
Saat Rani tersadar dari pingsannya. Ia mendapati dirinya tengah terbaring di salah satu kamar Rumah sakit.
Dan lengannya terhubung dengan jarum infus. Saat Rani hendak duduk tangannya tak bisa dia gerakkan dengan bebas. Seperti ada yang menahan. Ternyata tangannya di borgol ke tiang besi ranjangnya.
Rani panik dan menarik- narik tangannya. Suaranya sangat gaduh hingga menarik perhatian petugas yang mengawalnya di luar.
" Hem, ibu sudah sadar ya?" ucap petugas.
" Kenapa tangan saya di borgol pak. Lepaskan saya pak. Aduh, sakit!" teriak Rani. Lengannya sudah memerah dan kulitnya sampaii lecet.
" Ya, sakitlah kalo ibu tarik terus tangannya." seru perawat yang tiba- tiba datang. Untuk mencek kondisi Rani.
" Apa ibu tak ingat kejadian, kenapa sampai ibu ada di Rumah sakit ini?" ucap petugas itu tajam.
Rani terkesiap mendengar pertanyaan itu. Ingatannya langsung melayang ke kejadian kemarin.
Drama penculikan yang ia dalangi sendiri. Gagal total, karena tempat persembunyian mereka yang telah di temukan polisi lebih dahulu.
Rani ingat, Tian menembak Rey, suaminya. Entah dari mana Tian memiliki senjata api. Dan nekad menembak, Rey.
Tian juga menembak kakinya hingga ia jatuh pingsan. Dan kini terbaring di rumah sakit. Bagaimana dengan kakinya sekarang? Apakah ia masih bisa berjalan nantinya.
Tega sekali Tian menembak kakinya saat itu.
Rani menggerakkan kakinya, tapi dia sepertinya tak merasakan apa- apa. Rani sangat penasaran.
Karena kakinya tertutup selimut, sementara tangannya di borgol. Membuatnya geraknya tak leluasa.
" Suster bagaimana keadaan kaki saya?" tanya Rani.
" Kaki ibu telah di amputasi." sahut suster itu datar.
" Apa?! " beliak Rani kaget. Dia tak percaya ucapan suster itu. Lantas suster itu menyingkap selimut yang menutupi kaki Rani.
Benar saja, kaki kanannya kini tinggal sebatas lutut!
Mata Rani membulat tak percaya! Hatinya syok tak kuat menerima kenyataan itu.
" Ti..dak....! Tidak...!!" jerit Rani histeris. Dia langsung membayangkan masa depannya yang hancur. Karena tak memiliki sepasang kaki yang utuh.
" Kembalikan kaki ku. Aku tidak mau cacat!" serunya berurai air mata.
" Ibu harus tenang. Jangan berisik! Pasien lain terganggu karena ulah ibu," gertak petugas tajam.
" Ibu adalah tahanan kami. Ibu telah telah melakukan kejahatan yang fatal. Semua itu karena perbuatan ibu juga!"
Rani tergugu dalam isaknya. Keinginan untuk bebas dari tangan mami Zita telah membutakan matanya, sehingga nekad menculik putrinya Rey, dari pernikahannya dengan Tika. Yang kini telah jadi suaminya sendiri.
__ADS_1
Berharap dapat uang tebusan. Ia mengajak Tian, Alex dan Dody bekerja sama. Tapi rencana itu hancur dengan tertangkapnya mereka. Nyawa Tian kekasihnya malah hilang, dan ia kini terbaring di Rumah sakit dengan kaki yang tinggal sebelah.
Dan pastinya juga ia akan menunggu peradilan untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Dia memang akan terlepas dari tangan mami Zita, untuk masuk bui. Yang kemungkinan masanya akan lebih lama.
Mengingat Nadia yang kini anak seorang pengacara sekaliber Reno. Dia tak akan sulit untuk menjatuhinya hukuman berat.
Kini baru terasa sesal di hati Rani. Dia kini sendirian. Tak akan ada lagi yang sudi untuk melihat wajahnya.
Tidak juga dengan suaminya, yang telah ia tinggalkan beberapa bulan lalu. Apakah Rey masih hidup, setelah di tembak Tian?
***
" Mama.....Oppung....!! teriak Nadia begitu tiba di rumah. Meskipun badannya lemah, dia berlari sekencangnya masuk rumah.
Tika dan ke dua mertuanya yang duduk di ruang tamu, menunggu dengan cemas berita tentang Nadia. Sangat terkejut, saat mendengar teriakan Nadia.
Bergegas mereka menyongsong Nadia dan Reno.
