Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
22


__ADS_3

Setelah mengemasi barang- barang keperluan yang aku butuhkan dan Nadia, sore ini Reno mengantar kami ke tempat sementara yang telah di sediakannya.


Nadia begitu menikmati suasana sepanjang perjalanan. Mulutnya tak henti berceloteh setiap kali dia melihat sesuatu yang asing baginya.


Nadia memang jarang aku bawa ke luar rumah, mengingat kesibukanku selama ini mengurus butik.


" Mamah, itu apa mah," tunjuknya keluar saat sekumpulan kerbau berkubang di sawah.


" Gajah ya ,mah?" teriaknya lagi menjawab pertanyaannya sendiri.


" Itu namanya kerbau, Nadia. Kalau gajah ada belalainya, bukan tanduk," tiba- tiba Reno menepikan mobil yang ia kemudi di pinggir jalan.


"Kok berhenti, Pak ," seruku heran.


" Sebentar saja, aku ingin mengambil foto dulu dengan latar kerbau itu," jelasnya.


" Yuk Nadia, liat kerbaunya, " Nadia bergelayut manja dalam gendongan Reno. Lalu mengambil beberapa foto Nadia. Aku tersenyum melihat pose Nadia saat selfi. Aku enggan keluar dari mobil.


" Tika, bisa ambilkan kami beberapa foto," seru Reno, mau tak mau akhirnya aku keluar juga. Lalu aku mengambil foto mereka dengan berbagai pose.


" Nah, sekarang giliran Nadia foto sama mama ya. Ayo ,Tika sana dengan Nadia, biar aku ambil foto kalian." aku enggan. Aku paling malas kalau di suruh berselfi. " Ayolah, Tika. cuma beberapa saja," bujuknya.

__ADS_1


Yang katanya beberapa saja, aku yakin sudah puluhan yang dia ambil. Dasar modus, dehemku dalam hati.


" Nanti aku kirimkan ke wa ya, foto- fotonya," ucap Reno setelah kami melanjutkan perjalanan lagi..


" Kita masih lama, sampainya, Pak!" aku balik tanya tanpa mengiyakan ucapannya.


" Tidak lama lagi, kok. Kira- kira seperempat jam lagi. Kenapa? Kamu pusing ya?" Reno menatap kami lewat kaca spion. Aku memang merasa pusing dan agak mual. Mungkin pengaruh kehamilanku.


" Tidak apa-apa kok. cuma agak pusing dan mual," jelasku bersikap biasa saja, walau keringat dingin sudah mulai mengucur di punggungku.


Lagi- lagi Reno menepikan mobilnya di pinggir jalan.


" Coba oleskan ini, siapa tau pusingnya bisa hilang," tangannya mengulurkan fresh care. Aku menerimanya dan menghirup aromanya yang khas. Sejenak aku merasa terbantu.


Seorang wanita separuh baya, menyambut kedatangan kami. Dengan ramahnya beliau memperkenalkan dirinya. Melihat sosoknya entah kenapa memberiku rasa damai.


" Saya bu Risma, " sebutnya ramah, kusambut uluran tangannya dn menggenggamnya erat.


" Saya Tika bu, dan anak saya Nadia,"


" Mari masuk, nak Tika sudah capek dalam perjalanan. Istrirahat dulu ya, biar ibu ambilkan duh teh," aku mengikuti langkahnya masuk ke rumah. Saat aku menoleh kebelakang, Reno tengah sibuk mengeluarkan barang bawaan kami.

__ADS_1


" Ini tehnya nak, di minum selagi hangat ya," bu Risma meletakkan suguhan teh lengkap dengan camilannya di atas meja.


" Makasih ya bu, udah merepotkan, " ujarku.


"Jangan sungkan nak, anggap seperti di rumah sendiri. Bapak masih di sawah, bentar lagi pulang."


" Bi, tunjukkan kamar buat Tika dan Nadia," seru Reno seraya meletakan barang- barangku.


" Mana pak Dirman, bi.?"


" Masih di sawah, ngambil ikan gurami,"


" Oh, ikannya udah bisa di panen ya ,bi,"


" Masih beberapa nak Reno,"


"Baguslah itu, bi. Ntar kita manggang ikan," serunya riang.


Aku menghirup sedalam dalamnya udara sejuk pegunungan. Rasanya begitu damai di tempat ini.


Sejenak aku lupa kalau tujuanku ke sini karena terpaksa mengungsi.

__ADS_1


Yah, akan kunikmati rasa damai itu.*****


__ADS_2