
Seminggu setelah kejaduan du rumah mama mertua. Bang Rey tidak pernah datang lagi ke rumah. Sekedar melihat putrinya, Nadia atau mengambil baju- baju miliknya.
Semua surat- surat yang berhasil aku ambil dsri nereka telah aku amankan. Karena aku khawatir bisa saja Bang Rey akan memintanya kembali. Baik dengan kekerasan atau dengan cara baik- baik.
Dan untuk membuat statusku lebih jelas, ku pikir lebih baik saja aju mengajukan cerai. Karena bagiku sudah tak mungkin lagi mempertahankan pernikahan ini, setelah apa yang mereka lakukan padaku.
Lebih baik aku fokus menata kehidupan sekarang. Walaupun akan sangat sakit mengambil keputusan ini, bagiku saat ini perpisahan adalah pilihan yang terbaik.
Mungkin semua ini tidak akan mudah menjalaninya akan ada yang terluka itu sudah pasti. Terutama untuk anakku Nadia. Bocah kecil yang seharusnya bergelimang kasih sayang dan cinta kedua orang tuanya harus menerima dan melihat kenyataan pahit bahwa kedua orang tuanya harus hidup berpisah.
Bila mengingat hal tentang Nadia, terkadang hati ini luluh untuk menerima dan pasrah saja. Demi kebahagiaanya mungkin aku bisa bertahan akan semua perlakuan ayahnya. Dan mungkin dengan waktu semuanya akan terhapus.
Tapi, rasa sakit ini juga tak bisa kuabaikan begitu saja. Aku malah ragu apakah Nadia akan mendapatkan kebahagiaan bila orang tuanya dalam hal ini aku, mampu menciptakan keluarga sempurna baginya saat dia melihat bahwa cinta ayahnya telah terbagi.
Mampukah aku sebagai ibunya, mengesampingka
sakit hatinya dan memberinya kehidupan keluarga yang sempurna? Jujur saja aku tak mampu. Entah kalau ada perempuan tangguh seperti itu di luar sana, aku beri acungan jempol kedua ibu jariku.
Mungkin saat uni Nadia belum busa mengerti, tapi seiring waktu berjalan sampai ia dewasa kelak, dia akan mengerti keputusan yang di ambil ibunya. Bahwa semua itu adalah utuk kebaikannya juga.
Sekarang tantangan yang harus kuhadapi, bagaimana caranya menyelesaikan semua perkara ini agar aku mendapat status yang jelas.
Kalau menunggu Bang Rey bertindak, aku yakin dua tidak akan semudah itu melepaskan aku. Jadi percuma menunggunya mengurus perceraian.
Bertindak lebih dulu akan lebih baik.
Sementara dalam hal- hal seperti ini aku tidak tau bagaimana cara mengurusnya tanpa bantuan seseorang. Tapi aku juga bingung siapa orang yang harus kumintai bantuan. Yang bisa faham dan mengerti masalahku.
Sehingga segala urusan dalam perkara perceraianku nantinya tidak menemui banyak kendala dan menguras banyak waktu uang dan tenaga.
Tiba- tiba saja teringat pada Pak Rt yang datang ke rumah mama mertua waktu itu.
Segera ku ambil ponselku dan ku tekan beberapa nomor. Lalu aku memencet tombol panggilan pada aplikasi belogo telepon warna hijau.
Nomor yang aku tuju langsung aktif dan terdengar suara menyapabdi seberang sana.
" Selamat siang Pak, ini aku Tika Hapsari," kuperkenalkan diriku agar beliau tidak bingung.
__ADS_1
" Oh, nak Tika, ya. Ada perlu apa ya?"
" Boleh saya minta no wa pengacara yang tempo hari bapak bilang itu." aku mengingatkan beliau akan ucapannya saat di rumah mertua.
" Oh, boleh. Nanti bapak akan menghubunginya, biaar bapak suruh dia menghubungi, nak Tika."
" Trima kasih ya, Pak,"
"Sama- sama nak Tika." akupun menutup telepon.
Selang beberapa menit tiba- tiba masuk notipikasi telepon di wa, dari no yang tidak aku kenal. Aku mengangkatnya
" Halo, selamat siang, bisa bicara dengan ibu, Hapsari, saya dari biro bantuan hukum, Burangir," sebuah suara menyapa dengan ramah.
" Selamat siang juga, Pak. Ya, betul saya sendiri. Ini siapa ya?"
" Saya Ardyan. Saya mendapat informasi bahwa ibu butuh bantuan kami,"
" Iya, benar Pak,"
Ok, trimansih ya bu. untuk membicarakan masalah ibu, sebaiknya kita tatap muka ya, bu. Jadi saya mengundang ibu untuk datang ketempat yang saya tentukan. Atau bila ibupun yang menentukan tempatnya, silahkan bu, biar saya yang mendatangi ibu."
" Baiklah bu, kalau begitu aku tunggu ibu di sini," ucapnya seraya menyebut sebuah tempat yang cukup di kenal orang. Dan memang tempat itu cocok di gunakan orang sebagai tempat pertemuan untuk para pelaku bisnis.
****
Sore, sekitaran jam 3:30 aku mendatangi tempat seperti yang telah di sepakati. Aku mengajak Nadia serta, karena aku takut nanti kelamaan, terlalu merepotkan mamanya Pipit, menjaga Nadia. Mana anakku suka nangis dan susah di bujuk kalau di tinggal terlalu lama.
