Dustanya Suamiku

Dustanya Suamiku
39


__ADS_3

Berkali - kali Tika memandang jam yang tergantung di dinding. Matanya tak konsen melihat acara TV kesayangannya.


Hampir dua jam suaminya telat pulang!


Tika merasa gelisah!


Tadi sudah beberapap kali nomor wa suaminya di hubungi. Tapi tidak aktif.


Akhir- akhir ini , Reno sering terlambat pulang. Karena banyaknya kasus yang di tangani suami nya.


Tika mengerti, resiko pekerjaan suaminya sebagai seorang pengacara.


Tika tidak ingin berprasangka buruk. Perihal keterlambatan suaminya, pulang.Tapi malam ini ia begitu cemas. Mana hujan lagi!


Mungkin karena hujan, suaminya sulit di hubungi


Akhirnya Tika tertidur di sofa. Dengan TV yang masih menyala.


Pukul 23: 15 , Reno pulang. Dia terhalang oleh hujan deras yang membuat banjir di beberapa ruas jalan.


Saat dia melihat istrinya tertidur di sofa. Hatinya merasa bersalah. Tak seharusnya dia tadi menuruti ajakan Sherly untuk makan malam.


Sekalipun bukan dia saja yang di undang. Mereka ada beberapa orang. Termasuk Aga, juga ikut.


Jika hanya makan malam tentu tak sampai selarut ini, mereka pulang.


Tapi entah ide siapa, tadi habis makan malam mereka lanjut ke cafe nonton bareng. Penampilan sebuah group musik terkenal ibu kota. Yang sengaja di undang pemilik cafe.


Dan kebetulan, group itu group favoritnya semasa kuliah.


Reno segera membersihkan dirinya, mengganti pakaiannya denga piyama. Lalu ia masuk ke kamar anak- anak.


Membetulkan selimut Bimo dan Nadia.


Ketika Reno hendak berlalu dari kamar, Reno mendengar Nadia mengingau


" Papah, jangan pergi. Jangan tinggalkan Nana!"


Reno menghentikan langkah dan mengahampiri tempat tidur Nadia.


Ternyata Nadia bermimpi. Air matanya mengalir di ke dua sudut matanya. Reno mengusap kepala Nadia lembut.


Entah mimpi apa Nadia, sampai dia menangis dalam tidurnya.


Reno mencoba membangunkan Nadia dari tidurnya. Tapi Nadia cuma menggeliat dan tertidur kembali. Akhirnya Reno keluar dari kamar.


Menghampiri Tika yang masih tidur di sofa. Di bopongnya tubuh istrinya dengan gerak pelan. Takut Tika terjaga. Lalu tubuh Tika di baringkan nya di atas ranjang.


" Papa sudah pulang, ya?" Tika membuka mata nya saat dia merasakan tubuhnya dalam gendongan. Ternyata suaminya memindahkan tubuhnya dari sofa.


" Kok tidur di sofa, ma?"


" Aku ketiduran saat nunggu papa, pulang."


" Kan nunggunya bisa di kamar. Sambil tiduran,"


" Mama sangat cemas tadi, makanya gak bisa tidur." Mata Tika menelusuri wajah suaminya. Dan diam- diam mengendus aroma tubuh nya juga.

__ADS_1


Reno melihat gelagat itu. Menangkap rasa curiga istrinya!


" Maafkan papa ya sayang, karena akhir -akhir pulang terlambat." Reno menelusupkan tangan


nya di bawah tubuh istrinya. Menariknya dalam pelukan hangatnya.


Tika menggelendot manja. Merebahkan kepalanya di bahu kekar suaminya. Berkali- kali Reno mengecup pucuk kepala Tika. Seolah melepaskan sesalnya.


" Sayang, bagaimana keadaan bayi kita," tangan Reno mengelus perut Tika. Tika mendongakkan wajahnya ke arah suaminya.


" Dia baik- baik saja, sayang," Ucapnya dengan tatapan intens. Reno balas menatap istrinya. Dia melihat hasrat kerinduan di balik mata istrinya yang indah.


Reno membisikkan sesuatu di telinga istrinya. Lalu mema*** cuping telinga istrinya. Tika mendesah. Membalas setiap sentuhan yang di berikan suaminya. Mereguk kedalaman kasih yang di curahkan.


Penyatuan tubuh mereka malam itu, ibarat gelungan ombak yang saling berkejaran dan terhempas di pantai.


Sangat membara! Sempat Reno kewalahan mengimbangi hasrat istrinya yang tidak seperti biasanya. Begitu dalam menuntut. Seolah mengintimidasi. Apa ini pengaruh kehamilan istrinya. Atau penanda hak kepemilikan?


Yang jelas malam itu, Reno tak berdaya. Dan puas atas pelayanan istrinya. Sama seperti Tika juga, begitu puas melihat suaminya yang terkulai lemas.


Hati seorang istri itu sangat peka. Instingnya kuat. Kecemasan Tika bukan tak beralasan. Dia melihat suaminya seolah mau tenggelam oleh sesuatu .


Apakah ini rasa cemburu? Ataukah rasa takut ke hilangan?


Saat pagi merekah.


Tika yang sudah selesai mandi membangunkan suaminya yang masih tergolek pulas. Tika memandangi wajah suaminya yang begitu damai.


Di elusnya brewok Reno yang mulai menghitam karena tak bercukur beberapa hari ini. Atau sengaja di biarkan tumbuh.


Lalu Tika mengecup leher suaminya, meninggal


Saat netranya terbuka, langsung menangkap sosok istrinya yang duduk di sisi ranjang.


