
Rani terduduk lemas di kursi pesakitan. Saat hakim menjatuhkan vonis hukuman seumur hidup bagi Rani. Sementara Alex dan Dody masing- masing lima tahun penjara.
Karena Ranilah otak dari penculikan itu, sehingga hukumannya lebih berat."
Rani tertunduk, tak bisa bicara sepatah kata pun. Ia hanya diam, pasrah menerima hukuman yang di jatuhkan padanya.
Baginya hukuman berapa tahunpun sudah tak berpengaruh apa- apa lagi . Semangat hidupnya telah mati. Begitu ia telah kehilangan salah satu kakinya.
Rani teringat percakapnnya kemarin dengan Rey suaminya . Semua ucapan suaminya bagai libasan cambuk yang membuat hatinya makin patah.
" Kamu terlalu Rani, bagaimana kamu bisa rencanakan kejahatan itu. Tanpa berpikir akibatnya."
" Maafkan aku bang. Aku khilaf. Saat itu aku hanya ingin terbebas dari tangan mami Zita."
" Tapi tidak dengan cara seperti ini. Kamu telah melakukan kesalahan besar. Akibatnya fatal sekali. Dan kamu juga yang merasakannya." kecam Rey. Rani menangis mendengar ucapan Rey. Baru kali ini dia menyesali perbuatannya.
Hatinya yang begitu egois, yang menjadi perusak rumah tangga Tika. Bahkan dia tega menculik anakanya Tika, karena hendak melampiaskan dendamnya pada Tika.
Akhirnya karma berlaku baginya. semua oerbuatan jahatnya mendapatkan balasan yang setimpal. Dia di penjara seumur hidupnya plus bonus lagi, kehilangan sebelah kakinya.
" Mari bu, " tiba- tiba ucapan seorang petugas membuyarkan lamunan Rani. Petugas yang mendorong kursi rodanya, membawanya ke luar ruangan.
Rani menatap ke arah kursi pengunjung. Rani melihat keluarga Tika tersenyum bahagia. Mungkin mereka puas mendengar vonis hukuman yang di jatuhkan padanya.
Tak jauh dari posisi Tika, Rani juga melihat suami dan mertuanya juga berdiri memandang ke arahnya. Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Rani tak bisa menebaknya. Karena ekspresi mereka berbanding terbalik dengan Tika.
Sikap mereka lebih datar, cendrung ke dingin. Rani mengalihkan pandangannya. Dia tak berani untuk meminta maaf. Dia tak pantas di maafkan.
***
Tika merasa bersyukur, akhirnya Rani di hukum sesuai dengan perbuatannya. Walau hatinya merasa iba juga. Karena Rani sekarang telah kehilangan sebelah kakinya.
Semoga saja Rani, menyesali semua perbuatan - nya. Dan tidak lagi menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padanya.
Sehingga nantinya ia mau berubah untuk menjadi lebih baik.
Kebahagian dalam keluarga Tika, makin lengkap.
Saat Tika kembali melahirkan seorang putra yang sangat tampan.Buah cinta kasihnya dengan Reno.
" Puji Tuhan! Makasih ya sayang, telah melahirkan
nya ke dunia ini. Kamu memang bidadariku yang cantik dan tangguh," bisik Reno dengan suara tercekat. Reno menciumi pipi dan kening istrinya. Reno tak mampu menahan rasa haru. Saat melihat perjuangan istrinya melahirkan putranya.
Tak hentinya Reno mengucap syukur pada Tuhan karena istri dan anaknya selamat dan sehat.
Tika juga tak kalah bahagianya. Karena telah mempersembahkan seorang putra untuk suaminya Reno. Seorang anak yang begitu ia dambakan.
Tanpa pernah membandingkan kedua anaknya dari pernikahannya terdahulu. Tika melihat sikap dan perhatian suaminya tetap tak berubah. Bahkan perhatiannya lebih bertambah apa lagi saat Nadia di culik.
