalu aku cari ke dapur, tak ada juga. Aku jadi was- was. Aku cari lagi kamar Nadia. Ternyata mereka ada di sana.
Aku tersenyum lega, dan kuhampiri mereka. Istriku sedang menjalin rambut Nadia. Sepertinya Nadia barusan mandi. Aroma bedak dan minyak telon yang ia pakai, memenuhi ruang kamarnya.
"Aih...cantik dan harumnya putri, Papah," aku menowel pipi tembem putriku. Seketika hatiku seperti di tampar, mengingat selama ini aku jarang menghabiskan waktu bersamanya.
Aku begitu terkejut, bahwa tak banyak kenangan yang kumiliki di masa tumbuh kembang putriku.
Karena aku lebih fokus meniti karirku, dan hasil kerja kerasku justru orang lain yang menikmati.
Di awal pernikahan kami yang penuh cobaan, istrikulah yang pasang badan jadi tulang punggung. Di saat aku berhasil, berkat doa dan dorongannya. Aku malah menikmati hasil kerja kerasku dengan Rani, dengan Mama dan adik- adi
kku.
Aku tak pernah berbagi dengan istriku. Aku malah sibuk berbakti pada orangtuaku. Ada rasa takut yang mendera hatiku. Tapi aku bingung bagaimana caranya aku bisa keluar dari lingkaran ini. Tanpa ada yang tersakiti.
Karena aku sudah cukup dalam terjerat, aku sadar
perbuatanku selama ini ibarat bom waktu yang kapan saja siap meledak! Dan serpihannya akan merembet kemana- mana.
Membayangkannya saja aku sudah ngeri. Bagaimana kalau Istriku nanti akhirnya mengendus perbuatanku. Dan membalas semua perbuatanku.
__ADS_1
Sesal, memang datangnya selalu terlambat.