Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
26


__ADS_3

" Maksud kamu apa, Rani?" sentak Rey


" Apa kurang jelas ucapanku , bang. Aku ingin minta cerai!" jerit Rani keras. Ia berusaha menahan air matanya. Sungguh dia sudah tak tahan lagi karena sekarang tinggal di rumah kos- kosan.


Sudah sempit, pengap lagi. Bodoh sekali suami


nya yang merelakan semua asetnya pada Tika. Termasuk rumah baru yang ada di Medan. Semua gegara mertuanya yang ketakutan saat Tika mengancam akan melaporkan mereka ke polisi.


Tak di sangka Tika yang nampaknya lugu dan polos ternyata sangat licik. Bukan hanya harta yang telah berhasil ia kuasai, bang Rey juga di pecat dari pekerjaanya.


Sampai sekarang belum juga dia dapat pekerjaan


padahal tabungan mereka makin menipis.


Kalau akan hidup menderita seperti ini, lebih baik bercerai saja.


" Kamu jangan pergi Rani. Kamu bersabar dulu, tidak selamanya kita tinggal di sini. Aku akan dapatkan pekerjaan lagi," bujuk Rey.


" Sampai kapan, bang. Sudah satu bulan lebih kamu masih pengangguran. Bagaimana mau dapat, kalo abang hanya menyesali trus."


" Ya sudah, terserah kamu! Kalau mau pergi, pergi sana!" teriak Rey marah. Dia benar- benar kesal karena Rani tak ada pengertiannya sama sekali. Terlalu banyak menuntut!


Padahal selama ini, semua permintaanya sebisa mungkin selalu dia turuti. Rey keluar dari kamar bersama emosi yang memuncak. Dia sudah tak perduli kalau Rani beneran mau pergi.


Melihat Rey yang pergi begitu saja, membuat hati Rani jadi serba salah.


Rani ragu untuk pergi, tapi bertahanpun dia sudah tak mampu. Akhirnya dengan kesal, tanpa sadar Rani membanting gawainya hingga pecah berantakan.


" Ih.....Sial! " teriaknya tertahan saat melihat benda pipih kesayangannya, hancur.


Di lain rempat,


Rey juga mengumpat panjang pendek. Kesal karena Rani selalu saja menekannya dengan kata cerai!


Dia berjalan tak tentu arah, dengan pikiran kusut.


Penampilannya saat ini nampak kacau. Dia seperti orang stres saja.


Hampir saja ia terserempet mobil, ketika hendak menyeberang jalan. Karena gak fokus.

__ADS_1


Rey memaki pengendara mobil yang tak lain adalah Rudy rekan kerjanya dulu. Rudy sangat kaget ketika orang yang hendak ia serempet adalah Rey.


" Rey! Kamukah itu?" beliaknya kaget. Karena tampilan Rey yang tamlak lusuh dan jauh berbanding terbalik dengan tampilannya, dulu.


Rudy buru- buru keluar, menjumpai Rey. Rey nampak salah tingkah melihat orang di depannya


adalah mantan rekan kerjanya.


Rudy mengajak Rey masuk ke mobilnya. Tanpa banyak debat, Rey menurut saja.


" Aduh Rey, kok kamu bisa sekacau ini? Seperti bukan kamu saja. Hampir saja aku tak kenal kamu tadi. Maaf ya, aku tak sengaja tadi hendak menabrakmu." sesal Rudy. Tadi dia memang agak buru- buru. Ada hal penting yang mau dia selesaikan.


" Tidak apa, Rud. Aku juga salah, karena gak tengok jalan." Rey lega bisa bertemu Rudy. " Mau kemana buru- buru?"


" Hari ini Ultah Kevin Rey. Aku sudah terlambat.


Makanya aku bergegas, sampai mau nyerempet kau." mendengar ucapan Rudy, Rey teringat Nadia anaknya. Usia Nadia terpaut satu minggu. Berarti minggu depan adalah ultah putrinya.


Rey mengusap wajahnya. Dia tersadar kalau dirinya tak begitu memiliki banyak momen tentang putrinya. Karena usia Nadia adalah bilangan dia menghianati istri dan anaknya.


Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Rani. Dengan alasan lembur dan dinas ke luar kota. Padahal dia tak kemana- mana. Dia ada di rumah orang tuanya. Dan tetap pergi ke kantor, tapi berangkat dari rumah orang tuanya.


Atau kadang dia menginap di hotel, agar warga di lingkungan rumah ibunya tak curiga. Ingat semua itu, rasa sesalnya makin menghimpit dadanya.


" Aku teringat Nadia, bentar lagi dia juga ultah.


