
Pagi yang cerah!
Suasana di Tk St Bernadetta ramai seperti biasanya. Suara hiruk pikuk anak- anak di tingkahi klakson mobil menjadi ritme rutin yang terjadi setiap masuk dan pulang sekolah.
Nadia yang ada di antara ratusan anak-anak itu. Menyelinap masuk ke gerbang. Tanpa memberi salam seperti kebiasaanya pada, Rey.
Nadia malah datang ke hadapapn pak Agus. Memberi salam langsung pergi masuk kelas, tanpa menoleh sama sekali ke arah Rey yang berdiri di sisi lain.
Reno yang mengantar Nadia, berjalan ke arah Rey. Membuat perasaan Rey makin was-was. Apalagi sikap Nadia yang berubah. Belum lagi Tika yang tidak keluar dari mobil seperti biasanya.
" Selamat pagi pak Rey! Maaf aku butuh waktu bapak sebentar, bicara. Perihal Nadia," ucap Reno perlahan agar tak menjadi perhatian orang lain.
Rey tak bisa menyembunyikan ke gugupannya. Ia berusaha bersikap tenang.
" Baik pak Reno," sahutnya.
" Aku datang lagi lima belas kemudiaan. Ku tunggu bapak di cafe seberang." tanpa basa- basi Reno berlalu.
Akhirnya yang di khawatirkan Rey terjadi juga. Penyamarannya terbongkar atas keteledorannya sendiri.
Rey tak bermaksud membongkar jati dirinya, pada Nadia. Tidak, selama Nadia masih sekolah di sini.
Biarlah mereka berteman saja tanpa membuka identitasnya, pada Nadia. Biarlah Nadia mengenal
nya hanya sebagai seorang satpam di sekolahnya.
Asalkan Nadia tidak membecinya! Tidak mengcuhkannya! Seperti tadi. Rasanya sakit sekali. Tapi Rey bisa merasakan bahwa perasaan Nadia pasti jauh lebih sakit lagi.
Karena dia telah di bohongi selama ini. Reaksi kebencian Nadia padanya jelas sekali. Buktinya , papa sambungnya, Reno. Langsung mengajaknya bicara empat mata!.
Rekam jejaknya sebagai seorang ayah tak bertanggung jawab itulah, yang dia patri di benak putrinya. Meskipun Nadia masih teramat kecil untuk mengerti semua itu, siapa yang bisa memungkiri kalau batin itu pasti akan berbicara lebih dari daya pikir.
Rey siap kehilangan pekerjaanya, tapi tidak dengan kehilangan Nadia.
Lagi?!
Meskipun dia hanya memandang dari jauh tanpa bisa mendekat. Semua itu sudah lebih dari cukup. Biarlah Nadia hanya mengenalnya sebagai orang asing yang kebetulan bersahabat dengannya.
Yang menceritakan dongeng padanya di setiap jam istirahat di sekolah nya. Semua itu sudah lebih dari cukup. Walau menyakitkan, dia ingin mengisi satu ruang bilik di hati putrinya. Sebagai penebus kesalahannya.
Tapi semua yang ia rencanakan gagal total, karena kecerobohannya sendiri.
Rey tak siap, benar-benar tak siap kalau Nadia akan pergi dengan ke salah fahaman. Setidaknya dia ingin meminta maaf. Jika masih layak untuk di maafkan.
Kini, Rey telah duduk di salah satu sudut cafe tempat yang di janjikan Reno untuk bertemu. Reno belum muncul seperti janjinya. Mungkin terjebak macet. Atau masalah lain.
Setelah hampir sepuluh menit, Rey menunggu kedatangan Reno. Rey melihat sebuah mobil parkir di depan cafe.
Reno muncul dan melangkah pasti menuju cafe.
Reno mengitari seisi cafe dengan matanya, mencari sosok Rey. Netranya menangkap sosok Rey yang tengah duduk di, pojok.
Dengan langkah pasti, Reno menuju meja Rey.