Tempat yang sungguh nyaman dan keprivasian terjaga di tempat ini. Sehingga kita nyaman membicarakan sesuatu tanpa merasa risih karena orang lain dengar pembicaraan kita.
Kulirik jam di ponselku masih tersisa waktu lima belas menit lagi, dari perjanjian. Untuk membuang waktu jenuh, aku mengajak Nadia ke area taman bermain yang ada di lokasi itu.
Nadia sangat senang bermain, terutama saat main seluncuran. Dengan senyumnya yang sumringah Nadia menikmati hiburannya. Berkali- kali aku ajak dia foto, dan aktipitasnya ku vidiokan.
Tanpa terasa waktu pertemuan kami sudah terlewat beberapa menit.Aku tersadar ketika sebuah suara menyerukan namaku.
" Nak Tika!" aku menoleh ke sumber suara ternyata pak Rt yang memanggilku. Buru- buru aku mengajak Nadia. Dan kuhampiri beliau. Tapi aku terkaget saat melihat sosok tinggi menjulang di sisi pak Rt. Wajah itu seperti tak asing bagiku, tapi aku lupa entah di mana pernah melihatnya.
__ADS_1
"Eh, bapak," aku menyalami tangan Pak Rt. Dan agak ragu aku mengulurkan tanganku ke arahnya. Apakah ini pengacara yang meneleponku tadi. Jadi ini pengacara yang di rekomendasikan pak Rt.
" Ini lo nak Tika, pengacara yang bapak bilang itu." "
" Oh, Iya pak," sahutku gugup. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan pandangan intens itu. Sepertinya pandangannya menyapu seluruh tubuhku.
" Kenalkan nama saya, Reno Ardyan," senyum hangat itu terpahat jelas di wajah itu. Lalu aku ingat tiba- tiba kejadian di jembatan dan rumah sakit seminggu yang lalu.
" Oh, Pak Reno, " sebutku salah tingkah. Aku tak menduga akan bertemu dengannya lagi. Dan malah butuh bantuan darinya.
"Hei.., apa kalian sudah saling kenal?" seru pak Rt kaget.
"Iya, Pak. Kebetulan sekali kami bertemu minggu lalu di Rumah Sakit."
"Ngapain nak Tika, ke Rumah Sakit? Nak Tika sakit ya," tanya pak Rt ingin tau.
"Gak pak, saya sehat- sehat saja, kok."
" Oh ya, nak Tika ini pak Ardyan pengacara yang bapak tawarkan waktu itu. Aku mengangguk, faham.
" Sebaiknya kita duduk du sana dulu," Reno menggiring langkah kami menuju meja yang telah dia pesan. Aku memegangi tangan kecil Nadia dan memangkunya, di pahaku. Karena kebetulan hanya ada tiga kursi di meja itu.
" Sebentar, ya," lalu saat datang dia telah membawa satu kursi lagi dan meletakkanya di sisiku. " Hai, adik manis kamu duduk sini, ya." tawarnya lalu menunjuk kursi di sebelahku. Nadia kuturunkan dan menurut saja naik ke kursi. Tapi karena ketingguan untuk ukurannya, dengan sigap Reno menggendongnya dan mendudukkannya di kursi itu. " Namanya siapa?"
" Nadia Om,"
" Hem, pinter. Saya om Reno," Reno mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Di balas Nadia, dan tangan mungilnya tenggelam di telapak tangan kekar itu. Nadia tersenyum senang. Menyaksikan itu, sepertinya ada yang mengiris hatiku. Buru- buru aku mengalihkan pandanganku, sepertinya ada kabut, aku takut akan ada gerimis.
Entah kenapa, hatiku mudah terbawa arus setiap kali melihat Nadia tersenyum bahagia karena berinteraksi dengan orang lain, bukan dengan papahnya sendiri.
" Oh ya nak Tika, apakah nak Tika sudah yakin dengan keputusannya," sela Pak Rt tiba- tiba, aku mengangguk yakin. " Baiklah kalau begitu. Persoalan nak Tika sudah saya ceritakan sama nak Ardyan, tapi untuk lebih jelasnya nak Tika sendirilah yang berurusan. Nak Tika jangan sungkan, Bapak ini pasti menolongmu."
"Mbak Tika sudah membawa berkas- berkas yang sudah aku minta," Reno menatap ku.
" Sudah Pak,"aku menyodorkan sebuah amplop coklat berisi berkas- berkas yang di butuhkan. Kulihat Reno memeriksa dengan serius berkas- berkas di tangannya. Lalu ia mengangguk.
" Oke, untuk sementara ini sudah cukup. Nanti akan saya tinjau lagi, Mbak. Karena ada desakan penting, minggu depan saya akan kirimkan surat panggilan ke rumah suami, Mbak. Jikalau ada hal-hal penting, Mbak boleh hubungi saya via wa atau datang ke kantor juga, boleh.,"
__ADS_1
Akhirnya oertemuan itu selesai, dan Reno janji akan menghubungi apabila ada hal- hal yang perlh di bahas. Terutama seputar tentang surat- surat berharga yangbsudah ada di tanganku. Reno menyarankan untuk menjaga hal- hak yang tidsk di duga, semua surat- surat, bukti- bukti perselingkuhan Bang Rey, baiknya di serahkan saja kepadanya. Supaya lebih aman.
" Karena sesuatu hal, aku tidak up beberapa hari ya lewat. Mohon maaf ya, semoga semuanya masih setia. Mohon like dan komennya biar up terus. Salam sehat buat kita semua, horas...." 🙏🙏🙏