" Hem...sayang. Kamu sudah bangun dan wangi lagi." Reno mengecup jemari istrinya yang lagi mengelus pipinya.


" Papa sengaja ya, melihara brewoknya."


" Ofs! Beberapa hari papa gak sempat bercukur. Jelek ya, mam."


" Gak, Papa malah tambah cakep," puji Tika.


"Hem, istriku bisa juga ngegombal ya," Reno duduk bersandar di ranjang. Mengamati wajah istrinya yang semakin padat berisi.


" Apaan sih, liat-liat!" seru Tika jengah dan tertunduk malu. " Papa bangun dong, nanti telat ke kantor. Tuh, liat udah jam berapa ini."


" Ah, malas. Papa mau bobo aja seharian. Badan papa lemes ," mata Reno mengerling nakal ke arah istrinya. Ingat, betapa hebatnya istrinya semalam.


" Ih.., Jangan gitu dong, pa. Katanya banyak pekerjaan. Ntar anak-anak bangun. Mau ngantar Nadia lagi,"


" Aku ingin seperti ini, sebentar saja ma," Reno memeluk Tika dari belakang.


" Mama hebat deh, semalam. Makasih ya, ma." bisik Reno di telinga Tika. " Tapi, mama menghukum papa, ya. Karena beberapa hari ini, telat pulang dan pagi- pagi sudah pergi."


Deg!


" Kok, ngomong gitu sih, Pa," Tika melepas diri dari pelukan suaminya. Saat menatap wajah Reno, ada senyum menggoda di sana.

__ADS_1


" Papa tau mama mulai curigaan sama papa. Percaya deh ma, Mama satu- satunya di sini," menunjuk dadanya.


" Juga Nana dan Bimo. Dan tentunya jagoan papa yang masih di sini." Reno mengelus perut Tika dan mengecupnya. Tika tergugu diam. Merasa bersalah karena sempat berpikir yang tidak- tidak.


" Bukan mama gak percaya, papa. Tapi situasi di luar sana mengerikan, pa. Kita tidak tau apa saja yang mengincar kita. Aku..aku takut ke hilangan papa," Dua butir bening kristal jatuh di pipinya.


" Karena itulah kita harus saling menjaga, ma. Kalau papa mau terseret, mama harus pegang tangan papa. Jangan pernah lepaskan ya. Karena papa juga manusia biasa. Terkadang bisa jatuh. Hingga sejauh ini, papa masih milik mama. Dan sampai selamanya."


" Makasih papa. I love you." Tika memeluk suaminya erat. Rasa damai itu, mengaliri seluruh jiwanya.


Tiba- tiba pintu kamar terbuka. Muncul sosok Nadia dan Bimo, mereka serempak berlari dan naik ke tempat tidur.


" Ais...papa dan mama genit.Pacaran mulu." seru Nadia menghambur ke pelukan papanya. Tak mau kalah! Bimo juga melakukan hal yang sama.


Mengeroyok papa mereka. Hingga Reno gelagapan.


"Nadia,Bimo, jangan lasak kali sayang. Pa, mama siapkan sarapan dulu, ya. Gih, mandi dulu."


"Aku mau mandi sama papa," celetuk Bimo.


" Aku juga, bolehkan mah," pinta Nadia.


" Boleh sayang. Ayo, kita mandi sama- sama," Reno bangkit dari tempat tidur. Bimo meloncat naik ke punggung papanya. Nadia bergelayut manja di lengan, Reno.


Tika tersenyum bahagia melihat polah mereka. Yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Menit berikutnya suara riuh terdengar dari kamar mandi.


Tika cuma bisa geleng kepala saat terdengar jerit lengking Bimo dan Nadia. Pastinya, papa mereka telah mengajak bermain air.


" Hem, sarapan telah tersedia di meja. Tinggal menunggu ke munculan dua jagoannya sama putrinya. Di meja makan.


Tadi suaminya menolak di bantu memandikan Bimo dan Nadia. Juga saat salin pakaian.


" Biar papa saja, ma. Itung- itung tebusan, karena papa terlalu sibuk beberapa hari ini,"


Akhirnya ke tiganya muncul juga.


Astaga! Apa yang telah di lakukan Reno pada dua bocah tengil itu. Hampir saja Tika terbahak. melihat penampilan Bimo dan Nadia.


" Gimana mam, hebat kan papa mengurus mereka.," dengan senyum di kulum Tika berdiri dari kursi.


" Pah, tuh anakmu kok berubah jadi badut, sih," bisik Tika di telinga suaminya. Karena bedak Nadia dan Bimo yang belepotan.


"Ha....ha....., " Reno terpingkal lepas. Tak mampu menahan rasa lucu melihat wajah Nadia dan Bimo.


" Papa dan mama kok ketawa, sih." celetuk Bimo dan Nadia bersamaan.


"Tidak apa- apa sayang. Papa memang hebat." seru Reno masih tertawa. Perutnya sampai terasa kejang.


" Tadi papa ngasih bedak kalian, habis berapa kilo, Bim."


Spontan Bimo dan Nadia saling pandang, detik berikutnya mereka saling menertawakan.


"Ih, papa jahat. Sengaja ya, ngerjain Nana sama dek Bimo," rengek Nadia manja.


" Gak sayang. Tadi papa sudah merasa bangga sama, mama. Eh, gak taunya kalian papa sihir kayak badut," kekeh Reno. Semuanya tertawa lucu.


Jauh dalam lubuk hatinya, Tika mengucap syukur melihat keharmonisan keluarganya.

__ADS_1


Semoga seperti ini selamanya.**** bersambung.


__ADS_2