" Selamat siang, pak," sapa Reno formal. Di angguki Rey dengan tatapan datar.
" Maaf telah menyita waktu bapak," ucap Reno lagi basa- basi.
__ADS_1
" Langsung saja bicaranya, pak." tandas ucapan Rey. Karena waktunya cuma sebentar, di kasih ijin keluar.
" Nadia cerita soal bapak. Dia terpukul kalau om Felix itu ternyata papanya. Padahal selama ini dia kira bapak adalalah orang lain." jelas Reno.
" Aku tak bermaksud memberitahunya. Tapi aku ceroboh." jelas Rey. " Aku juga tak sengaja kerja di sana."
" Lalu kenapa bapak tidak jujur selama ini. Dan menyaru sebagai Om Felix pada Nadia."
" Aku merasa pasti di tolak, bila Nadia tau siapa aku yang sebenarnya."
" Tapi apa bedanya sekarang. Nadia jadi sedih dan ketakutan. Tidakkah bapak terlalu egois."
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukai hati Nadia. Aku memang hendak mundur waktu itu. Aku tak tahan setiap kali melihat Nadia. Tapi di satu sisi, aku ingin bersamanya walau hanya sebagai orang lain.
Aku pikir semua ini akan mudah. Karena hanya tinggal beberapa bulan lagi, Nadia akan keluar dari sekolah ini.
Tapi, semua rencanaku gagal." lenguh Rey tak mampu menyembunyikan kabut di matanya.
Reno terhenyak mendengar penjelasan itu. Masuk akal juga, jika Rey merahasiakan siapa dirinya pada Nadia. Mengingat perlakuannya pada keluarganya dulu.
" Aku akan berhenti bekerja di sana kalau Nadia merasa tidak, nyaman. Sampaikan kata maafku pada mereka.
Dan, aku sangat berterima kasih padamu. Karena telah menjaga mereka dengan, baik."
" Kenapa tidak menyampaikan sendiri permintaan maaf itu, pada Nadia. Ku pikir tidak adil baginya jika permintaan maaf itu di wakilkan." tukas Reno.
" Maksud pak Reno?" beliak Rey tak percaya.
" Yah! Sampaikan sendiri permintaan, maafnya. Lakukan yang terbaik. Jangan membuat Nadia menangis sedih. Dia adalah putrimu. Tapi aku tidak akan melepaskannya untukmu. Ku harap kamu cukup mengerti untuk itu."
Kelak dia dewasa nanti, biarlah Nadia membuat keputusannya sendiri.
Masalalh Tika, biar itu menjadi urusanku! Kuharap anda mengerti maksud saya."
Rey sangat terkejut mendengar ucapan Reno. Reno tidak akan melaporkannya pada kepala sekolah. Atau memindahkan Nadia ke sekolah lain.
Tinggal bagaimana caranya mendekati, Nadia.
Tentu tidak akan semudah membalik telapak tangan, untuk sekedar meminta maafnya.
Atau memberi penjelasan untuk semua yang telah terjadi.
Mengingat usianya yang masih dini, tentu pola pikirnya tidak akan mudah mengerti atau menerima penjelasannya nanti.
Reno menatap kepergian Rey, dengan helaan nafas yang tergantung.
Reno tidak begitu yakin akan putusannya, apakah sudah benar. Apa lagi dia belum memberi tahu soal ini, pada Tika istrinya.
Dari sikap Rey, Reno melihat dia punya itikad baik.
Dia tidak akan berbuat nekad hendak mencelakai
Nadia.
Reno lebih melihat rasa bersalah dalam diri , Rey.
Dan Ingin menebus kesalahannya itu. Jadi tidak ada salahnya memberi Rey kesempatan. Semua adalah untuk kebaikan Nadia juga.
__ADS_1
Reno sadar tidak akan bisa memutus hubungan darah mereka. Tapi bukan berarti ia akan lepas tangan begitu saja, mengingat dia kini adalah ayah sambung dari kedua anak Rey. Nadia dan Bimo.
