Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
42


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, saat pulang sekolah wajah Nadia selalu riang. Tapi kali ini wajahnya nampak lesu. Dan wajah Nadia sembab.


Sepertinya dia habis menangis. Apa yang telah terjadi ya? Apakah Nadia berantam di sekolahnya.


Bisik hati bu Nita, keheranan.


" Kamu kenapa sayang, wajahmu kok sembab. Kamu habis menangis, ya?" cecar bu Nitapada cucunya.


Yang di tanya malah tertunduk, diam.


" Nana gak apa- apa Oppung, cuma capek. Nana bobo siang dulu, ya." Nadia jalan menuju kamarnya. Tanpa membuka seragamnya, Nadia naik ke tempat tidur.


Pikiran Nadia kembali menerawang ke kejadian tadi di sekolah. Nadia tak menyangka kalau satpam baru di sekolahnya adalah papanya sendiri. Yang telah lama menghilang dari kehidupannya.


Sejak papa memukul mamanya waktu itu, papa tak pernah muncul kembali. Papa Renolah yang selalu hadir menemaninya. Saat dia rindu pada papanya. Papa Renolah yang mengantikan kehadirannya.


Pikirannya masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Nadia masih ingat mama sering menangis saat malam. Di saat Nadia tertidur, mama pasti menagisinya.


Nadia bingung. Tapi dia juga bisa mengerti, bahwa papalah yang menjadi penyebab semuanya.


Penyebab kenapa mereka harus pindah rumah terus. Mungkin mama takut papa mencari mereka.


Tapi, sekarang kenapa papa ada di sekolah Nana. Apakah papa akan berbuat jahat lagi pada mama. Atau pada Nadia?


Apakah papa Reno akan pergi kalau kalau papa nya muncul lagi?


Apa kata mama kalau, kalau mama tau bahwa om Felix yang selalu Nadia ceritakan adalah papanya sendiri?


Nadia suka sama om Felix , karena sering bercerita dongeng saat jam istirahat di sekolah.


Kenapa om Felix bohong, kalau dia adalah papa Rey.


Beruntun pertanyaan dalam benak kecil Nadia. Dan tak satupun yang bisa ia jawab. Yang ada adalah rasa takut dan khawatir.


Hingga akhirnya Nadia tertidur lelah oleh pikirannya.


Derrrtttt....


Gawai Reno bergetar di atas meja kerjanya. Reno meraihnya dan membuka aplikasi berlambang telepon hijau. Nomor yang tertera adalah nomor mamanya.


Reno heran, tak biasanya mama menghubungi nya kalau tidak perlu betul.


"Shalom...ada apa ma?" Reno menjawab salam mamanya dari seberang.


" Nadia, Ren. Pulang sekolah wajahnya lesu. Sepertinya dia habis menangis. Mama khawatir padanya,"


" Nadia gak ngomong apa sama, mama?"


" Gak, udah mama tanya. Katanya capek aja. Sekarang udah ketiduran di kamarnya. Gak mau makan. Mana seragamnya juga belum di ganti."


" Tika sudah tau, ma?"


" Belum. Mama telepon kamu duluan. Mama takut terjadi apa-apa nanti sama nak Tika. Kalau mama cerita samanya.


" Oke ma, bentar lagi aku pulang. Aku makan siang di rumah saja." Reno meletakkan gawainya.


Dia merasa aneh dengan laporan mamanya.


Apa ada sesuatu yang terjadi pada Nadia? Dan ia menyembunyikannya?

__ADS_1


Reno benar- benar penasaran dan bergegas keluar dari kantornya. Setelah memberi pesan pada Sita.


Sita heran tak biasanya atasannya pulang ke rumah mau makan siang. Tapi Sita gak berani bertanya, karena wajah serius yang di tampilkan bosnya.


" Mana Nadia,ma?" tanya Reno begitu tiba di rumah. Bergegas ia ke ke kamar Nadia. Di bukanya pelan pintu itu.


Di lihatnya Nadia tergolek tidur. Ada bekas air mata yang mengering di sudut mata Nadia. Reno begitu terenyuh melihat Nadia.


Entah apa yang ada dalam pikirannya. Reno duduk di tepi ranjang, mengamati Nadia yang tidur pulas.


"Papa.., papa jangan pergi..!" teriak Nadia dalam mimpinya. Nadia terjaga dan membuka matanya. Matanya menangkap sosok papa Reno. Sekilas, Nadia terkejut. Dia mengucek matanya seolah tak percaya.


" Kamu mimpi buruk sayang," Reno memeluk tubuh Nadia erat. Memberinya kenyamanan agar Nadia tidak takut.


" Papa, benarkah ini papa?"


" Iya , ini papa sayang,"


" Papa! Nana takut pa," Nadia kian mengetatkan pelukannya pada Reno. Dan menangis.


"Gak papa sayang, papa di sini untuk Nana." Reno mengelus punggung putrinya. Nadia makin terisak.


"Ah, betapa rapuhnya jiwa Nadia" Reno menebak pasti telah terjadi sesuatu pada putrinya, yang membuat dia terguncang seperti ini.