Rasanya tak ada lagi mimpi yang ingin di raih kecuali i gin mempertahankan dan menjaga semua kebahagian ini agar tetap jadi miliknya.
Memiliki suami dan anak- anak yang dia kasihi dan cintai. Semoga semua ini Tuhan berikan jadi miliknya selamanya.
" Papa, aku mau gendong dedek," rengek Bimo pada Reno.
" Ntar ya, Bim. Dedeknya besal dulu."
" Iya dek, nanti adek kita jatuh. Iyakan, pa." bujuk Nadia pada Bimo yang bersikeras mau gendong adek kecilnya.
" Ciumnya boleh kan , Pa?" suara Bimo begitu memelas, dengan mimik wajah yang begitu lucu. Reno dan Tika tersenyum.
__ADS_1
" Boleh sayang," sahut Tika seraya mengelus kepala putranya. Reno menggendong bayinya lalu duduk di sofa. Bimo dan Nadia menghampiri papanya. Dan mencium pipi adek kecilnya
" Pa, nama dedek siapa ya?" tanya Bimo."
" Bimo dan Nana maunya siapa?" balik tanya Reno. Bimo dan Nadia saling pandang dan berpikir keras mau kasih apa nama dedeknya.
" Gimana kalo nama dedeknya Abi, Pa?" cetus Nana.
" Bimo suka kak, nama dedek Abi." Tika dan Reno berpandangan. Reno menaikkan alisnya seraya tersenyum. Tika mengangguk tanda setuju.
" Sepertinya mama setuju dengan nama itu," timpal Reno.
" Iya, mama suka nama itu, sayang." ujar Tika.
" Hore, aku juga suka nama dedek, Abi."
" Hmmmm, bau adek Abi, wangi ya, Pa." seru Bimo lucu.
" Bang Bim, juga wangi kok. Iya kan dek?" balas Reno dan balik bertanya pada si dedek. Seperti ngerti aja ucapan papanya. Si dedek nangis dengan kencang.
" Ha..ha...si dedek nangis Pa. Jangan nangis dek, ada abang Bim di sini. Papa nakal ya dek!" seru Bimo. Semua tertawa mendengar ucapan Bimo yang polos.
" Sepertinya adek eek, nih. Bang Bim mau gak bersihkan ee dedek?" goda Reno.
" Uwek... Papa aja deh, bang Bim kan masih kecil. belum bisa pegang dedek," sahut Bim berkilah.
" Tuh kan, bang Bim gak sayang ama dedek. Sini Pa, biar Nana aja yang bersihin ee dedek," Nadia mendekati papanya. Reno tertawa ngakak melihat polah Nadia dan Bimo.
" Tuh, liat mama. anak- anak pada rebutan," kelakar Reno. Penuh tawa bahagia.
" Udah, sini biar Op**pung saja yang bersihkan." pak David juga ikutan nimbrung.
" Kenapa tidak. Waktu kamu kecil dulu papa yang rawat kamu,"
" Ha...ha... itukan udah tiga puluh delapan tahun silam, pa."
" Aduh Reno, tuh cucu mama udah nangis terus, jangan di candain terus. Sini mama yang ganti," akhirnya Reno menyerahkan bayinya sama mamanya. Lalu bu Nita menganti popok cucunya dengan hati yang di buncah kebahagiaan.
Akhirnya dia di anugrahi seorang cucu yang tampan. Cucu yang telah lama ia dambakan bersama suaminya.
Dan kini genaplah cucunya tiga orang. Seperti harapannya, rumah mereka kini di ramaikan oleh tawa dan tangis cucu-cucunya.
Di tengah suara riuh mereka yang saling bercanda, dan lengkingan suara bayi . Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
" Pa, sepertinya ada tamu tuh," ucap Tika pada suaminya.
" Sebentar ya, papa lihat dulu," Reno beranjak dari kamar dan hendak melihat siapa yang datang.
