Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
14 .Rahasia yang tersingkap


__ADS_3

P0v Tika


Ketika suamiku pergi bersama tamu yang salah alamat itu. Dan ternyata beliau adalah orang tuanya, Rani. Berarti Pak Danu adalah mertuanya suamiku.


Kalau saja aku tidak mencuri dengar percakapapn Pak Danu, aku mungkin tak akan pernah tau siapa


beliau sebenarnya.


Kali ini kemarahanku tak bisa di bendung lagi. Aku akan ke rumah ibu mertua. Dengan membawa serta bukti foto- foto yang di kirimkan oleh orang misterius itu. Juga vidio yang dikirimkan Dira tempo hari.


Hari ini juga semua rahasia itu akan ku bongkar. Hari ini juga akan kubuat malu mereka. Jika menunggu rencanaku yang hendak membalik nama sertifikat mobil dan juga rumah baru yang ada di Medan itu. Akan memakan waktu yang sangat lama.


Kalau soal rumah yang kami tempati sekarang memang sudah aku amankan. Dan rumah ini adalah atas namaku.


Aku sudah tak punya kesabaran lagi. Lebih baik aku yang pergi dan keputusan ini sudah bulat. Aku tak bisa mentolelir penghianatan suamiku.Saat inilah waktu yang tepat kurasa membongkar rahasia itu.


Setelah menitipkan Nadia ke rumah ibunya Pipit, aku bergegas menuju rumah Mama mertua. Tidak sampai lima belas menit aku sudah tiba di rumah Mama mertua. Mobil Bang Rey masih terparkir di halaman.


Aku sengaja memarkir motorku di luar pagar. Agar mereka tidak mengetahui kehadiranku. Aku tidak


langsung mengetuk pintu. Kutunggu beberapa menit, untuk mengumpulkan kekuatanku. Sekaligus menunggu situasi yang tepat.


Samar- samar aku medengar suara orang berbicara


dan sepertinya itu adalah suara Pak Danu. Sepertinya beliau marah, tapi tak jelas apa masalahnya.


Aku mendorong pintu perlahan. Untunglah pintu tidak tertutup rapat, sehingga memudahkanku membukanya.


Ternyata mereka tengah di ruang makan. Sehingga


tak satupun yang menyadari kehadiranku.


" Kamu harus menceraikan istrimu itu, Rey. Karena Bapak tidak mau Rani di perlakukan seperti ini."


Deg!.


" Saat ini aku tidak bisa lakukan itu, Pak. Apalagi istri saya tengah mengandung," protes suamiku.


"Lalu sampai kapan kamu akhiri semua ini. Kamu harus segera ambil keputusan. Kalau kami tau kamu berbohong waktu itu.Pernikahan kalian ini tidak akan pernah terjadi,"


"Pak, aku sangat mencintai Bang Rey, karena itulah aku rela jadi orang kedua," ucap Rani.


" Kamu ini, benar- benar bodoh, Rani. Kamu terlalu di butakan oleh cinta. Apa kamu tidak memikirkan masa depan kamu. Sampai kapan kamu seperti ini." sentak Pak Danu penuh kemarahan.

__ADS_1


Meskipun aku telah mengetahui bahwa suamiku telah menikah diam- diam. Ketika mendengar secara langsung pernyataan itu. Hatiku seperti di hantam sebongkah batu.Sangat menyakitkan!


" Hem...bagus! Benar- benar perempuan tidak tahu malu. Ternyata selama ini kamu adalah l*nt* suamiku. Perempuan menjijikkan, perempuan hina.


Berani- beraninya kamu mengakui mencintai suamiku. Secara jelas kamu tau dia adalah suamiku," sergahku tiba- tiba. Ke empat wajah di hadapanku pucat pias melihat kehadiranku.


"Ti..Tika!" seru mereka hampir bersamaan. Mata suamiku membulat melihatku tak percaya. Seperti orang linglung dia tak tau mau berkata apa.Apa lagi Mama mertua, ekspresinya itu hampir membuatku terbahak.


"Adek, apa yang kamu lakukan di sini. Mana Nadia,"


suamiku mencoba memegang tanganku. Aku menepiskan tangan itu, kasar.


" Jangan sentuh aku, bang. Aku jijik melihatmu!" sergahku.


"Dek, kamu jangan salah faham dulu. Abang bisa jelaskan semuanya," suamiku mencoba merengkuhku dalam pelukannya. Kudorong kasar lelaki yang telah hampir enam tahun ini jadi suamiku. Hingga jatuh terjengkang ke lantai.


" Apa lagi yang hendak kamu jelaskan, Bang!. Semua sudah cukup jelas, ternyata selama ini kamu pelihara pela*ur di rumah ini. Dan kamu sebut dia saudara sepupu kamu. Laknat kamu bang!" teriaku histeris. Kutendang kakinya bertubi- tubi, hingga sebuah suara menghentikanku.


" Cukup, Tika! Kamu sangat keterlaluan. Hentikan!"


teriaknya lantang! Rani kini telah berdiri di hadapanku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Rani.


" Kamu bilang apa tadi! Kamu bilang aku keterlaluan. Apa kamu tidak salah ngomong, hah!


Rani menjerit pilu! Dia sama sekali tak menduga perbuatanku. Bahkan sama seperti Bang Rey aku juga telah menendang dan menginjaknya. Hingga aku merasakan tubuhku di guncang, dan teriakannya menghentikan gerakanku.