Aku turun di sini saja, Rud. Hari inikan momen keluarga kamu."


" Tak apa, Rey. Bukan pesta besar kok. Cuma di rumah saja, makan bersama. Aku mau ngobrol sama kamu. Sejak kamu keluar, baru kali ini ketemu kan. Itupun tanpa sengaja,"


" Apa aku tak mengganggu, nantinya."


" Gak, cuma kita saja. Gak ngundang orang lain. Sebentar ya, aku mau jemput bolu tartnya dulu." Rudi menepikan mobilnya di depan sebuah toko kue. Dan melihat temannya itu, memegang kotak yang agak besar dengan hati- hati. Terpancar senyum bahagia di wajahnya.


Hal yang tak pernah dia lakukan. Dan tak akan pernah, mengingat dia yang telah bercerai dengan istrinya. Semua terlewat begitu saja.


Bahkan keberadaan anak istrinya juga sampai sekarang dia tidak tahu. Perlakuan terakhir pada istrinya, adalah penyebab mereka menghilang.


Mana istrinya juga dalam keadaan hamil saat ini.

__ADS_1


" Boleh minta tolong, Rey. Megang kotak ini. Aku takut isinya hancur."


"Boleh, sini biar aku pegang," dengan hati- hati Rudy menyerahkan kotak itu. Sedemikian berharganyakah cake ini. Bukan cake ini yang di jaga Rudy. Tapi kebahagiaan putranya.


Cake ini bisa saja di beli kapan saja. Tapi momen


nya tak akan pernah sama. Bila cake ini rusak, tentu momennya juga akan berbeda.


Karena itukah kenapa Tika, selalu bela- bela in masak cake, setiap kali Nadia ultah. Aku heran buat apa repot masak makan biaya mahal. Toh ada banyak di jual di toko, tinggal milih sesuai isi dompet.


Sementara saat masak sendiri, kuenya beresiko gagal dan dapur berantakan karena ulah mereka.


Dan akupun marah dan memaki jorok. Yang akhirnya pergi ke rumah mama.


Dan kubiarkan saja mereka berdua yang merayakannya tanpa kehadiranku. Tika tak pernah membicarakanya, dia selalu bungkam dalam diamnya.


Mungkin itu hanya salah satu hal dari sekian banyak yang aku abaikan. Bagaimana dengan yang lain. Momen saat libur atau kebersamaan lain yang luput dari perhatianku. Aku yang selalu perhitungan dengan mereka tapi royal dengan Rani. Tika tak pernah protes, karena dia memang tak tau aku berbagi di belakangnya. Dan yang pasti ada bara yang aku sulut di hatinya.


"Rey, kita sudah sampai," teguran Rudy membuyarkan lamunan Rey. Lalu mereka turun dan menuju rumah. Tapi kenapa lewat samping bukan lewat pintu depan?


Rudy memberi kode agar Rey mengikutinya. Ternyata Rudy mau mengerjai putranya. Aku di suruh masuk dari pintu samping, sementara Rudy lewat depan. Alice istri Rudy sudah melihatku dan faham kamau suaminya mau ngeprank putranya.


Bel berbunyi, Kevin gegas lari membuka pintu.


" Mana cake " Tayo" ku Pah." tanya Kevin saat melihat tangan papanya kosong.


" Aduh, Papa lupa. Gimana ini," Rudy menepuk jidatnya, sambil nahan senyum.


"Kok bisa sih, Pa. Kevin gak mau kalo gak ada cake Tayo." Kevin merajuk.Matanya sudah berkabut.


Aku menyerahkan kotak cake pada Alice lalu meletakkannya di meja. Menyusun lilin kecil warna warni. Sementara Kevin terus protes karana tak dibelikan kue ultahnya.


Rudy menggendong Kevin dan membawanya ke ruang tengah. Tapi kedua matanya tertutup rapat.


Alice memandu Kevin ke meja tempat kue ultahnya.


" Sekarang matanya di buka, satu...dua...ti..ga!" seru Rudy dan Alice, tanpa sadar Rey juga mengikutinya.


" Hore ...Makasih Papa. Makasih Mama." teriak Kevin saat melihat kue ultahnya sudah ada di meja.

__ADS_1


" Sama- sama sayang. Selamat ulang tahun, ya nak. Panjang umur sehat selalu" Rudy dan Alice mencium dan memeluk hangat Kevin.


Rey juga melakukan hal sama. Dadanya penuh sesak oleh perasaan bersalah, karena telah kehilangan momen bahagia seperti ini untuk putrinya , Nadia. ***** bersambung


__ADS_2