Reno tak ingin buru-buru bertanya apa yang telah terjadi. Reno ingin Nadia tenang dulu.


" Kok, papa udah pulang?"


" Papa rindu dengan,Nana. Papa pengen makan siang bareng Nana. Nana udah makan siang belum?" Nana terdiam. Tapi perutnya memang sudah lapar.


Makan siang bareng papa, pasti asyik pikirnya. Sejenak Nana lupa kejadian di sekolahnya.


" Eits, ganti seragam dulu ya,"


" Iya, Pa," Nadia lekas mengganti seragam sekolahnya. Dan beriringan menuju meja makan.


Nadia makan dengan lahapnya, seolah dalam hatinya tidak ada beban lagi. Apa lagi karena di temani papanya.Nadia paling senang makan bersama bareng papanya.


Tapi karena kesibukan papanya, mereka hanya rutin makan bersama saat pagi. Dan kalau papanya libur kerja.


Reno memadangi Nadia yang makan dengan lahapnya. Seolah tanpa beban. Padahal Reno sangat penasaran dengan mimpi Nadia.


Ini kali ke dua Reno mendengar Nadia dengan menyebut" papa jangan pergi" . Entah pada siapa kalimat itu di tujukan. Apakah padanya atau pada ayah kandungnya.


Hampir tiga tahun Reno tak pernah bertemu atau mendengar kabar tentang Rey. Ayah biologis Nadia dan Bimo.


Dan selama itu pula Nadia juga tak pernah bertemu ayah kandungnya. Sebagai seorang anak dia pasti rindu pada ayahnya. Walau samar mengingat usianya yang masih kecil waktu itu. Ingatan Nadia tentang ayahnya pasti terekam dalam memorinya.


Usai makan siang, Reno mengajak Nadia ke taman belakang. Dia ingin mengorek keterangan apa ada yang terjadi di sekolalhnya.


Nadia sedang asyik memberi makan kelincinya di kandang. Wortel di tangannya dalam sekejap saja habis di makan kelinci peliharaannya.


" Nana, papa boleh tanya sesuatu?" ucap Reno hati- hati. Pandangan Nadia teralih ke papanya.


" Tanya apa, Pa?"


"Tadi di sekolah Nadia belajar apa saja?" tanya Reno, siapa tau ada pelajaran yang membuat hatinya sedih.


"Kami belajar berhitung, pa. Trus bernyayi. Itu aja," sebut Nadia enteng.

__ADS_1


" Trus, apa ada yang nakal sama , Nana.?" selidik Reno seraya mengamati gerak tubub Nadai.


"Gak, kok. Tapi..." tiba-tiba wajah Nadia berkabut. Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Membuat Reno makin penasaran.


" Tapi kenapa, Nana?" kejar Reno lembut. Reno berusaha bersikap rileks agar Nadia nyaman bercerita.


" Papa jangan cerita sama mama, ya!" teriak Nadia spontan. Reno terlonjak kaget melihat reaksi Nadia.


" Kenapa tidak boleh cerita sama, mama. Apa mama gak boleh tau, ya."


" Nanti mama sedih dan nangis lagi." tiba-tiba Nadia terisak lagi. Dengan sabar, Reno menunggu Nadia bercerita.


Cukup lama juga, Reno menunggu.


" Tadi Nadia melihat papa Rey. Om Felix adalah papa Rey." Nadia menceritakan apa yang ia lihat


tadi di sekolah.


Reno sangat terkejut!


Reno terdiam beberapa saat!


Reno teringat cerita Nadia tempo hari. Katanya dia punya teman baru di sekolah. Om Felix, nama


nya.


Satpam baru di sekolahnya!


Katanya Om Felix itu sering bercerita dongeng padanya saat jam istirahat.


Sekilas, bayangan satpam yang selalu pakai topi dan tak lepas dari masker itu melintas di mata Reno.


Apakah Rey secara tak sengaja bekerja di sana?


Atau selama selama ini telah mengintai mereka?


Apakah dia tengah merencanakan sesuatu?


Mendadak Reno merasa cemas. Takut kalau Rey dendam padanya sehingga mencelakakan Nadia.


Tapi apa iya, Rey akan berbuat senekad itu, mengingat Nadia adalah putri kandungnya. Dan seperti apa reaksi Tika bila tau hal ini.


Reno, mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa serba salah.


" Papa, papa kenapa?" guncang Nadia pada tubuh Reno karena melihat papanya yang cukup lama terdiam.


" Nana mau janji sama, papa?" tanya Reno serius.


"Janji apa,pa?"


" Mama tidak boleh tau hal ini. Nana jangan cerita siapapun kalau Om Felix adalah papa Nadia. Papa mau bicara sama Papa Rey. Nana juga gak usah dekat-dekat dulu, ya."


" Maksud papa, papa mau mengusir om Felix dari sekolah , Nana?"


" Tidak sayang. Karena itu papa mau bicara dulu sama papa Rey, ya."


" Iya pa, Nadia janji. ****(


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2