Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
20


__ADS_3

Rey merasa terperangkap! Dia tak menduga akan bertindak sejauh itu. Niat awalnya hanya untuk menanyakan soal surat panggilan untuknya dari seorang pengacara, perihal perceraian.


Dia bermaksud membujuk Tika, memohon maaf bila perlu sampe menghibapun rela ia lakukan. Asal hati Tika luluh dan mau memaafkannya.


Tapi entah kenapa semua rencananya bubar dan ujung-ujungnya malah bertindak kasar pada istrinya.


Entah pikiran busuk mana tadi yang menggiring


nafsunya begitu birahi melihat istrinya. Dan ingin menuntaskan hasratnya begitu saja, tanpa mengabaikan perasaan istrinya.


Memang sejak kapan pula aku peduli perasaan istriku? Selama ini aku telah berhasil menipu dan membodohinya, mentah- mentah! Selalu memamfaatkan kepolosan dan ketulusan hatinya.


Lihat, betapa aku telah membuat jatuh mentalnya


Dia begitu ketakutan!. Dan, hei siapa lelaki yang datang tiba-tiba ke rumahku. Apakah dia pacar istriku? Tiba-tiba, perasaan cemburu menggebu dan aku tak suka istriku berlindung di balik tubuh lelaki itu.


Karena itu dengan pongah aku menghampiri kelaki itu. Kutatap tajam matanya, biar dia lihat seberapa seram saat aku murka. Tapi, lelaki itu tetap tenang. Tak terpengaruh sama sekali.


" Dasar lelaki pengecut! Beraninya cuma sama perempuan!" tiba- tiba malah sebuah bogem mentah mendarat di wajahku. Menyisakan sakit yang yang tak terkira. Aku mencoba melawan.


Ternyata lelaki itu bukan tandinganku. Dengan mudah dia mengunci tubuhku, membuat sakitku berlipat- lipat.


" Lepaskan aku, aku adalah suaminya," gertakku.


" Jadi ini pengecut itu ya! Saya tunggu kamu memenuhi surat panggilan itu. Menyelesaikan masalah kamu dengan istri kamu. Jika tidak akan saya laporkan perbuatan kamu ini. Kasus KDRT!


Dengan langkah gontai, dan rasa sakit di tubuhku aku pergi meninggalkan rumah itu. Masih sempat kudengar isak tangis Nadia dan Tika. Sebersit, timbul rasa ibaku karena telah menyakiti mereka. Tapi egoku lebih dominan, perasaan itu cuma hadir sesaat.


Kamu tidak apa- apa Tika? Ya Tuhan, manusia macam apakah lelaki itu, begitu tega menyakiti istri dan anaknya sendiri.


Reno memapah tubuh Tika masuk ke dalam rumah. Lalu Reno mengambil selendang yangnkebetulan ada di sofa. Dia menutup tubuh Tika, karena pakaiannya sobek.


Ada nada geram di hati Reno melihat keadaan Tika atas perlakuan suaminya.

__ADS_1


" Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu." Reno bergegas ke arah dapur dan membawa segelas air putih. Lalu di berikan pada Tika. Tika menerimanya dengan tangan gemetar.


" Mana Nadia?" celetuk Reno tiba-tiba ketika menyadari Nadia tidak ada. Tika juga kaget dan berusaha berdiri. Tapi mendadak kepalanya pusing. Tubuhnya jadi hoyong.


" Hati-hati Tika!" seru Reno refleks menahan tubuh Tika agar tak jatuh.


" Mama..!" jerit Nadia yang mendadak sudah muncul di pintu. Dia tak sendirian, ada dua ibu- ibu bersamanya. Ternyata Nadia tadi pergi memanggil tetangga mereka.


" Apa yang terjadi dengan kamu, bu Tika?" seru bu Retno mamanya Pipit. teman bermain Nadia.


Bu Retno memeluk Tika. Tika menangis luruh dalam pelukan mamanya Pipit. Tubuhnya berguncang hebat, menahan tangis.


" Sebenarnya apa yang telah terjadi. Kenapa keadaan kamu kacau seperti ini, Tika." Bu Retno ikut menangis melihat keadaan Tika. Dia sangat heran ketika tadi Nadia datang kerumahnya seraya menangis. Dan mengajaknya ke rumah mereka. Kebetulan ibu Anisa juga ada di rumahnya.


Karena itu mereka berdua sama-sama datang dan terkejutbmelihat keadaan Tika. Dan lebih heran lagi ada pria asing bersama Tika.