Rey mendekati Nadia yang tengah main ayunan di tengah lapangan. Sejak kejadian tempo hari, Nadia tak pernah lagi bermain di taman belakang, dekat posko.
Beberapa hari ini, Nadia terus menghindarinya. Membuat hati Rey kecut. Tapi ini sudah resiko, Rey harus berusaha lebih keras untuk mendapat
kan perhatian Nadia lagi.
" Selamat siang, Nana. Boleh om duduk di sini?"
Nadia menatap tajam pada Rey. Mulutnya mengerucut tanda tak suka. " Anggap saja ini sebagai Om Felix, bukan papa Nadia,"
" Aku benci om, juga papa!" teriak Nadia sengit. untunglah lapangan lagi sepi. Hanya mereka berdua di sana, karena hari ini pelajaran olah raga di kelas, Nadia. Mereka di bebaskan bermain apa saja. Sebab guru pembingbingnya tidak hadir.
" Maafkan om, atau papa karena telah jahat selama ini pada, Nadia. Papa yang salah,nak. Papa yang telah menyakiti hatimu dan mama." ucap Rey lirih seraya menatap mata Nadia.
" Papa hanya ingin minta maaf. Papa tidak akan memisahkan kamu dari papa Reno. Karena papa tau Papa Reno lebih baik dan sayang pada, Nadia.
Papa juga sayang pada, Nana. Maafkan papa sayang." bujuk Rey.Kali ini air matanya jatuh tak tertahan lagi. Rey terisak oleh rasa sesalnya yang begitu dalam.
Nadia tergugu diam. Hatinya berkecamuk sedih.Jauh di dalam lubuk hatinya ia juga sayang dan merindukan papanya. Rasa rindu itu bahkan selalu datang menjelma ke dalam mimpinya.
Tapi dia belum mengerti, mengapa papanya harus pergi begitu saja. Meninggalkan kata tanya yang tak pernah mendapat jawab.
Lalu ketika rindu itu terobati oleh hadirnya papa Reno. Tanya itu masih kerap datang. Tapi seiring waktu berlalu, rasa itu mengendap di hatinya.
Semua terhapus oleh ke hadiran papa Reno dan adek Bimo. Mama juga sudah tak pernah menangis lagi.
Lalu kenapa papa Rey datang lagi?
Tadinya dia adalah om Felix. Yang suka bercerita dongeng padanya di sekolah saat jam istrirahat.
Nadia senang dan bahagia bersama om Rey, lalu kenapa berubah jadi papa Rey?
Apakah papa Rey akan membuat mama menangis lagi? Apakah mama akan sedih lagi? Bagainana kalau mama bertemu lagi dengan papa.
Kelebat pertanyaan itulah yang menghantui pikiran Nadia. Pikiran polosnya yang tak seharusnya di jejali masalah orang dewasa.
Dia rindu dan sayang pada papa Rey!
Tapi dia tak ingin mama menagis karena papa Rey!
Apa yang harus ia lakukan. Menatap papanya yang tengah menangis di depannya. Membuat iba hatinya yang masih polos.
Antara bingung dan rindu. Nadia menghambur ke dalam pelukan papanya. Nadia turut menangis memeluk erat tubuh papanya.
Rey membalas pelukan putrinya, dengan urai air matanya yang meluap begitu saja.
Di sudut pojok taman belakang, dekat gudang. Sepasang mata melihat dengan haru. Sepasang mata tua milik pak Agus, juga basah oleh air mata haru. Dia tersenyum lega, dan matanya memandang ke langit biru.
Semoga maaf itu juga ada untuknya, dari istri dan anak-anaknya yang sudah bahagia di atas sana.*****
bersambung.
Hai...hai....para readerku yang setia, mohon like dan komennya ya. Biar author makin rajin up. Ada yang mau kasih usul gak, lanjutan bab berikut.
kasih komennya ya, 🙏🙏❤❤❤
__ADS_1