Tika memeluk putrinya denga berurai air mata. Seakan tak percaya, berkali- kali Tika melepas tubub Nadia dan memeluknya kembali.
Tika melihat tubuh putrinya yang bertambah kurus dan tak terurus.
" Trimakasih Tuhan..." desah Tika dan kemnali memeluk erat tubuh putrinya.
" Bagaimana dengan para penculik itu. Apakah mereka tertangkap semua?" tanya pak David pada putranya Reno
" Jadi, ternyata Rani otak dari penculikan Nadia pa? Kurang ajar sekali," beliak Tika emosi.
" Sebelum tewas, Tian kekasihnya itu sempat menembak kaki Rani. Kini ia di rawat di Rumah sakit."
" Papa Rey juga terluka ma. Om Tian menembak papa Rey. Karena berusaha menyelamatkan, Nana. Papa Rey juga di rawat di Rumah sakit." timpal Nadia.
Tika menatap Reno suaminya dengan sejuta tanda tanya. Reno mengangguk membenarkan ucapan Nadia.
" Saat serah terima tebusan, Rani dan komplotan- nya hendak melarikan diri. Saat itulah Rey nekad menghadang sehingga terjadi pergumulan. Rey tertembak dan Tian juga di tembak polisi karena mengindahkan peringatan." papar Reno.
" Mama, kita bezuk papa Rey ya. Kasihan papa banyak keluar darah." bujuk Nadia sedih.
Iya, sayang. Nanti kita akan ke Rumah sakit, bezuk papa. Tapi, sekarang Nana harus di periksa dulu. Apa Nana baik- baik saja?" ucap Tika khawatir.
" Nadia baik- baik saja, Ma. Tadi sudah di periksa oleh paramedis." jelas Reno.
" Kalau begitu, Nadia mama mandikan dulu."
" Mama, adek Bimo, mana. Nana kangen sama dedek."
" Dedek Bimo juga kangen. Tapi Bimo lagi tidur sayang. Nanti aja yah ketemunya, kalau sudah bangun."
__ADS_1
" Iya ma. Nana juga kangen sama mama," Nadia kembali memeluk erat mamanya. Yang di sambut penuh haru oleh Tika.
****
Rey tengah duduk di atas ranjangnya, di kamar Rumah sakit tempat ia di rawat. Dia menatap lepas ke arah jendela yang terbuka.
Hari ini dokter bilang lukanya sudah agak baikan. Jadi sudah boleh duduk. Untunglah peluru yang menembus tubuhnya tidak mengenai organ tubuhnya. Sehingga lukanya tidak terlalu parah.
Rey masih tak percaya akan ke nekatan istrinya, yang menjadi otak penculikan Nadia. Dan hilangnya istrinya selama ini adalah karena ia telah terperangkap pada mafia prostitusi. Rani di jebak oleh temannya.
Pantasanlah dia tidak berhasil melacak istrinya.
Karena germo yang mempekerjakannya tidak akan melepas begitu saja anak buahnya. Kemana-mana mereka pasti di kawal, jadi tak mudah untuk melarikan diri.
Dari keterangan yang dia peroleh dari suster yang merawat istrinya. Istrinya juga di rawat di Rumah sakit yang sama dengan dirinya. Hanya saja istrinya mendapat pengawalan ketat dari pihak polisi. Karena statusnya tahanan polisi.
Orang yang paling bertanggung jawab atas kasus penculikan putrinya!
Kabar lainnya, kaki istrinya juga telah di amputasi.
Karena luka tembak yang tepat mengenai tempurung lututnya.
Rey menghela napasnya dalam, dan menghem - buskannya secara perlahan.
Tiba- Tiba ada ketukan di pintu. Rey menatap pintu yang kini terbuka. Muncul sosok Reno dan Tika, juga Nadia dan Bimo dalam gendongan Reno.
Rey terkejut sekaligus terharu.
" Papa..." sapa Nadia riang mendekati ranjang tempat papanya terbaring.
" Hai juga Nana, apa kabarmu sayang."
" Nana baik- baik saja, Pa. Papa juga harus lekas sembuh ya."
" Iya sayang,"
Reno juga menyapa di ikuti Tika.
" Makasih ya bang telah menyelamatkan, Nadia."
" Sama- sama. Aku juga meminta maaf atas perlakuan Rani." ucap Rey
" Sudah, semua telah terjadi. Biarlah hukum yang akan bertindak atas perbuatannya itu." ucap Tika yang tak ingin membahas soal Rani.
Tika tak ingin menyangkut paut Rey dengan perbuatan Rani. Jadi Rey tak perlu merasa bersalah apa lagi meminta maaf atas nama Rani.
*******
__ADS_1
Bersambung.