Saat pintu di buka, ternyata tamu yang datang adalah Rey dan mamanya. Reno agak terkejut juga melihat ke datangan tamunya.
" Eh, pak Rey dan ibu, Silahkan masuk bu," ucap Reno ramah.
" Maaf ya, kami datang tanpa minta izin lebih dulu. Kami dengar nak Tika telah melahirkan. Kalau nak Tika tidak berkenan kami datang, kami akan pulang,"
" Oh, silahkan duduk dulu bu. Saya akan bilang ke istri saya dulu. Kalau ibu datang." Reno berbalik menuju kamar.
" Gimana ini nak. Jangan- jangan nak Tika tidak suka kita datang ke mari." desah bu Hesti resah. Tadi dia lah yang mendesak anaknya Rey untuk datang ke rumah ini.
Selain untuk membezuk, dia juga ingin meminta maaf pada mantan menantunya itu.
" Sudahlah ma, jangan berpikir yang bukan- bukan. Kalau Tika belum bisa memaafkan kita, itu hak nya."
__ADS_1
" Iya nak, mengingat perlakuan mama dulu, rasanya mama tak layak di maafkan. Mama merasa malu berani datang ke sini,"
Di kamar.
" Siapa yang datang, pa?" tanya Tika.
" Tamunya adalah Rey dan mamanya." bisik Reno hati- hati. Takut istrinya akan marah dan mengusir mereka keluar. Reno memegangi tangan istrinya. Menatapnya lembut.
" Trus mereka di mana?"
" Masih di ruang tamu, mama gak marah kan mereka datang ke sini. Membezukmu? Kalau mama gak mau, biar mama suruh mereka pergi."
Tika terdiam sejenak, memikirkan sesuatu harus bagaimana bersikap pada mantan mertua dan suaminya.
Mungkin ini saat nya memberi maaf pada mereka. Melupakan semua masa lalu yang pahit yang pernah mereka toreh dalam kehidupannya.
Karena kini dia telah berbahagia dengan keluarga barunya. Yang lebih mencintai dan mengasihinya
menerima apa adanya dirinya.
" Bagaimana sayang? Jika kamu belum siap jangan memaksakan diri kamu," tatap lembut Reno meluruhkan hati Tika. Juga semua luka yang bertahta di hatinya.
" Makasih ya Pa atas dukungnnya. Rasanya mama siap bertemu mereka."
" Benarkah? Kamu memang istriku yang hebat. Papa semakin sayang dan cinta kamu," bisik Reno mesra, seraya mengecup pipi Tika.
Sepertinya hari- hari menjelang akan terasa lebih, indah. Saat hati jiwa menemukan telaga kasih untuk memenuhi dahaga.
Entah sesulit apapun masalah datang, bila kita berjuang dan bertahan. Niscaya kebhagian itu akan datang seiring waktu.
Berserah pada Tuhan selalu, karena Tuhanlah penyuluh jalan dalam kegelapan. Tamat.
Hai- hai para pembaca setiaku, terima kasih banyak atas dukungannya selama ini padaku.Walau aku tak sebut satu persatu namanya. Peluk cium dari aku ya, untuk semuanya.😍😍😍😍
Tanpa kalian semua aku ini tak ada apa- apanya. Kalianlah semangatku, pendukungku.
Kita saling mendoakannya biar kesehatan selalu milik kita dan di kuatkan Tuhan manjalani hari- hari kita selanjutnya. amin.
Mohon dukungannya selalu, agar aku bisa menelurkan karya tulis lagi.
Mohon koreksi, komen pada karyaku,ya.
Sampai jumpa lagi pada tulisan berikutnya, ya, ya.
Salam jumpa lagi, daaaahhhhh
Salam dari aku. Dari kota Padangsidimpuan
Horasss!!!!!
Untuk pembaca setiaku
Intip juga karya baruku , ya.
Hati yang terpasung
Cinta Airin
Suamku kekasih sahabatku
Ketika cinta menyapa.
__ADS_1