"Cukup, cukup Tika!" sentakan tangan kekar itu menyadarkanku dari tindakan yang lebih sarkas lagi. Aku menatap puas melihat dua makhluk laknat itu terduduk di lantai.


Teriakan histerisku juga telah menarik perhatian tetangga, sehingga mereka berdatangan ke rumah Mama mertua. Salah satu dari merekalah yang tadi menarik tubuhku.


Sementara aku melihat wajah Mama mertua yang berubah pucat. Aku menatapnya sarat kebencian.


"Sekarang bagaimana, Ma. Mama yang kuhormati, ternyata tega menusukku. Mama pelihara ular ini dan membiarkan mereka jadi pasangan mesum di bawah hidung Mama. Kenapa Ma? Ayo jawab Ma!.


Mama jangan diam begitu saja. Ayo jawab!" seperti orang kesetanan aku meracau tak tentu arah.


"Tika, tenang. Apa sebenarnya yang telah terjadi, kenapa kamu jadi seperti ini," suara lembut itu menyadarkanku dari prilakuku yang bringas


Ya,Tuhan. Apa yang telah terjadi padaku. Aku membatin dalam hati. Aku melihat suamiku dan Rani yang masih terduduk di lantai. Aku melihat kondisi Rani yang awut-awutan. Sudut bibirnya mengeluarkan darah bekas tamparanku.


Begitu juga dengan suamiku, tak kalah kacaunya. Dia hanya tertunduk, tak mampu membalas tatapan orang-orang yang penuh tanya.


Aku melepaskan diriku dari cekalan seorang pria, yang ternyata adalah Pak Rt. Aku merapikan rambutku yang juga berantakan. Mungkin saja tadi Rani sempat memberi perlawanan.

__ADS_1


"Sebenarnya ada masalah apa ini, bu Hesti. Kok bisa terjadi kekacauan di rumah Ibu," Mama mertuaku diam seribu bahasa. Tak berani menatap Pak Rt. Mungkin saja Mama mertua syok tak menduga akan terjadi kejadian memalukan seperti ini.


"Sebenarnya, ini hanya kesalah fahaman saja, Pak Rt. Menantu saya tiba- tiba datang dan melabrak suaminya, dan Rani." akhirnya keluar juga ucapan Mama mertua. Tapi aku kaget saat mendengar ucapannya, yang menyalahkan aku.


"Masak sih si Tika marah- marah tanpa jelas. Yang bener ajalah Bu Hesti," celetuk seorang ibu dari balik kerumunan."


" Ya betul, gak mungkinkan ada api kalo gak ada asap, iya kan bu Ibu." celetuk seorang ibu lagi.


" Betul....." di sahuti koor ibu- ibu yang lain.


" Ya, sudah Ibu- ibu. Keluar dulu, jangan bikin keributan. Kita akan selesaikan masalah ini secara baik-baik," ucap Pak Rt, menenangkan para ibu- ibu.


"Huuuuu....." sorak ibu-ibu serempak lalu keluar dari rumah mertua. Masih terdengar bisik- bisik mereka di luar sana.


" Baiklah, saya mohon penjelasan dari Ibu Hesti, apa sebenarnya yang telah terjadi, di rumah ini."


Aku menatap tajam kearah Bang Rey, suamiku yang dengan bersamaan menatapku juga dengan sorot mata penuh kebencian. Aku juga membalas tatapan mata itu dengan ekspresi yang sama.


"Seharusnya Istri sayalah yang menjelaskannya Pak Rt, kenapa dia tiba- tiba datang dan menyerang aku dan Rani." ujarnya dengan enteng seolah tak punya salah.


"Oke, aku akan jelaskan semuanya, kenapa aku jadi seperti orang gila Pak Rt. Tapi sebelumnya aku minta penjelasan lebih dulu. Apa arti semua foto- foto ini." ucapku santai lantas melemparkan sejumlah foto di atas meja.


Sontak Bang Rey melotot, juga Rani dan Mama mertua melihat foto yang berserakan di atas meja.


" Apa- apaan kamu, Tika!" serunya menatapku dengan wajah memutih.


"Aku yakin mata Abang belum rabun, untuk bisa melihat foto- foto itu." ucapku penuh penekanan membuah wajah itu ekspresinya berubah- ubah. Antara memerah dan pucat pias.


"Bukannya foto ini, foto pernikahan nak Rey dan Rani. Jadi selama ini Rani adalah menantu bu Hesti. Bukan saudara sepupunya, Rey. Seperti yang kami ketahui selama ini?" ucap Pak Rt seraya tak henti mengeleng- gelengkan kepalanya.


" Dan Bapak ini siapa? " tanya Pak Rt lagi yang baru menyadari kehadiran pak Danu.


" Saya Danu, Bapaknya Rani."


"Jadi Bapak juga sudah tau hal ini, sebelumnya,"


" Saya baru tahu tadi, Pak. Yang saya tau selama ini


Rey adalah seorang duda, ketika menikah dengan anak saya."


" Astaga! Kok bisa- bisanya terjadi seperti ini, Bu. Ibu memanipulasi surat keterangan izin menikahnya, anak ibu." ucap Pak Rt tak habis pikir.


bersambug....

__ADS_1


chapter: Makasih atas dukungan pembaca setia saya, yang memberi like n koment yang tidak bisa saya sebut namanya satu persatu. Mohon dukungannya ya, agar saya bisa up terus๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2