" Bang Rey, bu Retno. Dia..dia memukul aku hingga seperti ini," ucap Tika lirih. Tika merasa enggan menceritakan yang sebenarnya.


" Astaga, jadi yang lakuin ini suami kamu sendiri sendiri, Tika?!" seru bu Anisa geram plus kaget.


" Trus bapak ini siapa?" tanya bu Retno seraya menatap ke arah, Reno.


" Saya pengacaranya bu Tika. Nama saya Ardyan." ucap Reno memperkenalkan diri.


" Pengacara? Emang, ada apa sampai Tika butuh pengacara," ujar bu Retno. Diangguki bu Anisa.


" Aku mau bercerai dari bang Rey, karena selama ini ternyata suamiku telah membohongiku. Ternyata Rani yang selama ini aku tau saudara sepupunya, adalah istri keduanya. Tadi suamiku datang dan tidak mau menceraikanku," akhirnya Tika menceritakan kronologi yang di alaminya.


Bu Retno dan Bu Anisa jadi kaget, tak menyangka


kalau masalah yang di tanggung Tika sedemikian berat.Padahal selama ini mereka mengira keluarga mereka adalah keluarga yang harmonis. Tak tahunya suaminya telah menyimpan banyak kebohongan.


" Yang sabar ya, bu. Ibu harus kuat ya!" ucap bu Retno dan bu Anisa . Anisa mengangguk lemah.

__ADS_1


"Sebaiknya ganti pakaian dulu, Tika." bu aregnk memapah Tika ke kamarnya. Selang beberapa menit dia kembali ke ruang keluarga.


" Tika, sebaiknya kita laporkan saja suami kamu.itu ke polisi. Ini jangan di biarkan saja begitu. Siapa tau nanti dia datang lagi dan bertindak lebih ,nekad"


" Rencana saya juga begitu bu, tapi tunggu bu Tika tenang dulu. Proses perceraian itu menyita banyak waktu. Satu persatu akan kita proses, bu.


Nanti akan saya buatkan laporannya." jelas Reno.


"Iya, Pak. Ini harus di proses sesuai hukum yang berlaku. Kasus inikan KDRT." timpal bu Anisa.


" Sebaiknya kita ke RS dulu bu, untuk ambil visum. Lalu kita lapor ke Polisi."


Reno dan Tika akhirnya ke RS untuk membuat visum. Selain itu Reno akan meminta para medis memeriksa kandungan Tika, untuk memastikan apakah baik- baik saja.


Reno sangat khawatir akan keadaan Tika, mengingat kehamilannya yang masih muda. Reno bisa memperkirakan apa yang terjadi tadi. Tentu Tika berjuang melepaskan diri dari cengkeraman suaminya. Melihat bajunya yang sampai robek, tentu Tika tidak menyadari kalau tubuhnya entah terbentur atau di benturkan.


Membayangakan semua itu, gigi Reno gemelutuk dan jari- jarinya mencengkram kuat kemudi. Lelaki macam apa yang tega menganiaya istri sendiri. Bahkan dalam keadaan hamil pula. Bah!


Tika, melirik kearah Reno, pengacara yang membantu proses perceraiannya dengan suaminya.


Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran pria ini. Tapi melihat dia yang diam membeku, pasti hatinya tengah terbawa emosi, pikir Tika.


Tika sampai ngeri, saat mendengar suara giginya juga buku-buku jarinya yang meregang di kemudi. Tapi Tika tak berani bersuara, bahkan sekedar untuk bernapas saja ia takut mengusik lelaki itu.


Lelaki yang baru dia kenal secara tak sengaja itu, sepertinya tengah menahan emosi. Ekspresi wajahnya itu. Sudah cukup memperlihatkan rasa kepedulian yang bukan sebatas antara seorang klien dan pengacaranya.


Entah kenapa, naluri kewanitaannya yang begitu halus memperingatkan. Ada sinyal halus yang memberi isyarat bahwa perhatian Reno menyimpan sebuah tanda tanya.


Memang dia mampu menyembunyikan, tapi tanpa dia sadari tindakannya terkadang lari dari batas jarak antar klien dan pengacara.


Tapi perasaan apapun itu, setidaknya saat ini Tika butuh perhatian itu untuk menguatkan hatinya. Setidaknya ada seseorang yang peduli padanya, karena dia memang tak punya siapa- siapa lagi dalam hidupnya.


Selama ini yang ia miliki adalah suaminya dan keluarganyalah yang yang dia anggap sebagai keluarganya. Tempat baginya untuk berbagi suka dan duka. Tetapi kenyataanya, merekalah yang telah memberinya duka.

__ADS_1


*****


__ADS_2